
"Gue—
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu membuat Vico menghentikan ucapannya.
"Tuan besar, dokter sudah datang! silakan, dok!" ucap Mio.
"Baiklah. Kemari lah!" ucap Ryan.
"Nak, kau berbaringlah lagi!" suruh Ryan pada Vico.
"Ish... Hmm!!" dehem Vico kesal.
Vico dengan patuh menuruti perintah ayahnya. Ia berbaring walau dengan hati yang terus mengatakan kata-kata dongkol.
"Saya akan memulai pemeriksaanya!"
Vico pun di periksa dan langsung di berikan obat sesuai keluhannya.
*****
"kak... hiks... kakak!!" tangis seseorang yang terdengar pilu tak menggerakkan hati para manusia yang berlalu lalang di jalanan.
Gadis dengan baju lusuh dan rambut acak-acakan yang sangat kusut menampakkan dirinya yang seorang gelandangan. Ia menangis pilu untuk orang yang tak ia kenal. Orang tersebut telah menolongnya dari kecelakaan maut. Malangnya, orang tersebut malah jadi korban hingga ia tertabrak truk dan terlempar lalu kepalanya membentur trotoar. Tak mengeluarkan darah, namun membuatnya pingsan dan tangis gadis kecil itu pecah. Orang yang menyelamatkan dirinya adalah gadis SMA yang entah darimana tahu kalau dirinya hendak tertabrak mobil.
Tak berapa lama, seorang polisi pengatur lalu lintas mendatangi mereka dan membawa gadis SMA itu ke rumah sakit.
"Luna, Mana, mana Isis?" tanya Ryo yang menghampiri Luna dan Mana di ruang tamu keluarga GACHA.
"Belum pulang!" jawab Luna.
"Hah? Belum pulang?"
"Hem..." jawab Luna yang fokus menonton Drakor.
"Mana, Lo tau kemana Isis?" tanya Ryo pada Mana.
"Gak!" jawab Mana dingin.
"Yang bener!"
"Iya!"
Mana masih fokus memainkan game di ponselnya dengan serius, sedangkan Luna menonton Drakor kesukaannya di TV. Ryo merasa heran pada kedua orang kembar ini. Kakak mereka belum pulang tapi mereka malah asyik sendiri. Haduh...
Ryo menepuk jidatnya sembari menghela nafas panjang. Ia lalu pergi dengan langkah berat keluar dari mandion keluarga GACHA.
"Pusing gue! Isis kemana aja, sih?! Pas di cariin, gak ada. Giliran gak di cari, malah nongol! Dasar tuh bocah!" Ucap Ryo menggerutu sembari mengendarai mobilnya.
\*\*\*\*\*
__ADS_1
Matahari siang ini bersinar dengan teriknya tanpa celah. Panas yang membuat tubuh tak nyaman dan terus mengeluarkan cairan bening berupa keringat.
"Woy, Vico!" panggil Mikha yang tengah berada di lapangan basket.
Vico menggerlingkan matanya. Menatap Mikha dengan tatapan malas dan kembali pada dunia fikirannya yang membuatnya melamun.
Beberapa saat kemudian...
"Woy, budeg lu, ya?" teriak Mikha tepat di telinga Vico.
"Ini kuping B\*b\*! bukan lorong tikus! Lo main teriak-teriak di kuping gue. Mana suara lu dah kaya toa tukang jual ban lagi!" maki Vico yang kelewat marah dan akhirnya memutuskan untuk melenggang pergi meninggalkan Mikha sendirian.
"Emangnya tukang ban kalo jualan pake toa?" tanya Mikha yang masih sempat di dengar Vico.
"Tanya sendiri sana Mang Mamat!" balas Vico.
"Terserah, lah!"
\*\*\*\*\*
Dirinya tak mengenal gadis SMA itu, namun ia yakin kalau gadis SMA itu pasti orang baik. Orang yang mau menolong orang yang tak di kenalnya adalah sebaik-baiknya penolong.
\*\*\*\*\*
2 jam lebih gadis kecil itu menunggu, dokter beserta beberapa perawat keluar dari ruang IGD.
"Pak, tolong ikut saya sebentar!" Panggil dokter pada polisi.
"Baik, dok!"
Setelah dokter dan polisi menjauh, gadis kecil itu menghampiri suster dan mengajukan banyak pertanyaan.
"Suster, kakak itu udah sadar? Bisa buka mata nggak? Aku udah boleh jenguk, kan? Em... Kakak tadi ada ngomong sesuatu nggak sama suster?"
"Maaf, kakakmu itu masih belum sadar. Mungkin bisa koma beberapa saat. Tapi tenang aja, saya juga yakin kalo kakak kamu itu pasti cepet sadar dan kamu bisa ketemu sama dia! Sabar dan berdoa pada Tuhan saja, ya!" Ucap suster itu lalu tersenyum dan melenggang pergi.
Mendengar penuturan suster tadi, hati gadis kecil itu jadi gelisah dan khawatir. Memikirkan apa yang terjadi pada orang yang menolongnya membuat kepalanya sakit dan tetesan air mata tak hentinya mengalir. Hingga akhirnya, ia tertidur sembari memendam resah nan gelisah di dalam hati dan pikirannya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*
3 hari kemudian...
Hari cerah siap di mulai. Sedangkan keluarga GACHA tengah sibuk mencari Isis yang hilang entah kemana. Begitu juga Vico yang tak henti-hentinya mencari dan berusaha terus dengan seluruh tenaganya untuk mencari kekasih tercintanya.
"Kak, gimana ini? udah 3 hari, Lo!" ucap Luna pada Ryo.
"Ya, gak tau! Kemarin-kemarin kemana aja? baru sekarang bingung cariin! lu berdua sebenernya sayang gak sih sama kakak lu? kakak lu hilang kemarin malah diem-diem baek!" ucap Ryo dengan amarahnya yang masih fokus menyetir.
"Ya... kita tadinya juga kagak tau kali! main bentak-bentak ae!" ucap Luna.
Sedangkan mana tengah fokus dengan laptopnya dan jari yang tak henti-hentinya menekan kayboardnya.
"Coba di perempatan depan berhenti sebentar. Ada info 3 hari lalu dari situ!" ucap Mana.
Ryo dan Luna sebenarnya bingung, tapi bisa jadi itu benar, kan? Tak ada salahnya juga mengikuti kata-kata Mana!
Ryo melajukan mobil yang dikendarainya menuju tempat yang Mana tunjukkan. Sesampainya di sana, mereka langsung turun di dahului Mana yang tergesa-gesa.
"Maaf, tuan! Apa benar 3 hari lalu ada korban kecelakaan tabrakan truk berseragam SMA?" tanya Mana pada orang yang tengah berlalu lalang.
"Em... maaf, saya pendatang baru. Jadi tidak tahu tentang itu!" jawab orang itu.
"Baiklah."
Setelahnya, orang itu pergi dan Mana juga langsung menanyai orang yang lainnya. Sedangkan Ryo dan Luna kaget mendengar kata-kata Mana tentang kecelakaan. Apa benar itu kecelakaan yang ada hubungannya dengan Isis? Pasti bukan! Tapi... Bagaimana kalau benar?
Bingung nan gelisah dirasakan Luna dan Ryo yang ingin bertanya pada Mana tentang kebenaran berita itu. Namun, tak lama kemudian Mana menghampiri Luna dan Ryo yang tengah mematung.
"Luna, Ryo! Gak ada info! Coba cek sekitar sini ada CCTV apa nggak! kalau ada langsung periksa!" ucap Mana lalu pergi lagi.
Ryo dan Luna bergegas melaksanakan apa yang dikatakan Mana. Setiap toko dipinggir Jalan ditelusuri mereka bertiga. Tanpa lelah, tanpa kenal waktu. Mencari walau tak mesti bisa menemukannya lagi. Entahlah, sebuah kemungkinan saja yang tersisa menguatkan mereka berkat hati yang memiliki firasat, bahwa ia masih ada.
\*\*\*\*\*
"Anda harus lebih menjaga pikiran anda agar jangan terlalu stres. Berbahaya sekali akibatnya!"
"Saya akan berusaha, dok!"
__ADS_1