Mysterious But Sweet

Mysterious But Sweet
Dua puluh empat


__ADS_3

Lilliya duduk di balkon kamar seraya mengganti perbannya yang dibantu oleh Lucy. Ia memperhatikan sekitar nya yang ternyata banyak pepohonan menjulang tinggi. Sepertinya mansion ini berada ditengah hutan. Pantas saja terasa sunyi saat ia pertama kali bangun dari tidurnya tadi pagi.


" Apa mansion ini benar-benar berada ditengah hutan? " Tanya Liliya. Lucy yang sedang membereskan kotak P3K menoleh.


" Kata Bibi Jane iya. " Ucap nya.


" Kata bibi Jane? Apa kau tidak pernah keluar dari mansion ini? " Tanya Liliya bingung.


Lucy menggeleng. " Lucy dulu nya adalah anak panti yang diculik dan dijual dipasar gelap lalu ditolong oleh tuan besar dan dijadikan pelayan di sini. Semenjak itu Lucy tidak pernah keluar karena Lucy takut. " Jelas nya dengan wajah sedih.


Liliya memandang tak enakĀ  kearah Lucy. " Maaf aku tidak bermaksud utuk kau mengingatnya. " Sesal nya yang terlalu banyak ingin tahu.


Lucy langsung merubah wajah nya dengen sekejab. Ia tersenyum cerah. " Oke saat nya nyonya untuk sarapan. Tunggu sebentar akan Lucy ambilkan. " Ia pergi dengan riang seakan tidak ada masalah untuknya.


" Perubahan yang sangat cepat. " Ucap Liliya sambil memandang punggung Lucy.


****


" Kakak dari nyonya Liliya sudah sadar tuan. Ia berhasil melewati masa kritisnya. " Ucap Robert kepada Zeus yang sedang duduk di kursi kerja nya.

__ADS_1


" Apa ada kabar dari Anggun? " Tanya Zeus dengan masih tetap memandang laptop nya.


" asisten nyonya Liliya juga tidak ditemukan titikya dimanapun tuan. Dia seperti hilang begitu saja. " Jawab nya.


Zeus melepaskan kacamata yang bertengger diwajah nya. Ia menyandarkan tubuh nya di kursi. " Apa kau sangat mudah ditipu Robert. Wanita itu ada disekitar kita saat ini. " Ucap nya santai. Tangan nya mengetuk meja beberapa kali seakan menghitung apa yang akan terjadi didetik berikut nya.


Dahi pria paruh baya itu berkerut. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud tuannya. " Bagaimana bisa? " Tanya nya masih tidak mengerti. Bagaimana itu bisa terjadi sedangkan dirinya selalu memeriksa orang yang keluar masuk kedalam mansion ini.


Zeus hanya diam. Ia semakin cepat mengetuk jarinya seraya memandang lurus kedepan. Mulut nya berucap tapa suara.


Tuk.


Tuk.


Tuk.


Anak panah itu tepat menancap ke daun pintu yang terbuka sedikit padahal tadi sudah ditutup rapat oleh Robert.


Robert menolehkan kepalanya ke belakang. Ia bisa melihat siluet wanita berambut panjang yang sedang berlari menjauh. Ia ingin mengejarnya, namun atas perintah Zeus ia kembali berdiam diri di tempat.

__ADS_1


" Biarkan saja. Kita lihat sampai kapan ia akan bersembunyi seperti pengecut. " Ucap Zeus.


" Tapi tuan apa tidak apa-apa? Bisa saja dirinya sudah bekerjasama dengan musuh yang menangkap nya. Bagaimana mungkin dirinya bisa bebas tanpa adanya kesepakatan. " Jelas Robert.


Zeus terlihat tidak perduli sama sekali, malah dengan santai nya ia menghisap benda berbahan tembakau itu.


" Aku tidak pernah khawatir dengan pengecut yang bermain di belakang. Mereka hanya sampah tidak berguna yang memiliki rencana kosong. " Balas nya dengan suara datar.


" Jika benar dia berkhianat. Bunuh saja aku tidak perduli. " Ucap nya dengan nada santai sambil membuang rokok nya dan menginjak nya.


Zeus bangkit dari duduk nya. Ia merapikan kemeja nya yang sedikit kusut. Memasukkan tangannya di saku celana bahannya lalu berjalan santai keluar. Sebelum mencapai daun pintu ia berhenti sejenak di samping Robert.


" Ahk iya sebaiknya jangan di bunuh dulu. Biarkan ia bermain dengan permainannya yang membosankan itu. " Bisik nya lalu keluar dengan santai.


Sosok yang sebenarnya masih di dekat ambang pintu langsung pergi dari sana sesaat sebelum Zeus keluar.


Zeus memandang datar sebuah jepit lidi berwarna hitam yang tergeletak di depan pintu. " Sampah. " Ujar nya singkat dengan wajah meremehkan.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2