
Semua warga sekolah SMA Shine Wish menantikan acara yang mereka tunggu\-tunggu, yaitu acara ulang tahun SMA Shine Wish yang ke\-60 dan semua telah melakukan banyak persiapan jauh\-jauh hari. Begitu juga OSIS yang mengurus semuanya dan masa jabatanku akan berakhir seminggu setelah acara ini. Aku harus memberikan kinerja yang baik untuk kesuksesan acaranya bersama anggota yang lain. Saat ini, aku berada di koridor kelas X untuk memastikan keadaan di lapangan berjalan dengan lancar. Riuhnya suara musik dari aula serta padatnya pengunjung, baik dari dalam maupun luar sekolah membuat sudut bibirku tertarik puas, namun dering hpku menandakan ada pesan yang masuk.
*Dandelion
Cewek Multiattitude
Jam 13.00, kita berkumpul di aula untuk persiapan nanti. Hari kalian bersenang-senang dulu (
Lai_Ly cans
Siap bu bos
Ar_fren 09
Auto cari gebetan 🤣
Andre_S
Gak perlu jauh-jauh. Gebet cewek di grup ini.
Ar_fren 09
Dipikir-pikir dulu Dre.
Mengalihkan pembicaraan ya? Aku merasa tak perlu menjawabnya.
TyTo_gans
Bilang aja mau gebet kak Kayla 🙃
Din_can
Lah, kasihan kak Alex. Masih jomblo 🤣
Ar_fren 09
Etdah, becanda kali @ TyTo_gans
Cewek Multiattitude
Gak usah rebutan aku. Aku tahu kalau aku emang cantik dan jadi primadona.
__ADS_1
Alexandro
Orang yang terlalu percaya diri membuatku mual saat ini🤢
Cewek Multiattitude
Ketos kita mulai muncul. Jangan sampai lupa peranmu nanti 😏
Alexandro
Peran sekecil itu sudah melekat saat aku menjabat sebagai ketua OSIS
Cewek Multiattitude
Kunantikan peranmu nanti 😏*
Aku menaruh hpku di saku seragam dan berniat untuk mengunjungi stand kelasku. Selama persiapan, aku hanya mengurus persiapan dari OSIS dan ekskul yang mengurus tenaga serta pikiranku. Aku berniat menghabiskan waktu di stand kelas sambil membantu mereka. Dari kejauhan, kulihat 2 orang cewek berpakaian maid ala Britania Raya yang sedang mempromosikan stand kelasku. Bisa kutebak, mereka adalah Anna dan Kayla. Terlihat jelas aura persaingan di antara mereka berdua. Namun, berkat mereka berdua, stand kelasku menjadi ramai dan aku mempercepat langkahku untuk membantu mereka di sana. Sesampainya di sana, aku disapa oleh beberapa teman-teman di sana.
“Yo, Alex,” sapa Steven dan aku mengacungkan kempolku.
“Ada yang butuh bantuan?” tanyaku.
“Lex, bantuin promosi stand sama Kayla dan Anna.” Laily memberikan beberapa selebaran pamflet dan seragam butler kepdaku.
“Lakukan atau kulaporin ke Bu Wiwik,” ancamnya dan aku hanya mengangguk malas. Aku pergi menuju kamar ganti di belakang stand untuk memakai seragam yang diberikan Laily barusan dan keluar dari sana. Saat aku keluar, semua teman sekelasku kaget dan berteriak riuh.
“Seperti yang diharapkan dari ketua OSIS kita.”
“Kamu terlalu tampan.”
“Foto bareng dong.” Aku hanya melewati mereka dan melakukan tugasku di depan stand.
“Kalian berdua,” panggilku dan mereka berdua menoleh. Mata Anna langsung berbinar, sedangkan mata Kayla hanya menatapku biasa lalu melanjutkan kegiatannya. Oi, dia ini cewek normal atau bukan? Seharusnya, sikapnya seperti Anna saat ini. Sebentar, ada apa denganku? Mengapa aku kesal saat ia menatapku biasa saja? Aku pun melakukan tugasku dan Anna mencoba mendekatiku, namun aku berusaha menjauh darinya dengan melakukan apa yang disuruh Laily. Banyak yang mengerumuniku, namun kebanyakan cewek yang mendekatiku untuk meminta foto atau nomor hpku. Tentu saja hal ini membuatku risih dan aku rasa, itu akan kambuh lagi. Kayla pun menutupi tubuhku yang tinggi dengan tubuhnya yang setinggi dadaku.
“Sumimasen (permisi), maaf telah menghancurkan harapan kalian. Laki-laki tampan ini adalah pacarku.” Ia tersenyum dan terlihat raut kecewa para cewek mengerumuniku.
“Jangan berkecil hati, masih ada stok laki-laki tampan di stand kami. Oleh karena itu, mampirlah ke sini ya,” bujuknya dan para cewek tadi mengangguk lalu antre masuk ke stand kami. Kuakui, keahliannya dalam membujuk dan mempromosikan tidak bisa dianggap enteng.
“Lebih baik aku menemanimu saja dari pada itu kambuh.” Aku hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaan kami.
“Mungkin tidak buruk dekat dengan cewek aneh ini,” gumamku dan seulas senyum terukir di bibirku saat ini.
__ADS_1
..................................
“Bagaimana? Semuanya sudah berkumpul?” tanya Kayla dan semua anggota ekskul mengangguk bersamaan dengan beberapa murid yang membantu kami sebagai figuran.
“Ini akan menjadi drama pertama bagi kita semua sekaligus terakhir bagi diriku, Laily, Arnold, Andre, dan Alex karena minggu depan, kami berlima akan sangat sibuk dengan beberapa ujian dan kelulusan. Kuharap, ekskul ini tetap ada tanpa mengenal berapa masa yang terlewati,” pesannya seolah ini akan menjadi akhir dari ekskul ini.
Ia berdiri dan memegang pundak Tyo dan Dinda lalu menghela napasnya “Jaga ekskul ini sampai kami lulus.”
Mereka berdua mengangguk dan seorang gadis berkacamata mengintip kami di balik pintu masuk belakang aula dengan membawa kresek besar entah berisi apa.
“Rena, ayo ke sini,” ajak Kayla dan gadis yang bernama Rena menuju ke arah kami.
“Kamu gak perlu sungkan, anggap kami semua adalah temanmu.”
“Apakah aku cocok berteman dengan kalian?” tanya Rena yang membuat seulas senyum Kayla terukir.
“Tentu saja, kamu adalah teman kami.” Rena langsung memeluk Kayla dan Kayla menyambutnya dengan hangat. Aku yang melihatnya seolah merasa salut dengan apa yang dilakukan olehnya.
“Kay, udah siap?” Seorang MC muncul dari balik tirai belakang panggung dan Kayla mengangguk. MC tersebut kembali ke atas panggung dan Kayla berdiri sembari mengajak para pemain berkumpul membentuk lingkaran. Kami berdoa agar pertunjukan kami berjalan lancar.
“Sekarang, waktunya bagi ekskul Dandelion yang baru saja dibentuk untuk menunjukkan drama perdana mereka. Beri tepuk tangan yang meriah!” Suara tepuk tangan mengakhiri sesi doa bersama dan kami pun menaiki panggung dengan penuh percaya diri. Meskipun ini bukan pertama kalinya bagiku, namun demam panggungku sepertinya akan datang. Sesaat, kata-kata Kayla terngiang membuat demam panggungku tiba-tiba menghilang. Ekskul kami melakukan yang terbaik selama acara dan mendapat tepuk tangan dari para penonton. Kami pun bangga karena bisa menampilkan drama perdana kami dengan baik dan lancar.
...................................
Senja menghiasi langit bersamaan dengan angin yang menyapu rambutku yang sedang mencoba memejamkan mata untuk menghilangkan kepenatanku dengan tugas OSIS, kelas, serta ekskul. Suasana sepi di kelasku membuat rasa kantukku datang dan tertidur sejenak jika suara derap kaki seseorang mengganggu tidur singkatku. Aku mencoba kembali terlelap, namun suara yang kukenali menggema di koridor membuatku penasaran dan mendekati jendela kelasku. Dari jendela, aku bisa melihat cewek yang terlihat familiar dan seorang cowok yang sepertinya kukenal. Aku berpikir keras siapa mereka, namun sebuah kejadian membuat matanya tak bisa lepas begitu saja. Cowok itu memberikan sebuket bunga serta sesuatu yang terlihat seperti sebatang coklat atau apalah yang dibungkus rapi.
“Sudah lama aku menyukaimu sejak SMP. Namun, aku tahu kamu dulu dekat dengan Dion dan mulai menyukainya. Namun, kejadian itu membuatmu sadar dan tidak ingin percaya lagi cinta. Aku juga tahu jika aku tidak seperti Dion yang bisa membuatmu nyaman.” Dari suara ini, sepertinya aku kenal. Aku pun mencoba mengingat kejadian tempo hari dan teringat kejadian di kelas ini juga. Senyum terukir di wajah cewek tersebut dan mengatakan yang membuat cowok itu terlihat menunjukkan senyum kecutnya, sedangkan diriku seolah terjebak dalam pertanyaan besar dengan pernyataannya.
“Terima kasih. Tapi, maafkan aku karena aku tidak bisa menerimanya, Arnold. Aku menganggapmu hanya sebagai teman. Lagipula, saat ini aku sedang seperti terombang-ambing karena sesuatu. Seharusnya kamu tahu itu.” Kulihat Arnold pun mengangguk dan pergi dari sana dan tak sengaja, aku tersandung karena kelalaianku.
Brak
Suara derap kaki seseorang mendekat dan aku pun mulai panik lalu duduk untuk menahan rasa sakit akibat jatuh tadi. Wajah Kayla yang sedang mengintip seisi kelas dan melihat diriku dengan tatapan heran.
“Kamu yang membuat keributan tadi ya?” tanya Kayla dan aku menatapnya datar seolah aku tidak ingin mengakuinya. Kayla menghela napas melihat reaksiku.
“Baiklah, aku anggap reaksimu saat ini adalah jawaban iya. Jangan lupa, besok kita harus ke Dr. Hayati untuk melihat perkembanganmu. Aku juga akan menemanimu ke sana.”
“Tunggu,” cegahku dan Kayla menatapku penasaran apa yang kukatakan kepadanya. Mulutku seolah terkunci dan lidahku terasa kaku. Haruskah aku menanyakannya? Ya! Aku harus menanyakannya agar hubungan tak jelas dari kami bisa terungkap.
“Siapa yang membuatmu terombang-ambing?” Kulihat senyum terukir di bibir Kayla lalu menghela napas pendek.
__ADS_1
“Kamu mendengarnya ya? Ternyata keadaan kita terbalik sekarang. Dulu aku yang harus mencari kebenaran di balik sikapmu yang dingin. Sekarang, biarkan dirimu sendiri yang mencarinya dan memulihkan phobiamu. Aku hanyalah sebagai pendukung saja.” Kayla meninggalkan diriku dan tanpa sadar, aku berlari lalu menahan lengan Kayla. Kayla pun berusaha melepasnya, namun semakin kueratkan karena aku akan mendapatkan jawabannya. Iris hazelnutku menatap dalam iris hitam di hadapanku saat ini. Tiba-tiba, kesadaranku kembali dan langsung melepas lengan Kayla dan meninggalkannya. Aku tidak tahu lagi wajahku memerah dan rasa bimbang mulai menghinggapiku. Pertimbangan mengenai phobiaku, Kayla yang menyimpan sesuatu, dan emosi yang kurasakan saat Dion melukai perasaan cewek tersebut sehingga ia tak lagi mempercayai cinta.
Andai aku bisa mengubahnya seperti ia melakukannya kepadaku.