Mysterious But Sweet

Mysterious But Sweet
Enam


__ADS_3

Pagi ini terasa sepi karena Alula dan Nathan pergi mengunjungi rumah orang tua mereka. Awalnya Liliya ingin ikut karena dirinya sudah lama tidak bertemu kakek dan nenek nya, namun karena hari ini ada kelas pagi jadi ia tidak bisa ikut.


Liliya berlari menuruni tangga karena 30 menit lagi kelas nya akan di mulai. Ia terus berlari memasuki mobil dengan nafas terengah-engah.


" Kakak!. "


" AAAA!. " Liliya reflek menjerit ketika melihat gadis dengan seragam SMA Sedang duduk di kursi penumpang dengan senyuman lebar seperti badut.


" Viena?! Kamu Ngapain di sini?!. " Tanya nya kesal.


Gadis yang bernama Viena tersebut menyandarkan tubuhnya di kursi seraya bersedekap dada. raut wajah nya pun berubah menjadi cemberut.


" Mama sama papa ninggalin Viena di sini. Viena kesel!!. " Jawab dengan bibir mengerucut.


Liliya menggeleng kecil melihat tingkah gadis di sebelahnya ini. Oh iya, Viena ini adalah putri satu-satunya dari pasangan Bagas dan istri nya yang sudah sangat dekat dengan Liliya karena mereka sudah dekat dari kecil.


" Terus kamu ngapain di mobil kakak?. " Tanya nya seraya mengangkat sebelah alisnya.


Raut yang tadi nya kesal langsung berubah cepat. Ia menghadap dirinya ke arah Liliya dengan senyuman lebar. " Viena mau ikut kakak yah? Viena males sekolah. " Ucapnya antusias.


Liliya langsung menyentil kening Viena membuat Viena mengaduh kesakitan. " Anak kecil gak boleh bolos sekolah. "


Viena kembali cemberut. Ia membuang wajah nya ke samping. " Viena tu Uda telat tau jadi Viena gak mau sekolah nanti di hukum. " Beritahu nya.


Mendengar kata telat. Liliya reflek melihat jam di tangan nya. Mata nya terbelalak karena dirinya sudah telat dari 15 menit yang lalu. Aih ia terlalu sibuk meladeni bocah SMA di samping nya membuat dirinya tidak mengingat jam.


Liliya menghela nafas nya. Mereka sama sama telat jadi mau gimana lagi. Ia menoleh ke arah Viena. " Jadi kamu mau kemana?. " Tanya nya.


Viena menoleh cepat ke arah Liliya. " Viena mau ke toko es krim. " Ucapnya penuh semangat.


Liliya menggeleng. " Ini masih pagi viena. Gak boleh makan es krim. " Larang nya.


Bahu Viena langsung merosot lesu. " Yah padahal hari ini toko es krim yang biasa Viena beli lagi launching es krim baru. " Ucapnya sedih.

__ADS_1


" Gimana kalo kita ke studio kakak dulu terus siang nanti kita ke toko es krim. " Saran nya yang langsung mendapatkan gelengan tegas dari Viena.


" Viena males ih di suruh liat lukisan. Viena gak like. "


Oke sabar Liliya. Gadis di samping mu ini adalah gadis yang masih labil dan kekanakan. Ia mulai mengemudikan mobil nya karena berdiam di tempat gak ada faedahnya.


" Kita mau kemana?. " Tanya Viena saat mobil telah jalan.


" Kamu liat aja nanti. "


...****...


Tidak sampai setengah jam, Mobil Liliya berhenti di restoran pizza. Viena memiringkan kepala nya saat melihat restoran di depan nya ini.


" Kita makan pizza?. " Tanya Viena dengan mata berbinar.


Liliya mengangguk. Ia melepaskan sabuk pengaman nya. " Sebelum kita makan es krim kita sarapan dulu. " Ucapnya lalu keluar dari mobil.


Viena dengan penuh semangat langsung bergegas keluar dari mobil lalu menarik tangan Liliya untuk masuk.


" Gak boleh lama-lama kita itu harus cepet. "


Liliya menggeleng kecil melihat tingkah anak SMA di depan nya ini. Saat mereka sampai di meja. Liliya dan Viena langsung memesan menu mereka masing-masing.


Lama menunggu akhirnya pesanan mereka datang. Viena makan dengan sangat lahap karena Pizza adalah menu favorit dalam hidup nya. Sedangkan Liliya hanya memakan sepotong karena dirinya tidak terlalu suka makanan berbahan dasar roti itu.


Saat hanyut dalam lamunannya, Suara Viena memecahkan lamunannya.


" Kakak. " Panggil Viena.


Liliya menoleh seraya mengangkat kedua alisnya. " Kenapa?. "


" Liat deh. " Viena menunjuk ke arah luar yang terlihat jelas karena dinding Restoran terbuat dari kaca transparan. Ia menunjuk tepat ke arah seseorang yang mengenakan pakaian hitam dan sedang bersandar di mobil nya. " Orang itu dari tadi liat ke sini. " Ucapnya.

__ADS_1


Liliya menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Viena. Orang itu memang berpakaian mencurigakan, dan terlihat salah tingkah saat dirinya menoleh ke arah nya.


" Viena liat dia memotret ke sini tadi. " mendengar itu Liliya menoleh cepat ke arah Viena. Viena ikut menatap ke arah kakak nya. " Kayak nya dia nguntit kita deh Kak. " Ucapnya penuh kecurigaan.


Liliya mencoba melihat kembali ke luar, namun orang tadi sudah menghilang beserta mobil nya. Ia melirik ke kanan dan kiri. Memang benar-benar hilang. Sangat mencurigakan. Liliya langsung berdiri dari duduk nya membuat Viena kaget dan ikut berdiri juga.


" Kita pergi dari sini. " Ucapnya lalu menarik tangan Viena untuk pergi.


Sebelum pergi, Liliya menuju kasir untuk membayar semuanya. " Total nya berapa kak?. " Tanya Liliya seraya mencari dompet di tas nya.


" Total punya kakak sudah di bayar lunas kak. " Aktivitas Liliya terhenti mendengar ucapan kasir itu.


" Uda di bayar? " Tanya nya memastikan jika pendengaran nya tidak salah.


Sang kasir mengangguk. " Sama siapa?. " Tanya nya lagi.


" Sama seorang pria dengan pakaian hitam katanya dia kekasih kakak. " Jawab sang kasir.


Wajah Liliya semakin berkerut. Ia mencoba tersenyum ke arah kasir lalu pergi dari sana seraya menarik tangan Viena.


Mereka masuk ke dalam mobil. Liliya menghela nafas nya. Ia terdiam menatap ke arah depan yang di penuhi oleh kendaraan. Ia memikirkan kejadian ini yang tidak terjadi sekali ini saja.


Viena menatap bingung ke arah sang kakak. " Kakak kenapa?. " Tanya nya polos.


Liliya menoleh ke arah Viena. Ia mencoba tersenyum seakan tidak terjadi apapun. " Kakak gak papa. Hmm Viena kakak minta maaf yah hari ini gak bisa temenin Viena makan es krim. Kakak ada urusan di studio kakak. " Jelas nya dengan wajah merasa bersalah.


Wajah Viena berubah lesu mendengar nya. " Yah padahal Viena sangat ingin es krim. Tapi gak papa deh Viena gak boleh egois kakak kan ada urusan. " Ucapnya.


Liliya tersenyum mendengar ucapan Viena. Ia mengacak lembut rambut Viena. " Pinter nya adik kakak. "


Viena tersenyum lebar dengan gigi putih nya yang terlihat mendengar pujian dari kakak nya.


Mobil mereka mulai melaju membelah jalanan. Liliya akan mengantarkan Viena pulang dulu karena hari ini sepertinya dirinya ada yang mengikuti. Jika itu penjahat dirinya tidak akan menempatkan anak sepolos Viena dalam bahaya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2