
BRAKKK
Semua orang yang berada di sana langsung menatap ke arah pintu. Ternyata menantu keluarga Gacha yang datang tiba-tiba. Semua orang tersentak kaget, kecuali sosok yang tengah tertidur di sebuah ranjang.
"Maaf, anda siapa? Saya mohon, jangan buat keributan di sini. Para pasien sedang beristirahat." Ucap seseorang lelaki berbaju putih yang diduga adalah dokter.
Vico menatap dokter itu dengan tatapan tajam namun juga bingung. 'Rumah sakit?' batinnya.
"Lo! Kenapa Lo ngapain ke sini?" Tanya sosok lain yang ternyata adalah Ryo yang tengah bertugas. Terbukti dari jas putih khas dokter bertengger di badannya.
Vico beralih menatap Ryo. Saat hendak menjawab, "Gue—"
"Saya mohon jangan membuat keributan!" Ulang sosok dokter tadi yang mengundang atensi Vico dan Ryo.
"Sorry, Yan! Gue mau bicara dulu sama orang ini. Tolong jaga adek gue!" Ucap Ryo lalu melenggang pergi dengan menarik tangan Vico setelah mendapat anggukan kecil dari sosok dokter bernama 'Jiano Ken Horowitz'.
Dalam benak Vico, ia masih tak mengerti apa yang terjadi. Ia langsung masuk tanpa mengetahui bahwa tempat yang dimasukinya adalah rumah sakit.
Ryo membawa Vico pergi menuju balkon rumah sakit. Di tengah kebingungannya itu, Vico tiba-tiba saja membogem wajah Vico berkali-kali tanpa jeda.
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
Bibir Vico robek dan wajahnya mulai kebas. Namun, ia tak dapat melawan.
"Dasar brengsek! Lo lukain adek gue brengsek!" Maki Ryo dengan pukulan yang terus membabi buta tertuju pada Vico.
Vico yang tak mengerti apapun itu pasrah di pukuli oleh Ryo. Tenaganya sudah lemas. Ia terlalu marah hingga lupa jika ia juga belum sarapan.
Bugh
Bugh
Bugh
__ADS_1
"Brengsek Lo! Gue udah titipin adek gue ke Lo supaya Lo bisa bahagiain dia! Tapi apa?! Lo malah lukain dia! Brengsek! Brengsek!!!"
BRAKKK
Pintu balkon dibuka paksa bersamaan dengan beberapa security yang menghentikan aksi gila Ryo. Setelah Vico dan Ryo di pisahkan, nampak wajah memerah Ryo yang kentara sekali. Ia marah!
"Lepasin gue! Dia udah buat adek gue terluka! Lepasin! Gue harus bunuh si brengsek itu!" Ucap Ryo yang berusaha memberontak.
Vico yang masih sadar dapat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Ryo. Ia masih belum mengerti. Apa yang di lakukannya hingga Ryo semarah ini?
"Uhuk... Uhuk....!" Matanya berat hingga ia terpejam tak sadarkan diri.
*****
Rumah besar keluarga Gacha tengah sepi karena para penghuninya tengah berlibur. Ya, Luna, Mana, Delta beserta Atta juga bi Rose pergi berlibur yang katanya untuk refreshing pasca libur tahun baru. Sedangkan para pekerja tengah diliburkan.
Malam yang cerah bagi sebagian orang adalah hal yang menyenangkan untuk melakukan banyak hal. Namun tidak dengan seorang gadis berambut pendek ini.
Dalam rumah besar keluarga Gacha itu terdapat beberapa orang berpakaian putih serta seorang berpakaian pasien.
"Gue bakalan ada terus di samping Lo. Lo tenang aja! Pasti bisa, kok!" Ucap Ryo menenangkan.
Entah apa yang di katakan sosok berpakaian putih itu hingga membuat air mata dari seorang Isis mengalir begitu deras dalam pelukan sosok yang menemaninya selama ini—Ryo.
"Isis, Lo tau arti nama yang Lo pake selama ini?" Tanya Ryo menatap kosong lurus ke depan setelah para dokter keluar.
"Apa?" Tanya Isis dalam dekapan hangat Ryo.
Ryo tersenyum singkat lalu menjawab, "Iris di ambil dari nama bunga, Bunga Iris yang cantik namun sulit di gapai karena langka."
"Terus?"
"Isis berarti pelangi. Pelangi itu indah walau sebentar dan sulit di lupakan karena warnanya yang unik."
Isis melepaskan pelukan Ryo.
"Hm?" Tanya Isis yang masih bingung dengan perkataan Ryo. Namun, wajah bingung Isis itu justru nampak menggemaskan di mata Ryo.
Ryo terkekeh pelan lalu melanjutkan, "Lotus, nama lain dari bunga teratai. Bunga yang hidup di air dan memiliki berjuta manfaat bagi banyak makhluk hidup."
__ADS_1
"Terus?"
"Nabrak!" Ucap Ryo yang membuat Isis memunculkan raut datarnya.
"Seriously?" Tanya Isis dengan dingin.
"Ya elah mbak! Gitu aja ngamuk!'' ucap Ryo lalu berlari meninggalkan Isis.
Isis menghela nafas lalu tersenyum miris. 'Kapan hidup gue bisa bahagia tanpa ada kebohongan? Gue udah nggak sanggup!'
*****
"Eugghh"
Lenguhan sosok pria di atas brankar itu membuat 3 sosok di pintu menoleh.
"......"
"Kalo dia tau?"
"......"
"Baiklah!"
Jiano. Sosok yang baru saja berbicara adalah Jiano. Jiano berbalik dan menatap Vico dengan datar dan menghampirinya diikuti 2 suster lain.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Jiano.
"Menurutmu?" Vico memutar bola matanya jengah.
"Baik. Ada yang ingin saya katakan pada anda. Ikuti saya ke ruangan saya!" Ucap Jiano lalu berbalik.
Vico mendengus kesal dan mengikuti Jiano. Mereka terus berjalan hingga sampai di sebuah ruangan dengan pintu bertuliskan 'Dr. Jiano Ken Horowitz'. Setelah mereka masuk, Jiano tanpa berbalik badan langsung memulai pembicaraan.
"Saya akan memberikan anda 1 bulan. Jika anda sia-siakan, saya akan mengambil apa yang anda miliki saat ini."
"Bentar-bentar! Maksud Lo apa? Gue masih belum—"
"Saya rasa, pembicaraan kita hanya itu saja. Anda bisa keluar!" Ucap Jiano memotong ucapan Vico.
__ADS_1
Vico keluar dengan dongkol sekaligus tak faham dengan apa yang terjadi. Ia masih terus memikirkannya.