
"ISIS!! KENAPA? KENAPA KAMU KAYA GINI? AKU CUMA PENGEN KAMU SAMA AKU TERUS! ISIS!" teriak seorang pria dengan wajah yang sengaja di sedih-sedih'kan yang tak lain adalah Mikha.
"Bisa diem gak, Lo?" ucap Vico yang kesal.
"Nggak!" ucap Mikha enteng dan malah meneruskan aksinya mengejek Vico. Kalo ini ia menggunakan puisi yang dibawakan dengan gaya lebay'nya.
"Isis, mengapa kau campakkan diriku. aku disini menunggu sebuah rasa yang telah lama hilang. Isis, mungkin saja sebuket bunga mawar putih ini dapat mewakili cintaku yang suci dan bersih ini. Mungkin saja rambutmu tidak lebih lembut dari bulu si oyen. Tapi, aku pastikan aku akan tetap mencintaimu walaupun rambutmu berubah menjadi ekor kuda!"
Pletakkk...
"Aduh, jidat gue yang berharga lebih dari lukisan ratu Elizabeth ini kenapa Lo jitak!?!" ucap Mikha dengan lebay setelah jidatnya di jitak oleh Vico.
"Lebay!!" ucap Vico merasa jijik dengan tingkah sahabatnya yang konyol itu.
"Biar gue lebay asal nggak jadi sadboy aja udah cukup kok buat gue!" ucap Mikha nyengir tanpa dosa.
"Siapa yang sadboy?!" ucap Vico kesal.
"Yang merasa itulah orangnya!" ucap Mikha sambil memasukkan pudding rasa coklat favoritnya kedalam mulutnya.
"Dasar sialan!!" umpat Vico bergumam.
'Hehehe.. kena mental kan, si beruang kutub. Langsung diem, hehehe' batin Mikha senang hingga tersenyum tanpa sadar.
"Bilang apa Lo tadi, hah?" ucap Vico yang tiba-tiba saja muncul membawa tongkat kayu didepan Mikha yang masih asyik menikmati puddingnya sambil memejamkan mata.
"Ulangi lagi!" ucap Vico. Kali ini, Mikha membuka mata sambil tersenyum dan langsung kaget hingga bibirnya kelu melihat tongkat kayu yang besar dibawa oleh Vico.
"Eh.. pak ketos, kan baik. Jadi, lupain aja apa yang gue bilang tadi, ya pak ketos!" ucap Mikha menyengir.
"Kalo hari ini, gue pengen jadi jahat. Lo mau gimana, waktos?" ucap Vico dengan tatapan mematikan.
'Waduh, ini tanda-tanda beruang kutub ngamuk, nih! harus cari cara biar bisa lancarin jurus langkah seribu gue!' batin Mikha.
"Gu--gue mau ke toilet dulu, ya pak ketos!" ucap Mikha dengan hati-hati.
"Lo kira gue bego apa? kalo Lo mau buang air, disini aja, daripada Lo kabur!" ucap Vico.
"Ya nggak gitu. 'Kan gue sebagai manusia juga perlu buang air. Kalo gak buang air nanti bisa ada masalah pencernaan. Kalo kena masalah pencernaan nanti bisa masuk rumah sakit. Kalo masuk rumah sakit nanti harus bayar. Kalo biayanya—
__ADS_1
"Udah-udah, gue pusing dengerin ocehan Lo dari tadi. Bisa-bisa kaca di rumah gue pecah semua gara-gara Lo!" ucap Vico sembari melemparkan tongkat kayu yang dipegangnya tadi ke tong sampah yang membuat perhatiannya teralihkan.
Mereka kini memang berada di rumah Vico, bukan rumah melainkan sebuah mansion. Wajar jika Vico tinggal di mansion mewah ini. Pasalnya, ayahnya adalah raja bisnis setelah kematian orang tua Isis. Kalau ditanya kenapa Mikha ada di rumah Vico sekarang, ya karena Mikha dan Vico di suruh guru buat bikin susunan acara classmeating Minggu depan.
"Ya elah, belum juga selesai gue jelasin. Udah Lo potong kayak bulu si oyen yang gundul sekarang!" ucap Mikha. Karena perhatian Vico teralihkan, jadi Mikha berencana kabur.
"Mau kemana, Lo? Kalo Lo selangkah aja pindah tempat, gue kasih hukuman buat setiap langkah!" ucap Vico yang memergoki Mikha hendak kabur.
"Tangkap gue kalo bisa, baru kasih hukuman ke gue!" ucap Mikha kabur.
"NORTHUMBRIA MIKHAELZAYN!!!!" teriak Vico geram.
*****
Di mansion mewah keluarga GACHA, Isis tengah terduduk lemas di kamar mandi. Perutnya terasa mual. Sejak tadi siang ia belum makan. Kini malam sudah menjelma dan ia belum juga makan. Entahlah, rasanya begitu enggan melihat makanan, apalagi menyentuhnya.
"Huh, gue capek!" keluh Isis sembari menatap bulan dari jendela kamarnya setelah berganti baju hendak tidur.
"Kapan gue ketemu sama Daddy sama mommy? Kangen banget. Apalagi sama kakek nenek, kangen!" lanjutnya.
Isis memejamkan mata, menikmati deburan angin yang menyapu rambutnya. Membuatnya hanyut dalam ketenangan. Melupakan masalah yang terjadi di sekolah tadi siang.
________________
Isis tadi telah memesan makanan. Namun, tangannya ditarik paksa oleh Vico yang akhirnya membuat dirinya dibawa ke halaman belakang sekolah.
"Isis, apa yang gue lakuin ke kamu sampai buat kamu marah sama gue?" ucap Vico.
"Banyak!" ucap Isis dingin.
"Sebutin apa aja cara biar kamu bisa maafin gue!" ucap Vico memohon.
"Cuma satu. Yang jadi pertanyaan, Lo mampu nggak?" ucap Isis.
"Mampu, kok. Asal itu bisa buat kamu maafin gue, gue bakal lakuin apapun itu!" ucap Vico penuh keyakinan.
"Oke. Menjauh dari gue, gue cuma gak mau Lo deket sama gue!"
"Apa? kenapa gue harus jauhi kamu? gue cuma mau Lo maafin gue. Cara apapun akan gue lakuin, tapi kalo ini nggak bisa!" ucap Vico.
__ADS_1
"Fine, semua udah jelas, kan? gue pergi dulu!" ucap Isis hendak pergi.
"Nggak, Lo gak boleh pergi dulu. Apapun gue lakuin, tapi jangan ini, oke?" ucap Vico mencekal tangan Isis.
"Lo bukan yang terbaik buat gue. Dan gue bukan orang yang tepat buat Lo. Lagi pula, Lo masih punya banyak cewek yang antri buat jadi pacar Lo, kenapa harus—
Ucapan Isis terpotong karena Vico yang tiba-tiba mengecup bibirnya. Sesaat, Isis hanyut dalam kehangatan itu. Namun, ia kembali sadar dan langsung mendorong dengan keras Vico hingga Vico terhuyung ke belakang.
"Karena ini!" ucap Vico menyeimbangkan tubuhnya lalu melenggang pergi.
"Brengsek Lo, Vico!" teriak Isis memaki Vico.
____________
Ingatan kecil itu membuat air matanya luruh seketika. Kenangan ini akan diingat olehnya selalu. Betapa Vico sangat menyayangi dan mencintainya.
Kini, Isis duduk di pinggir jendela sambil membawa sebuah buku dan pena. Menuliskan segala bentuk rasa yang ingin ia curahkan dalam kata-kata. Yang membuatnya lega setelah terungkapnya rasa yang sulit dipendamnya.
___One day : ]
...Hari ini, Hari pertama misi dimulai. Menjadi pribadi yang menyulitkan dan dingin. Misi penyelamatan kota yang akan terbakar akan menjadi abu yang akan mendatangkan rindu. Aku, awan yang berubah menjadi hujan, yang kini datang menghentikan api, menahan perih dan lara agar terselamatkannya orang yang ku cintai....
^^^********^^^
Malam larut sekali, Isis masih setia di wastafel memegangi perutnya dan berkumur berulang kali. Malam ini ia sangat lemas sekali, semua isi perutnya ia keluarkan. Mutah yang tak hanya air dan makanan yang basi karena terurai asam lambung, namun juga darah yang bercampur dalamnya hingga membuatnya hampir kehilangan tenaganya.
"Gue laper tapi males makan!" ucap Isis yang terbaring di atas kasur tidur.
Tok..tok..tok..
"Masuk!" ucap Isis dengan lemah.
"Loh, Luna? Mana? kalian belum tidur?"
Isis kaget melihat dua adiknya yang kembar itu belum tidur malah membawakan makanan ke dalam kamarnya.
"Gimana kita tidur? Kalo kakak gak makan malem tadi. kakak mau sakit?" ucap Mana dengan marah.
"Iya, maafin kakak. Tadi kakak lupa!" ucap Isis beralasan.
__ADS_1
"Kakak itu jangan alasan mulu! kakak kita kira bocah TK yang bisa dikibuli?" ucap Luna cemberut.
"Iya-iya, kakak ngaku kalo kakak salah. Tadi banyak tugas jadi kakak kerjain dulu. Ini baru selesai!" ucap Isis membujuk kedua adiknya yang kembar.