My Kutub Ketos

My Kutub Ketos
Love’s School Tour 2 (Alex)


__ADS_3

Akhirnya, bis kami sampai di villa Puncak setelah hampir 12 jam lebih duduk di bis dan mendengarkan nyanyi beberapa anak kelas yang memekak telingaku. Namun, saat ia menyanyikan lagu jepang tadi, aku rasa ia cocok menjadi idol dan aku bingung dia bilang apa di bis tadi. Sebentar, setelah ia beryanyi tadi, salah satu teman sekelasku menyuruhnya untuk mengatakan aku cinta kalian dalam bahasa Jepang, karena mereka mengganggu kenyamananku dan aku menyuruhnya untuk mengatakannya kepadaku. Saat mengingat kelanjutannya, pipiku menjadi merah dan aku menutupi wajahku agar tak ada yang melihatku. Tepukan di punggungku membuatku sadar dan menoleh ke belakang, ternyata Laily bersama Rena yang akan pergi searah denganku.


“Alex,” sapa Laily riang.


“Hm,”


“Kamu mau ke villa?”


“Ya dan Rena ikut kelompok kita?”


“Iya, karena Rena gak nemu kelompok. Lagipula, kalau nambah lagi kan jumlah cowok sama ceweknya sama,”


“Hm,”


“Boleh gak Lex?” tanya Rena.


“Boleh,” Laily dan Rena senang dan mengikutiku dari belakang. Aku menghela napas karena jumlah cewek bertambah, berarti penderitaanku bakal banyak. Akhirnya, aku sampai di villa yang dimaksud dan halaman yang berupa taman kecil dan iris hazelnutku melihat ia sedang duduk di bangku taman tersebut. Niatku ingin langsung masuk ke villa, namun langkah kakiku malah mendekat ke arahnya. Sejak kapan tubuh dan otakku tak berfungsi seperti biasanya? Mengapa hanya dia yang mampu membuat diriku tak terkendali? Saat mendekatinya, ia naik ke atas bangku dan hampir jatuh, aku berlari dan menangkapnya. Pada saat itu juga, iris hazelnutku menatap iris hitamnya dan aku baru tahu jika dilihat dari dekat, wajahnya tak terlalu cantik, namun terkesan manis atau imut mungkin dengan pipinya yang tak terlalu chubby namun menggemaskan.


“Ehem,” deham Laily dan aku spontan menggendongnya ala bridal style dan menjauhi bangku taman tersebut.


“Ada ular,” jawabku asal dan mengusir sesuatu di sana. Ternyata benar, ada seekor ular hijau dan mengambilnya dengan tangan kosong seolah aku biasa memegangnya dan melepaskannya di dekat pagar villa. Setelah melakukannya, aku kembali ke tempat Laily, Rena dan ia berada dan mendapati mereka ngerumpi.


“Kamu pawang ular ya?”


“Ular aja anteng sama dia, apalagi kamu Kay.”


“Apaan sih? Aku kaget banget digituin.”


“Kalian ngerumpi sampai orangnya kedengeran itu tidak baik,” celetukku dan cewek itu menarik kerahku.


“Niatku memang begitu. Lalu, apa yang akan kamu lakukan?” tanyanya seolah ingin menantangku. Aku tersenyum miring dan menggendongnya seperti mengangkat karung beras.


“Apa yang.......” Aku menghampiri Laily dan Rena dengan tatapan datar.


“Taruhkan tas dan koper milik Kayla di kamar,” titahku dan mereka mengangguk lalu mengambil tasku sambil menggendongnya masuk ke villa. Ia berusaha berontak, namun aku mengabaikannya dan menaiki tangga lalu sesampainya di atas, aku menurunkannya di lantai lalu meninggalkannya.


“Tunggu,” Aku menoleh ke arahnya dan ia mengepalkan tangannya sambil menggigit bibirnya sendiri.


“Kamu akan luluh kepadaku cepat atau lambat,” Aku langsung paham dan tersenyum miring.


“Butuh 100 tahun untuk meluluhkanku,” jawabku bohong. Mengatakan itu, menbuat hatiku sakit karena kenyataannya, ia hampir bisa meluluhkan hatiku meskipun phobia ini menghalanginya.


“100 tahun? Karena phobiamu? Akan kusembuhkan phobiamu segera dan kamu akan luluh kepadaku,” Aku tersenyum kecil dan mencoba meninggalkannya. Namun, tangannya memegang tanganku ingin mencegahku pergi. Aku langsung menepisnya dengan kasar dan meninggalkannya. Begini benar kan? Aku merasa bahwa aku mematahkan hati seorang gadis dan aku tidak tahu apakah perkataannya tersebut serius atau tidak. Aku tidak ingin memusingkan hal tersebut dan mencari kamar untukku menginap. Seingatku, Laily dan cewek itu yang tahu kelompok kami. Mungkin aku harus menanyakannya, namun aku sadar telah melakukan hal itu kepadanya. Bodoh amat aku pernah melakukannya, yang terpenting aku harus mencarinya dan menanyakan nomor kamarku. Aku mencarinya dan ternyata dia tetap berada di sana sambil menelpon seseorang. Aku coba mendekatinya dan terdengar percakapannya dengan seseorang di sana.


“Kakak gak pa-pa di sana?”


“Gak pa-pa kok, kamu gimana?”


“Gak pa-pa kak, kakak jangan lupa bawa cogan dari sana.”


“Cogan melulu, kamu masih kecil dan untuk apa bawa cogan ke rumah?”


“Mama pernah lihat kakak pulang malam sama cowok loh.” Kulihat, tubuhnya menegang dan tak sengaja menjatuhkan hpnya.


“Kak.”

__ADS_1


“Kak.” Lalu, ia mengambil hpnya dan menjawabnya dengan terbata-bata.


“Ehm......ka.ka........kalau itu, itu te..teman kok.”


“Sejak kapan kakak punya teman cowok?”


“Sudah dulu ya, kakak di sini sibuk. Assalamualaikum.” Ia mematikan teleponnya secara sepihak dan melihat ke arahku.


“Apa lagi?” tanyanya ketus dan hendak meninggalkanku, namun tanganku menahannya. Tanganku langsung gemetar dan ia menatap tanganku dengan iba, lalu melepaskannya.


“Jangan paksakan tangan ini tuk mengenggam hal yang masih tak bisa kamu atasi. Biarlah waktu dan usaha yang menyembuhkannya.” Kata-katanya seolah tersampaikan kepadaku dan ini hanya ditujukan kepadaku.


“Oh ya, arah tadi benar kok ke kamarku. Kamar paling ujung di sana,” tunjuknya dan aku mengangguk dan hendak meninggalkannya, namun Arnold menahanku.


“Cie, Kayla sama Alex mulai jadian nih,” goda Arnold dan Kayla menjewer telinganya sampai empunya kesakitan.


“Kay,” panggil Rena dan ia menoleh ke arahnya.


“Kamar kita di mana?” tanyanya dan ia melepas jewerannya.


“Aku mau ke kamar dulu,” pamitnya kepada kami dan membawa tas serta kopernya. Aku pun berniat ke kamar, namun ditahan oleh Andre dan Arnold.


“Lex, nanti jam 9 malam jangan ke mana-mana. Urusan kita belum selesai,” Aku mengangguk malas dan pergi menuju kamar yang telah ditunjukkan olehnya.


..............................................


Bintang menemani sang dewi malam dan dingin menusuk kulitku saat ini, padahal aku memakai jaket saat ini. Aku duduk di bangku taman yang sempat diduduki oleh cewek itu.


“Lumayan,”


“Tidak ada,” jawabku singkat. Ia mulai duduk dan aku memberikan jarak cukup jauh agar tidak timbul fitnah.


“Kapan kamu mulai seperti ini?” Pertanyaannya membuatku berpikir dua kali karena baru kali ini seorang cewek menanyakan hal ini kepadaku.


“Sejak orang tuaku bercerai,” Aneh. Mengapa aku jujur kepadanya? Padahal, aku tak ingin membahasnya.


“Begitu. Dr. Hayati bilang, kamu harus datang kepadanya segera jika phobiamu masih kumat,” Aku menoleh ke arahnya dan ia juga menoleh ke arahku.


“Sejak kapan Dr. Hayati menceritakan itu?” tanyaku dan ia mengedikkan bahunya.


“Ada yang bisa kubantu?”


“Bantu apa?”


“Menyembuhkan phobiamu dan lagipula, aku butuh sesuatu untuk menaklukkan sesuatu yang sulit kuraih,” Aku menatap langit malam lalu menatapnya lekat.


“Seperti pelampiasan?” tanyaku dan ia menggelengkan kepalanya.


“Mungkin aku jatuh cinta kepada ketos kutub ini,” Aku melotot ke arahnya dan ia tersenyum seolah pernyataannya tadi berasal dari lubuk hatinya.


“Memangnya kamu tidak bisa menentukan momen tepat untuk mengungkapkan ini? Lagipula, harusnya cowoknya yang menyatakan ini,” sanggahku dan ia berdiri menuju taman kecil di depan kami.


“Apa salahnya jika cewek yang melakukannya? Lagipula, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Pasti kamu artinya kan?” Aku mengangguk dan agak kesal dengan pernyataannya yang terkesan main-main itu.


“Kamu itu periang sekali, tak pernah merasakan sakit ya?” tanyaku kesal dan ia menatapku lekat dan iris hitam itu seolah mengajakku masuk ke dalam kehidupannya.

__ADS_1


“Seseorang sering tersenyum dan periang justru merekalah yang menyimpan luka paling dalam,” Ia tersenyum dan pergi meninggalkanku dalam tanda tanya besar.


“Apa maksudnya ia mengatakan hal itu seolah ia mengalaminya? Mungkin dia emang dasarnya suka aneh dan ini pasti kebiasaannya,” pikirku dan aku memilih untuk masuk ke dalam karena udara mulai dingin. Sesaat, terdengar tangisan dan aku mencoba mencari sumber suaranya. Ternyata, cewek itu menangis sambil terduduk dan aku melemparkan jaketku kepadanya.


“Aku tidak tahu alasanmu menangis, namun luapkan saja emosi itu dan hadapilah seseorang yang membuatmu menangis,” Aku tersenyum kecut dan meninggalkannya seolah akulah penyebab dia meneteskan air mata tersebut. Ini kedua kalinya aku seolah membuat hati seorang cewek tersakiti. Aku memang laki-laki yang bodoh karena phobia ini dan dia adalah cewek yang menangis di hadapanku setelah Bunda. Melihatnya seperti itu, teringat Bunda yang menangis seperti itu sampai hampir bunuh diri karena depresi. Aku merasa diriku telah gagal menjadi seorang laki-laki sejati dan kembali kepadanya. Saat aku kembali, ia masih tetap pada posisi tersebut, hanya saja jaketku dipakai olehnya. Aku mengulurkan tanganku kepadanya dan ia hanya menatapku kosong dan kulihat matanya sembab dan bibirnya membiru. Aku langsung menggendongnya di belakang punggungku dan ia seolah menjadi anak penurut mengalungkan kedua tangannya di leherku. Aku menggendongnya menuju kamarnya dan sepanjang perjalanan bertemu dengan kelompok lain dan mengatakan sesuatu.


“Mereka abis ngapain?”


“Mungkin ini jadi trending topic besok pagi nih,”


“Hati ini patah karena ketua OSIS kita udah ada yang punya,”


“Sebarin di grup kelas,” Aku mendekat ke sumber suara dan menatapnya tajam nan dingin.


“Sebar atau nyawa kalian akan melayang,” Aku langsung menelpon Delon dan terdengar bunyi di seberang sana.


*Tut


Tut


Tut*


“Halo Lex, tumben nelpon?”


“Kamu ada di keramaian?”


“Iya.”


“Segera menjauh!”


“Oke.” Sempat ada jeda karena Delon ada acara malam ini di villanya.


“Jadi apa?”


“Jika besok ada kabar bahwa aku bersama Kayla malam ini, maka periksa dan beri sanksi yang berat,”


“Tumben demi Kayla, kamu berikan sanksi yang berat kepada siswa/i lain?”


“Tidak, ini untuk ketertiban dan keamanan privasi siswa/i. Cepat laksanakan dan nanti aku akan turun tangan sembari bekerja di balik bayangan. Beritahu yang lain!”


“Baiklah.” Aku menutupnya secara sepihak dan aku menatap mereka lagi denga tatapan yang sama.


“Jangan sampai ada kabar tentang ini besok atau hidup kalian tidak akan selamat!” Mereka pun mengangguk dan pergi meninggalkan kami. Aku menaiki tangga sambil menggendongnya yang ketiduran. Sesampainya di atas, aku berpapasan dengan Rena dan menurunkannya dari gendonganku untuk dibawa oleh Rena.


“Terima kasih dan maaf telah menyusahkanmu,” pinta Rena dan aku mengangguk lalu meninggalkan mereka berdua. Teringat saat aku menelpon Delon, aku bergegas menuju kamar dan membuka pintunya dengan keras sehingga mengagetkan Andre dan Arnold.


“Kamu itu kenapa terburu-buru?” tanya Arnold kesal.


“Kamu lihat grup gak?” tanya Andre sambil memegang hpnya membuka grup WA dan aku langsung merebutnya.


“Oi, kamu kenapa sih?” tanya Andre kesal dan aku memukul dinding sampai tanganku berdarah.


“Terlambat sudah!” seruku menahan emosi dan memberikan hpnya kepada Andre dan langsung mendapat telepon dari wali kelas kami.


“Habislah aku,” gumamku dan langsung menjawab panggilan tersebut. Aku tak tahu lagi bagaimana cara membalas apa yang ia ungkapkan kepadaku. Siapa yang melakukannya? Aku langsung menghubungi Delon setelah menjawab panggilan dari wali kelasku.

__ADS_1


__ADS_2