
Liliya sangat menyukai interior dari rumah kaca ini. Semuanya seperti memang di desain untuk dirinya. Liliya sangat berterimakasih kepada Zeus yang rela membuat tempat ini untuk nya padahal dirinya hanya menumpang di sini.
" Kamu pasti bertanya pada ayah apa aja yang aku suka kan?. " Tanya Liliya yang sudah duduk di atas sofa, bersebelahan dengan Zeus.
Zeus mengangguk. " Aku hanya ingin dirimu nyaman berada di rumah ini. " Jawab nya santai.
" Terimakasih. " Ucap nya tersenyum tulus. Menurut Liliya Zeus sangat baik sebagai orang yang hanya menolong nya.
" Tidak usah berterimakasih, ini semua memang pantas kamu dapatkan. " Ucap nya Zeus seakan memberitahu sesuatu.
Liliya menanggapi nya dengan tersenyum. Ia mengambil kue macaron yang tersedia di atas meja dan memakannya. Ia sangat menikmati keindahan di rumah kaca ini. Begitu indah jika di pandang di dalam ataupun di bagian luar nya.
Zeus merasa puas melihat ekspresi bahagia yang terpancar di wajah gadis nya. Usaha nya tidak sia-sia membangun tempat impian Liliya.
Liliya tidak berhenti-henti nya tersenyum. Wajah nya begitu berseri membuat Zeus tidak bisa mengalihkan tatapan nya sedikitpun. Liliya tersentak saat Zeus dengan santainya berbaring di pangkuannya dan tanpa sengaja menjatuhkan kue macaron nya tepat di atas wajah Zeus.
" Astaga maaf aku tidak sengaja. " Zeus memejamkan mata nya saat tangan halus itu mengusap wajah nya yang terdapat remahan kue. Zeus menikmati usapan ini, terasa hangat dan menenangkan.
__ADS_1
Liliya menydari situasi. Tangan nya langsung berhenti dan mencoba menjauh, namun langsung di tangkap oleh Zeus.
" Jangan berhenti. Aku menyukai nya. " Zeus menarik kembali tangan Liliya dan meletakkan nya di atas wajah nya.
" Lembut dan menenangkan. " Ucapan Zeus membuat wajah Liliya langsung memerah malu.
Zeus membuka mata nya. Ia menatap wajah Liliya dari bawah. " Teruslah seperti ini selamanya. " Ucap nya.
Liliya ikut menatap wajah Zeus yang di bawah nya. Tanpa sadar dirinya tenggelam di dalam indah nya mata Zeus. Mata nya tajam, namun menenangkan bagi nya. Bola mata nya yang memiliki warna sebiru lautan, mampu membawa dirinya kedalam ketenangan yang membuat nya tidak perlu khawatir apapun.
Liliya langsung tersadar saat tangan Zeus memegang pipi nya. Ia memalingkan wajah nya membuat Zeus hanya bisa menggenggam angin.
Zeus langsung bangkit dan menggendong Liliya menaiki kursi roda. Ia mendorong nya dan membawa nya keluar dari rumah kaca.
****
" Aku ingin Lucy saja yang membantu ku. " Ucap Liliya menghentikan mereka yang berada di ambang pintu kamar.
__ADS_1
" Lucy sedang mengerjakan pekerjaan lainnya. " Jawab Zeus.
" Yasudah aku sendiri saja. " Balas Liliya.
Zeus menunduk menatap Liliya yang dari tadi enggan untuk menatap dirinya. " Kamu belum bisa melakukan semua nya sendiri. "
" Aku bisa. " Ucap nya kekeh. Ia tidak ingin dibbantu oleh Zeus. Ia masih malu dengan kejadian tadi.
" Tidak ada bantahan apapun. " Zeus mendorong kembali kursi roda Liliya untuk memasuki kamar.
" Zeus aku ingin sendiri! " Ucap Liiliya kesal, namun tidak diperdulikan oleh Zeus.
Liliya memasang wajah kesal. " Dasar pria pemaksa. " Cibir nya kesal, tak perduli jika Zeus mendengarnya.
Zeus menggelengkan kepala nya mendengar ucapan Liliyya. Ia mengangkat tubuh Liliya dan membawanya ke kamar mandi. " Dasar wanita keras kepala. " Ucap nya membalas cibiran Liliya.
Liliya memandang wajah Zeus dengan tatapan kesal. Dasar pria pemaksa tidak punya hati. Cibir nya dalam hati.
__ADS_1
Zeus meletakkan tubuh Liliya di atas Closed. " Berhenti mengumpati ku. " Zeus menyentil kening Liliya pelan dan meniggalkan nya di sana. Wajah Liliya bertambah kesal. Ia menggerakkan tangan nya seakan ingin mencakar tubuh Zeus.
Bersambung.........