Mysterious But Sweet

Mysterious But Sweet
Episode Dua puluh lima.


__ADS_3

Zeus mendatangi kamar Liliya yang terletak di sebelah kamar nya sendiri. Ia membuka kamarnya dengan perlahan. Samar-samar ia bisa mendengar pembicaraan Liliya dengan seseorang yang ada di dalam.


" Apakah aku memang tidak boleh keluar? " Tanya Liliya yang sedang duduk di sofa yang tersedia di balkon kamarnya.


" Maaf nyonya ini adalah keputusan tuan besar. " Jawab Lucy.


" Kamu belum sepenuhnya sembuh Liliya. " Ucapan Zeus membuat mereka menolehkan kepalanya kebelakang.


" Zeus. "


Zeus menghampiri mereka berdua dan memberikan kode agar pelayan wanita itu pergi dari sana. Lucy meninggalkan Tuan dan nyonya nya berdua.


" Aku sudah bisa keluar dari sini. " Ucap nya ingin memberitahu Zeus bahwa ia sudah jauh lebih baik.


Zeus duduk di samping Liliya lalu tangannya terjulur mengetuk tangan Liliya yang masih diperban. Liliya mengaduh sakit dan langsung memelototi Zeus sang pelaku.


" Bagaimana bisa keluar jika di pukul sedikit saja sudah merasakan sakit. " Ucap nya tanpa rasa bersalah.


Liliya memalingkan wajah nya. " Orang jalan pakai kaki bukan pakai tangan. " Gerutu nya kesal yang masih bisa di dengar langsung oleh zeus.


Zeus hanya menggeleng pelan. Tangan nya dengan lembut menarik bahu Liliya agar bersandar di pelukannya. Tentu saja itu tidak diterima dengan mudah karena Liliya menepisnya begitu saja. " Apa sih pegang-pegang. " Ucap nya kesal.


Zeus tetap kekeh menarik Liliya ke pelukannya tanpa perduli tepisan atau pemberontakan. " Jika tidak menurut aku tidak akan mengizinkan mu keluar dari kamar ini. " Ancam Zeus.

__ADS_1


Liliya memalingkan wajah nya ke arah Zeus dengan tatapan kesal. " Siapa kamu berani ngatur-ngatur aku?!. " Bantah nya.


" Tentu saja orang kepercayaan Daddy mu yang mengurus kamu di sini. " Jawab Zeus santai.


" Kamu cuma boleh ngurusin aku tapi gak boleh larang-larang aku. " Ucap nya kesal.


Zeus menghela nafas nya pelan. Gadis nya ini sangat keras kepala. Apa susah nya sih menurut sekali saja. Jika bukan kesayangan nya sudah ia buang Liliya ke kandang macam milik nya sedari tadi.


" Liliya jangan keras kepala. " Ucap nya dingin yang tentu saja membuat tubuh gadis di depannya merinding begitu mendengar nada yang sarat akan kemarahan.


Liliya menghela nafas nya lalu diam dengan pasrah. Wajah nya menekuk kesal dengan tangan dilipat di depan dada. Zeus yang melihat nya merasa gemas. Ingin sekali ia mencium bibir yang sedang maju itu. Tapi ingat Zeus jangan sampai kamu ketahuan.


" Aku berbuat seperti ini untuk kebaikan kamu. " Celetuk nya ringan seraya memandang ke depan.


" Terserah. " Jawab Liliya singkat. Ia masih ingin merajuk untuk menunjukkan kekesalan nya terhadap Zeus supaya ia di izinkan keluar dari kamar ini.


Liliya melirik Zeus yang sama sekali tidak perduli akan sikap nya. Ia menghela nafas nya. Sepertinya bujuk dan rayu nya tidak mempengaruhi apapun karena Zeus tetap pada pendiriannya yang tidak mengizinkan nya keluar dari kamar ini.


" Baiklah baiklah aku mengalah untuk saat ini. " Ucap nya menyerah.


Zeus tersenyum puas dalam diam. Ia melihat ke arah Liliya yang sedang melihat nya. " Memang itu yang harus kamu lakukan saat ini karena kesehatan mu yang paling penting. " Ucap nya seraya mengacak rambut Liliya dengan gemas.


Liliya memutar bola mata nya jengah karena mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Zeus berulang kali. " Aku bosan mendengar ucapan mu. " Celetuk nya kesal. Ia hendak bangkit, namun karena kaki nya yang belum sepenuh nya pulih, ia langsung terjatuh ke arah belakang dimana Zeus tepat dibelakang nya.

__ADS_1


Bagian memalukannya adalah, ia harus terjatuh tepat di atas pangkuan Zeus yang mana Zeus langsung merangkul pingganggnya begitu saja.


" Bukannya kamu harus membuka mata mu. " Bisik Zeus ditelinga Liliya yang menghantarkan sensasi geli disana.


Liliya menggelengkan kepalanya dengan malu. Ia tidak akan mampu melihat posisi memalukan ini. Zeus tersenyum gemas. Ia semakin mempererat rangkulannya dan dengan sengaja meletakkan dagu nya di atas bahu Liliya, membuat wajah Liliya semakin memerah karena malu.


" Ja-jangan modus yah. " Cicit nya dengan tangan mencoba menyingkirkan tangan Zeus yang semakin melingkar di pinggang nya.


Zeus menaikkan sebelah alis nya mendengar perkataan Liliya. " Modus? Apa itu modus? Aku tidak mengerti. " Goda nya yang semakin membuat Liliya malu sekaligus kesal.


Liliya mencoba membuka mata nya, dan kalian tau apa yang pertama di lihat dan di rasakan nya. Wajah tampan Zeus yang tersenyum tulus ke arah nya.


saat itu juga waktu Seakan berhenti. Liliya terpaku melihat wajah yang sedang menampilkan raut penuh kelembutan itu. Begitu juga Zeus yang turut memandang indah nya bola mata coklat terang milik Liliya.


Hembusan angin yang menerbangkan helai rambut Liliya seakan menyadarkan kedua nya dari lamunan kekaguman masing-masing. Mata Liliya berkedip cepat dan kepalanya menggeleng dengan kuat. Ia mencoba menyadarkan pikiran nya yang sedang terpesona akan lelaki di depan nya.


Liliya mendorong kuat dada Zeus yang terlalu menempel di tubuh nya. " A-aku ingin istirahat di kasur. " Ucap nya gugup.


Tanpa basa-basi Zeus langsung mengangkat tubuh Liliya dan membawanya ke arah kasur. Setelah memastikan Liliya terbaring dengan nyaman, Zeus langsung pergi tanpa kata membuat Liliya bingung sendiri.


" Ada apa dengan nya?. " Tanya nya pada diri sendiri.


Sedangkan Zeus terdiam di balik pintu kamar. Tangan nya mengepal dengan erat seakan menahan sesuatu yang akan keluar.

__ADS_1


" Sial bagaimana bisa gadis ku se-menggoda itu. " Umpat nya kesal seraya meraup wajah nya. Ia mencoba menetralkan nafas nya yang memburu.


Bersambung....


__ADS_2