NAKAL (NonA AKAn Lelah)

NAKAL (NonA AKAn Lelah)
Kekepoan seorang Luna dan Mana


__ADS_3

"Kak, gue pengen ngomong!" ucap Mana di tengah-tengah kegiatan sarapan sebelum berangkat.


"Ngomong apa?" tanya Isis masih fokus memakan makannya.


"Ini penting, kak! Gue pengen ngomong empat mata sama Kakak!" ucap Mana bersikeras.


"Terus gue ditinggal di sini?" kesal Luna.


"Sebentar doang, ah!" ucap Mana lalu menarik tangan Isis.


"Eh... Mana, mau kemana? Ngomongnya di sini aja!" ucap Isis.


"Nanti, di sini nggak aman!" ucap Mana.


"Hah..." Isis menghela nafas.


"Di sini aja!" ucap mana berhenti di gudang belakang Mansion.


"Ngomong apa?"


"Kak, Kakak sengaja jauhin kak Vico buat apa? Ada masalah, kan?" tanya Mana serius.


"Eh, mukanya gak gitu juga kali!" ucap Isis mencubit pipi Mana.


"Kakak, saya serius!" ucap Mana dengan dingin.


"Oke, lah! Gini, kak Vico itu belum tahu kalo kakak anak dari keluarga GACHA. Kakak cuma ngomong kalo kakak dari keluarga yang miskin dan sekolah di golden school karena dapet beasiswa. Dia gak tahan sama hinaan yang dia dapet karena pacaran sama kakak. Jadi, dia ninggalin kakak karena itu!" ucap Isis tanpa melihat Mana.


'Semoga aja percaya!' batin Isis.


"Udah?" pertanyaan Mana dengan nada yang lebih dingin membuat Isis terkejut dan canggung.


"Ma--maksudnya?"


"Kakak udah selesai ngomongnya?"


"U--udah!"


"Hah... gue tau kalo kakak itu orang baik. Saking baiknya, orang yang jahat aja bisa kakak lindungi. Tapi, Mana itu adek kakak, kan?" ucap Mana sembari menghela nafas.

__ADS_1


"Iya, lah. Kakak itu orang baik. Kamu juga adek kakak yang paling mirip sama Daddy!" ucap Isis mengelus rambut Mana lembut.


"Makanya Mana minta kakak buat jujur sama Mana!" ucap Mana.


"Kakak udah jujur!" Isis bersikeras.


"Kakak gak kasihan sama kita kalo kakak kenapa-napa? kalo kakak sakit, terluka, atau apapun itu. Kakak gak khawatir? Kita gak bisa kehilangan kakak kalo ada sesuatu yang terjadi sama kakak! Udah cukup Mommy dan Daddy yang pergi. Tapi kakak gak boleh!" ucap Mana dengan wajah yang nampak murung.


"Ngapain kakak pergi? Perkataan kakak itu murni, gak bohong sama kamu! Jadi percaya, ya?" ucap Isis menepuk pelan kedua pundak Mana.


"Luna, Lo gak mau bantu gue?" Mana berucap dengan sedikit keras sembari menatap ke bawah.


"Luna? dimana?" Isis bingung.


"Eh... ketahuan, deh!" Luna cengengesan.


Luna muncul dari luar ruangan, di belakang dinding. Luna sebenarnya dari tadi sudah menguntit Isis dan Mana. Namun, ia tak bisa mendengar dengan pasti semuanya. Ia hanya tahu ini mengenai rahasia Isis yang di sembunyikan dari mereka.


"Jadi, bantu gue kali ini!" ucap Mana mendekati Luna.


"Panggil gue kakak dulu!" Luna berucap.


"Hah... Kakak Luna yang baik. Bantu gue ngomong sama kak Isis supaya mau jujur!" ucap Mana menghela nafas.


"Kalian, mah Gitu! kakak yang tuanya dilupain!" ucap Isis merajuk.


"Hehe... nggak, kok! Kita cuma mau kakak jujur sama kita! Kakak tahu, kan? kita lama banget nggak ngomongin rahasia kita masing-masing. Mana sama Luna nanti juga kasih tau rahasia kita ke kakak! Tapi kakak juga!" ucap Luna dengan santai dan senyum yang tak luntur dari wajahnya.


"Pantes Daddy sama mommy suruh kakak jaga kalian baik-baik. Ternyata kalian ini memang mirip mereka. Luna sifatnya mirip sama Mommy dan Mana mirip Deddy. Tapi wajah kalian sama-sama mirip kakak, persis nenek!" ucap Isis.


"Kak, tolong jangan ubah topik pembicaraan kita!" ucap Luna. Namun, Isis malah tidak mendengarkannya.


"Kak!!" panggil Luna dan Mana bersamaan.


"Kakak udah ungkapin semua! Lagu pula, kakak juga gak punya rahasia! Jadi, kalian gak perlu terlalu khawatir sama kakak! Udah hampir terlambat, nih! Berangkat, yuk!" ajak Isis.


"Ya udah. Swmentara ini, kita bakalan percaya sama kakak. Tapi, kalo kakak bohong sama kita, kakak gak boleh pergi kemanapun termasuk keluar rumah dan harus sama kita 24 jam!" ucap Mana.


"Iya-iya, kakak udah janji tadi!" ucap Isis.

__ADS_1


Setelah itu, mereka pergi ke sekolah seperti biasanya.


*****


Sesampainya di sekolah, Isis langsung di hampiri oleh Wenny dengan wajah ceria yang sangat jarang terlihat.


"Isis! Ini jadwal yang Lo kemaren atur! Gue udah catat dan cari pelatih buat lombanya! Jadi, nanti jam 1 pulang sekolah, langsung kumpul di rumah Glenn aja!" ucap Wenny.


Isis hanya menanggapinya dengan anggukan. Sebenarnya, Isis tak mendengarkan ucapan dari Wenny. Pasalnya, ia masih berkutat dengan pikirannya yang memikirkan bagaimana cara agar Luna dan Mana tidak mengetahui rahasianya!


Wenny dan Isis berjalan bersama. Walaupun berjalan bersama, tidak satu pun dari mereka yang membuka percakapan. Masing-masing dari mereka berdua berkutat dengan pikirannya sendiri. Hingga akhirnya, Isis tersadar karena menabrak seseorang hingga terjatuh.


"Isis? Lo gak papa?" tanyanya.


"Glenn? iya, gue gak papa!" ucap Isis.


Glenn mengulurkan tangannya dan diterima oleh Isis. Glenn membantu Isis untuk berdiri. Tapi sialnya, adegan itu malah di lihat oleh orang yang sedang di jauhi oleh Isis, siapa lagi kalau bukan Vico. Vico melihatnya dengan tatapan nanar. Hatinya sakit hingga dirinya ingin sekali untuk menangkis. Rasanya bagai ditikam jutaan pisau. Namun, ia adalah seorang lelaki. Jadi, dirinya tak boleh lemah! Tunjukan apa yang bisa kamu lakukan untuk membawa Isis dalam pelukannya lagi, Vico!


Isis menyadari tatapan Vico, ia lantas dengan sengaja menjatuhkan diri dan ditangkap oleh Glenn hingga membuat mereka saling bertatapan. Namun, Isis tak menghiraukan tatapan Glenn. Ia sengaja melakukan ini untuk membuat hubungannya dengan Vico jauh. Dan benar saja, Vico dengan wajah kesal langsung bergegas pergi karena tak tahan melihat adegan ini.


"Sorry, gue gak sengaja!" ucap Isis lalu pergi.


"Ye... udah di tolongin malah pergi gitu aja. Mana nggak minta maaf atau terimakasih lagi! Heh!" celoteh Glenn lalu pergi.


Sedangkan Wenny yang melihat semua kejadian itu merasa aneh dengan Isis. Bagaimana tidak? Ia melihat tatapan Isis tidak fokus saat terjatuh dan terlihat seperti di sengaja. Namun, ia tak ingin mencampuri urusan orang lain. Jadi, dia memutuskan pergi ke kelas menyusul Isis.


Sesampainya Wenny dan Isis di kelas. Mereka langsung di cegat oleh Celine.


"Mana jadwal yang kalian berdua buat kemaren? Sini, kasih gue aja!" ucap Celine menengadahkan tangannya.


"Lo gak bantuin kita kemaren. Jadi, buat apa Lo minta jadwalnya?" ucap Wenny tanpa ragu.


Isis yang sangat malas berdebat dengan Celine itu pun beranjak pergi dan duduk di bangkunya dengan wajah datarnya.


"Isis! Kok, Lo malah duduk, sih!" ucap Wenny kesal.


"Heh, faidah banyak drama! Kasih ke gue jadwalnya sekarang. Cepetan!" ucap Celine menyuruh.


"Jangan harap, Lo!" ucap Wenny tegas.

__ADS_1


Wenny lalu dengan sengaja merobek kertas uang berisikan jadwal pelatihan bagi siswa yang ikut lomba. Isis menatap jengah mereka berdua. Sedangkan Celine, matanya membulat sempurna karenanya.


"Gue lebih rela kehilangan jadwal ini dari pada harus kasih ke Lo! Gue tau Lo pasti bakalan ngaku-ngaku kalo ini Lo yang buat. Daripada di copas, lebih baik buat baru dan private!" ucapan keras dari Wenny itu berhasil membuat amarah Celine memuncak. Sedangkan Isis, ia malah fokus memandang keluar jendela tanpa memperdulikan pertengkaran kedua orang itu.


__ADS_2