
Sedangkan di meja makan. Satu keluarga minus satu orang tersebut sedang menunggu satu orang lagi namun tak kunjung turun.
" Niko coba kamu cek Liliya di kamar nya sayang. " Ucap Alula.
Niko mengangguk lalu beranjak dari duduk nya untuk menuju kamar Liliya.
" kemarin sore kotak itu datang lagi. " Ujar Alula tiba-tiba. Ia melihat ke arah suami nya yang sedang menatap nya. " Kali ini lebih cepat dari biasanya. "
" Kenapa kamu gak kasih tau aku?. " Tanya Nathan.
" Aku mau telfon kamu tadi, tapi ponsel aku tiba-tiba gak ada jaringan sama sekali. " Beritahu nya.
Nathan menggenggam lembut tangan istri nya itu. " Liliya tau?. " Tanya nya lagi.
Alula menggeleng. " Aku sengaja gak mau ngasih tau dia. Hari ini dia terlalu sibuk sama pameran nya aku gak mau di gagal fokus. " Jelas nya.
Nathan menghela nafas nya lalu mengangguk mendengar jawaban sang istri. " Yaudah jangan terlalu di pikirin. Selagi masih ada aku, gak akan ada yang berani menyentuh Liliya selama sekali. Jika ada aku gak akan biarin itu terjadi. " Ucapnya menenangkan.
Alula tersenyum seraya membalas genggaman tangan sang suami.
Sedangkan di sisi lain, Niko berjalan menaiki tangga menuju kamar adik nya. Sampai nya di sana ia mencoba mengetuk beberapa kali sampai sahutan adik nya terdengar dari dalam.
Tidak lama Liliya keluar dengan mata sembab sehabis menangis. Belum sempat Niko bertanya, Liliya sudah menerjang nya dengan pelukan.
" Kakak. " Lirih nya seraya kembali menangis di pelukan kakak nya.
__ADS_1
Niko membalas pelukan Liliya nya dengan erat. " Hei kenapa adik kakak ini?. " Tanya nya lembut.
" Terjadi lagi kakak. " Ucapnya tidak jelas.
Alis Niko berkerut bingung. " Terjadi apa Liliya?. " Tanya nya.
Liliya mendongak menatap kakak nya tanpa melepaskan pelukan nya. " Orang itu mati seperti yang lalu lalu. " Tangis nya kembali pecah jika mengingat kematian Jordan di berita tadi.
Niko semakin bingung. Ia mencoba menangkup wajah adik nya agar menatap sepenuhnya ke arah dirinya. " Maksud kamu apa? Coba jelasin pelan-pelan sama kakak. "
Ia menatap lurus kakak nya seraya sesenggukan. Ia mencoba menjelaskan apa yang terjadi dengan perlahan. " Tadi Liliya bangun terus liat handphone karena Anggun terus mengirim pesan ke Liliya. Dia nyuruh Liliya cek berita hari ini pas Liliya cek... " Liliya menangis sebelum bisa melanjutkan cerita nya.
Niko menghela nafas nya, Ia mengelus lembut punggung adik nya untuk mencoba menenangkan Liliya. Begitu seterusnya sampai Liliya tenang dan kembali melanjutkan cerita nya. " Kakak ingat pria yang di pameran semalam? Pria yang mau beli lukisan Liliya?. " Tanya Liliya.
" Pria itu mati hiks dengan cara yang sama seperti sebelum-sebelumnya hiks. " Pecah kembali tangis nya saat sudah menyampaikan kepada kakak nya. tangan nya meremas baju kakak nya untuk melampiaskan rasa sakit di hati nya.
Wajah Niko langsung berubah mengeras dengan tangan terkepal mendengar cerita adik nya. Ini pasti ulah pria yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Pria ini pasti bukan sembarang orang yang bisa melakukan kasus besar seperti ini lalu menutup nya dengan sangat rapat sehingga dirinya tidak ketahuan sama sekali.
Inilah alasan Liliya tidak dekat dengan siapapun termasuk para pria, karena apa? Karena dari ia SMP, saat ia mempunyai teman, temannya itu akan merenggang nyawa esok hari nya dengan tembakan di kepala nya. Begitu seterusnya sampai Liliya memutuskan untuk tidak mempunyai teman sama sekali karena dirinya di cap sebagai pembawa sial oleh orang-orang karena dirinya lah yang di anggap penyebab terbunuh nya mereka. Untung saja ia satu sekolah dengan Niko dan ayah nya juga pengusaha sukses yang di segani oleh orang-orang sehingga tidak adanya pembullyan terhadap dirinya di sekolah dan Niko selalu membela nya di manapun dia berada.
Mereka masih berpelukan. Sampai Niko mencoba melepaskan nya. Ia menghapus jejak air mata yang masih menempel di pipi adik nya. " Sekarang kamu coba tenang yah. Biar kakak sama Daddy coba mencari siapa dalang di balik ini semua. " Ucapnya.
Liliya menghela nafas nya. " Percuma juga kak. Dari dulu kakak sama Daddy selalu bilang itu tapi sampai sekarang masih belum nemu pelaku nya. Jadi sia-sia aja kan. " Jawab nya.
Niko terdiam. Benar kata adik nya. Percuma. Karena orang ini sangat pandai menyembunyikan diri sampai Daddy nya yang orang terpandang dan hebat saja susah mencari nya. Orang yang mereka hadapi ini bukan orang sembarangan.
__ADS_1
Niko kembali akan berbicara sampai suara ibu mereka mengalihkan atensi mereka.
" Kalian ngapain?. " Tanya Alula menghampiri mereka. Liliya segera menghapus air mata nya dengan baju nya ketika melihat ibu nya menghampiri dirinya dan kakak nya.
" Mommy ngapain naik?. " Tanya kembali Niko.
" Kalian lama jadi mommy datang ke sini. Kenapa gak turun-turun?. " Niko terdiam mencari alasan sedangkan Liliya yang membelakangi mereka berdua masih mencoba menghapus air mata nya.
" Liliya kamu kenapa?. " Tanya Alula saat melihat gelagat anak nya yang aneh.
" Liliya gak papa mom. " Ucapnya dengan suara masih serak.
Mendengar suara anak nya yang berbeda. Alula mendekat ke arah Liliya. Niko yang menyadari hal tersebut langsung sigap berdiri di depan ibu nya.
" Mommy ayo ke bawah. Niko sudah lapar. " Ucapnya lalu mencoba menarik ibu nya untuk pergi dari sana.
" Eh tapi Liliya?!. " Teriak Alula saat anak nya menarik dirinya pergi.
" 5 MENIT LAGI LILIYA KE BAWAH MOM!. " Teriak Liliya.
Saat sudah tidak menyadari keberadaan mommy nya. Liliya berbalik badan dan menghela nafas lega. Untung saja ibu nya tidak tahu jika ia habis menangis, jika tahu pasti mommy nya akan bertanya panjang lebar sampai menemukan jawaban nya. Liliya tidak mau membuat ibu nya itu khawatir.
Liliya kembali masuk ke dalam kamar untuk mencuci wajah nya agar tidak terlihat sembab.
Bersambung....
__ADS_1