Mysterious But Sweet

Mysterious But Sweet
Sembilan.


__ADS_3

Liliya berjalan santai di koridor kampus seraya bersenandung kecil. Ia tersenyum ketika ada yang menyapanya di sepanjang jalan. Walaupun ia menutup diri dari pertemanan namun tak jarang orang-orang di kamps nya tetap menyapanya dengan baik.


Ia masuk ke dalam kelas dan duduk di kursi milik nya yang berada di pojok ruangan. Karena merasa sedikit mengantuk ia menelungkupkan kepala nya di meja dan samar-samar mendengarkan percakapan mahasiswi depan nya.


" Gue denger dosen kita di ganti tau. " Ucap salah satu mahasiswi yang ada di depan Liliya.


" Eh iya gue juga denger gitu. Kata nya pak Agus di ganti karena dia mau pindah ke Australia. " Jawab teman sebelah nya.


Gadis itu mengangguk. " Pengganti nya masih muda tau dan katanya ganteng banget. Dia super-super manly. " Ucap Gadis itu antusias.


" Ih beneran?! Wajib dandan cantik nih gue. " Ujar gadis di sebelah nya tak kalah heboh seraya mengeluarkan alat make up milik nya.


Liliya yang mendengar percakapan mereka hanya menggelengkan kepala nya heran. Mengapa mereka se- excited itu. Entah-entah dosen pengganti nya itu sudah memiliki pasangan dan terlebih lagi memiliki istri.


Tidak beberapa lama terdengar suara ketukan sepatu pantofel melangkah masuk membuat Liliya langsung mengangkat kepala nya. Tepat setelah mengangkat kepala, netra nya langsung bersinggungan dengan netra gelap milik pria yang baru saja masuk membuat Liliya hampir saja tenggelam di dalam nya sebelum pekikan para gadis di kelas nya terdengar gaduh.


Liliya langsung mengalihkan pandanganya lalu menyibukkan dirinya dengan buku yang ada di atas meja. Ia merutuki dirinya yang hampir saja terpesona dengan wajah dosen baru nya itu.


Tuk tuk.


Suara ketukan pena tersebut membuat orang yang ada di dalam nya terdiam dan fokus mengarah ke depan. Liliya langsung memakai kacamata nya lalu fokus ke depan.


" Perkenalkan sebelumnya saya devano, Dosen pengganti kalian. " Ujar dosen tersebut dengan perkenalan singkat nya.


" Bapak dosen uda punya pacar belum?. " Tanya salah satu mahasiswi genit yang berpakaian cukup ketat.


" Tujuan saya berada di sini untuk mengajarkan kalian bukan menjawab pertanyaan tidak bermutu itu. " Jawab nya sarkasme membuat para mahasiswa tertawa mengejek kepada pelajar itu.


Liliya hanya tersenyum geli melihat tingkah laku mereka, sebelum senyum nya lenyap ketika melihat tatapan tajam dosen bernama devano itu menatap nya membuat dirinya gelagapan dan memalingkan wajah.


...****...

__ADS_1


Liliya berjalan lesu ke arah gerbang kampus dengan lolipop menyumpal mulut nya. Hari ini ia cukup lelah dengan jadwal kampus yang cukup padat. Apalagi hari ini ia merasa tak nyaman karena sepanjang pelajaran, dosen baru itu terus melihat nya, membuat dirinya merasa tak nyaman.


Ia menghela nafas nya saat tidak melihat mobil kakak nya di depan. Dengan perasaan kesal ia mengambil ponsel nya di saku dan langsung menghubungi kakak nya itu.


" Halo Liliya. " Ucap Niko di sebrang telfon.


" Kakak dimana? Kenapa belum jemput?!. " Ucapnya kesal. Ia mendudukkan pantatnya di kursi halte.


" Sebentar yah, kakak lagi ngantri Boba pesanan kamu ini. " Jawab nya setengah berteriak karena Niko bergesekan dengan para pelanggan yang sedang mengantri.


Wajah Liliya menekuk. Ia mematikan sambungan telfon nya tanpa menjawab. Ia menyadarkan tubuh nya di tiang halte dengan wajah kusut.


Tin tin.


Liliya mendongak saat mendengar suara klakson. Ia kira itu adalah kakak nya ternyata dosen baru tadi. Ia langsung menegakkan punggung nya.


" Liliya. " Panggil Devano lalu keluar dari mobil menghampiri mahasiswi nya itu.


" Iya pak ada apa?. " Tanya nya sopan saat Devano mendekat.


Liliya menggeleng seraya mengucap dalam hati Uda tau pakek nanya lagi. " Saya nunggu kakak saya pak. " Jawab nya yang masih sopan.


Devano mengangguk lalu duduk di samping Liliya tanpa berucap apapun lagi membuat alis Liliya berkerut. Apa yang mau dosen nya ini lakukan?.


" Terus bapak ngapain di sini?. " Tanya Liliya seraya menggeser tubuhnya sedikit karena merasa tak nyaman berdekatan dengan Devano.


" Suka suka saya. " Jawab Devano dengan datar membuat Liliya merasa kesal dengan jawaban itu.


Mencoba abai. Liliya menyibukkan dirinya dengan memandang kedepan dan menghitung jumlah mobil yang melintas di dalam hati.


" Menghitung mobil yang lewat adalah tindakan kekanakan. " Ujar Devano tiba-tiba seakan tau apa yang di lakukan Liliya dalam diam nya.

__ADS_1


Liliya menoleh sekilas ke arah Devano dengan wajah kesal. " Jangan sok tau deh pak. Dan apa yang saya lakukan itu bukan urusan bapak. " Jawab nya kesal dan tanpa sadar menghilang sopan santun nya kepada dosen baru nya itu.


Devano mengangkat bahu nya acuh. " Saya cuma memberitahu saja. " Ucap Devano santai.


" Kurang kerjaan. " Gerutu nya.


Setelah nya mereka diam tanpa suara. Tak lama sebuah mobil berhenti di hadapan mereka. Liliya yang tau itu adalah kakak nya langsung berjalan pergi tanpa menghiraukan Devano yang memperhatikan gerak gerik nya.


" Siapa itu?. " Tanya Niko saat Liliya sudah duduk di samping nya.


" Orang gila. " Jawab nya asal.


" Hustt gak boleh ngomongin orang sembarangan. Ni Boba kamu biar gak kusut itu muka. " Ucap Niko seraya memberikan minuman milik Liliya yang ia beli tadi.


Liliya mengambil nya lalu menyeruput nya dengan pelan. Niko yang melihat nya hanya mampu menggeleng lalu langsung melajukan mobil milik nya.


Sedangkan di sisi lain, Devano masih belum beranjak dari sana. Ia masih mengamati mobil itu melaju meninggalkan dirinya.


" Cukup bagus apa yang kamu miliki teman. " Ucap nya dengan smirk di bibir nya.


...*****...


Liliya duduk di depan meja rias seraya memoleskan krim malam ke wajah nya. Ia terlalu fokus sampai sebuah suara di balkon kamarnya membuat dirinya langsung menoleh. Ia meletakkan krim nya di atas meja lalu melangkah ke sana.


Ia melihat sekeliling dan tidak ada apapun yang mencurigakan. Namun saat akan kembali masuk, ia terkejut karena menemukan sebuah anak panah menancap di dinding dengan kertas di sana. Dengan penasaran ia mengambil kertas itu dan membuka nya.


Aku tidak suka kamu berdekatan dengan nya Amor!


Sudah hanya itu.


Ia tidak mengerti apa maksud ucapan yang ada di kertas tersebut. Memang ia berdekatan dengan siapa?. Liliya yakin ini pasti orang yang sama seperti sebelum sebelumnya. Ia sama sekali tidak takut dengan ini karena hal ini sudah biasa baginya sejak 10 tahun belakangan ini.

__ADS_1


Ia membuang kertas tersebut lalu melepaskan anak panah itu dan membuangnya ke bawah. Ia tidak perduli lagi dengan omong kosong pria itu karena ia sudah muak melihat nya. Pria itu hampir mencelakai ibu nya. Dan Liliya tidak suka itu.


Bersambung....


__ADS_2