
Pagi ini, matahari bersinar dengan cerahnya. Isis juga tidur nyenyak semalam, setelah makan makanan yang di bawakan kedua adiknya. Hari ini, Minggu ke 2 di bulan Mei. Hari yang paling ditunggu para siswa untuk liburan melepas kejenuhan setelah belajar di sekolah.
Namun, tidak dengan Isis yang malah berkutat di dalam kamarnya. Mulai dari membersihkan seprai, selimut, gorden, menyetrika dan mencuci baju, membersihkan kamar mandi dan banyak pekerjaan yang membuatnya sibuk. Padahal, di mansion ini banyak sekali maid yang siap di perintah kapan saja. Namun, Isis tetaplah Isis, sekali meminta harus dituruti, sekali tidak maka tidak. Saat Minggu Isis membersihkan kamarnya, sedangkan kedua adiknya tengah berbelanja di sebuah mall bersama para maid.
"Luna, gue mau makan snack rasa rumput laut. Gue gak mau yang rasa barbeque!" ucap Mana merengek.
"Ish.. Gue mau yang ini. Lagian kalo mau, tinggal ambil aja. Kok, susah banget!" ucap Luna.
"Ya udah" Mana pergi mencari Snack kesukaannya di rak lain.
"Bi, jangan lupa beli beberapa susu kotak sama biskuit buat cemilan!" ucap Luna pada salah satu maid yang baru muncul dari balik rak.
"Iya, Non!" ucap maid.
"Bi, Luna udah bilang berkali-kali kalo Luna gak mau bibi panggil, non!" rengek Isis pada maid.
"Hehe.. maaf, bibi lupa!" ucap maid sambil cengengesan.
"Eh.. No—Luna! Kemana Mana?" tanya maid pada Luna.
"Entah!'' jawab Luna acuh.
"Sebentar, bibi mau cari Mana dulu. Kamu sama bi Nina aja!" ucap maid itu, Bi Rose.
"Jangan lama-lama!" ucap Luna manja.
"iya!"
Bi Rose adalah seorang maid yang bertugas di dapur, dulu sebelum meninggalkannya kedua orang tua Isis, Luna dan Mana. Bi Rose juga sudah dianggap sebagai keluarga sendiri oleh keluarga GACHA. Saat kepergian orang tua mereka, bi Rose lah yang ada di samping mereka. Jadi, wajar saja jika kini bi Rose sudah dianggap sebagai ibu mereka dan sangat akrab dengan mereka.
Sedangkan bi Nina, ia adalah seorang maid baru yang di angkat 2 Minggu lalu. Kabarnya, ia juga satu desa dengan Bu Rose.
"Mana! Mana!" Panggil bi Rose pada Mana.
"Mana!"
Bi Rose mencari Mana kesana kemari. Namun, tak kunjung ia temukan. Pada akhirnya, ia berada di lantai dua mall dan melihat kerumunan tepat dibawah tangga lift, yaitu lantai satu. Karena penasaran, ia menghampiri kerumunan itu. Namun, betapa terkejutnya ia mendapati seseorang yang tengah dicarinya berada ditengah kerumunan.
"Ma--mana?!" ucap bi Rose kaget.
"Ma--mana kenapa?" tanyanya pada Mana dengan wajah khawatir.
__ADS_1
"Ng--nggak papa, kok. Bi Rose!" ucap Mana terbata-bata.
Mana kini dalam kondisi lemas, mata sembab dan wajah yang nampak ketakutan. Pasalnya, ada kecelakaan yang tragis merenggut nyawa orang membuatnya syok di karenakan ia melihatnya secara langsung tepat di depan matanya.
"Ayo, Luna sudah menunggu!" ucap bi Rose.
"Ta--tapi, Nona itu terluka parah! Tadi dia jatuh didorong!" ucap Mana lirih.
"Didorong?" tanya bi Rose memastikan.
"Mana!!" teriak Luna yang tiba-tiba datang.
"Luna!! Gue takut. Hiks.. hiks.." tangis Mana pecah saat Luna berlari memeluknya dengan erat.
"Takut apa?" tanya Luna sembari mengusap lembut surai Mana.
"Ta--tadi ada orang yang ja--jatuh di--dorong di depan mata gue!" ucap Mana lirih hingga terdengar seperti orang bergumam.
"Sudah, sudah. Ayo kita kembali ke rumah. Kasian kak Isis kalo kita kelamaan belanja, nanti dia khawatir!" ucap Luna menenangkan Mana.
Mana mengangguk. Kemudian Luna dan bi Rose memapah Luna yang masih lemas dan terisak-isak. Sedangkan bi Rose, ia diam-diam tersenyum melihat keakraban keduanya. Sikap dan kepribadian Luna dan Mana berbanding terbalik. Jika Luna adalah sosok periang dan penuh canda tawa, maka Mana adalah sosok gadis yang sangat mudah tersinggung dan lebih terkesan cuek dan acuh. Makannya, bila mereka akrab itu adalah hal yang langka.
******
"Luna, gue takut. Gue takut kalo nona tadi itu gak bisa selamat!" ucap Mana yang masih berada dalam pelukan hangat Luna.
"Nona tadi pasti selamat, kok. Gue yakin, walaupun nona tadi meninggal, dia juga pasti akan tetap di kenang." ucap Luna menenangkan adiknya, Mana yang masih trauma atas kejadian tadi.
"Kenapa lo ada di sana tadi?" tanya Luna kepada Mana.
"Ada apa ini? kok, gue ngerasa ada yang lagi akur." ucapan Isis yang tengah turun dari tangga membuat Luna dan Mana terkejut.
Mana langsung melepaskan pelukannya dengan Luna dan menghampiri Isis lalu memeluknya dan kembali terisak. Isis yang bingung dengan perilaku adik bungsunya itu lantas memberi kode pada Luna guna menanyakan apa yang terjadi pada Mana.
"Gue juga gak tahu pasti. Dia cuma bilang giamana keadaan nona itu? Nona itu tadi jatuh didepan mata gue. Nona itu terjatuh karena didorong. Dan banyak ocehan lain yang gue gak ngerti. Mungkin aja bi Rose tahu lebih jelas kejadiannya." ucap Luna menjelaskan.
"Bi Rose?" tanya Isis memastikan sembari membawa Mana yang masih terisak sembari memeluknya untuk duduk di sofa.
"Iya. Tadi pas gue lagi cari Snack bareng Mana, Snack yang mana cari gak ada di lantai dua, jadi dia cari dilain tempat sendiri. Bi Rose sebelum pulang tadi mau cari Mana dulu, tapi karena kelamaan jadi gue susul. Eh.. malah gue lihat Mana yang badannya udah lemes sama nangis-nangis gitu! Kata bi Rose pas tadi di jalan waktu pulang, Mana kemungkinan Syok karena lihat langsung kecelakaan di mall itu!" jelas Luna.
"Jadi kesimpulannya, yang tahu kejadian ini dengan jelas cuma ada empat sampai lima atau mungkin enam saksi!" ucap Isis.
__ADS_1
"Hah? Sebanyak itu?" jelas Luna
"Itu cuma dugaan!"
"Non, ini tehnya!" ucap bi Rose yang datang membawa teh.
"Bibi lupa lagi, ya?" ucap Luna.
"Eh.. maksudnya, Mana!" ucap bi Rose sambil tersenyum kuda.
"Mana, itu tehnya udah siap!" ucap Isis membangunkan Mana dengan lembut.
"Tidur, deh, kak. Kayaknya?!" ucap Luna menduga.
Isis mengusap lagi punggung dan Surai Luna, namun hanya lenguhan dan dengkuran halus pertanda seseorang telah tidur nyenyak didalam dekapannya.
"Iya, udah tidur!" ucap Isis yakin.
"Biar gue sama Bi Rose aja yang angkat Mana dan pindahin doa ke kamar!" usul Luna.
"Okelah!" ucap Isis menyetujui.
"Kak, kita lanjutin yang tadi." usul Luna setelah mana dipindahkan ke kamarnya.
"Yang mana?" tanya Isis yang masih asyik nonton film kesukaannya di tv kamarnya sambil mengunyah makanan.
"Saksi yang tahu jelas kejadian ini!" ucap Luna.
"Menurut gue, orang pertama yang tahu dengan jelas adalah korban!" ucap Isis mulai serius.
"Terus siapa lagi?" tanya Luna.
"Tersangka perencanaan pembunuhan!"
"Pembunuhan? jadi kakak percaya kalau ada yang dorong nona itu?". Luna memastikan.
"Iya, berdasarkan analisis gue. Ini semua pasti pembunuhan berencana!"
"Atas dasar dendam, ya kak?" tanya Luna.
"Bukan sekedar dendam sepertinya. Lebih tepatnya, dendam tapi juga ingin lari dari tanggungjawab dan menjadikan orang lain kambing hitamnya. Tapi, ada saksi hingga memutuskan buat bunuh korban secara langsung dengan mendorongnya dari tangga lift untuk mengalihkan perhatian orang-orang!" ucap Isis yakin.
__ADS_1
"Selanjutnya siapa?"
"Mana, bi Rose, CCTV, dan beberapa orang yang memperhatikan juga suruhan si tersangka. Karena nggak mungkin tersangka akan menggunakan tangannya langsung karena ini adalah tidakan bodoh!" ucapan Isis membuat Luna tercengang. Bagaimana tidak, kakaknya ini malah mirip seperti seorang detektif daripada murid SMA.