Mysterious But Sweet

Mysterious But Sweet
Dua puluh


__ADS_3

Pagi menyingsing. Bulan sudah berganti dengan matahari membuat semua orang memulai aktivitas mereka masing-masing.


Liliya mengernyitkan dahi nya saat merasakan cahaya menusuk mata nya. Ia perlahan membuka mata nya. Yang pertama kali ia lihat adalah wajah tampan pria bernama Zeus yang terpapar sinar matahari. Ia terdiam sejenak saat wajah itu menatap nya dengan senyuman tulus. Terlihat sangat tampan dan manis.


" Saat nya bangun Liliya. " Ucap Zeus menyadarkan Liliya dari lamunannya.


Liliya mencoba bangkit dan langsung dibantu oleh Zeus. Ia merilekskan tubuh nya yang terasa kaku dengan menyandarkan tubuh nya. " Terimakasih. " Ucap nya saat Zeus selesai menysun bantal untuk nya menyandar.


Zeus tersenyum. " Jangan ucapkan hal itu karena untuk kedepannya aku akan selalu membantu mu. " Ucap nya seraya mengelus lembut rambut Liliya.


Liliya yang merasa tak nyaman mencoba menghindar. " A-aku ingin ke toilet. " Ucap nya saat ia merasa Zeus agak tersinggung dengan sikap nya yang menghindar.


Zeus menarik nafas nya sejenak. Ia mencoba tersenyum walaupun terpaksa lalu menggendong tubuh Liliya begitu saja membuat sang empunya terkejut dan dengan spontan langsung mengalungkan tangannyaa dii leher Zes. " Aku bisa sendiri. tidak perlu seperti ini. " Ucap nya lirih.

__ADS_1


Zeus menatap wajah Liliya yang teriihat memerah malu itu. " Berjalan dengan kaki penuh perban seperti itu. Aku tidak yakin kamu akan sampai ke toilet. " Ucap nya dengan sedikit ledekan membuat Liliya mendelik kesal ke arah nya.


Zeus meurunkan Liliya dengan pelan di atas Closed. " Ingin ku bantu juga? " Goda nya saat Liliya hanya diam.


Liliya langsung melayangkan tatapan tajam nya lalu melempar tisu ke arah Zeus yang berlari keluar. " Dasar mesum! " Teriaknya kesal.


Zeus terkekeh kecil di balik pintu toilet. Dalam sekejap wajah yang tadi nya begitu hangat dan ceria langsung berubah dingin dan datar saat asisten nya menghampiri nya.


" Tuan semua nya telah siap. Satu jam lagi jadwal keberangkatan kita. " Lapor nya yang hanya di jawab anggukan oleh Zeus. Setelahnya pria itu pergi dari sana.


Tok Tok.


" Liliya kamu sudah selesai. " Suara Zeus terdengar. Ia dengan segera langsung menyelesaikan buang air nya dan memanggil Zeus untuk kembali menggendongnya ke arah kasur. Untuk saat ini ia hanya bisa bergantung kepada Zeus karena luka-luka di tubuhnya.

__ADS_1


Zeus kembali meletakkan tubuh Liliya tanpa berbicara. Saat tubuh nya berbalik, tangannya di cekal oleh Liliya membuat ia kebali memutar tubhnya ke arah gadisnya. " Ada yang kamu butuhkan? " Tanya nya.


" Apa kamu akan pergi? " Bukannya menjawab ia malah kembali bertanya. Zeus sempat tidak mengerti namun beberapa detik ia paham. Liliya mendengar percakannnya dengan asistennya tadi.


" Bukan aku tapi kita. " Ucapnya yang membuat Liliya mengerutkan keningnya.


" Kita?. " Tanya nya memastikan jika ia tidak salah dengar.


Zeus mengangguk. Ia duduk di tepi kasur. " Di sini tidak aman untuk mu. Musuh ayah mu masih mengincar kalian dimanapun. Ayah mu menyuruh ku untuk membawa mu keluar negeri untuk keselamatan dirimu. " Jelas nya tanpa ada kebohongan sedikitpun di wajah nya.


" Kenapa harus keluar negeri. Di sini juga bakalan aman. Musuh Daddy tidak tau jika aku bersama mu. Dan juga banyak penjaga yang menjaga ku. " Bantah nya.


Zeus mengambil tangan Liliya lalu menggenggam nya. " Yang namanya musuh dimanapun kita berada ia tetap selalu mengintai kita. Kita gak akan pernah tau orang di sekitar kita yang berpotensi menjadi musuh dalam selimut. " Liliya terdiam mendengar penjelasan dari Zeus. Jujur ia belum sepenuhnya menaruh kepercayaan kepada pria di depan nya ini. Tetapi sikap nya terhadap dirinya sangat baik seakan ia benar-benar menjaga Liliya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2