
Sehabis mengantar Viena. Liliya mengemudikan mobil nya ke arah studio lukis milik nya. Ia mengemudikan mobil dengan tenang seraya mendengarkan musik kesukaan nya.
Saat sedang fokus menyetir, Liliya terkejut ketika melihat sebuah kotak besar di tengah jalan. Ia menghentikan mobil nya lalu turun dari mobil.
Ia menatap penasaran kotak besar di depan mobil nya itu. Ia mendorong sedikit kontak tersebut untuk memastikan kotak itu tidak berbahaya. Liliya menoleh ke kanan dan kiri, ternyata jalanan ini sepi.
" Aneh banget ada kotak di tengah jalan. " Gumam nya lirih.
Ia mencoba membuka kotak tersebut dan di lihat isi nya ternyata terdapat sebuah kotak lagi dengan ukuran kecil. Dengan penuh penasaran dan sedikit takut ia membuka kotak itu.
" Cincin?. " Tanya nya Bingung. Ia mengambil cincin yang ada di kotak itu dan mengamati nya dengan seksama.
" Punya orang deh ini kayak nya. " Ucapnya seraya meletakkan kembali cincin tersebut.
Sebelum kembali meletakkan barang tadi ke tempat nya, Liliya menemukan secarik kertas dengan bunga Lili di atas nya. Ia terkejut dan dengan cepat mengambil kertas tersebut.
" Dia lagi?!. " Buru-buru Liliya membuka isi kertas tersebut yang bertuliskan...
My Amor
Ku harap cincin itu tersemat di jari manis mu.
__ADS_1
Setelah membacanya ia kembali melipat kertas tersebut lalu meletakkan nya di saku jas nya. Ia kembali mengambil kotak cincin tadi dan kembali mengamati nya.
" Kali ini dia memberikan barang. " Ucapnya lalu membawa kotak cincin itu bersama nya. Entah kenapa apa yang di katakan orang tersebut di surat ia harus mematuhi nya kalau tidak akan ada bahaya yang menimpa orang terdekat nya.
Setelah mobil Liliya melaju meninggalkan tempat itu, Seseorang di balik pohon dengan pakaian serba hitam keluar dari sana. Ia mengambil ponsel nya dan menghubungi seseorang.
" Barang sudah diterima nona tuan. " Ucapnya ketika sambungan telfon di terima.
...****...
" Hufff capek. " gumam Liliya seraya menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia berbaring telentang dengan mata memandang langit-langit rumah. Ia memejamkan mata nya sebentar lalu saat membuka nya ia terkejut ketika melihat wajah seseorang dari dekat dengan raut jelek.
" Ngeselin. " Ucapnya seraya memukul pundak kakak nya yang duduk di samping nya.
" Iya iya maaf. " Ucap Niko yang dengan gemas mengusap kepala Liliya.
Liliya menghela nafas lalu menyandarkan kepalanya di pundak kakak nya. Wajah nya terlihat lelah seperti sehabis mengerjakan sesuatu yang berat.
" Dari mana kamu? " Tanya Niko.
" Dari luar. " Jawab Liliya singkat membuat niko mendengus mendengar jawaban adik nya itu.
__ADS_1
" Yah kakak tau kamu dari luar. Maksudnya itu kamu habis main kemana?. " Tanya sekali lagi oleh Niko.
" Dari restoran pizza sama Viena. " Jawab Liliya sambil memejamkan mata.
" Viena ke sini tadi?. " Liliya mengangguk dengan malas membuat Niko tersenyum gemas melihat nya.
" Terus kamu gak kuliah?. " Liliya kembali menggeleng dengan lemas karena kesadaran nya sudah sangat tipis.
Niko menggeleng kecil. Ia mengelus lembut rambut adik nya supaya Liliya tertidur. Liliya yang merasa nyaman semakin masuk ke dalam pelukan kakak nya dengan kepala menyandar di dada bidang Niko, dan pergerakan nya itu tanpa sengaja menyenggol tas milik nya membuat barang di dalam tas tersebut berceceran keluar.
Hal itu tidak membuat Liliya terusik. Ia malah semakin memejamkan mata nya membuat Niko mendengus geli. Ia mencoba mengambil barang yang terjatuh di dekat kaki nya dan tanpa sengaja mata nya melihat sebuah kotak beludru berwarna biru muda.
Dahi Niko berkerut melihat benda itu. Ia mencoba menggapai nya walaupun terlihat susah. Ia tetap berusaha hingga kotak itu berada di tangan nya. Ia mengamati nya dengan seksama. Kotak nya terlihat indah dan elegan karena penasaran ia membuka kotak tersebut dan isi nya adalah Cincin berlian yang sangat mewah, jika di taksir kemungkinan harga nya bisa mencapai ratusan juta.
" Ini milik siapa?. " Tanya nya entah pada siapa.
Niko menunduk menatap adik nya yang sudah tertidur pulas. Jika di pikir Liliya tidak akan mungkin membeli barang dengan harga yang sangat mewah ini karena dia persis seperti ibu mereka yang tidak akan membuang uang dengan cuma-cuma jika tidak terlalu butuh.
Niko mengeluarkan ponsel nya dari saku celana lalu memotret cincin tersebut. Ia meletakkan kembali kotak itu ke dalam tas milik Liliya. Merasa tubuh nya sudah pegal, Niko pun mengangkat tubuh adik nya lalu membawa nya ke dalam kamar Liliya.
Bersambung....
__ADS_1