
“Kay, kita sekelompok sama anggota ekskul kita,” sambut Laily ceria di pintu kelas.
“Beneran?” tanyaku dan ia mengangguk. Aku memeluk Laily seperti anak kembar yang tak pernah bertemu.
“Tentu saja, dengan Alex juga.” Saat namanya disebut, aku melepas pelukannya dan menghampiri mejanya. Kulihat ia sedang membaca dan aku menggebrak mejanya. Ia melihat ke arahku dan tetap melakukan aktifitasnya tadi.
“Gak usah pura-pura sok dingin!” seruku sambil menggoyang-goyangkan mejanya sampai dia berdiri dan mendekatiku.
“Jangan menghancurkan ketenangan seseorang,” peringatnya datar dan hendak pergi meninggalkan kelas, namun kakiku menendang pahanya. Karena pahanya lumayan keras, alhasil kakiku menjadi korbannya. Ia tersenyum seolah menyindirku kesakitan.
“Mentang-mentang kamu ketua OSIS, kamu mengatur seenaknya kelompok tur sekolah. Lagipula, aku malas berkelompok denganmu karena kamu dingin dan tidak berkompeten dalam hal melerai,” sindirku dan ia mendekat ke arahku lalu melipat tangannya di dada.
“Ho? Tidak berkompeten? Lagipula, semua guru yang membentuk kelompok tersebut dan sebaiknya kamu berkaca pada dirimu sendiri dan jangan melemparkan kesalahan kepada orang lain,” Perkataannya tadi membuatku tertohok dan aku tidak menyerah begitu saja.
“Baiklah, tuan dingin. Aku mengakui kesalahan itu, namun tuan jangan lupa jika sesuatu yang penting darimu ada padaku. Haruskah aku memberitahukannya?” godaku dan reaksinya biasa-biasa saja.
“Beritahu saja, maka aku membalasnya 5 kali lipatnya,” ucapnya dengan senyum jahat dan emosiku memuncak dan berniat memukulku, namun tangannya yang besar menahan kepalan tanganku. Aku melepasnya dengan paksa, namun tak bisa karena kekuatannya kalah dengan dirinya.
“Sampai kapan kebencianmu berakhir? Sepertinya, aku mulai melanggar prinsipku dan mulai jatuh cinta kepadamu,” Pernyataannya yang datar membuat seisi kelas kaget setengah mati karena aku dan dia selalu bertengkar dan membuat masalah dan yang paling mengejutkan, ketua OSIS yang terkenal dingin terhadap perempuan, menyatakan cintanya kepadaku. Pipiku memerah dan melepas paksa tanganku darinya menahan malu ini dan banyak dari kelas lain melihat kejadian ini.
“Kamu senang aku dipermalukan seperti ini?” tanyaku dengan kesal dan ia tersenyum kecil.
“Separuh benar dan separuh salah,” jawabnya singkat lalu meninggalkan kelas. Bagian mana yang benar dan yang salah? Aku mungkin harus sabar menghadapi dia dan aku harus memikirkan cara menyembuhkan Gynophobianya. Kudengar bahwa kelas XII akan melakukan tur di Puncak selama 4 hari 3 malam. Tempat yang untuk refreshing dan mungkin hal yang romantis terjadi di sana. Aku membayangkan menikmati sunrise dan sunset bersama dengan orang yang kusukai.
“Mungkin Alex cocok diajak menonton sunrise dan sunset,”
“Dan terjadi hal romantis di sana,” sambung Laily yang ternyata berada di dekatku dan aku kaget karena kehadirannya yang tiba-tiba.
“Laily, jangan kagetin orang,” ingatku dan ia malah menatapku aneh.
“Aku sudah di sini dari tadi dan berharap mengajak Alex melihat sunrise dan sunset berdua. Mungkin, pernyataan Alex tadi mempengaruhimu saat ini ya?” kepo Laily sambil menoel-noel pipiku.
“Untuk kesembuhan Gynophobianya. Tidak ada hal lain,”
“Untuk hal romantis itu bagaimana?” Pertanyaannya membuatku cukup bingung karena kata-kata itu terlepas dengan sendirinya.
“Permisalan,” jawabku singkat dan meninggalkannya menuju kantin. Aku merasa gelisah karena aku menjadi hilang kendali jika bersama si kutub dan berpikir hal-hal yang aneh. Lalu, aku tak sengaja menabrak seseorang dan orang tersebut menarik kerahku. Aku melihat ke arahnya dengan datar.
Plak
Ia menamparku dengan keras sampai bekas tangannya tercetak jelas di pipiku dan rasanya membuatku ngilu.
“Punya mata buat lihat di depannya, bukan buat lihat calon pagar gue dan goda dia,” Aku kenal pemilik suara ini, Anaya. Aku tersenyum seolah tamparannya tidak berefek kepadaku.
“Maaf saja, tuan dingin itu dulu yang mendekatiku dan jangan pernah menuduh aku yang menggodanya walaupun aku pernah menggodanya. Namun, godaanku tidak akan mempan ke dia dan begitu juga dengan godaanmu,” Baru saja aku ingin beranjak dari sana, ia menjegalku sehingga aku akan jatuh jika bukan dia yang menangkap tubuhku. Aku melihat ke arahnya dan mengucapkan terima kasih kepadanya dan ia mengangguk.
“Aku tidak takut jika satu gengmu membullyku karena aku suka bermain cantik untuk membalas apa yang kau lakukan!” peringatku dan Anaya seolah tak mau kalah menunjukku dan berteriak.
“Aku hanya butuh waktu 1 minggu untuk mematahkan rencana balas dendammu,”
“Maka, aku hanya butuh 1 hari untuk menyusun rencana baru dan tenang saja, permainanku pastilah cantik sama seperti rupaku. Ayo, kita pergi sayang,” ancamku sambil menarik lengannya menjauh dari Anaya yang mungkin sedang kesal sekali. Setelah agak jauh darinya, aku melepaskan peganganku dari lengannya dan pergi meninggalkannya di sana.
“Kita benar hanya sampai di sini?” tanyanya dan aku melihatnya dengan penuh harap jika ia akan mencegahnya.
“Aku terlalu nyaman berakting denganmu,” Entah mengapa, jawaban ini membuat hatiku sakit dan mengepalkan tanganku untuk menahan rasa sakitnya.
“Begitu, tapi aku yakin kita lebih dekat lagi,” jawabnya datar dan meninggalkanku di sana. Aku terperosot ke bawah saking bingungnya dengan kejadian yang terjadi hari ini.
“Aku melakukan hal yang salah sampai harus terjadi seperti ini? Kuharap, perkataannya menjadi kenyataan,” gumamku dan tak terasa, air mataku membentuk muara dan menetes secara tiba-tiba. Aku tidak tahu ini air mata bahagia atau sedih karena rasanya aku ingin mengeluarkan semua emosiku melalui air mata ini. Kuharap, tak ada yang mengetahui aku dan air mata ini saling mencurahkan isi hati yang sama.
...............................................
Napasku tersengal\-sengal karena harus berlari sejauh hampir 1 km karena jalan di daerah rumahku macet parah dan untung saja, tadi malam aku menyiapkan semuanya untuk tur ini. Sesampainya di gerbang sekolah, si ketos menunggu seperti biasanya dan saat aku bersikap seolah ia hanya angin, ia menarik tasku dan aku memberikan tatapan sengit ke arahnya dan ia menatapku seperti biasanya.
__ADS_1
“Syukurlah kamu tak terlambat sehingga kita bisa berangkat lebih awal,” katanya singkat dan melepaskan pegangannya dari tasku. Aku langsung berlari dan mencari bis kelasku dan menemukannya dan masuk lalu melihat sekeliling mencari keberadaan Laily dan menemukannya di bangku bagian tengah dekat jendela bis. Aku menghampirinya dan berniat mengejutkannya.
“Dor,”
“Mama beli garam,” Sontak aku tertawa keras sambil memegang perutku yang sakit kebanyakan tertawa.
“Kay, kamu ngangetin aku tahu gak,” Aku pun hendak duduk di dekat Laily, namun ia mencegahku dan aku kesal dengannya.
“Kenapa aku gak boleh sama kamu?”
“Kita diacak duduknya dan aku duduk sama Dara dan mungkin ini harapan semua cewek di SMA Shine Wish,” Aku semakin tidak mengerti apa maksudnya.
“Aku maunya sama kamu!”
“Gak bisa Kay, Bu Wiwik yang ngatur tempat duduk kita dan kamu duduknya sama Alex di depan sendiri sana,” Aku kesal sekali dan kenapa harus dengan si kutub itu. Salah apa Kayla yang cantik dan selalu baik ini sampai-sampai harus bersama dengan si kutub yang sarafnya sudah konslet itu? Aku menghela napas dan meninggalkan Laily menuju ke depan dan duduk sembari menunggu yag dimaksud Laily. Banyak teman kelasku yang masuk, begitu juga dengan si kutub yang langsung duduk di tempatnya tanpa memperhatikanku. Lalu, Bu Wiwik masuk dan menyuruh pak sopir untuk berangkat duluan. Sebelum itu, Bu Wiwik menyuruh kami berdoa agar selamat sampai tujuan lalu bis kami berangkat. Selama perjalanan, kami melihat pemandangan di luar melalui jendela bis. Cukup lama keheningan ini tercipta, lalu salah satu teman sekelasku menyarankan kami untuk bernyanyi.
“Guys, kita nyanyi biar gak bosen.”
“Setuju mah, bilang sana sama pak supirnya.” Temanku langsung menuju ke depan dan menyuruh pak supir menyala sebuah lagu dan ia memilih lagu dangdut dan mengambil mikrofon yang disediakan.
Apa salah dan dosaku sayang
Cinta suciku kau buang-buang
Lihat jurus yang kan kau berikan
Jaran goyang, jarang goyang
Aku tertawa melihat tingkah beberapa teman sekelasku itu dan si kutub hanya melihatnya sebentar lalu menutup telinganya dengan headset. Aku kesal sekalinya karena keberadaanku seolah seperti angin. Eh, kenapa aku khawatir tak diperhatikan olehnya? Justru itu bagus kan untuk kesejahteraanku. Namun, hatiku mengatakan hal yang lain. Aku pun tak tahan dan memanggil salah satu temanku untuk mengambil mikrofon itu. Aku mengeluarkan flashdisk yang berisi lagu jepang kesukaanku dan mengecek suaraku terlebih dahulu.
“Ehem, hari ini aku akan membawakan lagu jepang dan kalian akan kurang tahu karena hanya aku yang menyukainya dan saat di reff nanti kalian bilang motto 2 kali dan foo ya? Bisa?” tanyaku.
“Ya,” jawab mereka dan aku mengangguk dan mulai menyetel lagunya.
*Suki ni natte! Motto!
Ongaeshi wa
“ai no komotta nagekissu de”
Ki no sei janai me wa atteru yo
Hāto tsukutte koi shi chatte kudasai
Yareru koto nandemo shimasu
NG nashide *** atari chōsen
Egosa de mitsuketa anchi no kome
fuzaken na…! Dare yori wakatterushi
demo daijōbu koko ni tateba
min'na ga iru (ikuyo*)
Aku memberikan kode melalui mataku agar mereka melakukan apa yang kukatakan tadi.
Suki ni natte!
“Motto!” seru mereka gembira dan aku melakukan hal yang sama.
Watashi wo mite!
Motto!
__ADS_1
Ongaeshi wa
“ai no komotta nagekissu de”
“Fooo!” seru mereka dan aku ikut senang dengan semangat mereka.
Toriko ni suru!
Motto!
Yume o miseru!
Motto!
Tanoshinde tte ai no komotta
supesharu naito
fansa shi chau zo
(Fanza by mona)
Aku menyanyikannya selama perjalanan dan kulihat raut wajah senang mereka yang seolah tak khawatir dengan berbagai masalah yang menyerang mereka.
......................................
“Terima kasih atas partisipasinya tadi,” ucapku dan tepuk tangan dari mereka membuatku lega dan senang.
“Kay, coba bilang aku cinta kalian semua dalam bahasa Jepang”
“Iya Kay. Ayo.”
“Ayo.”
“Ayo.”
Aku tak bisa melakukannya karena hal itu cukup memalukan bagiku. Bergaya seperti idol tadi sudah membuatku malu.
“Baiklah, demi fans akan kulakukan,” jawabku riang menutupi gugupnya aku. Aku meneguk salivaku dan teriakan mereka membuatku tak bisa menolak permintaan kecil mereka. Tangan besar milik Alex merebut mikrofon dariku dan melihat tajam ke arah mereka semua.
“Diam saja kalian dan sebagai gantinya, dia akan mengatakan aku cinta kamu kepadaku dalam bahasa Jepang,” Solusinya dan nada bicaranya yang dingin nan datar membuat para perempuan menatap iri ke arahku dan para lelaki menyoraki kami dan Alex menatap mereka tajam lagi dan mereka sampai bungkam sendiri.
“Baiklah, kalau itu maumu. Namun, jangan sampai kamu baper loh ya,” godaku padahal aku sendiri gugup juga. Dasar kutub bin dingin nyuruh aku bilang gitu.
“Silahkan, hime sama (tuan putri),” Aku meneguk salivaku berkali-kali agar tak terlihat gugup di depannya.
“Watashi wa anata wa daisuki desu. Dakara, sukiatte kudasai (Aku sangat menyukaimu. Tolong berpacaran denganku),” Senjata makan tuan karena pipiku sudah merah padam dang langsung menutup mukaku.
“Cie, Kayla nembak Alex,”
“Terima aja Lex. Gak baik bikin konflik sama Kayla lama-lama,”
“Terima.”
“Terima.” Aku malu banget tahu gak? Namun, saat kubuka wajahku, dia hanya menatapku datar.
“Artinya apa tadi?” tanyanya polos dan aku sangat kesal karena dia sendiri yang minta, namun ia tak tahu artinya. Saking kesalnya, aku melepas sepatuku dan melempar ke arahnya dan itu meleset darinya.
“Kenapa?”
“Masih nanya kenapa? Kamu bikin aku malu di sini. Makanya, sering-sering buka google translate sana biar tahu artinya!” rajukku dan kembali duduk di tempatku tak ingin memperpanjang masalah tersebut.
...........................................
__ADS_1
Akhirnya, sampai juga di Puncak dan ternyata, penginapan di sana berupa 5 villa besar sesuai kelompok yang telah ditentukan kemarin. Aku berada di villa terakhir yang terletak cukup jauh dari pemberhentian bis tadi. Aku harus menuruni jalan setapak dan juga berkelok\-kelok sampai badanku sakit gara\-gara membawa koper dan tas yang berat. Aku sampai di sana dan keadaannya masih sepi dan aku memasuki halaman villa yang ternyata ada taman kecil dan aku duduk di bangku taman yang tersedia. Udaranya terasa sejuk dan pemandangannya menyegarkan mata yang sudah terbiasa dengan melihat gedung pencakar langit, ruko, rumah mewah, dan semua hiruk pikuk perkotaan saat ini tereliminasi dengan pemandangan khas pedesaan dari Puncak. Sesaat merenung tadi, terdengar suara desisan dan aku mencoba melihat ke bawah dan ular hijau berusaha mendekatiku.
“Kya!” teriakku sambil berusaha naik ke bangku taman dan melompat turun, namun keseimbanganku goyah dan untungnya tak jatuh jika seseorang menahanku. Iris hitamku menatap iris hazelnut dengan seksama dan seolah duniaku terperangkap olehnya.