
Aku sedang berada di tempat istirahat para pemain basket dan menghela napas dan Andre menoleh ke arahku.
“Pasti ada masalah,” tebaknya dan aku mengangguk.
“Pasti gara-gara si Dion buat ulah lagi,” tebaknya lagi dan aku mengangguk.
“Dion adalah penyebab Kayla seperti ini.” Perkataanku membuat Andre mengernyitkan dahinya dan aku menghela napas lalu menatapnya lekat.
“Dia membenciku mungkin ada hubungannya dengan Dion.” Andre menepuk bahuku mencoba menenangkanku.
“Mungkin kamu benar karena yang kudengar, saat Dion masih bersama kita dan pacarnya dulu, seorang adik kelas memergoki ia bersama seorang gadis dari sekolah lain pergi ke toko buku,” jelas Andre dan aku mengangguk pasrah tak ingin membahas orang itu. Emosiku saat ini berada dalam batas bahaya sejak Dion memegang lengan cewek multiattitude dan aku bingung sejak kapan aku peduli padanya. Belum lagi, aku tidak tahu nama dari si cosplayer itu dan entah kenapa ada kenyataan bahwa salah satu dari mereka berdua adalah gadis yang kucari.
“Kemungkinannya bahwa gadis yang bersama Dion adalah Kayla. Menurutmu bagaimana?” tanya Andre dan aku mengendikkan bahuku. Pintu terbuka dan muncul kak Sergi dengan wajah berseri-seri.
“Kalian tahu? Kapten kita telah menyelamatkan hidup seorang gadis dan gadis itu tak lain adalah musuh bebuyutannya kapten kalian.” Mendengarnya membuatku menutup mukaku dan banyak pemain basket mengerubungiku sampai-sampai Andre pergi menjauhiku.
“Kapten, kau memang hebat.”
“Bukannya kak Kayla membenci kapten dan satu sekolah tahu akan hal itu?”
“Tapi, kalau dilihat lagi, kak Kayla gadis yang cantik juga.”
“Oh, kau memang benar.” Aku malas mendengarnya dan menatap mereka semua dingin dan mereka seolah mengerti dan menyingkir dariku.
“Jangan membahas Kayla dan bersiap-siap untuk separing sebentar lagi,” ucapku datar dan mereka mengangguk paham sambil ketakutan dan aku melewati kak Sergi, namun tangannya menahan pundakku dan aku menoleh ke arahnya.
“Kita tidak tahu Kayla akan memilih siapa, begitu juga dengan dirimu. Air yang tenang belum tentu ada buayanya. Kalian berdua harus bisa memilih jalan yang kalian pilih walau salah satu atau kalian berdua sendiri harus terluka,” kata kak Sergi lalu meninggalkanku dalam tanda tanya besar. Apa maksud dari kak Sergi? Aku memijit dahiku dan melemparkan kacamataku ke arah Andre untuk ditaruh di tempatnya.
“Kita pergi ke lapangan sekarang juga,” perintahku dan para pemain, baik pemain inti dan cadangan mengikutiku dan sorak sorai bergema dari kejauhan dan semakin dekat, sorak sorai tersebut terdengar jelas mendukung masing-masing tim dan kulihat cewek itu duduk di bagian belakang tribun bersama Laily dan adik kelas tadi. Aku melihat Dion dan dia menatap datar kepadaku, begitu juga aku dan para pemain inti dari kedua tim berkumpul di tengah lapangan. Dion menyuruh wasit mendekatinya dan membicarakan sesuatu. Wasit itu mengangguk dan menyuruh seseorang untuk mengambil sesuatu. Sebenarnya apa yang ingin dia lakukan? Aku melihat ke arah cewek itu dan wajahnya menunjukkan ada sesuatu yang buruk. Seseorang itu membawa 2 buah mikrofon dan ia memberikannya kepadaku dan Dion. Dion berdeham dan mulai membuka suaranya.
“Selamat datang di acara separing SMA Bima Nusantara melawan SMA Shine Wish. Tentu saja, kami tidak anggap kalian sahabat walaupun ini hanya separing,” lagaknya dan aku tersenyum miring mendengarnya.
“Siapa juga yang ingin bersahabat dengan kalian?” Aku mulai membuka suaraku dan ia tersenyum miring pula.
“Benar juga, dan aku menginginkan satu hal darimu sebagai taruhannya.” Aku terkejut bukan main dan aku mencoba berpikir mengapa separing diperbolehkan melakukan taruhan.
“Ini gak benar, pak wasit. Kita mulai pertandingannya saja,” tentang timku dan pak wasit menutup telinga dan aku berdecak kesal dan ia tersenyum puas. Andre berniat memukulnya, namun kutahan karena ini adalah separing dan aku tidak ingin SMA Shine Wish tercemar nama baiknya.
“Aku tidak tahu trik apa yang kamu berikan kepada wasit ini, namun aku terima taruhan itu.” Dion tersenyum lebar dan memastikan apakah aku serius dengan taruhannya itu.
__ADS_1
“Benarkah? Aku tidak yakin kamu melakukannya,” pancingya dan aku tersenyum tanda aku menyetujuinya.
“Baiklah, yang kita pertaruhkan di sini adalah salah satu siswi dari SMA Shine Wish, Kayla.” Mataku terbelalak saat dia menunjuk ke arah cewek itu dan pandangan seluruh stadion menuju ke arahnya.
“Apa maksudnya?” tanyaku datar dan ia tersenyum miring.
“Jika kami menang, maka Kayla akan menjadi siswi SMA Bima Nusantara dan dia akan menjadi milikku selamanya.” Semua orang di sana kaget, begitu juga dengan kami sampai tanganku memerah gara-gara menggenggam mikrofon terlalu kencang. Aku melempar mikrofon ke arah Andre dan menyiapkan kepalan tanganku dan mulai melayangkan pukulanku ke arahnya, namun suara keras cewek itu membuat aku menghentikan pukulanku.
“Jika tim kami menang, aku menjadi milik Alex selamanya dan enyahlah kamu dari hadapanku.” Aku kaget dan melotot ke arahnya. Ia menjulurkan lidahnya mengejekku dan aku tersenyum untuk menutupi kejengkelanku. Terkadang, aku kagum dengan keberanian dan spontanitas dirinya. Aku menghentikan pukulan tadi dan mencoba rileks setelah sempat terbawa emosi.
“Aku terima!” tegasku dan sorak sorai terdengar keras dan seseorang tadi mengambil mikrofon dari kami berdua. Entah kenapa, rasanya beban di dadaku terlepas dan rasanya terasa aneh jika cewek itu menjadi milik Dion. Mungkinkah aku menyukainya? Tidak, ini hanyalah rasa kemanusiaan yaitu melindungi dirinya. Wasit pun memanggil kapten dari kedua tim dan mengundi siapa yang bermain dulu dan ternyata, tim kami mendapat bola pertama kami. Peluit pun berbunyi menandakan pertandingan dimulai. Aku mendribble bola dan memberikannya kepada saah satu pemain kami, dan berhasil lalu ia membawanya dan mencoba memasukkannya ke ring, namun gagal dan Andre melakukan apa yang dilakukannya dan mendapat 3 poin. Aku menghampirinya dan menepuk pundaknya dan peluit berbunyi kembali. Andre mendribble bola dan mencoba memberikannya kepadaku, namun salah satu pemain lawan mengambilnya dan aku mencoba mengejarnya, namun terhalang oleh 2 pemain yang lain dan pemain tadi memberikan bolanya kepada Dion dan mencoba memasukkan bola ke arah ring dan masuk. Poin menjadi seri di antara kedua tim dan sorakan penonton masih terdengar riuh sampai memekak telingaku. Pertandingan berlangsung 20 menit pertama dan wasit meniupkan peluitnya tanda pertandingan pertama selesai. Aku bersama timku duduk di pinggir lapangan dengan keringat mengucur deras dari dahi membasahi kaos kami. Dari kejauhan, aku melihat kak Sergi membawa beberapa haduk kecil dan sesampainya di tempat kami, ia melemparkan handuknya ke arah kami.
“Kerja bagus kalian, hanya perlu sedikit usaha untuk menang,” ucap kak Sergi dan duduk sama seperti apa yang kami lakukan.
“Skor kita seimbang dan itu membuat kami cukup kelelahan dengan formasi mereka,” ucap salah satu pemain kami dan aku menatapnya dingin sehingga membuatnyaa serasa ketakutan.
“Itu baru permulaannya saja, formasi pamungkas mereka belum mereka keluarkan. Kita harus pikirkan formasi kita selanjutnya dan formasi dadakan jika mereka menggunakan formasi mereka di tengah-tengah atau detik-detik terakhir pertandingan,” jelasku dan semuanya otomatis mendekat ke arahku.
“Bagaimana cara kita menebak dan formasi apa yang akan kita gunakan nanti?” tanya Andre dan sebelum aku menjawabnya, sebuah botol pocari sweat berukuran tanggung yang entah dari mana mengenai pelipisku dan aku mengaduh kesakitan.
“Gunakan sedikit gertakan dan kamu akan tahu selanjutnya kan, kutub bin triplek?” seru cewek itu dan aku menatapnya datar seolah melupakan rasa sakit tadi.
“Sakit, lepasin jewerannya. Mau kulaporin ke polisi ya?” rajuknya sambil memanyunkan bibirnya. Aku menahan tawaku karena ekspresinya terlihat menggemaskan. Hah? Sejak kapan aku menjadi mellow kayak gini? Aku mendengus kesal dan mengangguk pasrah sehingga ia semakin gemas memukulku lagi. Semuanya tertawa lepas dan aku tersenyum kecil dan mulai memikirkan apa yang ia katakan. Entah kenapa, dia berbicara seolah ini adalah bisnis, bukannya pertandingan. Tunggu, mungkin ini bisa dilakukan saat kami terpojok atau sebagai serangan pembuka. Aku menepuk kepalanya sebagai tanda terima kasihku kepadanya. Aku melirik ke arahnya dan pipinya merah seperti tomat. Aku melepaskan tanganku dari kepalanya dan tertawa terbahak-bahak karena wajahnya itu. Semuanya melihat ke arahku dengan tatapan kaget karena baru pertama kalinya melihatku tertawa hanya karena seorang cewek yang tentu saja menjadi penyebab phobiaku. Bukan berarti Kayla yang menyebabkan aku begini, hanya saja rasanya berbeda saat bersamanya.
Deg
Deg
Untuk apa detak ini ada? Memang benar bahwa jantung selalu berdebar bahkan saat kita tidur karena ini adalah pelajaran paling dasar, namun kenapa detaknya semakin cepat? Aku bahkan tidak berlari saat ini? Apa penyebabnya? Mungkinkah............................
“......................Lex.”
“..............Lex.”
“Alex!” seru Andre menyadarkanku dan aku mengedipkan mataku seolah tidak terjadi apa-apa. Andre menghela napas kesal dan melempar handuknya ke arahku.
“Bau,” jawabku pendek.
“Terserah dan formasi apa yang akan kita lakukan?” tanyanya.
__ADS_1
“Seperti biasa, kecuali......................” Aku menyuruh mereka mendekat ke arahku dan membisikkan sesuatu kepada mereka.
“Kepada para pemain, pertandingan akan segera dimulai. Dimohon agar kedua tim berkumpul di tengah lapangan. Sekali lagi................” Pengumuman tadi mengakhiri diskusi singkat kami dan mereka berdiri lalu berjalan menuju ke tengah lapangan disusul aku yang berdiri, namun tangan Kayla memegang kaosku.
“Semoga berhasil,” cicitnya dan aku tersenyum ke arahnya lalu menyusul mereka ke tengah lapangan. Aku tak perlu memikirkan terlalu jauh perasaan ini. Lagipula, tim kami harus menang untuk melepaskan Kayla dari taruhan ini dan menambah poin kemenangan kami walaupun ini hanya separing. Memang tidak aneh jika pertandingan antar 2 sekolah musuh bebuyutan dibuat model pertandingan walaupun hanya separing dan sampai angkatanku, belum ada keterangan yang jelas asal mula permusuhan ini terjadi. Kedua tim telah berkumpul di tengah lapangan dan wasit membunyikan peluitnya. Pertandingan babak kedua dimulai dan skor pertandingan pertama 24-22. Yah, kami memenangkan pertandingan pertama dengan selisih yang cukup dekat. Namun, aku tak boleh berbangga diri dulu karena takutnya mereka memojokkan tim kami. Aku mendrible bola dan memberikannya kepada salah satu tim kami, namun Dion mencegahku untuk melakukannya, namun aku tak kehabisan akal. Aku melakukan overhead pass dan temanku menangkapnya dan ia memasukkannya ke dalam ring dan masuk. Pertandingan terus memanas dan napas kami tersenggal-senggal karena terlalu banyak berlari dan keringat mengalir deras dari dahi membasahi tubuh kami. Kepalaku terasa pusing dan pandanganku terasa kabur, namun pertandingan masih berlanjut dan karena kelelahan, tim kami ketinggalan jauh dengan skor 30-38. Itu buruk, aku tak bisa melanjutkan ini. Baru kali ini selama pertandingan basket 2 tahun ini, aku merasa lelah sekali. Aku menepuk wajahku sendiri agar aku segera sadar. Mataku terbelalak saat ini karena mereka membuat formasi berbahaya itu. Kepalaku serasa pecah dan kosong sehingga tubuhku bergetar hebat. Ayolah, kuatkan dirimu sekarang! Ini buka waktunya untuk pingsan. Sesaat, bayangan Kayla dan kenangannya bersamaku terlintas di pikiranku dan kata-katanya barusan membuat isi perutku meluap seperti rasa terbakar. Aku berbalik dan berteriak seolah tak mempedulikan sekitarku.
“Tunjukkan bahwa SMA kita bisa mempertahankan salah satu murid berbakat seperti Kayla dan OSIS akan membebaskan segala hukuman baginya walaupun dia melakukan kesalahan!” teriakku dan semuanya terasa hening sekali dan sepatu pun melayang mengenai kepalaku. Aku menoleh dan melihatnya sedang berusaha menerobos masuk ke tengah lapangan walau ditahan oleh 2 sekuriti dan wasit. Ia berusaha melawan, namun tak bisa karena kekuatannya tak bisa menandingi kekuatan mereka.
“Kalahkan tim basket mereka dan beri mereka gertakan SMA kita yang terkenal garang, apalagi dulu kita yang membuat gertakan itu!” teriaknya dari kejauhan dan membuatku teringat akan kejadian itu lalu senyum terukir di wajahku. Sudah berapa kali cewek itu membuatku tersenyum dan entah kenapa, kepercayaan diriku tumbuh kembali.
“Tim Shine Wish!”
“Yes!” seru mereka dan kami melakukan yang terbaik selama pertandingan berlangsung.
.................................................
“Akhirnya, sekolah kita menang Kay. Kukira, ini adalah pertemuan terakhir kita karena kamu dijadikan taruhan tadi,” haru Laily sambil memeluknya dengan erat. Lapangan menjadi sepi beberapa menit yang lalu, hanya ada aku dan teman ekskul Dandelion dan kemenangan diperoleh kami setelah berbagai gertakan dilakukan.
“Lepasin gak, aku geli tau,” jawabnya ketus dan berusaha melepaskan pelukan Laily, namun tak bisa. Kami tertawa melihat kedua gadis yang bersahabat itu. Lalu, anggota ekskul menghadap ke arahku dan tersenyum puas.
“Terima kasih Alex atas pertolonganmu,” Aku tersenyum dan tiba-tiba Kayla memelukku dari belakang entah sejak kapan. Pipiku seperti kepiting rebus dan ia mengeratkan pelukannya.
“Terima kasih,” bisiknya dan aku masih bisa mendengarnya. Tiba-tiba, tubuhku bergetar hebat dan melepaskan pelukannya dan menjauh darinya.
“Mungkinkah, phobianya kumat lagi?” pikir mereka jika kulihat ekspresi wajahnya.
“Memang salah?” tanyaku datar.
“Aku akan membantumu. Tapi, bukan berarti aku suka atau apapun itu. Hanya membantu!” kesalnya sambil melihat ke arah lain. Aku tersenyum kecil dan memandang langit senja dan mungkin, cewek itu melihat langit senja juga.
Kepada langit senja
Di bawah sini, 2 insan merasakan sebuah getaran rasa
Kami berdua belum mengerti apa itu
Namun, kami akan perlahan-lahan
Menemukan kejelasan getaran rasa ini
__ADS_1