
Pagi hari yang cerah membuat burung bernyanyi merdu dengan kicauan-kicauannya. Pagi ini juga acara kelulusan akan diadakan di Golden High School.
Isis, gadis remaja itu tengah bersiap dengan dress selutut merah terang dengan kerah yang rendah dan dipadukan dengan high heels dengan warna senada. Netra hijaunya yang terang dengan bibir merah merona menambah kesan cantik dan dewasa padanya.
Namun, hatinya begitu gelisah. Ia resah, gundah, dan pikirannya banyak hal yang buruk akan terjadi.
'Rencana kali ini, pasti bakal berhasil! Ryo sama uncle Atta semoga aja bisa jelasin segalanya ke Luna dan Mana nantinya!' batin Isis.
"Tolong gue kali ini aja, tuhan!" Ucapnya penuh harap.
Isis turun dari kamarnya dan langsung keluar mansion menuju gerbang. Tepat saat itu juga, sudah ada sebuah taksi menunggunya. Langsung saja ia masuk kedalamnya dan taksi pun melaju meninggalkan mansion itu.
Tak lama kemudian, Isis turun 50 meter dari gerbang Golden High School. Kenapa ia turun di sini? Alasannya karena ia tak mau dicurigai sebagai orang yang punya duit, atau lebihnya mampu. Kan secara ia dicap sebagai siswi berprestasi dan sekolah dengan beasiswa.
Ia berjalan santai menuju gerbang dengan langkah lebar saat ia hendak melangkah masuk gerbang, sebuah mobil Sport mewah berwarna hitam pekat yang elegan lewat tepat di sampingnya. Menghalangi jalannya. Ia hafal mobil itu, itu salah satu koleksi mobil sport milik Vico.
Kaca depan jendela mobil itu terbuka. Ia sekilas dapat melihat Vico dan juga seorang wanita di sampingnya. Entahlah, itu siapa.
Isis tak ambil pusing tentang hal itu. Walau, ya jujur saja hatinya sakit dan nyeri melihat kejadian itu.
'Sakit, ya? Gini rasanya liat yang tercinta sama orang lain.' batin Isis disertai kekehan.
Ia melanjutkan langkahnya. Ia berjalan terus tanpa memperdulikan orang-orang yang menatap sinis sambil berbisik-bisik dan bergosip. Lagi-lagi ia sangat tak perduli tentang hal itu.
Sesampainya ia di aula, tempat dilaksanakannya acara hari kelulusan ia langsung duduk di tempat yang menghadap panggung dimana tertera namanya.
Ia berada di kursi baris kedua dari depan dan baris ke 7 dari samping kanan. Aula masih agak sepi, hanya diisi beberapa siswa pengurus kegiatan dan juga beberapa anak yang biasanya memang rajin berangkat pagi-pagi.
Memang, kali ini ia datang lebih pagi, tepatnya pukul 7.38 pagi. Sedangkan acara dimulai pukul 8.30. itu artinya hampir sejam ia menunggu di tempat itu. Membosankan!
Sepuluh menit, aula sudah mulai ramai dengan orang-orang yang mulai berdatangan. Mereka datang dengan berpasangan. Hingga setengah jam kemudian, aula sudah dipenuhi orang-orang yang berdatangan.
Namun, anehnya Isis dari tadi tak melihat Vico. Padahal Vico tadi datang di waktu yang sama dengan Isis.
Tapi, lagi-lagi Isis tak menghiraukan hal itu. Ia sedang asyik mendengarkan musik dari pemutar musik kuno pemberian neneknya itu.
Musik berjudul 'Boken Angel' itu sukses membuat Isis melupakan suasana sekitarnya. Ia begitu asyik mendengarkan musik samb mengunyah permen karet di mulutnya.
Namun, suara mic membuatnya menghentikan aktivitasnya. Ternyata sudah waktunya acara mulai!
"Tes... tes..." suara seseorang dia atas panggung.
"Good morning, Friends!!" Sapa orang itu yang merupakan pembawa acara.
"Morning!!"
"Ok, Friends. Mari kita mulai acara kelulusan siswa-siswi di Golden high school, pada tanggal 20 July 2020, Amsterdam, Belanda." Ucap pembawa acara disertai sorak-sorai para peserta kelulusan.
"Acara pertama akan dibuka dengan pembawaan lagu andalan 'Because Love' oleh grup band andalan kita, Best Victory!! Berikan tepuk tangan yang meriah!"
Tirai merah dibelakang pembawa acara terbuka lebar menampilkan 5 remaja lelaki dengan balutan tuxedo mereka dan alat-alat band.
Sang vokalis, yaitu ketua OSIS Golden High School, Arvico Zenpen. Ia membawakan lagu penuh penghayatan.
*Because Love*
At that time,
When I'm with you,
It was the best time of my life.
Of these the best,
It really is the best!
(Saat itu,
Saat ku bersamamu,
Itu waktu terbaik dalam hidupku.
Dari ini yang terbaik,
Benar-benar ini terbaik!)
But,
Why did love leave then?
Go from your heart, Forever!
Really go!
And it's not a dream!!
(Tetapi,
Kenapa cinta pergi waktu itu?
Pergi dari hatimu,
Selamanya!
Benar-benar pergi!
__ADS_1
Dan itu bukan mimpi!)
My life,
my mind,
my heart,
my world,
And my dream...
Everything is destroyed! It's destroyed!
Then completely destroyed because of love!
(Hidupku,
Pikiranku,
Hatiku,
Duniaku,
Dan mimpiku...
Segalanya hancur!
Itu hancur!
Lalu benar-benar hancur karena cinta!)
Everything is empty after you left me.
Forever!!!
Forever!!
Forever!
Empty!
Empty!
Empty!
Completely empty!
(Segalanya hampa setelah kau pergi dariku.
Selamanya!!!
Selamanya!!
Selamanya!
Benar-benar hampa!)'
Love is killing me!
In itself
In this dark Alone
in this dark Dying of love
This love is a complete villain!
(Cinta itu membunuhku!
Dalam sendiri
Dalam gelap ini
Sendiri dalam gelap ini
Sekarat karena cinta
Cinta ini benar-benar penjahat!)
Sorak Sorai dan tepuk tangan yang begitu meriah mengiringi akhir lagu itu. Semua siswa-siswi dan juga guru-guru di sana berdecak kagum pada Vico karena membawakan lagu penuh dengan penghayatan.
Vico tersenyum getir. Ia menatap benci pada salah seorang yang tengah duduk di kursi dengan kepala menunduk.
'Shasa, gue harap Lo bakal nyesel setelah ninggalin gue!' batin Vico dengan penuh benci.
"Lagu ini buat kalian semua yang merasa kehilangan seseorang yang kalian sayangi atau mungkin kalian cintai. Percayalah, kalau mereka yang meninggalkanmu itu mencintai dirimu, maka ia seharusnya bertahan dan tak meninggalkanmu apapun keadaanmu. Karena cinta itu buta, cinta itu tuli, dan cinta itu bisu. Cinta memang tak dapat mengubah apapun, tetapi seseorang sanggup berubah demi cinta." Ucap Vico dengan tatapan benci yang tajam pada Isis yang hanya nampak rambutnya saja.
"Satu lagi! Cinta adalah rasa tertinggi dari segala rasa yang memiliki arti peduli. Namun, setelah cinta itu di khianati, dikecewakan, dan di campakkan, maka percayalah, cinta itu berubah menjadi suatu rasa yang di sebut benci!" Lanjutnya.
Tepukan tangan begitu meriah memenuhi ruang aula. Tanpa ada yang menyadari, seorang siswi tengah berjuang menahan gejolak diperutnya dan berusaha mengusap darah yang keluar dari lubang hidungnya.
*****
Acara sudah hampir selesai. Kini tersisa 2 rangkaian acara lagi. Pengumuman beasiswa dan juga pemberian penghargaan dan yang terakhir penutupan.
__ADS_1
"Acara yang selanjutnya, yaitu penyerahan beasiswa dan penghargaan bagi siswa-siswi yang berprestasi. Beasiswa Oxford university, Lord university, Liofard university dan beberapa universitas ternama di negri ini. Langsung saja kita panggil guru-guru kita untuk menyerahkan beasiswa dan penghargaan bagi siswa-siswi berprestasi." Ucap pemandu acara.
"Bu Na, Mrs. Trey, Dan Kepala sekolah kita Mr. Adams dipersilahkan naik ke atas panggung!"
Setelah itu, guru-guru yang dipanggil naik ke atas panggung dan langsung diberikan tepuk tangan meriah dari para manusia yang berada di aula.
"Selanjutnya, beri tepuk tangan yang meriah untuk teman-teman kita! Peraih juara umum bertahan di sekolah dan tingkat nasional, Irisis Shalotus! Peraih juara umum kedua, Arvico Zenpen! Peraih juara umum ketiga, Celine Heregio Sha!"
Mereka bertiga naik ke atas panggung. Isis langsung berjalan menuju tengah panggung tempat dimana Mr. Adams, Bu Na dan Mrs. Trey berada. Sedangkan Vico dan Celine berbaris rapi disamping kanan Isis.
Mula-mula Bu Na menyerahkan piala pada secara bergiliran. Setelahnya, Mrs. Trey memberikan sejumlah uang sebagai hadiah dan terakhir Mrs. Adams menyerahkan Beasiswa. Penyerahan itu juga disertai sesi foto-foto. Setelahnya mereka dipersilahkan memberikan pidato.
"Selamat pagi! Saya berterimakasih kepada pihak sekolah, teman-teman saya dan juga orang tua saya yang telah memberikan saya bimbingan, motivasi dan juga telah mengobarkan semangat saya sehingga saya bisa berada di atas panggung ini penuh dengan rasa bahagia dan bangga. Sekali lagi, terimakasih!" Ucap Celine lalu turun dari panggung disertai tepukan tangan.
"Saya hanya akan menyampaikan kalau seandainya nanti saya bisa berhasil dimasa depan, saya akan mengingat jasa-jasa kalian semua yang telah bertekad untuk membimbing, mendidik dan mencerdaskan anak bangsa. Diamanapun kita berada, negri asal kita adalah Indonesia. Walau kita berada di negeri orang tapi kita bisa sekolah di mana kita bisa bebas berbicara menggunakan bahasa nasional bangsa kita berkat adanya Mr. Adams yang telah membangun sekolah ini. Saya ucapkan terimakasih mewakili seluruh siswa-siswi di sini." Setelah mengucapkan kata-kata itu Vico turun disertai tepuk tangan yang meriah.
"Terimakasih saya tadi sudah di sampaikan oleh siswa-siswi lain. Jadi, saya hanya ingin berkata sedikit. Sebesar apapun kuasamu, jika dirimu tak bersungguh-sungguh meraih sesuatu maka tak akan tercapai apa yang engkau inginkan. Ingatlah, kapandaian adalah saat kau bisa memilih diantara yang memiliki harga. Tetapi kecerdasan adalah disaat kau dapat memilih diantara yang berguna. Berguna yang sesungguhnya adalah kuasa yang tak terhingga. Sekian, terimakasih!" Ucap Isis lalu turun dari dari panggung dan langsung keluar aula.
Semua orang di ruangan itu memandangnya dengan tatapan tajam dan benci. Kecuali para guru-guru yang memandang bingung pada sikap Isis dan tatapan yang ditujukan padanya. Tak lama kemudian terdengar cacian dan makian.
"Orang missqueen emang gitu. Naik dikit langsung sombong!"
"Iyuh, alergi gue sama orang missqueen!"
"Orang missqueen yang gak tau diri!"
"Itu sih, missqueen yang sangat narsis ya gak sih!"
Berbagai macam cacian dilontarkan dengan pedas. Namun, Isis tetap berjalan tanpa menundukkan pandangannya.
'Lo udah berubah, Sha!' batin seseorang yang memandangnya lekat.
Sesaat setelah ia keluar dari aula, para siswa-siswi langsung ikut keluar dan melemparinya dengan kertas dan kerikil. Ada juga yang melemparinya dengan cairan berbau amis. Entahlah semua itu mereka dapat dari mana. Yang pasti Isis langsung masuk ke dalam mobil Ferarri hitam yang telah terparkir disana.
Dari dalam juga terlihat seorang lelaki setengah baya membuka kaca jendela mobil. Setelahnya mobil yang ditumpangi Isis langsung berjalan meninggalkan Golden High School.
Berbagai macam cacian dan makian keluar lagi.
"Dasar ******!"
"Jual diri sama om-om, gak level!"
"Pantes sombong, dapet sugar Dady kaya!"
"Awas om, nanti diporotin duitnya, loh!"
*****
Sedangkan di dalam mobil, Isis dengan santai membersihkan rambut dan dressnya yang kotor menggunakan tisu. Melihat itu, Atta dan Ryo yang duduk di kursi depan saling bertatapan. Mereka memberikan isyarat satu sama lain.
"Kalo mau tanya, langsung aja. Gak usah kode-kodean!" Ucap Isis yang membuat mereka menyengir.
"Eh, Lo ngapain aja sampe segitunya dibenci?" Tanya Ryo memulai.
"Gak ngapa-ngapain!" Jawab Isis yang masih sibuk dengan kegiatannya.
"Isis?" Kini giliran Atta.
"Ya, uncle?" Isis menatap Atta.
"Kamu baik-baik saja, kan?" Tanya Atta memastikan.
"Yes, uncle. I'm fine!"
"Kenapa kau kurusan?" Tanya Atta menyelidik.
"Oh, aku diet!" Ucap Isis dengan santai.
Atta melihat tak ada kebohongan di dalam ucapan Isis. Ia lanjut berkata, "Di sana nanti tolong jaga dirimu. Jangan diet-diet gitu! Kamu itu masih masa pertumbuhan, jadi kalo gemuk itu bagus!" Ucap Atta.
"Gak kebayang si, kalo misalnya Lo jadi gendut!" Ucap Ryo menyahut disertai kekehan dengan pandangan fokus ke jalan.
"Ck, kan diet biar dressnya muat. Lagian biasanya juga makan banyak!" Ucap Isis mendengus kesal.
"Oh, iya! Luna sama Mana belum pulang sekolah, kan? Mereka juga gak tau ini, kan?" Tanya Isis serius.
"Ya, seperti keinginan Lo. Emang kenapa Lo gak mau mereka tau kalo Lo bakal balik ke Singapura beberapa tahun lagi?" Tanya Vico aneh.
"Nanti juga Lo tau!" Ucap Isis.
__________
Author lagi baik nih mau bagi-bagi cast Isis dan Vico.
...Irisis Shalotus Gacha....
...Arvico Zenpen....
IG: tulisanda_lin
jangan lupa folow!!
__ADS_1