My Kutub Ketos

My Kutub Ketos
Keputusanku (Kayla)


__ADS_3

Atmosfer di ruang tamu saat ini membuatku tidak nyaman karena adanya seorang pria separuh baya serta laki\-laki yang membukakan pintu tadi. Niatku ingin memberikan oleh\-oleh ini kepada Tante Azri dan Tante Rayya dan aku diantar oleh Mang Ujang dengan pedoman alamat yang diberikan mama. Namun, mobil mendadak mogok dan dengan berat hati, aku memutuskan untuk turun dari mobil dan menanyakan kepada warga sekitar. Menurut mereka, rumahnya tidak jauh dari tempat mobil mogok dan aku mengikuti arahan mereka. Memang benar tidak jauh, namun belokan jalannya terlalu banyak dan sudah 3 kali aku menemukan jalan buntu. Entah insting dari mana aku melihat sebuah rumah besar berdiri gagah di balik jalan buntu tersebut dan aku yakin, rumah itu 3 kali lipat dari rumahku. Aku pun menerka\-nerka sambil berjalan menuju rumah tersebut. Akhirnya, aku sampai di rumah tersebut dan kuyakinkan bahwa ini adalah rumah Tante Azri. Aku meneguk ludah untuk mempersiapkan diri seolah ingin bertemu seseorang yang penting. Kulihat satpam di sini belum datang dan aku nekat masuk ke sana. Sesaat langkahku terhenti dan rumah ini tak asing bagiku, seolah aku pernah datang ke sini. Rasa nyaman seolah diberikan rumah ini untuk menyambutku. Kuberanikan menuju pintu rumah dan kuketuk sambil menepis berbagai pikiran negatif.


Tok


Tok


Tok


Pintu pun terbuka dan betapa kagetnya aku siapa yang membukanya. Si kutub ketos. Aku menyimpan kekesalanku dengan senyuman khasku. Ia hanya menatapku dan tentu saja hal ini membuatku agak risih. Ia mempersilahkanku masuk dan menyuruhku duduk di ruang tamu. Di sana, ada seorang pria yang kutaksir berusia setengah abad yang kelihatan masih berusia kepala tiga. Lelaki itu kembali dan duduk di sini sembari menunggu seseorang datang.


Hening. Rasanya terkekang di antara 2 orang yang memiliki sifat yang sama dan mulutku seolah terkunci seolah tahu keadaan saat ini. Mereka berdua berada di ruangan yang sama, namun seolah ada dinding pembatas di antara mereka.


“Mohon maaf sebelumnya, kedatangan saya di sini ingin memberikan oleh-oleh dari mama saya. Apakah benar ini rumah tante Azri?" tanyaku dan kerutan terlihat jelas di dahi mereka.


"Rumah Tante Azri ada di kompleks sebelah."


"Rumah Azri ada di kompleks sebelah." jawab mereka secara bersamaan dan mereka saling menatap dingin satu sama lain. Entah mengapa, rasanya mereka seperti buah pinang dibelah dua. Sifat bahkan stuktur wajah mereka hampir mendekati sama. Jika rumah Tante Azri ada di kompleks sebelah, maka ini rumah siapa? Masa sih ketos kutub ini anaknya Tante Rayya yang terkenal ramah kata mama?


"Berarti ini rumah Tante Rayya?" tanyaku dan mereka serempak mengangguk.


"Dan Alex itu anaknya Tante Rayya?" Mereka menggangguk lagi.


"Lalu pria separuh baya ini papanya Alex?"


Pria tersebut mengangguk sambil tersenyum ke arahku, namun laki-laki itu hanya berekspresi seperti biasanya.


"Lebih tepatnya, mantan ayah," jawabnya dingin dan aku langsung paham arah pembicaraannya. Sama seperti apa yang diceritakan oleh sekretaris yang dikirim oleh Alex. Aku menatapnya tajam, namun ia tak menggubrisnya seolah apa yang ia katakan benar.


“Aku mengatakan ini bukan untuk terkesan ikut campur, namun apa yang kamu katakan itu salah. Tidak ada kata mantan dalam hubungan keluarga, apalagi orang tuamu sendiri. Meskipun mereka telah bercerai, mereka masih tetap berstatus orang tuamu.”


“Mungkin apa yang dikatakan gadis itu ada benarnya, Farhan,” jawab seorang wanita yang keluar dari dapur dan aku menduga bahwa wanita tersebut adalah Tante Rayya.


“Siapa gadis ini?” tanya wanita tersebut sambil tersenyum ke arahku. Ah, senyumannya bagaikan seorang malaikat.


“Selamat malam tante, saya ad....”


“Hanya seorang gadis yang tersesat mencari rumah Tante Azri,” potongnya dan aku menatap tajam ke arahnya.

__ADS_1


“Tidak baik memotong pembicaraan seperti itu,” peringat wanita tersebut dan aku menjulurkan lidahku ke arah Alex dan reaksinya hanya decakan kecil sehingga emosiku mulai terpicu. Wanita itu hanya tertawa kecil dan duduk di dekat ayahnya Alex.


“Kalau boleh tahu, namamu siapa?” tanya wanita tersebut.


“Nama saya Kayla dan niatnya saya ingin memberikan oleh-oleh kepada Tante Azri terlebih dahulu, namun seperti saya tersesat. Dan beruntungnya, saya menemukan rumah tante meskipun saya mengira ini rumahnya Tante Azri,” jelasku. Wanita itu adalah Tante Rayya dan beliau mengangguk mendengarkan ceritaku. Aku menyerahkan sebuah tote bag besar kepada Tante Rayya.


“Ini tante, oleh-oleh dari mama untuk tante.”


“Terima kasih Kayla.” Tante Rayya membukanya dan seulas senyum puas terukir di wajahnya yang masih terlihat muda.


“Kamu pasti anaknya Dena bukan?” Aku mengangguk dan menatap heran beliau karena ini pertama kalinya aku bertemu dengannya. Namun, hawa di rumah ini terasa berbeda, terutama pada anggota keluarganya. Seolah ada dinding besar yang membatasi diri mereka. Keluarga yang aneh. Mungkin ini akibat dari perceraian. Aku pun bangkit dari sofa dan mengambil oleh-oleh yang akan diberikan kepada Tante Azri.


“Om, Tante, dan Alex, saya izin pulang”


“Sudah mau pulang ya? Maafkan tante tidak bisa menyajikan apa-apa dan titip salam kepada mamamu. Farhan, kamu antar Kayla ke rumah Tante Azri,” titah Tante Rayya dan Alex berdiri dan berjalan menuju tangga untuk mengambil kontak sepeda motornya di kamar.


“Tidak perlu tante, saya jadi tidak enak dengan kebaikan tante”


“Tidak perlu, malah tante ingin sekali memiliki menantu seperti kamu.” Apa aku tidak salah dengar? Padahal baru beberapa menit yang lalu kami berkenalan dan Tante Rayya sudah memberikan kode hijau untukku.


“Bundamu berdoa agar kamu tidak menjadi bujang lapuk,” timpalku asal hanya untuk menutupi senyumku saat ini. Ia berlalu meninggalkanku dan aku berusaha menyusulnya, namun suara bariton ayah Alex menghentikan langkahku.


“Mungkin kamu gadis yang aneh, namun kamu pasti bisa mengubah dirinya.” Aku menoleh dan menatap intens ayah dari ketos kutub berharap ada sedikit kepedulian di balik dinginnya sikap serta cara berbicaranya. Namun, yang kutemukan adalah tatapan seorang ayah yang menaruh harapan lebih kepadaku. Sebenarnya apa yang membuat keluarga ini pecah dan mengapa orang tua Alex menaruh harapan itu kepadaku? Apakah aku membuat kesalahan lagi? Padahal, selama ini aku hanya memberikan perhatian sedikit kepadanya dan itu pun masih diceramahi oleh Laily. Lagipula, aku tidak ingin ikut campur dalam hidupnya. Namun, hatiku memberontak agar mulai mempercayai Alex. Sudah kuputuskan. Senyum pun terukir seolah aku mengiyakan apa yang mereka inginkan.


“Akan saya usahakan.”


Tin


Tin


Bunyi klakson terdengar sampai ke ruang tamu dan aku pamit undur diri kepada kedua orang tua Alex lalu menyusulnya ke depan. Semoga saja, keputusanku tadi tidak membawa malapetaka bagiku maupun dirinya.


.............................................


Setelah mengantarkan oleh\-oleh ke rumah Tante Azri, aku menawarkan Alex untuk pergi ke kafe terdekat untuk mentraktirnya, namun ia menolak. Bukan diriku jika tidak pernah memaksa orang lain. Aku memaksanya dengan alasan tidak enak mengantarku sampai di rumah dan meminta maaf atas perilakuku tadi. Dengan berat hati, ia menyetujuinya dan di sinilah kami sekarang. Bau kopi mendominasi seisi ruangan dan tercium sampai ke hidungku seolah nyaman dengan suasana di sini serta di depanku terdapat secangkir cappucino yang baru saja datang dan seorang laki\-laki yang tengah memandang keluar jendela kafe yang berembun dan secangkir kopi hitam yang belum ia minum. Aku memandangnya lekat dan bisa kulihat, iris hazelnutnya membuat jantungku berirama tak beraturan seperti habis berlari beberapa kilometer, hati serta pikiranku tak bisa selaras. Aku masih menyangkal bahwa ini adalah sesuatu yang dirasakan oleh para remaja saat ini dan menjadi ajang tersendiri dalam hidup mereka, cinta. Aku tidak ingin merasakannya lagi setelah apa yang dilakukan Dion kepadaku. Aku mempercayainya saat itu dan berasumsi bahwa diriku jatuh cinta dengannya sebelum sesuatu yang menghancurkan kepercayaanku serta tak ingin mengenal cinta.


“Kamu menyukai hujan?” Pertanyaan yang tidak sadar kuucapkan membuat Alex menoleh.

__ADS_1


“Mungkin,” jawabnya singkat sambil menghirup kopinya dan meminumnya. Aku mengikuti apa yang ia lakukan dan menikmati cappucinonya. Rasa cappucino yang khas, manis serta pahit yang masih membekas di ujung pengecapku membuatku menyukai minuman ini.


“Manis di awal, pada akhirnya masih membekas pahitnya.”


“Percuma menyimpan sesuatu yang indah, namun sesuatu yang buruk membayangi sesuatu yang indah tersebut.” Kami menatap satu sama lain dan mencoba mencari apa maksud dari masing-masing perkataan kami.


“Mengapa kamu mengatakan hal itu?” tanya kami bersamaan.


“Jangan meniruku,” jawab kami bersamaan lagi.


“Terserah.” Aku menaruh selembar uang 50 ribu di meja yang kami pesan dan beranjak pergi, namun ditahan olehnya.


“Sudah menelpon?” Aku tersadar dan langsung menelpon Mang Ujang, namun Mang Ujang tidak bisa menjemputku karena masih di bengkel. Aku menghela napas dan kembali duduk.


“Kenapa duduk lagi?”


“Pikir saja sendiri!” ketusku. Ia melanjutkan


kegiatannya tadi dan entah mengapa, aku kesal saat ia mengabaikanku. Ia berdiri dan pergi menuju kasir lalu kembali lagi untuk mengambil kontak sepeda motornya.


“Ayo,” ajaknya dan aku mengambil uang di meja lalu mengekorinya keluar dari cafe.


“Hujannya sudah reda ya?” Ia tidak merespon dan memberikan sebuah tote bag kecil kepadaku.


“Untukku?” tanyaku dan mendaat anggukan darinya. Entah mengapa, rasanya senang sekali mendapatkan ini darinya.


....................................


“Terima kasih sudah mengantarku dan.....hadiahnya,” ucapku sambil berjalan menuju gerbang rumah.


“Tunggu.” Aku menoleh dan penasaran alasannya memanggilku.


“Hati-hati dengan Dion dan Anaya.” Seulas senyumn pun terukir di bibirku dan sesaat aku tertawa kecil.


“Kamu juga, Anna juga bisa menjadi ancaman bagimu,” candaku dan ia tersenyum kecil.


“Terima kasih.” Ia menghidupkan mesin motornya dan pergi meninggalku. Rasa hampa menyelimuti hatiku kala dirinya pergi menjauh dari pandanganku. Hais, aku malah mellow begini. Mungkin tidur membuatku lebih baik. Aku memasuki rumah dan beranjak untuk melakukan beberapa hal untuk perayaan ulang tahun sekolah.

__ADS_1


__ADS_2