
Tubuh Liliya bergetar ketakutan saat pria-pria dengan tubuh kekar itu mendekat ke arah nya. Ia menodongkan pistol nya ke arah ke empat pria tersebut. Namun empat pria itu sama sekali tidak merubah raut wajahnya. Dengan berani Liliya menarik pelatuk nya dan memfokuskan bidikannya pada salah satu pria yang mencoba mendekat. Dengan keberanian penuh, ia melepaskan pelurunya membuat keempat pria itu terkesiap kaget, apalagi ketika salah satu dari mereka terkena tembakan tepat pada jantung nya membuat pria itu merenggang jawa begitu saja. Wajah mereka berubah marah saat melihat rekan mereka merenggang nyawa begitu saja.
Sedangkan tubuh Liliya kembali bergetar, ia menjatuhkan pistol tersebut begitu saja. Saat akan berlari tubuhnya sudah tertangkap duluan. " Kau tidak akan bisa lari!! " Liliya memberontak saat tubuhnya di seret ke arah jurang.
" DIAM!! " Liliya menangis dengan kencang saat tubuhnya akan mencapai tepi jurang.
" Tunggu!. " Pria yang membawa Liliya itu berhenti lalu menoleh ke arah rekannya dengan wajah terlihat marah.
" Sepertinya membuangnya begitu saja dia kejurang tidak asik. Bagaimana jika kita cicipi dulu tubuh nya lalu bunuh dan buang. Bukannya bos mengatakan kita bisa berbuat semau kita asalkan mereka berdua mati. " Ucapan itu membuat Liliya semakin histeris. Tidak. Lebih baik dirinya mati dari pada harus menyerahkan hal berharga dirinya pada mereka. Liliya semakin memberontak membuat pria yang sedang memegangnya langsung menampar pipinya dengan kuat sampai wajah nya tertoleh ke samping.
" DIAM! HIDUP MU ITU TINGGAL SEBENTAR JADI DIAM LAH!! " Pria itu menyeret tubuh Liliya ke arah mobil dengan kasar tanpa belas kasih sedikitpun padahal tubuh Liliya sudah penuh luka karena bergesekan dengan aspal tadi.
Liliya memberontak saat mereka merobek bagian lengan dari gaun nya. Tidak ada cara lagi, otak Liliya langsung memproses dan dengan tubuh yang sudah lemas, ia langsung menggigit tangan pria yang memegang tubuh nya dan menendang bagian sensitif pria di depannya. Liliya berhasil lepas. Ia segera berlari kencang, kabur dari sana untuk meminta bantuan. Ia tidak tahu bagaimana kondisi kakak nya di dalam mobil tersebut.
Liliya dengan tampilan acak-acakan terus berlari dengan kencang di kegelapan jalan. Air mata terus mengalir di kedua pipinya yang terdapat jejak kemerahan. Ia terus berlari dengan kencang tidak memperdulikan kaki nya yang sudah lecet karena tidak mengenakan alas kaki. Dress putih yang ia kenakan sudah lusuh dan robek di bagian lengan.
" BERHENTI SIALAN!! " Teriak Seorang pria dengan tubuh kekar layak nya preman di belakang dirinya yang ikut berlari mengejar dirinya. Bukan hanya satu namun ada tiga orang pria yang mencoba mengejar nya.
__ADS_1
Tangis nya semakin kencang saat mendengar teriakkan dari belakang tubuh nya. Kaki nya yang mungil terus ia paksa berlari sekencang mungkin karena takut tertangkap dan di bunuh.
Kaki Liliya itu otomatis terhenti saat melihat di hadapannya terdapat hutan belantara yang penuh kegelapan. Jalannya buntuh. Liliya berbalik dan terlihat ketiga pria tadi menyeringai kejam melihat dirinya tidak bisa kabur lagi.
" Mau kemana manis? Buntuh yah jalannya. Kasian. " ejek salah satu pria.
Ketiga pria tersebut tertawa mengejek. Menertawakan dirinya yang sudah terjebak di sini. " Udalah sini mending sama kita aja cukup layani satu jam dan kamu bebas. " Ujar pria itu dengan kurang ajarnya lalu berjalan mendekat membuat Liliya semakin menangis histeris. Mendengar gadis dihadapan mereka menangis kencang membuat ketiga nya justru tertawa semakin lebar.
" JANGAN MENDEKAT HIKS JANGAN!! " Liliya berjongkok seraya menutup wajah nya dengan telapak tangan nya. Ia sudah tidak tahu lagi cara lolos dari laki-laki kurang ajar yang kian dekat dengan nya.
Dor. Dor.
Mendengar tembakan yang begitu nyaring, dengan reflek Liliya membuka mata nya. Seketika ia menyesal telah penasaran karena rasa penasaran nya itu membuat dirinya melihat hal mengerikan di depan nya. Pria yang akan menyentuh nya tadi terbujur kaku tepat di depan nya dengan kepala bocor dan bersimbah darah.
Dor. Dor.
" AAAAA!. " Teriakan itu membuat nya mendongak dan hal yang sama ia lihat kembali, kedua pria yang ikut mengejar juga tergeletak dengan tembakan dimana-mana dan itu langsung terlihat di depan mata nya. Bagaimana peluru itu tepat mengenai kedua pria itu.
__ADS_1
Tubuhnya lemas melihat itu. Mata nya kian memanas, Ketakutan terasa nyata di benak nya. " Daddy Lily takut. " Lirih nya dengan mata mencoba terpejam agar tidak melihat apa yang terjadi di hadapannya. Tangan nya mencoba menutupi telinga nya karena takut akan ada suara tembakan lagi.
Tap tap tap.
Terdengar suara telapak kaki menggema di kesunyian lorong tersebut. Tubuh Liliya semakin bergetar mendengar seseorang mendekat ke arah nya. Pasti itu orang yang membunuh ketiga pria tadi. Apakah ia akan di bunuh juga.
Suara nya semakin mendekat membuat wanita itu semakin menutup rapat mata nya. Asumsi-asumsi buruk berkeliaran di otak nya.
Tap.
Suara itu berhenti dan dapat ia rasakan jika ada yang berdiri di hadapan nya. Saat mencoba mengintip siapa orang tersebut, tiba-tiba ia merasakan benda tajam menusuk kulit leher lalu pandangan nya buram dan ia pingsan. Namun sebelum menyentuh tanah orang yang menyuntikkan bius padanya menangkap tumbuhnya terlebih dahulu.
" I got you mine " Desis nya seraya mengangkat tubuh wanita itu. Wajah nya menggelap ketika melihat tubuh wanita dalam gendongannya penuh luka dan baju nya yang sengaja ia siapkan untuk bertemu dengannya sudah robek dan kotor karena darah yang bercampur tanah.
" Maaf sayang aku terlambat. " Setelah nya ia pergi membawa Liliya ikut bersama nya. Sekarang gadisnya sudah bersama nya dan tidak akan ada yang bisa mengambil miliknya darinya.
Bersambung.....
__ADS_1