
Suara deru mesin mobil memecah keheningan malam dan membelah jalan raya yang sepi pada pukul 00.02 tengah malam.
Mobil Ferarri abu-abu gelap itu dikendarai oleh seorang gadis cantik berambut sebahu dengan warna hitam kecoklatan juga netra hijaunya yang gelap.
Mobil itu berhenti di parkiran bangunan putih yang menjulang tinggi, G. Qorlynn Hospital. Ia keluar dengan tergesa dari mobilnya. Kemudian, ia berjalan menuju sebuah ruangan VVIP nomor 001 setelah keluar dari lift. Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menutupnya dengan selimut hingga sebatas dada.
Tak lama kemudian, seorang pria berjas putih khas dokter masuk dengan wajah datarnya. Ia menatap Isis dan kemudian ia berkata dengan nada tak santai, "Emangnya lucu? Lo kabur terus tiba-tiba aja Lo udah tidur di sini seolah-olah gak ada apa-apa yang terjadi? Gitu?".
Isis membuka matanya perlahan. Ia lalu terkekeh dan langsung duduk. Kemudian, dokter itu ikut duduk di ranjang Isis dan mengangkat tangannya mengusap rambut Isis.
"Lo itu udah tanggung jawab gua. Berarti Lo juga harus nurutin perintah gue. Disuruh diem aja susah. Udah gak pake baju pasien, makan aja sembarangan, keluar malem, apa lagi?"
"Yaelah... Belum juga gue di uber polisi, Lo dah sewot banget, Yo!" Isis mendengus pelan.
"Lo itu pasien gue yang paling aneh, tau gak!" Ucap Ryo lalu menjitak kening Isis hingga Isis meringis.
"Ish! Lo itu suka banget sih jahilin gue!" Ujar Isis lalu menggaplok tangan Ryo dengan keras hingga sang empu mengaduh.
"Mentang-mentang jadi dokter, Lo seenaknya nyuruh gue! Ogah gue jadi pasien Lo lagi!" Ucap Isis memutar bola matanya malas.
"Iya, dong! Kapan lagi, coba gue bisa bikin Lo nurut sama gue kecuali pas Lo jadi pasien gue?" Ujar Ryo sambil terkekeh.
"Lo ngerep gue sakit terus, gitu?!" Ujar Isis mendengus.
"Ya nggak gitu konsepnya! Gue itu malah ngarep Lo cepet-cepet keluar dari sini biar Lo itu nggak ganggu ketenangan di sini!" Ucap Ryo yang langsung mendapat pukulan keras di bahunya oleh Isis.
"Bercanda, kali! Baperan amat!" Ujar Ryo sambil terkekeh.
Sedetik kemudian, ia langsung menatap Isis dengan pandangan sendu dan berkata, "Lo itu gue anggap sebagai adek gue. Lo juga amanat dari Bonyok¹ Lo yang wajib gue jaga! Gue gak tega ngeliat Lo selama 4 tahun ini jalani hari-hari yang bahkan nggak pernah terlintas sedikitpun di pikiran gue kalo itu bakal terjadi sama Lo!".
"Lebay, Lo!" Ucap Isis memutar bola matanya.
"Gue nyesel banget karena baru tahu setelah Lo 3 tahun dah di sini. Rasanya gue telat banget gitu! Gue baru sadar kenapa Lo nyuruh gue ambil jurusan Kedokteran waktu gue masih baru lulus SMA waktu itu. Ternyata karena ini, ya?" Tanyanya dengan suara yang parau.
"Halah! Kalo Lo gak tau, malah bagus! Bisa bebas idup gue!" Ucap Isis santai.
"Waktu itu kalo si Wesley itu gak cepu² juga, Lo gak tau! Tapi Lo pake acara ngancem-ngancem segala, jadi gatot³ rencana gue!" Ucap Isis mendengus kesal.
"Lo sembunyiin ini karena Lo gak mau ngerepotin, kan?!" Tanya Ryo manatap Isis dalam.
"Pala Lo ngerepotin! Gue cuman gak mau dilarang! Makan ini gak boleh, minum ini gak boleh, keluar malem gak boleh, begadang gak boleh, tidur pagi gak boleh, bahkan makan cuman pake bubur aja. Serasa jadi bayi gue!" Ujar Isis kesal.
Ryo tersenyum, ia kemudian berkata, "Gue harap Lo kuat!".
*****
Di waktu yang sama, Amsterdam, Belanda. Dalam sebuah kamar berukuran 5 x 7 meter itu terdapat 3 botol Wine berserakan dengan isi yang telah kandas. Siapa yang kuat meminum wine sebanyak itu? Jawabannya yaitu pemuda jangkung 22 tahun yang tergeletak tak sadarkan diri di atas ranjangnya itu. Ya, itu Vico.
"Gue pasti bales dendam!" Racaunya.
"Mmhhh, gue pasti temuin, Lo!" Racaunya lagi sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.
*****
Ketika cahaya sang surya memancar, seorang pria menggeliat dalam balutan selimutnya. Ia membuka matanya perlahan, menormalkan cahaya yang masuk agar matanya terbiasa. Ia dengan malas bangkit dari ranjang dan menuju kamar mandi dengan tubuh bagian atasnya tak tertutup sehelai benangpun yang membuat perut eight pack miliknya terekspos.
__ADS_1
Setelah selesai membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit rendah dipinggangnya sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia memilih baju yang hendak dipakainya, hingga pilihannya jatuh pada kemeja putih bergaris dengan celana jeans hitam sebagai pasangannya. Setelahnya, ia masuk ke walk in closet untuk berganti.
Tak lama kemudian, Vico keluar dengan tampilan yang sudah rapi. Ia menyambar kunci mobilnya di atas meja dan langsung keluar dari apartemen dengan mengendarai mobil Sport kesayangannya.
"Gw pasti bisa nemuin Lo!" Geram Vico menatap tajam jalanan.
*****
"Oh, udah. Kali ini gue udah atur semuanya. Nanti kalo 'dia' udah nyampe, Lo langsung ngomong aja. Ntar biar gue ketemu langsung orangnya!"
"......."
"Ye."
Tut...
Telpon dimatikan sepihak oleh Isis. Setelahnya, Isis bersiul-siul sembari memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Beberapa saat kemudian, Isis keluar dengan wajah segar, dan rambut yang basah. Tak lupa dengan tampilan andalannya yaitu celana jeans hitam dengan Sweeter berwarna baby blue berlogo '420' dan juga sepatu sneakers putih dikakinya. Ia juga menggunakan sedikit eye linear dan lip balm agar bibirnya tak terlihat pucat.
Selesai berpakaian, ia berjalan santai keluar ruangan dan menuju parkiran lalu langsung melakukan mobil Ferarri abu-abu gelap itu.
*****
Ciittt...
Suara decitan rem mobil yang di rem paksa itu begitu nyaring terdengar. Beberapa saat kemudian, sang pemilik turun dengan gaya cool-nya dan membanting pintu dengan keras.
"Gue dah nyampe! Mana 'dia'?!" Tanya Vico pada seseorang melalui telepon.
"Hm!"
Setelah mematikan telepon, ia berjalan santai menuju bangunan di depannya, yaitu sebuah cafe bernama "Chaterine Cafe". Di sana, nampak seseorang dengan hoodie hitam dengan kupluk yang menutupi wajahnya duduk di salah satu meja di sana.
Vico menghampiri seseorang itu dan langsung duduk di depannya.
"To the point langsung!" Ucap Vico dingin sembari menghisap nikotin favoritnya.
"4 tahun lalu 'dia' terlihat di bandara internasional Amsterdam pada tanggal 20 July. Setelah beberapa tahun, dia terlihat lagi di salah satu jalanan di Singapura dengan mobil Ferarri abu-abu gelap di tengah malam tanggal 11 April pukul 00.02 waktu setempat. Setelahnya, cctv sekitar hilang tanpa jejak seperti kejadian sebelumnya." Ucap seseorang tadi.
"Hanya itu yang saya tahu." Lanjutnya.
"Hm. Paling nggak ada peningkatan. Tanggal 11 April berarti tadi malam, kan?" Tanya Vico.
"Iya."
"20 Jully berarti pas kelulusan gue?" Tanyanya lagi.
"Hm."
'Oh, jadi waktu itu Lo kabur ke Singapura? Cerdik juga Lo bisa buat gue kepalang bingung!"
"Oke. Makasih Lo udah bantu gue, Than! Lo itu emang bisa di andelin!" Ucap Vico lalu pergi.
(Ya, orang itu adalah Venthan. Masih ingat? Kalo nggak, coba buka chapter 17-18)
__ADS_1
'Sorry, Vic. Gue udah bohongin Lo! Ini satu-satunya cara supaya gue bisa bantu 'dia', Vic!' batin Venthan bersalah.
*****
"Ngapain kak Isis si tukang caper ini cariin orang kek gue? Kangen gue?" Tanya gadis dengan rambut pirang dan baju crop top putih dengan kemeja blazer senada dan celana Levis jauh di atas lutut.
"Ngarep³!" Ucap Isis sinis.
"Gimana keadaan Lo, Celine?" Tanya Isis yang mulai serius.
"Seperti yang Lo liat. Sejauh ini gue baik-baik aja, tapi gue gak tau kedepannya gimana ngadepin si tua bangka bau tanah itu!" Ucap Celine.
"Syukur, deh. Eh, Lo udah ada perkembangan sama si Vico?" Tanya Isis yang terlihat sangat penasaran.
"Ngapain Lo nanyain Vico? Masih sayang Lo sama dia?" Tanya Celine menarik turunkan alisnya.
"Ngaco⁴, Lo! Gue cuma ngerasa bersalah aja udah ninggalin dia tanpa alasan gitu!" Ucap Isis menyangkal.
"Sorry, ya! Gue bener-bener nggak tau waktu itu Lo dalam keadaan darurat banget. Gara-gara gue juga Lo putus sama Vico waktu itu, kan? Gue bener-bener minta maaf!" Ucap Celine dengan sangat menyesal.
Isis terkekeh lalu menepuk kepala Celine. Ia kemudian berkata, "Lo apaan, sih! Jelas-jelas waktu itu Lo nggak ngapa-ngapain. Lagian gue juga udah ada niatan buat ninggalin Vico. Jadi gak usah ngerasa bersalah. Yang udah terjadi ya biarin aja, jangan menyesal tapi buat itu jadi pelajaran!"
"Gue tau Lo baik. Tapi gue telat sadar tentang itu!" Ucap Celine menatap kagum Isis.
"Gue tau, kok! Saking baiknya gue pinjemin ****** gue ke Elo!" Ucap Isis terkekeh.
"Yaelah, yang itu mah jangan di ungkap lagi kali!" Ucap Celine mendengus kesal.
Mereka lalu tertawa bersama-sama dengan ceria tanpa ada yang menghalangi mereka. Mereka ingin sejenak beristirahat dari kenyataan. Mengulang kisah masa lalu dengan canda tawa yang mengiringi. Tanpa mengungkit apa yang mereka alami, tanpa mengungkit kesalahan-kesalahan masa lalu. Tak ada yang tahu, kedua gadis yang kini tertawa ceria adalah sosok bertopeng dengan wajah asli penuh luka.
*****
"Perjodohan? Dengan siapa?" Tanya seorang pria paruh baya—Ryan
"Ya. Dengan putriku!" Ucap pria didepannya yang tak lain adalah Atta—ayah Ryo.
"Putri? Setahuku kau itu hanya punya seorang putra, kan? Putri yang mana yang kau bicarakan?"
"Dia putri adikku, Irisis Shalotus Gacha."
SPOILER ENDING NOVEL NAKAL, NIH!
"Vico! Lo harus sadar, Co! Isis itu udah gak ada! Dia udah mati! Ini udah satu tahun!! Please! Lo jangan kek gini!" Ucap Mikha dengan tatapan prihatin.
"Maksud Lo apa? Jelas-jelas kemaren gue abis gangguin pas ujian, terus dia ngambek dan gue beliin Choco latte. Abis gitu, Lo bilang dia mati? Gila Lo!" Tanya Vico dengan wajah yang terlihat marah.
"Apa yang udah mati gak bisa kembali lagi, Vico. Lo harus sadar!"
__________
¹Bonyok: Bokap nyokap/ Ayah ibu
²Cepu: tukang mengadu
³Gatot: Gagal total
__ADS_1
⁴Ngaco: Ngawur/ada-ada saja