
Pagi menyingsing. Matahari sudah kembali mengambil alih tugas nya dengan bulan. Liliya yang masih menutup mata nya mulai terganggu oleh sinar yang menusuk mata nya seakan menyuruh nya untuk segera bangun. Dengan pelan ia membuka mata nya.
" Selamat pagi nyonya. " Ucapan dengan nada riang itu membuat Liliya terkejut dan langsung terduduk begitu saja.
" Siapa kamu? " Tanya nya waspada. Gadis dengan pakaian pelayan itu mengerjab pelan, ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Liliya.
Melihat gadis di depannya ini bingung, ia langsung paham. Saat ini ia berada di Las vegas tentu saja orang didepannya ini tidak mengerti. " Siapa kau? " Tanya Liliya merubah bahasanya tadi.
Wajah gadis itu kembali ceria. " Aku adalah pelayan yang akan melayani nyonya. Nama ku adalah Lucy nyonya. " Ucap riang.
Melihat tingkah gadis di depannya ini mengingatkan nya pada Viena yang bersikap kekanakan dan berwajah polos. Liliya tersenyum pada Lucy. " Salam kenal Lucy nama ku Liliya, jadi jangan memanggilku dengan sebutan nyonya. "
Lucy itu menggeleng. " Tidak bisa seperti itu nyonya. Tuan robert menyuruhku memanggilmu nyonya jika tidak aku akan dimarahi. " Ucap nya pelan.
__ADS_1
" Robert? " Tanya Liliya. Lucy mengangguk " Tuan Robert adalah asisten tuan besar. " Beritahunya.
Liliya menggangguk mengerti. Pasti Zeus yang memerintahkan nya. Untuk apa ia dipanggil dengan sebutan nyonya. Bukankah sebutan itu untuk istri atau kekasih sang pemilik rumah seperti ibu nya jika dirumah. Dan juga apakah sebutan itu tidak terlalu tua utuk nya.
" Hmm bagaiman jika aku dipanggil dengan sebutan nona. Bukankah lebih baik. " Ucap Liliya mencoba menegosiasi.
Lucy tetap menggeleng. " Titah tuan besar tidak bisa dibantah kata bibi Jane. " Siapa lagi bibi Jane, batin Liliya.
Liliya menghela nafasnya. Sepertinya gadis didepannya ini terlalu patuh pada peraturan yang ada. " Oke oke terserah mu. " Ucapnya pasrah.
" Tolong bantu aku untuk kekamar mandi. Kaki ku masih terasa sakit jika berjalan sendirian. " Ucap nya. Lucy mengangguk. " Tunggu sebentar nyonya. " Lucy pergi begitu saja meninggalkan Liliya yang meliihat nya dengan waajah bingung.
" Apa? Kenapa ia pergi? " Tanya nya sendiri. Malas untuk berfikir, Liliya mencoba menyeret tubuh nya ke ujuung ranjang. Saat akan menurunkan kaki nya, Suara pekikan Lucy membuat nya terkejut.
__ADS_1
" NYONYA JANGAN MENGINJAK LANTAI. " Teriak Lucy yang berlari kearah Liliya dengan tangan mendorong kursi roda.
Dahi Liliya berkerut melihat apa yang dibawa oleh Lucy. " Itu untuk apa? "
" Ini untuk membawa Nyonya. " Ucap Lucy sambil mengatur kursi roda nya di depan Liliya. Ia bersiap akan membantu Liliya tapi Liliya menghentikannya. " Lucy yang benar saja?! Letak kamar mandi hanya dua meter dari kita berada. " Ucap nya sambil menunjuk letak kamar mandi.
Lucy menoleh dengan polos. " Lucy tau. " Ucap nya lugu.
" Lalu untuk apa kursi roda? "
" Untuk nyonya. Lihat tubuh Lucy terlalu kecil untuk menggendong nyonya. " Lucy menunjuk dirinya sendiri.
" Jika nyonya terjatuh Lucy akan dimarahi oleh tuan Robert atau lebih parah nya Tuan besar yang marah. " Jelas nya dengan wajah sendu.
__ADS_1
Liliya menghela nafas nya. " Oke baiklah. Aku akan menggunakan kursi roda ini. " Lucy langsung tersenyum cerah mendengarnya. Ia segera membantu Liliya untuk naik keatas kursi roda.
****