My Kutub Ketos

My Kutub Ketos
Bully (Kayla)


__ADS_3

Aku terbangun dan sadar jika aku berada di dalam kamar villa sekarang. Aku menoleh dan terlihat Laily dan Rena tertidur di samping tempat tidurku lalu melihat mata panda mereka dan kepalaku terasa sakit. Mereka pun terbangun dan langsung memelukku seolah aku akan hilang lagi.


“Kay, kamu gak pa-pa kan?”


“Gak pusing lagi kan?” tanya mereka bergantian dan aku tersenyum sambil memegangi kepalaku.


“Alex yang anterin aku ya?” tanyaku dan mereka berdua memandang satu sama lain lalu menganggukkan kepalanya.


“Iya, tapi kamu jangan marah atau kaget ya?” Aku mengangguk malas dan memperbaiki posisiku menyandar di kepala ranjang sembari mendengarkan cerita mereka. Aku tak ingat saat aku dibawa olehnya dan apa yang terjadi selanjutnya karena aku terlalu menikmati aktingku kemarin.


*Kemarin malam


Kepalaku terasa sakit sekali dan aku bisa merasakan ada yang menggendongku. Aku membuka mataku dan menyesuaikan cahaya yang masuk sambil menguap.


“Huwa, mau makan bakso,”


“Baru sadar langsung ingat makanan. Benar-benar cewek aneh.” Mendengarnya berkata seperti itu, aku langsung memukul bahunya untuk minta diturunkan.


“Turunin gak?”


“Gak.”


“Turunin.”


“Gak.”


“Turunin.” Tanpa ba bi bu, ia langsung menurunkanku dan aku memukulnya lagi.


“Plin plan,” urungnya sambil menggendongku kembali.


“Pencurinya gimana?” tanyaku. Ia berhenti sejenak dan menoleh ke arahku. Jaraknya yang cukup dekat sehingga deru napasnya membuat buluku berdiri. Tubuhku seketika menegang dan mataku seolah tak ingin melepas pandanganku dari iris hazelnut miliknya.


“Tampan,” cicitku dan ia memandangku dengan tatapan heran dan kupukul wajahnya.


“Ngomong apa sih sampai memukulku lagi?” tanyanya dan aku menggelengkan kepalaku lalu ia menghembuskan napas.


“Aku menelpon Yudha untuk mengurus mereka.” Aku mengangguk malas dan terdengar suara Rena dan Laily dari kejauhan. Mereka menghampiri kami dan membawaku bersama mereka.


“Makasih ya Lex dan maafkan kami sudah memperlakukanmu dengan buruk tadi,” pinta mereka dan ia mengangguk. Aku tak tahu maksudnya dan melancarkan aksi yang biasanya kulakukan saat pelajaran guru killer, yaitu berpura-pura kerasukan. Aku tertawa sendiri seolah tak ada yang tahu penyebab aku melakukannya.


“Mungkin akting ini sangat menyenangkan,” pikirku dan memulai aksiku tersebut.


“Argh, aku adalah ha...ha........ha...ha.......penjaga hutan ini. Pergilah atau kalian akan mati di tanganku!” tegasku sambil mengambil pisau lipat yang memang kusimpan untuk kepentingan tertentu sambil menyeringai dan menatap tajam ke arah mereka. Laily seolah tahu apa yang akan kulakukan dan mulai menghapus jarakya denganku.


“Kay, akhiri saja aktingmu itu. Maksudmu melakukan ini apa?” Rena dan Alex menatap heran ke arah Laily seolah tahu kebiasaanku sampai ke akar-akarnya. Laily pun menoleh ke arah mereka dan menatap mereka serius.


“Kalian harus tahu, Kayla ini sedang berakting pura-pura kerasukan dan ia melakukannya saat pelajaran guru killer dan saat teman-temannya mengabaikannya sampai dia keasyikan sendiri dan tak sadar apa yang ia lakukan. Tapi, bukan berarti dia sakit jiwa atau apa, dia hanya keasyikan melakukannya sampai lupa kejadian tersebut,” jelasnya dan aku menatap tajam ke arah sahabatku.


“Mengagumkan, mungkin aku harus mengikuti alur darimu!” Aku langsung mulai menyerang sahabatku, namun sengaja tak mengenainya karena sasaranku sebenarnya adalah Rena. Aku menatap tajam ke arahnya dan menodongkan pisaunya lalu mengancamnya sambil mendekat ke arahnya.

__ADS_1


“Apa yang kalian lakukan kepadanya?” tanyaku dan kulihat ia terpaku dan gemetar seolah mengundang rasa penasaranku. Lalu, aku semakin mendekat ke arahnya, namun tanganku ditahan oleh Alex dan menarikku ke arahnya lalu bibirnya menyentuh bibirku sehingga tubuhku menegang dan pikiranku seolah melayang entah melayang ke mana dan pandanganku langsung menggelap*.


....................................................


Wajahku langsung memerah dan melempar bantal ke arah mereka berdua karena telah menceritakan hal yang memalukan tersebut.


“Beneran si kutub lakuin hal itu?” tanyaku dan kuharap cerita yang mereka katakan hanyalah khayalan saja, namun anggukan mereka menghancurkan ekspetasiku.


“Haaaaaaah, padahal aku hanya ingin berakting dan malah berujung kehilangan first kiss,” keluhku dan mendapat jitakan dari Laily dan tentu saja, rasanya sakit sekali.


“Makanya, jangan terlalu menikmati akting sampai dia sendiri yang turun tangan loh,” kesalnya dan melemparkan handuk kepadaku.


“Mandi dulu gih, baru minta maaf kepada Alex atas kejadian kemarin dan berterima kasihlah karena dia mau mencarimu ke mana-mana,” ingatnya sambi menatapku tajam. Rena menghampiriku dan aku menatapnya lalu memegang tangannya.


“Maafin aku ya, udah buat kamu takut,” pintaku sambil mengenggam erat tangannya, namun ia melepas genggaman itu dan menangkup wajahku dengan tangannya.


“Gak pa-pa Kay, makasih juga sudah menjadi temanku selama ini.” Kami saling berpelukan beberapa saat dan tidak menyadari bahwa Laily dan ketiga cowok melihat kami melalui celah pintu.


“Memang ya, persahabatan cewek itu lumayan kuat,” bisik Arnold dan Laily menepuk wajahnya karena jaraknya terlalu dekat.


“Kayla memang aneh, namun tak kusangka dia tidak memandang seseorang untuk berteman. Kukira, karena dia aneh dan wajahnya seperti anak sombong, namun cover tak sesuai isinya,” salut Andre dan Alex melihat aksi kami berdua lalu pergi meninggalkan mereka yang sedang mengintip.


...........................................


"Kay, cepet ke sini," ajak Laily sambil menarik lenganku.


"Loe punya masalah apa sampe nabrak gue?" Aku hanya menatapnya datar dan melepas paksa tangannya dari bajuku.


"Kamu itu hanya antek-anteknya, tapi gayamu udah kayak sekelas Anaya. Maaf saja, Anaya saja aku masih berani, apalagi kalian yang sekelas teri kek gini," sindirku dan pergi meninggalkannya. Laily pun menyusulku, namun Mona menjambak rambut Laily sampai ia merintih kesakitan. Amarahku memuncak dan langsung menamparnya. Mona menatapku dengan pelototan matanya dan kutatap bagai elang ke arahnya.


"Ngapain jambak sahabatku? Kamu cuma punya masalah sama aku, bukan sama Laily dan itu hukuman karena telah melukai Laily," ucapku lalu menarik Laily pergi dari Mona yang sedang kesal sekali dan menelpon seseorang. Laily melepas paksa peganganku dan menatap tajam ke arahku.


“Kamu gak tahu konsekuensinya kalau berurusan dengan salah satu antek-anteknya? Kamu tuh udah pernah dibully sama mereka dan masih mau cari masalah lagi ya?” Amarahnya sudah di ujung tanduk dan aku mengenggam kedua pundaknya lalu menatapnya dengan sendu.


“Ly, bullyan mereka gak akan berefek kepadaku walau mereka mengundang semua anggotanya untuk melawanku. Dan suatu saat, mereka mendapat ganjaran yang setimpal. Apa kamu lupa jika aku suka bermain “cantik”?” Laily menggelengkan kepalanya dan aku tersenyum lalu meninggalkannya.


“Kay, kamu mau ke mana?”


“Aku nyari udara segar dan gak bakal jauh-jauh lagi,” teriakku. Aku melihat kupu-kupu yang bercorak unik dan ia terbang entah ke mana lalu aku mengikutinya. Kupu-kupu itu terbang dan tanpa sadar, aku sudah berada di belakang gudang yang jaraknya tak terlalu jauh dari tempatku berpisah dengan Laily. Suara langkah kaki mengagetkanku dan ternyata, Anaya beserta antek-anteknya dan 3 anggotanya menghadangku. Wajah mereka terlihat senang seolah mendapat mangsa yang mereka inginkan.


“Loe ya yang nabrak Mona? Gak ada kapoknya banget sih jadi cewek. Udah kegatelan sama Alex, terus nabrak Mona sama Zaskia. Loe tuh maunya apa?” tanyanya sambil mendorongku cukup keras ke tembok dan punggungku terasa ngilu. Aku menatapnya datar seolah tak tekut dengan cara bicaranya dan tersenyum lebar.


“Seharusnya yang bertanya seperti itu adalah aku dan mengapa kamu suka ikut campur?” tanyaku balik dan wajahku langsung ditampar sampai telapak tangannya membekas di pipiku.


“Segini saja? Tamparan ini seperti semut,” tantangku sambil menahan sakit karena tamparan tadi. Anaya menyuruh Mona dan Cindy memegang kedua lenganku dan aku hanya menatap datar ke arah mereka. Sedangkan Zaskia dan ketiga anggotanya mulai mendekatiku dan Zaskia memukul perut dan rasanya sakit sekali. Ketiga angoota tadi melakukan hal yang sama dengan Zaskia dan salah dari mereka menarik rambutku dan menampar wajahku berkali-kali sampai pipiku membiru. Aku meludahinya saking kesalnya dengan perlakuannya dan pukulan di perutku menjadi penutup sekaligus pukulan yang menyakitkan bagiku. Aku tersungkur ke bawah dengan darah keluar dari mulutku dan pipiku membiru lagi bengkak. Anaya menghampiriku dan menendang tubuhku yang terkulai lemas akibat perlakuan mereka.


“Sekali lagi loe cari masalah sama kita semua, hidup loe bakal berakhir saat itu juga!” Mereka semua meninggalkanku dengan keadaanku yang cukup mengenaskan. Aku mengeluarkan hpku dan menekan nomor yang kutuju.


Tut

__ADS_1


Tut


Tut


“Nona, ada yang bisa saya bantu?”


“Segera ke Puncak dan lacak melalui GPS keberadaanku dan jangan lupa, bawa dokter pribadiku juga.”


“Baiklah, dan mengapa nona membutuhkan dokter?”


“Aku dibuat babak belur oleh Anaya.”


“Mengapa nona tak membalas perbuatan mereka dengan harga yang setimpal?”


“Biarkan mereka menang dulu, nanti juga akan kusingkirkan mereka dari hadapanku. Kamu siapkan saja beberapa bodyguard terbaik dan segera selidiki tindak tanduk Anaya.”


“Baik nona, ada lagi?” Sesaat, kilasan saat aku menangis di halte karena kejadian si kutub menolong cewek cosplayer itu membuat rasa penasaranku muncul, padahal aku ingin bersikap bodoh amat. Namun, rasa terbakar di dalam hati datang tiba-tiba dan membuatku jengkel sesaat.


“Carikan gadis cosplayer berambut hitam yang datang di event kota sebelah yang pernah kukunjungi dan selidiki dia sampai ke akar-akarnya.”


“Segera.” Aku menutup teleponnya dan menunggu bala bantuan datang. Aku menatap langit biru yang indah seolah ia tak pernah disakiti oleh siapapun, kecuali Tuhan sendiri yang melakukannya.


“Apa yang harus kukatakan kepada Laily? Huft, pasti omelan yang kudapat darinya dan aku ingin tahu bagaimana reaksi tuh kutub saat aku terluka seperti ini. Mungkin dia hanya menunjukkan wajah dingin bin datar bin tripleknya,” gumamku sambil memegang perutku menahan lapar dan sakit akibat pukulan mereka.


“Lihat saja nanti, permainan ‘cantikku’ akan dimulai dan selamat datang penderitaan kalian semua!” seringaiku sambil tertawa sendiri. Yap, ini adalah salah satu rahasiaku yang diungkap oleh dirinya dan aku sangat jengkel saat mengingat kejadian itu.


.......................................


“Assalamualaikum sahabatku yang paling cantik,” ucapku sambil memeluk Laily dan Rena.


“Apaan sih Kay? Dari mana aja kamu?” tanya Laily.


“Biasa, jalan-jalan sendiri,” jawabku sambil tersenyum walaupun masih terasa sakit.


“Oh ya, pipimu kelihatan agak besar ya?” Pertanyaan Rena membuat tubuhku menegang dan mencoba mencari alasan untuk menutupi kejadian tadi.


“Rena, hanya satu hal yang membuatnya seperti itu.” Jantung berdetak lebih cepat saat Laily mengetahuinya. Tanganku berkeringat dan bekas luka di pipiku seudah kututupi dengan BB cream banyak banget biar tidak terlalu kentara. Laily menatapku dari atas ke bawah dengan serius dan aku menghindari kontak matanya dan senyum terukir di wajahnya.


“Kumohon, jangan sampai Laily tahu tentang apa yang terjadi padaku,” doaku sampai air mataku hampir membentuk muara di pelupuk mataku.


“Karena dia banyak makan karena sering mood swing dan penyebabnya itu ketos kutub sekaligus anggota ekskul Dandelion, Alex.” Jawaban Laily membuatku mengusap kasar mataku dan menatapnya tajam lalu melempar bantal ke arahnya. Namun, bantal tersebut mengarah ke arah Alex yang tak sengaja lewat dan ia melihat tajam ke arahku seolah bahwa tahu bahwa aku pelakunya lalu memberikan beberapa kertas untuk menuliskan beberapa kebutuhan untuk pertunjukan kami yang kurang 1 bulan lagi sambil mengawasiku agar tidak kabur.


“Kenapa aku harus berurusan dengan ketos kutub ini!!!!!!!!” teriakku sampai jiwaku ikut menangis juga saking tidak beruntungnya aku dan kenapa Tuhan mendesak keadaan untuk mempertemukan kami padahal kami sangat bertolak belakang?


**Halo para pembaca setia MKK


Author minta maaf atas lamanya up cerita karena kondisi author kurang fit dan banyaknya tugas sekolah🙏


Terima kasih atas vote dan likenya**

__ADS_1


__ADS_2