
Zeus Alatas Xavier, Sosok yang tidak pernah terlihat di hadapan publik semenjak kejadian yang menimpa keluarga nya belasan tahun yang lalu. Sosok yang mampu menggegerkan dunia bisnis kala umurnya masih belia, namun mampu kembali membangkitkan perusahaan nya yang berada diambang kehancuran. Zeus. Sebuah nama yang membuat orang penasaran akan wajah dan bentuk tubuh nya seperti apa. Apakah tampan? Atau tubuhnya cacat karena kebakaran rumah nya saat itu?. Tidak ada yang pernah tahu kecuali bawahannya sendiri.
Banyak yang mencoba membobol akses dirinya karena begitu misterius nya pria tersebut. Tapi itu semua tidak mudah. Semuanya terkunci rapat. Baik itu foto ataupun data dirinya. Hanya nama yang mampu mereka kenali.
Berita kepulangannya dari negeri paman sam tersebut mampu membawa awak media mengerubungi sekitaran bandara. Namun lagi-lagi mereka kecolongan, Hanya para bawahan nya yang ada disana tanpa pria bernama Zeus tersebut.
****
Diruangan berbau obat-obatan, terbaring lemah sosok gadis dengan beberapa alat rumah sakit yang menempel. Dia tidak sendirian. Disamping nya ada seorang pria dengan wajah tegas sedang duduk dengan tegap tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari sosok gadis di depannya.
Suara pintu terbuka, tidak mengalihkan pandangan nya sedikitpun. Seorang pria paruh baya yang merupakan asisten pria itu masuk ke dalam lalu membungkuk sedikit sebelum berbicara. " Keluarga mereka sudah tiba di rumah sakit dimana anak itu dibawa tuan. Dan baju nona sudah saya buang kedalam jurang begitupun pria-pria suruhan mereka sudah saya bereskan. " Lapor nya. Wajahnya datar dan tidak ada ekspresi apapn di wajah itu.
Pria itu diam sesaat. Ia melirik bawahannya itu. " Besok aman kan daerah bandara. Jangan ada yang tau jejak kita sedikit pun. Besok saya akan membawa gadis saya ke Amerika. " Perintah nya dengan nada datar dan otoriter khas pria itu. Asistennya tersebut mengangguk lalu pergi dari sana.
Pria itu menggenggam sebelah tangan milik gadis nya. Liliya. Yah, gadis yang sedang terbaring tidak sadarkan diri itu adalah Liliya. Dan pria yang sedang menggenggam tangannya adalah orang yang menyelamatkannya malam itu. Pria misterius yang selama ini mengincar Liliya sejak sepuluh tahun yang lalu.
__ADS_1
" Aku benci melihat mu terbaring lemah seperti ini. " Ucap nya lirih. Ia mencium lembut tangan Liliya sambil memejamkan mata nya. Meresapi tangan halus yang selama ini ingin selalu ia genggam setiap saat. Ia melihat cincin berlian yang tersemat dijari manis gadisnya, jika dibuka dan diteliti kembali, dibalik cincin itu terdapat inisial nama nya dan Liliya.
" Seharusnya aku menjemputmu dengan sambutan penuh hangat, bukannya keadaan mu yang penuh luka seperti ini. Kau tahu sayang aku sudah menyiapkan semua nya dengan baik agar kau senang saat bertemu dengan ku, tapi semua nya hancur karena bajingan tidak bertanggung jawab itu. " Pria itu terus meracau sambil menggenggam lembut tangan gadis nya. Tanpa dia sadari, Liliya telah membuka mata beberapa menit yang lalu, namun ia hanya diam dengan wajah linglung memandang sekitar nya. Saat sudah tersadar sepenuh nya ia langsung melepas paksa tangannya dari pria asing yang dengan lancang menggenggam tangannya.
" Si-siapa?? " Liliya mencoba bangkit, namun karena tubuh nya yang penuh luka ia kesusahan untuk itu.
Pria itu langsung bangkit dan hendak membantu Liliya, namun segera di tepis dengan kasar oleh liliya. Pria itu menghela nafas nya saat melihat wajah ketakutan Liliya yang sedang melihat kesana kemari. Dokter tadi mengatakan jika saat Liliya terbangun pasti akan mengalami trauma akibat kejadian yang menimpanya, oleh sebab itu ia tidak boleh terlalu memaksa Liliya.
" Mommy, Daddy! Dimana hiks. " Tubuh Liliya bergetar ketakutan. Mata nya berkeliaran kemari, seakan waspada akan keadaan disekitar nya.
" Hiks lepas! Kamu siapa?! " Liliya ketakutan. Ia tidak tahu siapa pria asing yang memeluk tubuh nya. Ia takut pria ini akan menyakitinya seperti pria yang semalam mengejarnya.
" Sttt tenang kamu aman. Aku tidak akan menyakitimu. " Pria itu mencoba menenangkan Liliya, namun begitu sulit karena kewaspadaan Liliya terlalu kuat.
Liliya menggigit bahu Pria yang ia anggap asing itu membuat pria itu langsung melepaskan pelukannya. Liliya memecahkan vas di atas nakas lalu menodongkan pecahan tersebut ke arah Pria tadi. " Aku gak kenal kamu!! Kamu pasti orang jahat!! " Teriak Liliya dengan wajah penuh ketakutan. Air mata nya sudah keluar membasahi pipinya.
__ADS_1
Pria itu menarik nafas nya. Ternyata Liliya sangat sulit untuk mempercayai orang. Jika begini ia harus terpaksa berbohong untuk mendapatkan kepercayaan Liliya. Pria itu takut Jika Liliya melukai dirinya sendiri.
" Saya gak orang jahat. Saya sahabat ayah kamu yang diberi tanggung jawab untuk menjaga kamu dari kejaran musuh yang mengincar keluarga kalian. " Ucap nya tenang seakan ucapannya terkesan jujur tanpa kebohongan sedikitpun.
Liliya masih tidak bergeming. Ia belum sepenuhnya percaya jika tidak ada bukti dan hanya omongan belaka. Bisa aja kan pria ini berbohong kepadanya lalu saat ia percaya pria ini akan membunuhnya dan membuangnya. Mana mungkin ayah nya berteman dengan pria yang masih muda.
Pria itu mengambil ponsel nya dari saku celana lalu mengetik sesuatu, ia menyodorkan layar ponsel nya kepada Lliliya agar gadis itu bisa melihat isi pesan ayah nya dengan nya. Awalnya Liliya enggan, namun saat melihat nomor ayah nya yang tertera disana ia dengan perlahan menurunkan pecahan kaca tersebut. Ia sangat hapal nomor pribadi milik ayah nya dan hanya beberapa orang saja yang tahu nomor tersebut.
Pria tadi tersenyum tipis melihat Liliya yang hampir mempercayai nya. Mudah bagi pria itu memanipulasi sebuah nomor ponsel karena kekuasaanya.
" Si-siapa nama kamu? " Tanya Liliya saat dirasa pria di depannya tidak berbohong.
" Zeus. " Pria itu terdiam sejenak menatap wajah Liliya dengan intens. " Zeus Alatas Xavier. "
Bersambung...........
__ADS_1