Mysterious But Sweet

Mysterious But Sweet
dua belas


__ADS_3

" Sila! Bagaimana kalian bisa salah menangkap orang?!!. " Bentak seseorang laki laki dengan keras seraya membanting sebuah vas di atas meja dan mengenai kepala salah satu orang di depan nya.


Tubuh bawahan nya gemetar hebat. Mereka tidak tahu jika mereka ternyata salah tangkap. Tamat sudah riwayat mereka. Mereka tau bagaimana tempramen tuan nya itu. " Ma-maaf tuan. Kamu kira wanita itu yang tuan cari. " Ucap nya tergagap.


" Tidak berguna!. " Laki-laki tersebut melemparkan sebuah pisau tepat mengenai leher salah satu bawahan nya membuat bawahan nya meninggal di tempat. Teman nya yang melihat hal tersebut meneguk ludahnya kasar.


" Jika kalian lalai. Itulah yang akan kalian terima. Kematian!. " Ucap nya tajam membuat parah bawahan nya terdiam menunduk dengan tubuh masih bergetar.


" PERGI SEKARANG!!. " Tanpa di perintah dua kali mereka semua pergi dari sana dengan tergesa-gesa, jika tidak nyawa mereka yang akan jadi taruhannya.


" SIAL!!. " Pria itu memasuki sebuah kamar yang mana terdapat seseorang yang sedang terbaring pingsan. Saat ia membuka pintu, ia bisa melihat wanita yang ia salah tangkap telah sadar dan sedang duduk seraya memijit pelipisnya yang mungkin terasa pusing.


" Sudah sadar?. " Pertanyaan tersebut menyadarkan anggun dari keterdiamannya. Yah wanita itu adalah Anggun. Wanita salah tangkap. Anggun menatap tajam wajah pria di depan nya ini.


" Lo yang bawa gue ke sini?!. " Tanya nya tajam tanpa rasa takut pun.


Devano. Pria yang telah membawa Anggun tersebut hanya diam seraya berjalan perlahan ke arah Anggun. " Kamu jangan geer, Anak buah saya hanya salah menangkap. " Ujarnya datar seraya melipat tangan nya di depan dada.


" CK. yaudah kalo gitu gue bisa pergi. " Anggun mencoba bangkit dari kasur dengan sedikit sempoyongan. Namun saat akan berjalan ke arah pintu, jalan nya di cegah oleh Devano yang sedang berdiri di hadapan nya.


" Apaan sih?! Lo ngalangin jalan gue. Minggir. " Anggun mendorong tubuh Devano dengan kuat, namun tenaganya tidak sebanding dengan pria itu membuat pria itu hanya bergeser sedikit.

__ADS_1


" kamu gak boleh pergi. " Beritahu nya singkat yang langsung mendapat pelototan dari Anggun.


" Enak aja! Bukannya Lo yang bilang, Lo salah tangkap!. " Anggun masih mencoba mencari celah untuk pergi, namun lagi lagi Devano menghalangi jalan nya membuat dirinya geram.


" Sebenernya apasih mau Lo!!. " Teriak nya kesal di depan wajah Devano.


Devano masih menatap nya datar. Ia dengan mudah mengangkat tubuh Anggun seperti memikul beras dan membawa nya ke arah kasur.


" Woii brengsek!! Lepasin gue!. " Teriak Anggun kesal seraya memukul punggung Devano.


Devano meletakkan Anggun di kasur dengan kasar. Ia mendengus melihat Anggun memegang kepala nya yang pusing akibat ia angkat seperti tadi.


" kamu masih berguna di sini. saya mau informasi dari kamu terkait nona kamu. " Ucap nya memberitahu apa tujuan yang ia mau.


" Syukur deh gue yang ke culik bukan Liliya. " Ucap nya santai lalu menopang tubuh nya dengan kedua tangan nya.


"Jadi apa maksud Lo mau nyulik Liliya?. " Tanya nya santai seakan pemberontakannya tidak terjadi.


Devano menaikkan sebelah alisnya melihat sikap santai dari Anggun yang mana beberapa menit yang lalu ia memberontak ingin kabur. Oke sepertinya Anggun ingin mengecoh dirinya. Akan Devano lihat seberapa pandai ia memainkan peran.


" Gak ada maksud. " Jawab santai lalu duduk di kursi sebelah kasur yang memang ada sedari tadi.

__ADS_1


Anggun memutar bola matanya. " Cih. Enteng banget jawab nya. " Anggun berdiri tegap lalu tubuh nya ia condongkan ke arah depan di mana Devano berada. Ia menatap lekat wajah datar tersebut.


" Lepasin gue sekarang dan anggap kejadian ini gak pernah terjadi. " Ucap nya berbisik.


Devano tersenyum miring mendengar ucapan Anggun. Ia dengan berani ikut mencondongkan tubuh nya membuat dirinya dan Anggun hampir tidak memiliki celah. " Kalo saya gak mau? Kamu ingat ini Anggun. Saya tahu latar belakang kamu itu siapa. " Bisik nya juga membuat tubuh Anggun langsung menegang kaku. Rahasia nya selama ini di ketahui orang.


...****...


Seorang pria dengan pakaian formal serba hitam turun dari sebuah helikopter yang mana itu berada di atas gedung tertinggi. Ia berdiri tegak memperhatikan sekitar nya dengan mata tajam milik nya. Ia merapikan sedikit pakaian nya yang tertiup angin.


" Tuan semuanya akan segera di mulai. " Ucap bawahan nya yang ada di belakang tubuh nya.


Pria itu mengangguk. Lalu berjalan meninggalkan gedung tersebut.


...****...


" Opa!. " Teriak Liliya dengan antusias, lalu memeluk kakek nya yang baru saja turun dari mobil. Liliya hari ini tampil cantik dengan balutan gaun berwarna putih berbentuk of shoulder dan mahkota kecil di kepala nya.


" Cucu opa cantik banget. " Dimas ikut memeluk cucu perempuan nya itu tak kalah erat. Ia sudah sangat lama tidak mengunjungi kediaman Nathan karena kesibukannya di perusahaan.


Mereka melepaskan pelukannya lalu beriringan masuk ke dalam rumah dengan Liliya yang sangat antusias menceritakan apa saja yang dilakukannya selama ini. Beginilah sifat Liliya jika bertemu dengan kakeknya, sangat manja dan selalu menceritakan apa saja kegiatannya sehari-hari. Tak jarang juga ia kabur kerumah kakeknya jika ia terkena marah oleh ibu nya. Dimas juga turut senang dengan Liliya yang begitu menempel dengannya karena dengan begini ia bisa menebus rasa bersalahnya dengan Alula di masa kecil, dengan memanjakan dan melihat perkembangannya dari kecil.

__ADS_1


Bersambung.........


__ADS_2