
"Waktu yang akan menjawabnya. Jadi tunggu apa yang akan terjadi. Siapkan saja hati dan pikiran untuk menerimam kenyataan nantinya!"
Kata yang Mana ucapkan kemarin siang masih terngiang-ngiang di pikiran Ryo. Orang yang memiliki rasa penasaran yang tinggi hingga rela mencari Vico dan menunggunya di luar sekolah. Namun, tanpa sepengetahuan dari Isis.
*****
"Besok lusa ada lomba sains dan beberapa lomba olahraga dalam rangka hari Siswa di negri. Untuk memilih siapa saja peserta lomba yang akan ikut untuk mewakili jelas kita, saya serahkan urusan ini pada Glenn selaku ketua kelas XII A. Masing-masing cabang lomba hanya memilih 2 peserta, yaitu satu sebagai peserta utama, dan satu lainnya sebagai cadangan!" Ucap Misha, wali kelas dan guru IPA.
"Pilih dan latih peserta lomba untuk jadi yang terbaik saat di perlombaan. Menang kalah bukan masalah, yang penting semangat dan sportivitas yang diperlukan untuk jadi terbaik!"
"Baiklah, besok saya ingin data lengkap para peserta ada di meja saya. Jadi, tolong persiapkan ini dengan baik" Lanjutnya.
"Faham?" tanya Misha pada murid-muridnya.
"Siap, faham!"
Setelah selesai mengumumkan pengumuman, Misha pergi dari ruang kelas dan istirahat dimulai dengan bunyi lonceng yang menggema.
Para siswa yang merupakan anggota perangkat kelas tengah merundingkan acara lomba tadi.
"Erick, Lo bikin daftar siswa yang punya prestasi di cabang lomba."
"Wenny, Isis, dan Celine bikin daftar latihan masing-masing lomba." lanjutnya.
"Terus Lo ngapain, Glenn?" tanya Isis.
"Gue bakal minta beberapa hal, kayak daftar lomba, nomor urut, sama yang lain!" ucap Glenn.
Alius Glenndinar si ketua kelas, Putra dari seorang Presdir pemegang saham 20% grup Lucius, grup properti internasional.
Erickson Tirelius si wakil ketua kelas, Putra dari Billy Terelius seorang jenius Psikolog.
Wenny De Xaviera, putri pianis dan atlet lari, Wanna De Teliu dan Zoro Xaviera.
"Oke, lah. Nanti gue bikin grup, kalian kirim data yang tadi kalo udah selesai. Gimana?" ucap Glenn.
"Gue setuju!" ucap Wenny dan Erick bersamaan.
"Gue juga!" ucap Celine.
"Oke!" ucap Isis lalu melenggang pergi.
"Menurut kalian ...gimana sifat Isis akhir-akhir ini? jadi cuek, ya?" ucap Erick.
"Iya, juga. Ada masalah, kali!" Wenny menyahut.
"Ntah, ada yang aneh gue rasa!"
__ADS_1
"Rick, Lo mau gak makan bareng gue?" ucap Celine mendekati Erick.
"Nggak, gue ada urusan!" ucap Erick acuh lalu melenggang pergi.
"Yah …gitu amat, sih!" ucap Celine kesal.
"Udahlah. Makan sama gue aja, yuk!" ajak Glenn.
"Boleh!"
Kini, dikelas hanya tersisa Wenny saja. Ia sangatlah konsentrasi untuk membaca buku tebal di depannya. Dengan bantuan kacamata yang bertengger di hidungnya, ia jadi lebih mudah membaca.
"Sword in mind" Buku berisi berbagai fakta dan hal-hal lain yang menarik bagi penggila misteri dunia. Dan Wenny adalah salah satunya. Ia membaca dengan sangat konsentrasi hingga waktu berlalu begitu saja dan akhirnya seseorang mengagetkan dirinya.
"Lo gak makan?" tanya Erick.
"Gue masih kenyang!"
"Nih, buat Lo. Suka atau kagak bukan urusan gue. Makan aja, itu masih anget!" ucap Erick memberikan sebungkus gorengan pada Wenny.
"Thanks!" ucap Wenny dan langsung melahap gorengan itu dengan rakus.
"Makan aja, tuh. Lain kali Lo yang traktir!" ucap Erick lalu duduk di bangku samping Wenny.
Erik hanya membawa sebotol minuman dan juga sebungkus roti sandwich.
"Gue udah selesai makan. Gue mau ke toilet bentar!" ucap Wenny lalu melenggang pergi.
"Sorry, gue gak bisa ngomong apa-apa ke Lo sekarang!" gumam Erick sembari menatap punggung Wenny yang menjauh perlahan.
*****
TRING…TRING…TRING…
Bunyi bel seketika membuat para siswa mengemasi barangnya. Para siswa berhamburan keluar dari dalam kelas sambil saling mendorong. Tak jarang diantara mereka ada yang terjatuh hingga terluka akibat dorongan itu.
BRUK…
"Aduh… Kaki gue!" teriak Celine yang terduduk di lantai sembari memegang kakinya.
"Celine, Lo gak papa? siapa yang dorong Lo?" tanya Glenn yang mendekati Celine hendak memapahnya.
"Dia yang dorong gue!" ucap Celine menunjuk ke arah seorang gadis.
Para siswa yang tadinya ricuh hendak menuju ke gerbang sekolah, kini beralih ke arah Celine dan mengerumuninya. Mereka berdesakan ingin menonton pertunjukan yang melibatkan si bunga sekolah, Celine.
"Aku… aku nggak dorong kakak!" ucap gadis yang ditunjuk oleh Celine dengan mimik wajah ketakutan.
__ADS_1
"Udah dorong orang malah ngelak. Minta maaf, dong!" caci ompara siswa yang menonton.
"Bohong, Lo dorong gue dengan sengaja, kan?" sarkas Celine.
"Eng-- enggak"
"Lo bo—
"Gue yang dorong Lo!" ucap Isis yang tiba-tiba muncul dari kerumunan di belakang gadis itu.
Semua orang yang berada pada kerumunan menatap pada arah suara, yaitu Isis. Desas-desus mulai muncul. Isis dengan berani maju ke hadapan Celine tanpa sedikitpun rasa malu.
"Lo!? kenapa lindungi bocah ini?! dia dorong gue, dan Lo gak usah ikut campur!" ucap Celine dengan amarah yang menggebu-gebu nampak diwajahnya.
"Buat apa gue lindungi bocah gak guna kek dia?" ucap Isis sembari melirik gadis yang dituduh Celine.
"Gue cuma tanggung jawab atas apa yang gue lakuin!" ucap Isis.
"Itu Isis, kan? Anak miskin yang dapet beasiswa?" siswa yang berbisik-bisik.
"Iya, modal beasiswa aja bangga!" ucap siswa lain.
"Iya, mau lawan si bunga sekolah. Ada kuasa nggak, tendang hilang kau!" sindir siswa lain.
Sindiran demi sindiran serta cacian yang tidak enak didengar tertuju pada Isis. Gadis yang dituduh Celine tadi ingin menghentikan Isis dengan memegang tangan Isis. Namun, dengan keras ditepis oleh Isis hingga gadis itu tersungkur.
"Jangan ikut campur!" ucap Isis dingin dengan tatapan tajam. Gadis itu ketakutan dan tertunduk sambil berucap lirih.
"Ta--tapi, aku tadi yang gak sengaja senggol kak Celine. Jadi biar aku aja yang tanggung—"
"GUE UDAH BILANG SAMA LO! DIEM! INI BUKAN URUSAN LO!" ucap Isis dengan lantang pada gadis tadi.
Gadis itu tertunduk, perhatian semua siswa tertuju pada gadis itu dan Isis. Isis membuka tasnya dan mencari sesuatu dalam tasnya.
"Ini, $134. Cukup, kan?" ucap Isis sembari melemparkan uang yang ia keluarkan dari dalam tasnya.
"I--itu, duit semua!"
"Gila, banyak banget!"
"Hasil nyolong, tuh!"
"Murid miskin mana bisa dapet uang banyak!"
Cacian semakin banyak, para siswa terheran-heran dengan apa yang dilakukan Isis. Uang ratusan dolar seperti itu, dari mana Isis dapatkan? mencuri? itu yang terngiang di benak mereka.
Sedangkan Isis, ia malah melenggang pergi setelah melemparkan uang itu pada Celine. Wajah Celine nampak memerah. Ia malu, dan marah atas apa yang dilakukan Isis merupakan penghinaan terhadap dirinya.
__ADS_1
Disisi lain, Gadis itu juga berlari pergi menghampiri Isis untuk berterimakasih sekaligus mengembalikan uang yang diberikan Isis pada Celine. Gadis itu tahu kalau Isis adalah siswa yang mendapat beasiswa dan miskin dari para siswa lain yang sering membicarakan Isis karena prestasinya. Jadi, ia ingin mengembalikan uang itu karena takut itu uang pribadi yang hendak Isis gunakan untuk keperluannya.