
Hasil dari pembicaraan mereka beberapa saat yang lalu akhirnya Liliya dengan terpaksa menyetujui untuk pergi keluar negeri tepat nya ke Las Vegas. Saat ini mereka sudah berada di bandara internasional dengan beberapa pengawal. Mereka tidak melewati jalan yang biasa orang-orang lalui, mereka berjalan di area khusus untuk tamu tamu penting berdatangan jadi tidak akan ada yang mengetahui keberadaan mereka.
" Apakah harus lewat sini?. " Tanya Liliya melihat sekeliling mereka yang tidak ada orang selain mereka dan para pengawal.
Zeus menatap gadis di samping nya yang sedang ia rangkul. " Ini demi keamanan mu. " dan Agar orang tua mu tidak tahu kita di sini. Lanjut nya dalam hati.
Liliya hanya mengangguk tak banyak protes ia tidak ingin banyak bertanya seperti sebelum-sebelumnya. Bersyukur jika Zeus mau membantu ayah nya untuk menjaga nya. Dan soal kakak nya. Zeus sudah menjelaskan tentang keadaan kakak nya saat ini yang masih di rawat intensif di rumah sakit milik keluarga nya. Awal nya Liliya terpukul, demi melindungi dirinya kakak nya harus mengalami keadaan separah itu. Ia sangat ingin bertemu keluarga dan kakak nya tapi keadaan tidak mendukung. Kata Zeus mereka tidak bisa berkeliaran di sana karena musuh ayah nya masih mengintai mereka. Liliya percaya itu karena ayah nya adalah orang besar yang mempunyai musuh dimana-mana. Jadi tidak heran jika musuh ayah pun mengincar dirinya dan Niko.
Lebih kurang 23 jam mereka di perjalanan, mereka akhirnya tiba di salah satu bandara yang terletak di Las Vegas. Zeus menunduk, menatap Wajah Liliya yang tertidur di perjalanan tadi. Ia menyingkirkan helaian rambut yang menempel di wajah Liliya. Senyum nya mengembang melihat wajah polos dan imut milik Liliya.
" Akhirnya aku bisa mendapatkan mu sayang. Walaupun dengan cara kotor seperti ini. Salahkan saja orang tua mu yang tidak merestui kita. " Gumam nya pelan dengan tangan mengelus lembut wajah putih itu. Ia tidak akan memaksa obsesi nya untuk Liliya, ia akan dengan perlahan mencoba mendekati Liliya lalu mengambil hati nya. Ia tidak ingin Liliya terpaksa memilih nya dan malah membenci nya nanti.
" Tuan mobil sudah siap. " Zeus mengangguk. Ia dengan pelan mengangkat tubuh mungil Liliya agar tidak terganggu.
" Sttt tenang sayang. " Zeus mengusap kening Liliya agar tenang. Ia duduk dengan kepala Liliya yang tidur di paha nya. Senyum nya terus mengembang melihat wajah gadis nya. Seandainya saja supir di depan nya tidak di larang melirik tuan nya mungkin ia akan terkejut melihat senyuman yang tidak pernah terlihat di wajah tampan itu.
Saat sudah melewati jalan lintas mereka masuk ke dalam hutan pinus yang sama sekali tidak ada rumah warga di sini. sekitar Lima belas menit mereka dapat melihat sebuah bangunan mansion yang begitu megah namun sedikit suram. Gerbang dengan tinggi dua puluh meter itu terbuka saat mobil mereka akan masuk. Dari gerbang saja sudah terlihat bagaimana mewah nya mansion milik Zeus itu.
__ADS_1
" Selamat datang di rumah kita sayang. " Ucap nya lembut namun menusuk. Ia pastikan setelah ini Liliya tidak akan bisa kemana-mana lagi karena di sinilah Liliya harus tinggal. Di tempat nya Zeus. Dan bersama Zeus. Selama nya.
Zeus turun dengan Liliya yang masih terlelap dalam gendongan nya. Ia berjalan masuk dengan perlahan. Saat pintu utama terbuka, berjejer puluhan pelayan yang membungkuk, menyambut kedatangan Zeus di mansion itu. Mansion ini memiliki peraturan dimana saat Zeus datang mereka wajib berjejer untuk menyambut nya karena itu sebagai penghormatan kepada sang majikan mereka.
" Robert antar satu pelayan ke kamar ku. " Pria yang bernama Robert atau asisten dari Zeus tersebut mengangguk mendengar perintah tuan nya.
" Dan ingat harus dapat di percaya. " Setelah nya ia berjalan menuju Lift. Saat di dalam lift, mata Liliya mengerjab dan Zeus menyadari itu. Ia menunduk melihat Liliya yang mencoba mengumpulkan nyawanya.
" Kita dimana?. " Tanya nya bingung tanpa sadar posisinya sekarang.
Liliya tersadar. Ia dengan spontan langsung melepaskan diri dari Zeus dan itu bukan hal baik, karena selanjutnyaia langsung terjatuh karena kondisi nya yang memang belum pulih sepenuhnya.
Zeus berdecak melihat kecerobohan Liliya. Ia kembali mengangkat tubuh mungil Liliya itu tanpa protes dari orang nya karena Liliya hanya fokus pada sakit di kaki nya.
" Jangan bertindak gegabah Liliya. " Peringat Zeus. Liliya hanya diam, ia masih mencoba menetralisir sakit pada tubuh nya karena tindakan nya tadi.
Ting.
__ADS_1
Pintu lift terbuka. Liliya langsung mendongak. " Apa ini adalah rumah mu?. " Tanya nya.
" Ya. " Itu adalah jawaban singkat dari Zeus.
" Jadi ini tempat tinggal ku untuk sementara?. " Tanya nya kembali seraya menatap ke penjuru arah.
Dengan spontan buku jari Zeus mengepal kuat mendengar kata sementara dari mulut Liliya. Sementara apanya. Ingat ini Liliya akan bersama dengan nya untuk selamanya.
" Ya. " Jawaban nya berbanding terbalik dengan otak nya yang menolak.
Liliya mengangguk mengerti. Selanjutnya ia hanya diam tak banyak bertanya lagi. Selama di sini ia harus menurut kepada Zeus. Karena hanya dia yang ia kenal. Jadi mulai saat ini Liliya akan sepenuhnya percaya dengan Zeus.
Berbeda pemikiran. Zeus malah berfikir tentang apa yang akan ia dan Liliya lakukan di tempat nya ini. Memikirkan gadis nya akan ia lihat setiap hari membuat hati nya membuncah senang.
Selamat datang di rumah sesungguhnya Liliya. Rumah dimana kau akan di kurung selama nya, karena pemiliknya tidak suka milik nya di lihat orang lain.
Bersambung
__ADS_1