My Kutub Ketos

My Kutub Ketos
The Truth? (Alex)


__ADS_3

“Ini yang kesekian kalinya kamu terlambat. Hukuman apa yang pantas untukmu?” Seulas senyum sinis terukir di bibirku dan cewek yang memakai rok selutut dan celana training yang melebihi sampai mata kaki tersebut hanya menatapku kesal.


“Apa urusannya denganmu?” Aku menatapnya datar dan mengamati dirinya dari atas rambut sampai ujung kakinya.


“Celanamu melewati batas. Ikut ke BK!” Namun, cewek itu langsung meninju dadaku sehingga aku terduduk menahan sakit akibat tinjuannya. Ia mengikuti gaya dudukku dan seulas senyum jahat menghiasi bibirnya lalu menghapus jaraknya denganku sehingga jarak kami hanya 10 cm. Oi, di naskah hanya diberi 20 cm dan mengapa cewek ini tidak mengikuti apa yang dikatakan naskah.


“Cut!” Suara Laily menghentikan aksi kami dan kami kembali menjadi diri kami sendiri.


“Kayla, bagian kamu pas tinju tuh lengannya, bukan dadanya. Alex kan kesakitan. Dan jarak tadi, seharusnya 20 cm, bukan 10 cm,” keluh Laily dan cewek itu hanya mengangguk malas. Tyo menghampiriku dan memberikan air mineral kepadaku.


“Ini kak.”


“Makasih.”


“Dada kak Alex masih sakit?” Aku menggeleng dan Tyo meninggalkanku untuk melakukan apa yang kami lakukan barusan. Hari ini, kami melakukan latihan drama di aula dan sudah mendapatkan persetujuan dari kepala sekolah untuk digunakan kami untuk latihan drama. Kuakui, dirinya berbakat dalam akting, kecuali saat kejadian tur tempo hari. Lebih baik aku harus menghindarinya karena aku melakukan hal itu dan aku mungkin dicap sebagai first kiss thief. Wajahku langsung memerah saat terlintas kejadian itu dan aku terkejut bukan main saat ada yang menepuk pundakku. Aku menghela napas lega saat yang melakukannya adalah sahabatku.


“Napa?”


“Bukan apa-apa, ada apa?” Andre menunjuk


ke arah murid baru yang sedang menatap tajam ke arah cewek itu dan aku mengabaikannya seolah mereka tidak terjadi apa-apa.


“Gak ditolongin?” Aku mengedikkan bahuku dan Andre mendorongku ke depan memberi kode untuk menengahi mereka.


“Bukan aku.”


“Pemicu utama mereka bertengkar adalah kamu, bukan?” Andre menatap tajam dan aku beranjak dengan langkah berat. Saat aku melihat ke arah mereka, rasanya seperti nostalgia seolah aku sudah terbiasa dengan tindakan mereka. Mungkin itu hanya pemikiranku saja. Sesampainya di sana, aku menarik kerah seragam bagian belakang mereka menjauh agar konflik tidak berlanjut.


“Tenanglah kalian berdua,” tengahku dan mendapat jitakan tepat di dahiku oleh cewek aneh ini. Murid baru itu menghampiriku dan aku mencegahnya agar tidak terjadi keributan lagi.


“Aku tahu kalian tidak berpacaran karena kalian bermusuhan,” adunya dan alisku terangkat sebelah lalu melihat ke arah cewek itu. Rupanya, cewek itu paham dengan tatapanku dan memulai aksinya.


“Anna, tidak ada yang tahu ke depannya kami terus bermusuhan atau tidak. Kami berpacaran murni karena perasaan kami. Mengapa kamu seolah tidak menerimanya?” Kayla menjelaskannya asal, namun sedikit menyakinnya lalu mengetuk dagunya.


“Atau mungkin kamu menyukainya sejak pandangan pertama?” Bingo. Wajah murid baru itu langsung berubah merah, sama saat Kayla bersamaku.


Kayla tersenyum lalu mengenggam pundak murid baru tersebut dan membisikkan sesuatu lalu berniat meninggalkan kami, namun murid baru tersebut mengenggam erat lengannya sampai empunya meringis menahan sakit.


“Aku, kamu, dan Alex adalah teman sejak kecil dan aku tahu segalanya tentang Alex. Aku yang harus berada di sampingnya, bukan dirimu yang hanya melintas di hidupnya.” Murid baru langsung melepaskan genggamannya lalu pergi meninggalkan kebenaran yang membuatku bingung.


..................................................


Hening mewarnai kelasku yang kosong melompong karena semuanya telah pulang beberapa jam yang lalu. Aku mengeluarkan buku yang berjudul *The Successful of Pity* People lalu membacanya dengan tenang dan tak beberapa lama, tepukan di bahuku mengagetkanku dan aku menatap datar siapa yang melakukannya.

__ADS_1


“Natapnya datar amat, santai aja bro,” sapa Arnold dan mengambil kursi di dekatku lalu duduk sambil melihat buku yang kubaca.


“Wih, hebat bener baca nih buku. Anak SMA zaman sekarang tuh bacaannya novel-novel, apalagi cewek yang doyan banget baca novel.” Aku hanya menatap datar komentar darinya dan melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda.


“Loe itu temen masa kecilnya Kayla ya?” Pertanyaannya menghentikanku membaca buku tersebut dan langsung kutaruh buku tersebut lalu menatapnya datar.


“Bukan”


“Apa yang dikatakan Anna itu bohong?”


“Cari tahu sendiri.” Aku membereskan barang-barang yang tersisa di bangkuku dan berniat meninggalkannya, namun ia menarik tasku.


“Jangan menjadi laki-laki pengecut di saat seperti!” Pernyataannya barusan membuatku menoleh dan menatap tajam ke arahnya.


“Aku baru saja kenal dengannya dan ini tidak ada hubungannya dengamu,” jawabku datar.


“Aku melakukannya karena aku peduli padanya.” Aku tersenyum sinis dan terlihat urat nadinya keluar menahan amarah yang sudah sampai di ubun-ubunnya.


“Peduli? Jika dilihat dari sikapmu saat ini, kamu menyukainya,” dugaku dan tak salah lagi, semburat tipis di pipinya mengungkapkan dugaanku.


“Aku tahu jika aku tidak ada tempat di hatinya karena ia masih tidak bisa membuka hatinya karena Dion,” jawabnya dengan kesal dan aku hanya mendengarkan apa yang ia katakan tadi.


“Mengapa tidak mencoba untuk balas dendam?” Senyum kecut terukir di bibir Arnold seolah menunjukkan dia adalah seorang penakut.


“Maaf.” Hanya kata itu yang bisa kusampaikan kepadanya.


“Maaf kenapa?”


“Maaf pernah menjadi temannya dan tak mengetahui sisi gelap dari diri Dion,” jawabku datar, namun terasa berat untuk mengatakannya.


“Bukan salahmu dan mungkin, aku akan menyatakan perasaanku lagi kepadanya,” ucap Arnold sambil menepuk pundakku. Aku mengangguk dan menaruh tas di punggung lalu meninggalkannya di kelas. Perjalanan dari koridor menuju parkiran terasa jauh sekali, padahal jaraknya tidak terlalu jauh. Aku memikirkan bagaimana reaksi Kayla saat teman baiknya, Arnold menyatakan perasaannya kepada Kayla.


“Ah, untuk apa memikirkannya? Kalau mereka jadian pun, itu bukan urusanku. Hanya saja, apa yang ingin Arnold lakukan, membuatku masih memikirkan keadaan ke depannya. Ah, kau siapanya sih mau menghalangi usaha laki-laki itu untuk menyatakan perasaanya?” Aku beradu dengan pikiranku sendiri sampai-sampai aku melihat dari kejauhan cewek itu tengah menunggu seseorang.


“Mungkin halusinasiku saja,” pikirku dan saat aku melewatinya, sekilas suaranya seolah menyatakan bahwa apa yang kupikirkan adalah nyata.


“Alex.” Aku pun menoleh dan kulihat ia menatapku sendu. Tatapannya membuatku terpaku sejenak dan ingin kurengkuh dalam pelukanku untuk menenangkannya. Hais, mengapa pikiranku semakin ngelantur saja? Sedetik kemudian, senyum jahil terukir di bibirnya dan aku bisa menebak bahwa dirinya sedang menjahiliku.


“Ahahahahahahaha, kamu itu sangat lemah terhadap cewek. Bagaimana bisa kamu menghadapi mereka jika sampai hal sekecil ini saja kamu langsung luluh? Pantas saja, Tuan Muda Alex tidak bisa sembuh dari phobianya,” jelasnya dan aku menghela napas pendek.


“Hal tadi tidak ada hubungannya dengan phobiaku,” ngototku dengan nada dingin.


“Tentu saja ada, awal penyembuhan phobia sepertimu akan menganggap semua cewek itu perlu dibantu karena kamu menganggap mereka adalah makhluk yang lemah lembut. Kodrat seperti itu memang benar, namun beberapa cewek menyalahgunakan kodrat tersebut untuk kepentingan diri mereka. Jadi, anggaplah apa yang kulakukan saat ini sebagai pelajaran bagimu,” jelasnya dan kali ini, aku tak bisa mengatakan apa-apa karena apa yang ia katakan ada benarnya. Aku sampai lupa dengan fakta bahwa ia adalah mediator agar aku bisa sembuh. Senyum kecil terukir di bibirku dan berniat menuju parkiran, namun tangannya menarik tasku lalu mengatakan sesuatu yang membuatku bingung.

__ADS_1


..................................


Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamarku dan mandi untuk menghilangkan penatku. Setelah mandi, aku turun ke bawah dan mendapati Bunda yang tengah menyiapkan makan malam. Dengan sigap, aku membantu Bunda menyiapkan makan malam dan Bunda tersenyum. Baru kali ini, aku melihat Bunda tersenyum dan tentu saja ini adalah kabar gembira bagiku.


Tok


Tok


Tok


“Tolong buka pintunya,” titah Bunda dan aku segera menuju pintu rumah lalu membukanya. Betapa kagetnya aku, namun kutatap dingin siapa yang datang saat ini.


“Apakah itu Ayah? Suruh dia masuk.” Sebenarnya, aku ingin membating pintu ini dan tidak membiarkan pria di depanku masuk ke rumah. Namun demi Bunda, aku menahan semua kekesalanku untuk malam ini saja.


“Masuk.” Pria itu masuk dan aku mengekorinya dari belakang. Wajah Bunda berseri-seri mendapati pria itu mendatangi rumah.


“Baru pulang? Lebih baik makan dulu di sini, Farhan juga duduk juga ya,” bujuk Bunda. Sebenarnya, nafsu makanku menghilang sejak kedatangan pria yang telah menghancurkan hidupku dan Bunda. Namun, demi senyum Bunda, aku harus menahan semua ini. Bunda yang telah duduk mengambilkan lauk untuk pria itu dan pria itu duduk disusul denganku yang ingin mengambil makanan di sana. Lalu, kami berdoa sebelum makan dan memakan masakan Bunda. Hanya ada dentingan sendok dan garpu beradu dengan piring dan selesai makan pun, suasana kembali hening.


“Bagaimana sekolahmu?” Satu pertanyaan yang membuatku terdiam sesaat dan berusaha mengatur skala emosiku.


“Seperti biasa,” jawabku dingin dan pria itu mengangguk.


“Kenapa Ayah datang?” Pria yang kupanggil Ayah menatapku dan aku tak tahu apa arti tatapannya saat ini.


“Karena Rayya yang memintanya. Aku mendengar kalau phobiamu kambuh dan kebetulan, kamu dekat dengan seorang gadis. Mengapa dan siapa gadis itu?” tanya Ayah.


“Bukan urusan Ayah dan dari mana Ayah tahu?” tanyaku balik.


“Amira dan tantemu yang mengatakannya. Mungkin mereka agak kesal karena phobiamu tak akan sembuh jika kamu berdekatan dengan gadis itu.” Aku mengepalkan tanganku demi menahan emosiku saat ini.


“Justru, gadis itu selalu menolongku dan begitu juga sebaliknya.”


“Seperti simbiosis yang saling menguntungkan?”


“Kurang lebih,” jawabku dingin. Suasana kembali hening karena tidak ada lagi pertanyaan yang dilontarkan oleh Ayah.


Tok


Tok


Tok


“Tolong bukakan pintunya, sayang,” titah Bunda dan aku beranjak dari meja makan menuju pintu depan. Siapa malam-malam datang ke rumah? Andre? Tidak mungkin, biasanya ia ke sini saat ia merasa suntuk di rumah dan biasanya mengirimkan pesan kepadaku. Kubuka pintu rumah dan betapa kagetnya diriku siapa yang tengah berdiri di pintu saat ini sampai-sampai aku tak bisa berkata apa-apa. Ia menunjukkan senyum khasnya dan terlihat jelas bahwa ini bukan halusinasiku.

__ADS_1


__ADS_2