My Kutub Ketos

My Kutub Ketos
First Chat (Alex)


__ADS_3

Aku berbaring di atas ranjang yang didominasi warna hitam dan putih dan menghela napas karena kejadian tadi. Mengapa aku mengalami berbagai kejadian dengan cewek itu? Memang salahku juga telah menaruh bungkus itu dan tujuanku memang ingin mengembalikan paketnya. Dan ternyata, pukulannya cukup kuat untuk ukuran seorang cewek. Aku teringat sesuatu bahwa aku harus menyelesaikan tugas kelompokku yang itu dan malangnya, aku satu kelompok dengan cewek itu. Aku mengambil hp di atas nakas dan ingin mengetikkan sesuatu. Namun, aku lupa jika aku tidak memiliki nomor WA nya. Terpaksa aku beranjak dari ranjang dan membuka laptopku berwarna silver sambil mengerjakan bagianku. Selang 1 jam berlalu, aku hampir selesai dengan tugasku dan kulirik ada sebuah pesan di hpku. Aku membuka pesan tersebut dan mengangkat alisku siapa yang mengirim chat tersebut.


+628310215980


Hey kutub, save kontakku.


Sebentar, hanya satu orang yang memanggilku. Apakah cewek itu?


Alexandro


Siapa?


+628310215980


Ini aku, Kayla.


Dugaaanku ternyata benar dan kuperbaiki posisi dudukku agar nyaman.


Alexandro


Kamu ya. Apa?


Cewek Multiattitude


Hanya ingin memberitahu bahwa bagianku selesai. Kapan mau didiskusikan?


Alexandro


Besok.


Cewek Multiattitude


Oke. I hate you. Watashi anata wa daikirai (aku membenci kamu)


Alexandro


Y.


Chatku berakhir dan serasa tak rela bila harus berakhir seperti ini aku tidak tahu bahasa apa yang ia gunakan setelah kata I hate you. Aku ingin mengetikkan sesuatu, namun kuurungkan karena sesuatu terlintas di pikiranku. Aku keluar dan turun dari tangga menuju ruang makan. Kulihat Bunda sedang menyiapkan makan malam yaitu Oseng-Oseng Kangkung kesukaanku dan Ikan Saus Tiram untuk kami berdua dan beliau melihat ke arahku dan kutunjukkan senyum yang selama ini kutahan agar Bunda memberikan senyumnya, namun harapan itu pupus dan yang kudapat hanya tatapan datar dari Bunda. Aku menghela napas dan mulai mengambil piring lalu mengambil lauk pauk. Saat ingin makan, sesuatu membuat telingaku sedikit menangkap suara tersebut.


“Bagaimana sekolahmu?” Pertanyaan tersebut membuat hatiku sedikit senang dan tak bisa kuhentikan senyumanku.


“Baik dan tugasku cukup banyak.” jawabku agak riang.


“Begitu. Jaga kesehatanmu dan jangan sampai kamu seperti Bunda.” peringat Bunda cukup datar, namun manik matanya seolah mengkhawatirkanku.


“Iya.” jawabku riang. Kami makan dan hanya suara dentingan sendok dengan piring mengisi keheningan kami. Setelah makan, Bunda melirik ke arahku dan menanyakan sesuatu yang tentu membuatku agak kesal.


“Kamu punya pacar?”


“Tidak. Lebih baik langsung membawa cewek itu ke hadapan Bunda dan meminta restu kepada Bunda.” jawabku kesal dan seulas senyum dari Bunda terukir yang membuatku senang dan ingin memeluk Bunda, namun gemetar dan bayang-bayang masa lalu masih mencegahku melakukannya dan Bunda menyadarinya.


“Bunda tahu kamu masih takut dengan Bunda. Namun, akan ada gadis yang membantumu menghadapinya dan kamu harus membantunya walaupun gadis yang kamu temui bukanlah gadis sempurna seperti putri dongeng yang kamu dengar selama ini.” nasihatnya lalu meninggalkanku dengan mendorong roda pada kursi rodanya sendiri menuju kamar. Aku mengangguk lesu dan membawa piring kotor ke tempat cuci piring. Setelah selesai mencuci piring, aku menaiki tangga dan masuk ke kamarku. Aku menuju balkon dan memandang langit tanpa bintang seperti telah ditelanjangi. Aku menghela napas dan melihat ke arah tanganku dan tak sengaja beberapa kilasan masa lalu bahwa aku tidak terlalu takut jika berada di dekat dengan cewek itu. Ia seolah berbeda dari semua cewek yang langsung jatuh hati ketika melihatku, ia melihatku seolah aku adalah musuh bebuyutannya dan aku tidak tahu kapan kebenciannya telah tumbuh. Aku ingat pertama kalinya kami bertemu dan segala sesuatu darinya seolah membuat seulas senyum terukir di wajahku.


*2 Tahun 1 Minggu, setelah MOS


Aku memasuki gerbang sekolah dan disambut oleh bisik-bisik dari berbagai siswa, tak lupa juga dari bisik-bisik cewek yang membuatku sakit telinga.


“Ganteng banget.”


“Tipe aku banget, beb.”


“Kabarnya dia dekat sama cewek ya?”

__ADS_1



Gak ah, dilihat manapun cewek gak ada yang berani deket dia.” Aku menyumpalkan headsetku dan menyetel lagu yang sekiranya membuat moodku membaik. Alunannya membuatku tidak fokus dan tidak sengaja menabrak cewek di depanku. Cewek tersebut jatuh dan barang-barangnya juga ikut terjatuh. Tubuhku tak berhenti bergetar saking takutnya terhadap cewek di depanku dan kuputuskan untuk meninggalkannya. Sebuah sepatu mengenai punggungku sehingga membuatku cukup kesakitan dan teriakan yang terdengar sangat keras sehingga mengundang perhatian seluruh siswa di sana.


“DASAR COWOK CEMEN, KUTUB, NYEBELIN, DAN GAK TANGGUNG JAWAB!” Aku menoleh ke arah sumber suara itu dan wajahnya merah padam dan aku langsung mendekat ke arahnya.


“Maaf.” jawabku datar dan berlalu meninggalkannya.


“MAAF SAJA TIDAK MEMBUAT ORANG LAIN MEMAAFKANMU. INGATLAH, KAMU YANG SEKARANG HANYALAH TOPENG UNTUK MENUTUPI DIRIMU YANG SEBENARNYA DAN DUNIA TIDAK AKAN PERNAH MENGAMPUNIMU JIKA KAMU HANYA MEMBAWA TOPENG ITU!” teriaknya dan kata-kata itu terasa menyindirku dan sempat melirik ke arahnya. Aku melihat sebuah cahaya menyinari cewek itu dan cewek itu menangis sambil mengatakan sesuatu yang lagi-lagi membuat air mataku hampir mencelos keluar.


“Dunia hanya ingin mengujimu bagaimana kamu bertahan dengan apa yang dilakukan dunia dengan usahamu. Percayalah, menangislah jika kamu memiliki masalah dan hadapi dunia ini dengan gertakan dan usahamu.”


Ck


Aku tidak suka ada orang yang tahu kelemahanku sejauh ini. Dia ini keturunan cenayang atau apa? Dia seolah tahu kelemahanku dan ia seolah memahami diriku. Aku mengepalkan tanganku dan berbalik melihatnya.


"Hei, kamu main drama ya?" tanyaku datar. Ia mengusap air mata dan ingusnya dengan kasar.


"Tidak. Untuk apa main drama kalau pemainnya saja tidak ada." jawabnya dengan wajah polos. Aku yang mendengarnya menahan tawaku karena ekspresi yang dia tunjukkan.


"Kenapa? Jawabanku salah ya?" tanyanya dengan wajah yang sama. Aku menahan tawaku dan melirik tajam ke arahnya agar aku tidak dikira menertawainya.


"Tidak." jawabku dan berlalu meninggalkannya. Aku seolah pernah melihatnya sesaat setelah cahaya menyinarinya. Sebenarnya ia siapa dan kenapa dia tahu kelemahanku? Tertawaan siswa di sana terdengar dan aku mengedikkan bahuku seolah itu bukan urusanku lagi.


.............................................


Akhirnya, aku mendapat kelas X IPA 5 yang jaraknya cukup dekat dengan kantin. Kebanyakan siswa baru menuju kantin untuk membeli makanan atau sebagai tempat tongkrongan.


Kring


Kring


Kring


Bel berbunyi dan banyak siswa yang masuk dan ada sebagian yang bingung mencari sesuatu, entah itu kelas ataupun bangku mereka. Di tengah-tengah keramaian itu, suara sepatu beradu dengan lantai mendekat ke arah kami, pintu terbuka dan muncullah guru muda yang kutaksir umurnya sekitar 27 tahun.


“Pagi pak.” jawab seluruh murid di kelasku.


“Perkenalkan nama saya Muhammad Ali Al-Arsya, panggil saya Pak Ali dan saya di sini sebagai wali kelas kalian.” kenalnya dan semua siswa senang karena wali kelas mereka masih muda, apalagi cewek-cewek di kelas ini berebut memberi pertanyaan kepada Pak Ali.


“Pak, bapak jomblo ya?”


“Pak, saya mau minta nomor hapenya.”


“Pak, kapan-kapan ajarin saya mencintai bapak.”


Pertanyaan yang kurang penting itu hanya kuanggap angin lalu dan suara yang kukenal tiba-tiba muncul di keramaian tersebut.


“Jangan ganggu Pak Ali. Pak Ali punya istri tahu.” jawabnya dengan nada datar. Aku melihat ke arahnya dan benar itu adalah cewek tadi pagi. Dia memiliki berapa wajah sehingga ia berbeda dengan pagi tadi?


“Sok tahu aja kamu.” sangkal salah satu siswi di sana.


“Pak Ali emang udah nikah kok.” keukehnya.


“Gak usah banyak alasan deh, bilang saja loe suka sama wali kelas kita.” sindirnya dan mendapat senyuman dari cewek itu.


“Udah Kay, jangan bikin masalah lagi. Biarin aja.” cegah cewek pendek yang bersama dengan cewek itu menghalangi agar tidak terjadi keributan. Namun, cewek yang menyindirnya mendorong cewek pendek tersebut hingga jatuh dan punggungnya mengenai bangku di sana. Tak tinggal diam, cewek yang dipanggil Kay langsung mendekat ke arah cewek yang mendorong temannya dan memberi bogeman mentah ke arahnya. Kay tersenyum puas melihat lawannnya menderita dan ia ingin melanjutkan aksinya, namun Pak Ali mencegah keributan tersebut.


“Sudah-sudah, kalian masih kelas 1 dan sudah membuat masalah. Untuk pernyataan Kayla itu benar karena Kayla adalah keponakan saya.” jawabnya dan langsung membawa cewek yang ternyata namanya adalah Kayla keluar dari kelas. Sebelumnya, ia membantu temannya dan membawanya ke tempat duduknya dan langsung memberikan sesuatu.


“Seujung jari kalian melakukan sesuatu dengan sahabatku, maka temui aku di lapangan depan sekolah sepulang sekolah untuk kueksekusi!” peringatnya dengan nada datar dan Pak Ali memanggilnya sehingga ia keluar dari kelas. Aku pun penasaran dengan seisi sekolah dan keluar dari kelas. Aku berjalan-jalan tak tentu arah melihat berbagai fasilitas sekolah, mulai dari aula, lapangan sepak bola, perpustakaan, dan langkahku terhenti di lapangan basket karena adanya senyap-senyap suara yang kudengar. Kudekati sumber suara tersebut dan suara tersebut semakin jelas di sana.


“Jangan membuat orang tuamu kerepotan dengan perbuatanmu.” peringat seseorang yang kuduga adalah seorang guru yang memarahi muridnya.

__ADS_1


“Aku gak rela Om kalau Laily diperlakukan seperti itu. Sekolah seolah seperti pengadilan tak berhakim dan seenaknya mereka memperlakukan hukum seperti itu.” jawabya dengan kesal. Suara ini, aku tahu jika yang berbicara ini adalah Kayla, cewek yang kutemui tadi pagi.


“Om tahu kamu kesal dan peduli dengan Laily, tapi kamu pikirkan baik-baik bagaimana kalau orang tuamu mengirimmu ke Jepang untuk meneruskan bisnis mereka di sana? Om sudah bela-belain kamu agar kamu tetap bersekolah di sini dengan syarat kamu harus tidak berbuat ulah di sekolah.” nasihat guru yang disebut om oleh Kayla. Aku penasaran siapa om dari cewek itu, karena selama keributan terjadi, aku tertidur pulas. Aku menguping di balik dinding lapangan basket dan memasang telingaku dengan baik-baik.


“Om Ali tahu kan, aku gak suka di Jepang karena di sana membuatku merasa homesick dengan masa SMA dan rumahku di sini dan ada juga alasan lain yang harus kulakukan di sini.” jelasnya dan aku cukup kaget bahwa


wali kelas kami adalah paman dari cewek ini.


“Apapun alasanmu, segera selesaikan dan kamu tahu kan bahwa kamu harus pergi ke Jepang setelah lulus dan tidak ada alasan lagi. Paham?”


“Aku paham.”


“Ayo kita kembali ke kelas sebelum semuanya menjadi runyam.” Pembicaraan tersebut berakhir dan cepat-cepat aku bersembunyi di balik koridor dan untungnya mereka tidak memergokiku. Setelah mereka berdua pergi, aku keluar dari sana dan berjalan seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Aku berpikir mengapa cewek itu pergi ke Jepang? Ada apa dengannya sampai-sampai harus menunda keberangkatannya? Ah, bodo amat aku mengurusinya dan tak sengaja iris hazelnutku melihat seseorang yang kumaksud di perpustakaan yang di mana ia sedang membaca sebuah novel klasik atau modern dengan fokus seolah ia membuat dunianya sendiri. Aku sempat terkagum bahwa setiap melihatnya, selalu saja ada cahaya yang menyinarinya. Mungki hanya imajinasiku saja dan aku pergi dari sana menuju kelas. Sesampainya di kelas, tatapan aneh tertuju kepadaku dan aku pun mencoba duduk kembali ke bangkuku. Lalu, cewek yang tadi kulihat di perpustakaan kembali ke kelas dan berlagak seolah tidak terjadi apa-apa tadi lalu duduk di bangkunya. Tatapan aneh pun mengarah ke arah cewek itu dan cewek itu tersenyum. Suasana kembali kondusif saat wali kelas kami kembali dan kegiatan belajar mengajar pun dimulai*.


.....................................................


Dering hpku membuatku terkejut dan kubuka ada pesan dari cewek itu. Ternyata benar kata orang dulu, saat seseorang membicarakan atau memikirkan orang lain, maka orang lain itu seolah memberitahu kita bahwa ia ada di sini.


Cewek Multiattitude


Jangan lupa bawa laptop


Alexandro


Memangnya kamu tidak punya?


Cewek Multiattitude


Gak, males mau bawa


Alexandro


Jangan malas, nanti kamu susah sendiri


Cewek Multiattitude


Memangnya kamu siapanya aku?


Benar juga, mengapa aku malah mempedulikannya? Kan terserah dia mau ngapain.


Alexandro


Benar juga, untuk apa mempedulikanmu?


Cewek Multiattitude


Baru sadar ya? Ke mana saja kamu selama ini?


Alexandro


Entah


Cewek Multiattitude


Semakin lama, aku semakin membencimu. Tunggu aku di sekolah besok! Akan kuhajar kamu dengan tanganku. I hate you and watashi anata wa daikirai.


Dia benar-benar cewek yang aneh. Selama ini, chat yang kuterima dari cewek SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) hanya kubaca, namun chat cewek ini kubaca bahkan kubalas di luar topik tugas kelompok dan dia seolah mengatakan hal tersebut tanpa berpikir panjang.


“Benar-benar ajaib cewek ini.” ucapku dengan tersenyum kecil. Aku tersadar telah mengatakan hal tersebut dan langsung membenturkan kepalaku ke dinding.


“Aku jadi gila gara-gara memikirkannya. Kira-kira kejutan apa yang ia lakukan kepadaku? Aku tak sabar menantinya.” gumamku dan beranjak dari balkon kamarku.


Ia bagai surprise box pelangi.

__ADS_1


Terlalu banyak kejutan yang ia berikan.


Dan kupegang erat seolah ia adalah milikku.


__ADS_2