My Kutub Ketos

My Kutub Ketos
Benarkah Ini Dia? (Alex)


__ADS_3

Aku meminum obat penenang yang aku bawa setiap hari di UKS dan kutaruh di meja sambil mengawasi Kayla yang terbaring pulas di ranjang. Aku tahu kalau dia itu bukan pingsan, melainkan dia ketiduran. Benar-benar ajaib cewek satu ini sampai aku harus berakting agar semuanya berjalan sesuai kemauanku.


*Beberapa menit yang lalu


“Ya ampun, seperti melihat idola saja melihatmu tersenyum. Kuakui, senyummu memang manis.” Dia ini kenapa? Apa yang membuatnya mengatakan hal seperti itu? Tanpa sadar, semburat merah muncul di pipiku dan kulirik bahwa semua gerombolan siswa/i di sana kaget dengan perubahanku. Langsung kutatap dia dengan datar untuk menutupi rasa maluku di depan semuanya.


“Tidakkah kamu memiliki malu dengan mengatakan hal tersebut?! Ikut aku!” kataku sambil menarik lengannya dan tidak mempedulikan sekelilingku. Aku merasa de javu dengan kejadian ini. Ah, saat aku menyelamatkan Kayla dari Anaya atau mungkin lebih tepatnya, ialah yang menyelamatkanku dari Anaya. Anaya memang tidak pernah kapok untuk menyatakan perasaannya kepadaku. Tanganku bergetar saat memegangnya.


“Mengapa phobiaku kumat lagi? Padahal, ini sudah lebih baik dari sebelumnya. Mungkin aku jarang sekali berkonsultasi dengan psikologku karena aku memaksa keadaanku baik-baik saja." gumamku dan aku merasakan lengannya serasa lemas dan tanpa sadar, aku menangkap dirinya. Secara spontan, aku panik dan menggendong ala bridal style lalu berlari ke UKS seolah takut ia kenapa-kenapa. Aku merasa banyak pandangan menuju ke arahku dan aku tidak mempedulikannya serta rasa kambuhnya phobiaku kuabaikan karena cewek yang kugendong. Akhirnya, aku sampai di UKS dengan napas tersenggal-senggal dan suasananya sepi karena petugas dan guru penjaganya sedang melakukan kegiatan belajar mengajar. Terpaksa, aku menidurkannya di ranjang UKS dan membeli air mineral di kantin untukku dan untuknya. Aku berlari kecil dan sampai di kantin, lalu mengambil air mineral dan membayarnya. Setelah itu, aku kembali ke UKS dan dia masih saja seperti tadi. Aku duduk dan menunggunya sampai dia bangun*.


....................................


Aku melihat layar hpku dan ada chat dari nomor yang tidak kukenali.


+628789788567


Alex, gimana keadaan Kayla? Apa aku yang perlu gantiin kamu jagain Kayla?


Mungkin dia ini sahabatnya yang bernama Laily.


Alexandro


Kamu Laily?


+628789788567


Iya


Alexandro


Tidak usah, kamu ikut pelajaran saja. Buat keterangan jika Kayla sakit dan aku yang menjaganya


+628789788567

__ADS_1


Iya, makasih banyak dan maafkan aku dan Kayla udah nyusahin kamu🙏


Alexandro


Sama-sama


Aku menaruh hp di saku celana dan melihat keadaan Kayla. Dia ini memang tidak tahu tempat bahkan waktu hanya untuk tidur. Saat ini, entah kenapa dia kelihatan cantik saat ia terlelap pulas. Aku tersenyum kecil seolah wajahnya memberikan rangsang ketenangan saat ia tidak cerewet dan saat aku ingin pergi, ia terbangun dengan tatapan sayu seperti orang mabuk. Entah mengapa, aku memiliki firasat tidak enak dengan bangunnya Kayla.


"Kamu anak laki-laki itu ya?" tanyanya. Aku bingung harus menjawabnya dan aku mengangguk. Kulihat ia tersenyum lebar dan melakukan sesuatu yang bahkan Bunda jarang sekali melakukannya selama ini.


“Kamu selama ini ke mana sih? Aku bahkan hiks lupa sama namamu hiks. Aku sampai datang dari Jepang 3 tahun yang lalu dan menunda keberangkatanku lagi ke Jepang cuma buat mencarimu.” igaunya sambil menangis. Anak laki-laki? Jepang? Inikah alasannya dia selama ini di sini? Dan posisiku saat ini sedang dipeluknya dan otomatis gemetar dan sakit di kepalaku mulai menyerangku jika kontak fisiknya sudah melampaui batas. Aku segera mengambil obat di mejaku, namun kuurungkan karena Kayla memelukku.


“Maaf, kamu bisa lepaskan aku? Aku tidak akan meninggalkanmu, aku hanya mengambil sesuatu di meja itu ya.” pintaku menahan sakit sambil menunjuk meja yang ditaruh obat milikku.


“Beneran loh ya, kamu gak bakal ninggalin aku?” tanyanya manja dan aku pun mengangguk lemas karena sakit di kepalaku tak bisa kutahan. Lalu, ia melepaskan pelukannya dan langsung aku berlari ke arah meja dan menelan 2 pil obat penenang dan menghabiskan air mineralku yang sudah kubeli. Rasanya lega dan aku tak habis pikir ia melakukannya, lalu kulihat ia terlelap kembali seolah tidak terjadi apa-apa. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala dan meninggalkannya karena baru ingat bahwa calon anggota OSIS akan melakukan ujian beserta dengan calon ketua OSIS baru sebelum dipilih oleh para siswa/i. Aku keluar dari UKS dan menemukan Andre yang sedang menungguku di luar UKS. Aku meneguk saliva berkali-kali takut ia melihat apa yang terjadi dan memasang wajah khasku sambil berjalan menuju ruang OSIS. Andre pun menghela napas dan mulai membuka suaranya.


“Kamu sama Kayla ada hubungan apa?” tanyanya dan membuatku berhenti sejenak dan menoleh ke arahnya.


“Tidak ada hubungan di antara kita.” jawabku datar.


“Dia itu mengigau dan memelukku secara tiba-tiba. Dia kira aku adalah anak laki-laki yang dicarinya.”


“Anak laki-laki? Kamu pernah ketemu dia sebelumnya ya?” tanya Andre.


“Aku tidak tahu karena dia mengingau, mungkin dia salah orang. Kamu gantiin aku jagain dia dan jangan sampai ada siapapun yang mengunjunginya atau mengajaknya keluar, kecuali anggota eksul Dandelion!” peringatku dan saat aku ingin beranjak, Andre memegang pundakku.


“Baru kali, aku melihatmu peduli dengan seorang cewek, padahal kamu memiliki trauma terhadap mereka? Apakah Kayla spesial di matamu?” tanyanya dan aku menoleh ke arahnya. Sesaat, hening tercipta karena aku juga bingung harus menjawab apa dan heran dengan diriku akhir-akhir ini.


“Tidak. Aku peduli sebagai sesama manusia.” jawabku dan langsung pergi dari hadapan Andre. Mengapa salah ya peduli dengan Kayla? Dan aku mulai berpikir bahwa untuk apa mempedulikan dirinya. Lebih aku memberi jarak kepadanya karena sejak kehadirannya, kebencianku terhadap cewek perlahan terkikis sedikit demi sedikit walaupun reaksi tubuhku masih sama. Aku pun mengenyahkan pikiran itu dan berlari sedikit cepat menuju ruang OSIS karena waktu yang ditentukan hampir habis.


.............................................


__ADS_1


Aku menghidupkan mesin motorku di parkiran sekolah dan mengendarainya dengan kecepatan sedang untuk berkonsultasi dengan Dr. Hayati yang menjadi psikologku saat aku SMP kelas 7. Beliau adalah psikolog yang sangat baik, ramah, sabar, dan aku sudah menganggap beliau sebagai ibuku dan begitu pula beliau yang menganggapku sebagai anaknya. Setelah beberapa menit, akhirnya aku sampai di halaman rumah sakit tempat Dr. Hayati melakukan prakteknya, yaitu Rumah Sakit Medika Rahayu. Aku memarkirkan motor ninjaku di parkiran dan menuju ke resepsionis untuk membuat janji dengan Dr. Hayati. Setelah itu, aku berjalan dari koridor rumah sakit menuju ruangan beliau. Aku sampai di ruangan beliau dan mengetuk pintunya.


“Masuk.” jawab seseorang di dalam. Aku membuka pintunya dan menemukan beliau sedang menuliskan rekam medis milik seseorang. Beliau melihat ke arahku sambil tersenyum dan mempersilahkan aku duduk. Aku pun duduk tepat di depan beliau dengan kursi yang telah disediakan.


“Sudah lama sekali kamu tidak ke sini. Bagaimana keadaan Bundamu?” tanya beliau sambil menaruh dokumen rekam medis yang barusan beliau selesaikan.


“Masih sama.” jawabku dan beliau mengangguk paham.


“Bagaimana sekolahmu? Masih ada masalah dengan phobiamu?” Aku terdiam dan aku tidak mungkin bisa berbohong di depan beliau karena pasti ketahuan. Beliau tersenyum sehingga membuatku bingung.


“Mungkin di sekolah kamu sedang punya konflik dengan masalah utamamu saat ini.” Jawabannya membuatku mengangguk malas dan beliau tertawa kecil.


“Kamu pasti kesulitan ya dengannya? Tapi tenang saja, anggap saja dia sebagai solusi alternatif selain melakukan terapi bersamaku.” saran Dr. Hayati.


“Dok, sebenarnya phobia saya mulai kambuh tadi pagi karena saya telah melakukan kontak fisik yang melampaui batas.”


“Maksudnya?”


“Sebenarnya, saya membantu cewek yang saya benci karena phobia ini dengan menggendongnya dan saat dia terbangun, dia mengigau bahwa dia mengira adalah anak laki-laki yang dia cari dan ia sampai memeluk saya. Kepala saya langsung pusing dan untungnya, saya sempat meminum obatnya.” jelasku. Dr. Hayati sedang mencatat dan menarik kesimpulan dari rekam medisku dulu dan sekarang. Beliau menghela napas sebentar dan mulai membuka suaranya.


“Jika kulihat dari rekam medismu dulu dan sekarang, sepertinya itu hal yang cukup bagus untuk dijadikan terapi sekaligus motivasi agar kamu bisa memperbaiki hubungan keluargamu.”


“Tapi dok, bagaimana saya bisa menerima ayah saya setelah apa yang ia lakukan kepada Bunda dan saya?” tanyaku tidak terima.


“Saya tahu kamu tidak terima dengan apa yang ayahmu lakukan, sebenarnya kamu hanya melampiaskan kemarahan Bundamu kepada ayahmu dan itu bukan dari dirimu sendiri bukan?” Perkataan Dr. Hayati membuatku tertohok dan entah mengapa perkataan cewek itu terlintas di pikiranku dan tak sengaja kuucapkan.


“Kamu yang sekarang hanyalah topeng untuk menutupi dirimu yang sebenarnya dan dunia tidak akan pernah mengampunimu jika kamu hanya membawa topeng itu.” Dr. Hayati mendengarnya dan tatapannya seolah memintaku untuk menjelaskannya.


“Itu pertama kalinya saya bertemu cewek yang saya benci, lalu entah dari mana dia tahu kelemahan saya dari kata-kata yang saya katakan tadi.”


“Begitu ya, lebih baik ka.....................” Suara ketukan pintu memotong pembicaraan kami dan Dr. Hayati mempersilahkan masuk.


“Masuk.” Pintu pun terbuka dan aku kaget bukan main siapa yang membukanya.

__ADS_1


“HAH?! KAMU NGAPAIN DI SINI?” teriak kami bersamaan.


__ADS_2