NAKAL (NonA AKAn Lelah)

NAKAL (NonA AKAn Lelah)
Sinting!


__ADS_3

Setelah acara muntah-muntah di toilet tadi, Isis duduk di sebuah kursi kayu sendirian di sebuah taman yang berada di belakang sekolah. Tempat ini, tempat di mana mereka semua pernah meninggalkan kenangan indah masa-masa persahabatan mereka dengan canda tawa yang mengiringi. Hingga sebuah senyuman getir berada di bibir Isis kala mengingatnya.


"Bisa nggak, ya? Kita kayak dulu lagi? Ketawa bareng, bercanda bareng, cerita bareng, belajar bareng, semuanya bareng bareng!" Isis menatao langit biru, menerawang jauh hingga tak sadar air matanya dengan lancangnya jatuh hingga membasahi pipinya.


"Coba aja, dulu itu gue nggak sekolah di sini, mungkin gue nggak akan jatuh cinta sama Vico, nggak akan sahabatan sama Vivi dan Chaya, nggak akan ketemu si perusuh Michel, nggak akan di jadiin anak emas sama guru-guru sampe buat si Michel dandam. Tapi gimana lagi? Semuanya udah lewat. Mau diubah juga gue gak bisa, karena bukan tuhan, kan? Hehehe..." Lanjutnya di sertai kekehan miris.


"Andai bisa gue ulang. Gue pengen kembali kewaktu dimana bisa sama Dady dan Mommy, sama kalian, sama Grandmom dan Granddad, pokoknya gue pengen bisa ngulang momen bahagia itu! Tapi gue cuma manusia biasa!" Lagi, lagi dan lagi air matanya tak dapat ia bendung.


"Gue pengen, pengen banget malah kumpul-kumpul sama kalian lagi. Tapi gimana lagi? Kalo gue gak nurutin tuh Celine, kalian terancam. Waktu gue udah nipis. Gue pengen banget liat kita sukses bareng-bareng. Mungkin bisa kali, ya kalo gue bertahan sedikit lagi. Mungkin beberapa tahun bisa. Hiks... Gue harus bisa!" Isakan kecil mulai keluar dari bibirnya.


"Gue bakal berusaha, sampe waktu gue habis. Gue bakal tebus kesalahan gue, di mana gue harus nyakitin kalian. Gue bakal tebus semua itu. Tolong, gue mohon jangan lupain gue." Isis kini terlihat amatlah rapuh dengan mata sembab, rambut berantakan dan isakan yang masih keluar dari bibirnya.


"Ketakutan terbesar gue cuma satu. Gue takut di lupain!"


*****


Setelah membasuh wajahnya dan merapihkan rambutnya hingga memoles bibirnya agar tak pucat, ia berjalan kembali menuju kelasnya karena bel sudah berbunyi sekitar 5 menit yang lalu.


Setibanya Isis di sana, ia langsung di sambut dengan tatapan sinis dan benci kearahnya. Tak terkecuali dua sahabatnya, yaitu Vivi dan Chaya yang nampak tak perduli padanya sama sekali.


Isis kemudian langsung duduk di bangkunya. Namun, begitu matanya beralih melihat meja, ia melihat banyak coretan di sana.


Eh! Liat tuh, si paling PSK dateng!


Hahahaha! Psk!!


Dasar *****!


******! Pergi kau!


Murahan!


Beasiswa buat apa kalo jual diri?!


Dasar kere!

__ADS_1


Gak tau diri!


Cewek gatel!


Kere aja bangga!


Berapa harga Lo semalemnya? Sini, gue beli!


Seribu kali!


Hahahaha


Dan banyak lagi kata cacian dan makian serta hinaan yang memenuhi mejanya. Ia menghela nafas berusaha meredam amarahnya. Untungnya, guru segera masuk dan membuat perhatian siswa teralihkan darinya.


Guru sejarah datang dan menjelaskan materi. Lalu memberikan beberapa pertanyaan pada siswa yang ia tunjuk.


"Isis?" Panggil guru sejarah yang kerap kali di panggil Bu Na itu pada Isis.


Isis yang masih melamun itu tak mendengarkan apa yang di bicarakan gurunya.


"E--eh? Iya, Bu Na? Kenapa?" Ucap Isis dengan gugup.


"Saya panggil kamu dari tadi gak nyahut. Kamu kenapa?" Tanya Bu Na menaikkan sebelah alisnya.


"E--enggak kok, Bu! Emang kenapa Bu Na kok, manggil saya?"


"Saya kasih kamu pertanyaan. Siapa nama istri dari Firaun Userrmetre?" Tanya Bu Na.


"Nefertari, kan?" Jawab Isis dan diangguki oleh Bu Na.


"Orang pertama yang bisa ngukur Piramida cuman pakek tongkat segitiga siapa? Orang itu dari Yunani kuno!" Tanya Bu Na lagi.


"Bu! Mana ada yang bisa ngukur Piramida setinggi itu, Bu! Apalagi jaman Yunani kuno yang udah lamaaaaaa banget! Mana ada!" Ucap seorang siswa tertawa dengan diikuti oleh yang lain.


Tatapan laser dari Bu Na seketika melayang padanya hingga membuat seluruh kelas kicep dan merinding dengan tatapan Bu Na.

__ADS_1


"Aristoteles!" Jawab Isis santai.


Seluruh siswa kelas XII IPA 1 menatap wajah Isis yang nampak santai menjawab pertanyaan dari Bu Na itu.


"Emang gimana caranya?" Tany seorang siswa lain.


"Aristoteles itu dulunya cuman seorang pedagang dan nelayan. Tapi, dia juga termasuk dalam jejeran 7 orang pintar di Yunani kala itu. Beliau menggunakan prinsip bangun datar kongruen buat ngukur tinggi Piramida. Dan sampe saat ini prinsip itu masih di pake buat ngukur jarak yang susah diukur manual." Penjelasan Isis membuat seisi kelas melongo. Namun tidak dengan Bu Na yang menganggukkan kepalanya bangga pada Isis.


Ha? Ngukur Piramida? Yang bener aja? Dan... Gimana caranya si Isis bisa tau tentang semuanya? Serajin itu kah, dia? Sogoiiii!!!


"Emang kalian gak inget? Kelas 9 dulu di ajari juga, tau! Di buku paket bab kongruen semester genap!" Pertanyaan Isis di jawab gelengan oleh siswa kelas XII IPA 1.


"Ck! Dasarnya bego, ya emang bego!" Makian Isis itu terdengar membuat seisi kelas hampir saja murka. Untung saja, Bu Na cepat tanggap dan langsung menggebrak papan tulis dan langsung memberikan tugas hingga para seisi kelas tak sempat murka pada Isis.


'Ternyata susah, ya buat semua orang benci gue? Guru-guru aja masih bela gue! Apa gue harus bego dulu kali, ya?' batin Isis heran.


Setelah bel berbunyi, para siswa penghuni Golden High School itu pulang ke rumah masing-masing. Namun, perjalanan pulang seorang Isis tak semulus siswa lainnya. Ia didatangi kesialan berupa nenek lampir yang sewot tentang hidupnya akhir-akhir ini.


"Ngapain Lo?" Tanya Isis ketus.


"Santai, kali kak Isis mantannya ketos! Hihihi!" Ucap Celine di sertai kekehan mengejek. Sedangkan Isis menatapnya datar.


"Sinting!" Ucap Isis lalu melenggang pergi melewati Celine.


Dengan sengaja, Celine memajukan kakinya berharap Isis ersandung dan jatuh.


Gubrak....


"Awww!" Ringis Isis.


"Hihihi, kapok! Rasain—tuh..." tawa Celine meledak namun saat membalikkan badannya untuk melihat Isis tawanya hilang seketika.


Mata Celine membulat kaget."Eh, Lo apain hp gue, anjir!" Ucap Celine sembari memungut ponselnya yang jatuh.


Di luar dugaan. Ternyata, yang jatuh tadi adalah ponsel Celine bersama buku-buku Isis yang sengaja Isis jatuhkan untuk menimbulkan suara yang keras. Dan... Jadilah saat ini, Celine yang tengah memunguti ponselnya dan Isis yang tengah menatapnya datar.

__ADS_1


'Sebenernya gue heran sama Lo. Kenapa Lo harus jadi perusuh di hidup gue? Gue tau kalo Lo itu sebenarnya cuman gadis polos biasa yang di manfaatin sama bokap dan nyokap Lo yang egois. Tapi kenapa Lo malah ngerusak hidup gue? Coba aja Lo gak ngerusak hidup gue, gue bakal tolongin Lo, Celine! Tapi terlambat. Nasi udah jadi bubur!' batin Isis yang dipenuhi pertanyaan.


__ADS_2