
" Tuan seluruh mansion sudah di ubah sesuai yang tuan mau. " Ucap pria dengan postur tubuh tinggi tersebut kepada seseorang yang sedang duduk di dekat jendela.
Pria yang di sebut tuan tersebut masih diam seraya menyesap benda berbahan tembakau itu. Mata nya yang tajam menatap asap yang mengepul dan hilang di sapu angin. Di sesap nya kembali tembakau tersebut lalu Wajah nya yang penuh ketegasan menoleh ke arah bawahan nya yang masih berdiri di belakang nya dengan tubuh tegap dan kaku.
" Hmmm. " Hanya kata itu yang keluar setelah lama nya berdiam diri. Bagi seseorang yang telah lama bekerja dengan nya itu sudah sangat biasa mendengar jawaban yang sangat singkat itu.
" Hadiah yang tuan inginkan juga sudah tersimpan rapi di ruangan tersebut. Dan lukisan yang tuan letak di ruangan itu sudah di simpan di tempat yang aman. " Lapor nya kembali yang hanya di jawab anggukan oleh sosok bernama tuan itu.
" Dan satu lagi. persiapan malam ini sudah siap tuan. " Ucap nya lalu bawahan dari tuan itu pamit pergi, meninggalkan orang tersebut yang sedang memandang lurus senja yang terbentang di langit yang luas itu.
Penantian nya selama ini akan segera tiba. Sosok yang ia tunggu kehadiran nya akan berada di sekitar nya selalu. 10 tahun ia menunggu untuk ini, akhirnya akan segera tiba. Ia menarik sedikit kedua sudut bibir nya ketika mengingat wajah gadis yang ia nantikan selama ini. Pria itu tersenyum untuk pertama kalinya setelah sekian lama tidak terlihat di wajah itu.
...****...
Hari kelahiran untuk Liliya dan Niko tiba. Hari ini rumah cukup ramai karena pelayan yang sibuk kesana kemari untuk mempersiapkan pesta yang meriah di halaman belakang rumah.
Liliya duduk dengan tenang di meja makan seraya memakan apel milik nya. Hari ini ia tidak ada jadwal kuliah, berbeda dengan Niko yang hari ini memiliki jadwal kuliah pagi dan akan kembali siang nanti saat acara akan di mulai.
Sebenernya acara di bagi menjadi dua bagian. Siang hari untuk para keluarga dan malam nanti adalah bagi teman teman mereka yang akan di adakan di tepi pantai. Beginilah Nathan dalam memanjakan kedua anak nya.
" Happy birthday anak Daddy. " Liliya mendapatkan kecupan tiba-tiba di kening nya dan itu dari ayah nya yang baru saja turun seraya membawa sebuah paper bag yang di berikan untuk nya.
__ADS_1
" Makasih Daddy. " Liliya kembali mencium pipi ayah nya. Lalu duduk kembali seraya membuka kado tersebut.
" What? Kunci apa ini Daddy?. " Tanya Liliya seraya mengangkat sebuah kunci berwarna silver itu dengan tatapan bingung.
Nathan mengelus kepala anak nya. " Itu kunci sebuah kotak yang akan Daddy berikan nanti nya. " Ucap nya.
Alis Liliya berkerut. " Kotak?. "
Nathan mengangguk. " Iya kotak. Kotak yang di dalam nya ada hadiah untuk Liliya. " Ucap Nathan yang di dalam nya penuh misteri menurut Liliya.
" Apasih Daddy sok main rahasia-rahasian ih. " Ucap nya dengan wajah tertekuk kesal. Apa salah nya sih tinggal ngasih.
Nathan tersenyum gemas melihat wajah anak nya. Ia meraup wajah anak itu membuat Liliya semakin memandang nya dengan tajam. " Tangan Daddy kasar ih. " Teriak Liliya kesal.
" Wahh Kalo gitu Liliya mau siap siap dulu. Bye bye Daddy. "
Cup.
Liliya mengecup pipi ayah nya lalu melesat cepat menaiki tangga menuju kamar milik nya.
Nathan menggeleng pelan melihat tingkah putri nya itu. Tidak lama setelah Liliya pergi, Alula datang dari dapur dengan celemek melekat di tubuh nya dan ada noda tepung di wajah nya. Ia menghampiri suami nya dengan membawa secangkir teh untuk Nathan.
__ADS_1
" Minum dulu mas. " Ucap nya yang di balas senyuman oleh Nathan.
" Makasih sayang. " Alula mengangguk lalu duduk di samping Nathan.
" Kamu udah ngasih kado sama Liliya?. " Tanya Alula.
Nathan mengangguk setelah menyesap teh nya. Ia menghadap ke arah sang istri lalu mengusap lembut tepung yang menempel di wajah nya. " Jadi cemong begini. "
Alula yang tidak menyadari ada tepung di wajah nya, ikut mengusap wajah nya. " Aku terlalu serius buatin kue buat mereka sampai gak tau wajah aku cemong. " Ucap nya.
" Tetep cantik kok. "Nathan tersenyum lalu menggenggam tangan istri nya dengan lembut.
" Gak terasa yah, Anak-anak Uda dewasa. Hari ini mereka sudah kepala dua. " Ucap Nathan. Terlihat gurat sedih di wajah nya.
" Iya mereka dewasa dan kamu juga makin tua. " Balas Alula seraya terkekeh kecil.
" Tua tua gini kalo bikin adik buat mereka masih sanggup tau. " Goda nya yang mendapat tabokan pelan dari Alula.
" Dasar Uda tua tapi otak mesum. "
" Kebutuhan sayang. "
__ADS_1
Bersambung.....