
Tadi pagi, aku sama Alex kena marah sama Bu Wiwik gara-gara ada kabar tentang aku sama dia berduaan tadi malam. Gara-gara itu, aku sama Alex diberi hukuman buat nyanyi lagu Indonesia Raya nanti malam di kebun teh setelah acara api unggun. Aih, kenapa sih harus sama si kutub lagi dan di kebun teh itu dingin banget, tapi masih dingin sikapnya dia ke aku (Penyakit bucin kambuh :<). Ah, membosankan sekali di sini. Mendengarkan penjelasan dari bapak pemilik kebun teh tentang kebunnya dan yang membuatku tak tenang adalah dia berada tepat di sampingku dan fokus mendengarkan apa yang dijelaskan oleh bapak itu. Aku mengangkat tangan yang berniat melemaskannya dan malah ditunjuk oleh bapaknya.
“Nak, kamu mau bantu petik teh ya? Oh ya, sama laki-laki yang di sampingmu bantuin petik teh sekarang,” Aku kaget dan tatapan iri dari beberapa siswa ditambah tatapan dinginnya membuat perasaanku tak enak.
“Sejak aku kenal si kutub, rasanya jantungku berdetak lebih kencang dan banyak sekali kejadian yang sebelumnya tak pernah kualami lalu entah kenapa, saat aku memanggil namanya Farhan, hal itu seolah tak asing bagiku. Sebenarnya siapa dia dan kenapa aku jadi tambah aneh?” gerutuku dan mulai mendekati bapak pemilik kebun bersama si kutub. Bapak itu memberikan 2 buah bakul besar kepada kami dan mengarahkan kami ke kebun teh yang berada tak jauh dari tempat kami berkumpul tadi.
“Jadi, saat kalian ingin memetik teh, kalian harus perhatikan bagian daun dan bla bla bla bla” Mungkin itulah yang dijelaskan oleh bapak itu dan beliau meninggalkan kami untuk memberikan arahan kepada teman-teman di sana. Aku memetik teh dan menaruhnya di bakul besar yang dimodel seperti tas dan cukup lama keheningan ini dibuat. Canggung banget. Aku paling gak suka suasana ini dan aku ingin sekali memecahkan keheningan ini. Tatapan dinginnya tadi seolah membuatku kapok untuk tak bersuara kali ini.
“Salahmu,” Aku menoleh dan melemparkan sepatuku ke arahnya, namun meleset.
“Salahmu yang buat aku gak fokus tadi,” kesalku, namun alisnya terangkat dan aku baru sadar aku mengungkapkan hal yang memalukan itu.
“Gak jadi,” cicitku dengan wajah merah bagai kepiting rebus dan suasana kembali canggung. Aku rasa, dirinya yang dulu dengan yang sekarang mengalami perubahan, walaupun tatapan dingin, datar dan sikapnya itu masih belum berubah. Namun, akhir-akhir ini dia tersenyum dan tertawa karena ulahku yang aneh banget. Tak sadar, senyum terukir di wajahku sampai ia melihatku dengan tatapan ngeri.
“Gak usah gitu mukanya,” kesalku dan setelah selesai memetik teh yang sudah penuh, aku berjalan menaiki jalan yang menanjak ini. Aku meneguk saliva dan berjalan hati-hati agar bawaanku tidak jatuh dan saat itu, berkas cahaya sang surya mengenaiku. Namun, tangan besarnya menahanku dan aku menatapnya heran.
“Seperti malaikat, sama seperti dulu,” Aku bertanya-tanya untuk siapa kalimat yang dia ucapkan. Ia tersadar dan melepaskan tangannya dariku dan berjalan cukup cepat.
“Untukku?” tanyaku dan ia terdiam sejenak.
“Lupakan,” Hanya kata itu yang mengakhiri pembicaraan kami dan ia pergi seiring dengan awan hitam datang menutupi sang surya.
__ADS_1
“Mungkinkah ini awal rusaknya hubungan kita?” gumamku lalu mencoba menyusulnya yang sudah berada di atas sana. Angin gunung yang dingin seolah memberitahuku firasat tak enak selama aku di sini, atau lebih tepatnya berada di sampingnya.
.....................................
“Kay, matamu kok sembab sih? Emang kenapa?” tanya Laily yang mengangguku melamun.
“Kay, kamu mau balik ke villa?” tawar Rena sambil berdiri, namun aku menolaknya dan udaranya cukup dingin. Untung saja, api unggun membantu menghangatkan diriku walaupun hanya sedikit. Aku melihat sekelilingku dan batang hidungnya tak kelihatan, yang ada Andre dan Arnold bercanda ria di sana bersama yang lainnya. Parahnya lagi, aku habis nangis tadi hanya karena aku penasaran dengan apa yang dia katakan tadi. Ah, sejak kapan aku jadi baper cuma gara-gara hal sepele tentang dia? Dan aku malah mencarinya seolah menginginkan jawaban itu. Namun, aku teringat akan tujuanku mendekatinya, yaitu menyembuhkan phobianya dan akan kuhapus keberadaanku dari hidupnya sebelum aku semakin mempercayai dirinya. Selama acara, aku sedikit terhibur dan aku dipanggil oleh Bu Wiwik secara langsung. Tamatlah aku hari ini. Aku berjalan mengikuti Bu Wiwik dan udara semakin dingin saja.
“Bu, emang kebun teh mana yang mau dijadiin tempat hukuman?” tanyaku.
“Ikut ibu dan jangan banyak mengeluh!” perintah Bu Wiwik dan aku diam karena tak ingin memberi maslaah baru lagi. Kami pun sampai di tempat tujuan dan iris hitamku melihatnya sedang merenung dan mulutnya mengeluarkan asap putih saat ia bernapas. Ia menoleh ke arah kami dan membenarkan posisinya menjadi lebih serius.
“Kalian bernyanyi di sini, ibu akan mengawasi kalian,” Kami pun mengangguk dan mulai menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mulut kami mengeluarkan asap putih sambil menggosokkan tangan kami dan bernyanyi menahan rasa dingin ini. Setelah selesai, Bu Wiwik memanggilku dan beliau mengajakku berbicara agak jauh dari jangkauannya.
“Enggak kok bu,” jawabku.
“Lalu, mengapa kemarin ada kabar seperti itu?” Bu Wiwik emang terkenal to the point dan aku meneguk salivaku.
“Saya tidak tahu bu, yang saya ingat adalah saya bersama Alex di depan taman villa berbicara dan saya tiba-tiba menangis di pojokan teringat sesuatu dan selanjutnya, saya gak tahu lagi,” jawabku jujur namun masih ada kebohongannya. Mana mau aku bilang nangis gara-gar kesinggung sama kata-katanya dia. Kan itu sama saja membuka aib incess Kayla yang cantiknya kayak Ariel Tatum, walaupun masih cantikan aku. Bu Wiwik menatapku tajam berharap aku menyembunyikan kebohongan darinya, namun beliau menghela napas panjang.
“Ibu harap kamu berkata jujur tadi dan sekarang ibu akan menyuruh semuanya untuk kembali ke villa. Kalian juga harus ke sana,” titah Bu Wiwik dan aku mengangguk lalu beliau pergi meninggalkan aku bersama si kutub. Namun, si kutub tak ada di sana dan tinggallah aku seorang diri di sini. Baru satu menit aku di sini, sesuatu terasa kosong di hatiku seolah ada lubang di hati ini dan terbayang wajah si kutub itu. Semua tentang dia, baik aku saat bersamanya, maupun rasa yang selama ini kucari. Apa ini? Aku tak tahu lagi dan berjalan terus seolah tak ada tujuan lagi. Dingin semakin menusuk kulit dan aku melihat sekitarku hanya ada kebun teh yang sepi dan aku hendak ingin kembali, namun aku lupa ke arah mana tadi saat naik tadi. Aku mengecek saku celanaku, namun tak menemukan benda persegi tersebut. Aku lupa bahwa hpku kutinggal di kamar dan aku mencoba turun dari kebun teh berharap ada jalan raya di depan sana. Namun, harapanku pupus seketika bahwa di depanku saat hanyalah hutan belantara dan aku berniat masuk ke sana seolah harapanku masih belum berakhir. Dinginnya malam serta keadaan hutan yang semakin gelap membuat bulu kudukku berdiri. Ide pun terlintas di pikiranku lalu aku mencari batu berukuran sedang dan menandai setiap pohon besar yang kulewati dengan tanda X sehingga aku tahu jalan tersebut jika aku kembali ke jalan yang sama. Aku melakukannya beberapa meter saat berjalan ke dalam hutan. Cukup lama aku melakukannya, namun saat aku ingin melakukannya lagi, tanda X berada di pohon tersebut. Aku melihat sekeliling dan mencoba berlari menuju arah lain, namun aku malah sampai di titik awal.
__ADS_1
“Bagaimana ini? Tidak adakah cara lain untuk keluar dari sini?” pikirku.
*Srek
Srek
Srek*
Suara yang berasal dari semak belukar membuat bulu kudukku berdiri lagi dan rasa penasaran pun muncul. Aku mendekatinya, namun keringat dingin mengucur dari dahiku dan membatalkan niatku untuk melakukannya.
*Srek
Srek*
Suara itu seolah memanggilku untuk mendekatinya, namun aku menguatkan diri untuk menahannya. Suara itu seolah mendekatiku dan aku langsung lari terbirit-birit dan meneriakkan minta tolong dan sosok hitam muncul dan mulai mengejarku.
“Gya! Tolong!”
“Tasukete kudasai! (Selamatkan aku!)”
“GYA!!!!!!!” teriakku, namun sosok itu masih saja mengejarku dan aku lebih mempercepat lariku dan napasku mulai tersengal-sengal karena berlari terus. Aku menemukan sebuah gua dan langsung masuk ke sana tanpa pikir panjang. Aku melihat dari dalam gua berharap sosok itu tak mengejarku lagi dan hasilnya nihil. Aku menghembuskan napas lega dan mencoba mundur beberapa langkah, namun tubuhku menbarak sesuatu yang keras dan mencoba menoleh walaupun takut dengan hal yang berbau horor. Aku melihat tengkorak yang kepalanya tertancap tombak seolah menyapaku.
__ADS_1
“GYA!!!!!!!!”