
"Oh, ini adik kembar lu, kan?" tanya Jen dengan wajah yang menantang.
"Bukan!" jawab Luna yang kelewat santai.
"Gak di akui, Lo!" ucap Jen menatap Mana dengan tatapan yang nyalang.
"Dia bener, kok. Gue bukan adik kembarnya, tapi dia setengah dari hidup, jiwa, dan tubuh gue!" jawab Mana membalas tatapan Jen.
Jen mengeratkan giginya. Wajahnya nampak memerah, tak puas jawaban Mana. Sedangkan Will, dia melihat pertarungan antara tiga wanita itu merasa bahwa dirinya akan terseret jika berlama-lama di sana. Ia akhirnya memutuskan untuk diam-diam pergi. Namun, belum sempat ia kabur, tangannya sudah di genggam erat oleh Mana dan juga di tatap dengan tatapan yang tajam oleh Luna dan Mana.
"Lo mau kabur? Udah berani bikin separuh tubuh gue sakit, tapi masih mau kabur? Dasar bajingan!" maki Mana.
Mana lalu dengan amarah yang menggebu-gebu langsung melayangkan tamparan keras hingga Will tersungkur. Sedangkan para siswa di sana melihatnya dengan wajah yang nampak ketakutan.
"Luna. Sisanya, gue serahin ke Lo!" ucap Mana menepuk pundak Luna.
Luna mengangguk dan langsung berjalan ke arah Will. Sedangkan Will, ia melihatnya dengan mimik ketakutan.
"Lu--luna, aku, aku cuma, cuma..." Will gemetaran.
"Cuma pengen permainin hati gue? iya? gitu, kan?" tanya Luna dengan wajah yang sangat menyeramkan.
"Bu--bukan gitu. Gue, gue, gue udah gak cinta sama Lo!" ucap Will yang makin gemetaran tubuhnya.
"Udah gak cinta? bisa putusin gue baik-baik, kan? Gak usah bikin gue yang seakan ngemis cinta sama Lo cabe-cabean gila!" ucap Luna dengan nada horornya.
Will semakin ketakutan. Namun, mereka di kejutkan dengan suara tamparan keras di belakang mereka.
"Dasar b*ch! Lo bilang apa, ha?" teriak mana dengan wajah yang penuh dengan amarah.
Wajah Jen merah. Ia jatuh tersungkur akibat tamparan keras yang di berikan mana yang mendarat tepat di pipi kanannya. Namun, ia lebih terlihat takut dari pada kesakitan. Mana berjongkok menghadap Jen dengan memasang wajah yang amat dingin dengan tatapan tajam yang tak lepas dari matanya.
"Kakak gue bukan orang yang ngemis cinta! Kakak gue bukan orang yang gila harta! Bahkan, dulu bukan kakak gue doang yang di deketin sama Will si cabe-cabean itu! Gue di deketin Will karena dia pernah liat gue sama Luna pake kalung berlian coupel. Tapi, yang kena jeratnya kakak gue dan akhirnya kakak gue ketipu sama mukanya yang sok munafik dan buat kakak gue kasih dia uang! Kalo gue mau, gue bisa hancurin seluruh usaha keluarga Lo hari ini juga! Dan yang paling penting, Lo bahkan gak akan bisa beli sepatu gue walau cuma sebelah! Jadi, jangan sombong jadi orang!" ucap Mana panjang lebar dengan nada yang di tekan.
"Mana, inget apa yang Lo pernah ucapin!" ucap Luna mengingatkan.
"Gue gak peduli!" ucap Mana dengan acuh.
"So, gue udah ngingetin. Jadi, gue gak halangin Lo! Dan... gue juga bisa ikutin cara Lo!" ucap Luna dengan tatapan horor ke arah Will.
Will dan Jen serta seluruh siswa Diamond School merasa bingung dengan percakapan dua orang yang kembar itu. Will dan Jen siap-siap menerima apa yang akan di lakukan dua orang kembar itu.
📞Call on
"Wesley, bawa 10 orang ke sekolah ku. Sekarang!" perintah Luna.
"....."
"Jangan beritahu kak Isis!" perintah Luna lalu mematikan telepon.
📞 Call of
__ADS_1
Semua siswa memandang Luna dengan wajah bingung. Siapa yang dia panggil tadi? Wesley? Wakil direktur dari perusahaan GACHA itu? Apa hubungannya sama Luna dan Mana?
Pertanyaan yang hampir sama terlintas di masing-masing siswa yang menyaksikan kejadian itu. Bahkan Mana juga heran kenapa Luna harus melibatkan Wesley untuk mengurus masalah ini.
"Luna, kenapa—
"Gue lakuin apa yang gue mau. Kak Isis nggak pernah suruh kita rahasiain tentang ini. Jadi, gak papa, dong!" Mana menyangkal.
"Terserah!" ucap Mana lalu berdiri dan berjalan ke arah meja yang tersedia makanan milik Luna tadi.
"Gue mau makan. Laper!" ucap Mana lalu menyantap makanan sisa dari Luna.
"Itu makanan gue, b*go!" Luna berteriak ke Mana.
"Gue laper!" ucap Mana yang masih meneruskan makannya.
"Bodo, Lo laper bisa pesan makan di sana. Kenapa ambil makanan gue!" ucap Luna menunjuk ke arah tempat pemesanan makanan.
"Gak, kelamaan. Makanan Lo juga udah meronta minta di makan. Lo diemin dari tadi. Jadi, dari pada mubazir, mending gue makan! Lo kalo mau makan bareng gue aja. Nih!" ucap Mana dengan santainya menyodorkan paha ayam yang sudah di gigitnya.
"Ih... itu bekas gigitan Lo! gue mau jusnya aja!" ucap Luna hendak mengambil gelas berisi jus lemon.
"Gue juga butuh minum!" Mana mengambil jusnya. Dan terjadilah pertengkaran kecil seperti biasanya di antara mereka.
'Ini... sebenarnya situasinya gimana, sih! Mereka niatnya permainin gue, ya!' batin Jun kesal.
'Gue harus manfaatin situasi ini buat kabur!' batin Will yang merencanakan untuk kabur.
"Nona muda Luna, selamat siang! Nona muda Mana, selamat siang!" sapa Wesley dengan sopan pada Luna dan Mana.
Luna dan Mana menghentikan pertengkaran kecil mereka. Mereka menengok ke arah Wesley yang masih menundukkan badannya ke arah mereka.
"Oh, Wesley? Cepet banget! udah, santai aja kali! kaya gak pernah akrab aja!" ucap Luna dengan santai.
"Baik, terimakasih atas kemurahan hati anda, nona muda Luna!" Wesley menegakkan tubuhnya.
"Luna, Lo panggil Wesley ke sini cuma buat selesain mereka? Gue sendiri juga kelar!" ucap Mana.
Para siswa masih tercengang dengan cara bicara Luna dan Mana pada Wesley yang merupakan orang yang tidak boleh di singgung di negri. Namun, apa yang mereka lihat menunjukan tingginya derajat Luna dan Mana hingga membuat Wesley tunduk pada mereka.
Wesley Yio Sneider merupakan anak dari wakil direktur dari Leirian Amber Gacha, ayah dari Isis, Luna dan juga Mana. Di usianya yang hanya berbeda 2 tahun dari Ryo yang berarti sekarang ia berusia 22 tahun. Di usianya yang begitu muda, ia sudah dia angkat menjadi wakil direktur menggantikan ayahnya, Worcdey Sneider yang juga meninggal saat kecelakaan tragis yang menimpa orang tua Isis.
"Tuan Wesley, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya kepala sekolah dengan sopan.
'Aduh... sebenarnya ada apa? Kenapa, kok tuan Wesley ada di sini? kalo ada orang yang menyinggung tuan Wesley di sini, maka nama baik sekolah bisa rusak. Dan ini akan mempengaruhi reputasi ku!' batin kepala sekolah.
"Tuan Turth, tolong didik siswa Anada dengan baik. Kalau berani mereka menyinggung nona muda kami, kami akan membuat sekolah ini sepi besok!" ucap Wesley dengan nada dingin dan wajah serius.
"Baik, Tuan! Maafkan kesalahan siswa saya! Saya akan mendisiplinkan siswa saya agar kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi!" ucap kepala sekolah, Daesturth On Lighy.
Luna dan Mana melanjutkan perdebatan kecil mereka. Sedangkan Jen dan Will ternganga mendengar penuturan dan sikap dari kepala sekolah juga Wesley, Luna dan Mana. Mereka bingung. Sebenarnya, apa yang terjadi? Mereka berdua ditatap tajam oleh Wesley yang membuat mereka gugup sekaligus takut.
__ADS_1
"Nona muda, apakah mereka yang membuat nona tak nyaman?" tanya Wesley dengan sopan pada Luna dan Mana.
"Em... Iya, sih. Mereka sedikit..." Luna menggantung ucapannya sembari menatap Jen dan Will secara bergantian. Sedangkan yang di tatap merasa takut.
"Bukan sedikit, tapi jengkelin banget!" sambung Mana.
Mana setelah selesai makan menghampiri Wesley dan meminta digendong. Sedangkan Wesley malah memerah mukanya karena malu.
"Wesley, gendong gue!" ucap Mana.
"Tapi, nona muda—
"Gendong gue!" perintah Mana.
Dengan terpaksa, Wesley menggendong Mana di punggungnya yang membuat semua orang di sana melongo seakan tak percaya dengan itu semua.
"Mana, kebiasaan Lo kambuh lagi!" ucap Luna dengan wajah malas.
"Biarin. Wesley, anterin gue ke kelas gue!" perintah Mana.
"Baik, nona muda!" jawab Wesley dengan wajah yang memerah.
Bugh...
"Panggil gue Mana!" ucap Mana setelah memukul punggung Wesley.
"Maaf, Mana!" jawab Wesley.
Mana menyandarkan kepalanya di pundak Wesley dan memejamkan kedua matanya. Wesley langsung melenggang pergi di ikuti tatapan semua orang yang menatapnya hingga ia benar-benar tak nampak lagi. Yah... tentu saja kecuali Luna.
"Kalian turuti apa yang di katakan nona muda Luna!" ucap Wesley sebelum pergi. Sedangkan para pengawal mengiyakan.
Setelah Wesley benar-benar pergi, Luna menyunggingkan senyum menyeringai yang membuat semua orang di sana merasakan hawa yang menyeramkan.
"Pak!" panggil Luna pada kepala sekolah, Turth.
"Ya, nona muda Luna?"
"Biasa aja, pak. Gak usah pake nona-nona gitu. Risih!" keluh Luna.
"Baiklah!"
"Pak, hukuman apa yang pantas buat seorang penipu dan orang yang mencemarkan nama baik?"
"Skorsing satu Minggu dan juga pemanggilan orang tua! Untuk penipuan, akan kena denda dan juga dikeluarkan sekolah secara tidak hormat!"
"Oke, bapak seharusnya tau apa yang harus di lakuin! Dan para pengawal ini akan bantu bapak buat lakuin itu!" ucap Luna.
"Baik, nona muda!" para pengawal beserta kepala sekolah mengiyakan.
Luna lalu berjalan pergi dari kantin menuju kelas. Namun sebelum itu, ia juga memesan makanan lagi dan membungkusnya untuk di makan di kelas.
__ADS_1