NAKAL (NonA AKAn Lelah)

NAKAL (NonA AKAn Lelah)
Cabe-cabean


__ADS_3

"Kak Erick!!" panggil seseorang.


"Kak!!" panggilnya lagi.


"Anya, ngapain di sini?" tanya Erick pada adiknya, Zevanya.


"Kak, kakak kenal sama kak Isis gak?" tanya Anya dengan terus terang.


"Isis? emangnya mau ngapain, kok cari Isis?" Erick berbalik tanya.


"Ya... Pengen ketemu aja!" ucap Anya sedikit ragu.


"Oh. Dia ada di kelas kakak. Kalo kamu mau ketemu, tinggal ke kelas kakak aja!" ucap Erick.


"Oke!"


Mereka adalah kakak adik keluarga Terelius. Mereka hidup di keluarga yang terbilang kaya. Makanya mereka bisa bersekolah di Golden High School ini. Rata-rata siswa yang bersekolah di sini adalah keluarga konglomerat. Sedangkan Isis sendiri ingin menyembunyikan identitasnya dengan beasiswa sebagai topengnya. Hanya kepala sekolah saja yang tahu tentang ini. Selain itu, Erick dan Anya juga bisa terbilang siswa berprestasi karena bakat menggambar yang di miliki Erick dan bakat bernyanyi yang di miliki Anya.


Mereka saat ini berada di halaman sekolah. Berbincang sembari bersenda gurau bersama yang mempererat hubungan mereka.


Kring... kring... kring...


Suara bel menggema di seluruh sekolah. Para siswa cepat-cepat masuk ke kelas masing-masing. Begitu juga adik kakak keluarga Terelius ini. Mereka saling melemparkan salam perpisahan sebelum akhirnya pergi ke kelas mereka masing-masing.


*****


"Isis, Lo kenapa?" tanya Chaya menepuk pundak Isis yang tengah tertidur.


"Bukan urusan Lo!" ketus Isis lalu melanjutkan tidurnya.


"Ya udah!" kesal Chaya.


Chaya kembali ke bangkunya yang bersebelahan dengan Isis dan Vivi. Chaya duduk dengan wajah kesal. Sedangkan Vivi memperhatikannya dengan wajah bingung.


"Lo kenapa? Kusut amat tuh, muka Lo kayak kain pel-pelan!" ucap Vivi disertai kekehan.


"Kepo, lu Mak lampir!" ucap Chaya kesal.


"Mak lampir pala lu!" kesal Vivi menjitak jidat Chaya.


"Sembarangan jitak pala orang! Sini gue jitak pala Lo juga!" Ucap Chaya berdiri hendak menghampiri Vivi.


"Woy, Bu guru dah dateng!!" ucap seorang siswa yang berlari masuk.


"Guru dateng! Cepetan duduk!" perintah siswa lain.


Para siswa duduk dengan rapi di tempat masing-masing. Isis juga sudah bangun dari tidurnya karena mendengar teriakan siswa tadi.

__ADS_1


Setelah guru masuk, pelajaran di mulai. Seluruh kelas menjadi hening hingga guru menanyakan perihal persiapan lomba kemarin di akhir jam pelajaran.


"Glenn, gimana persiapannya?" tanya Misha.


"Sudah, Bu!" jawab Glenn yang merasa di tanyai.


"Baik. Nanti saat istirahat, panggil siswa yang bersangkutan ke ruangan saya beserta berkas yang saya minta kemarin!" perintah Misha.


"Baik, Bu!" Jawab Glenn.


"Baiklah, pelajaran sampai di sini saja. Ada yang mau di tanyakan?" Misha kembali bertanya.


"Tidak, Bu!" jawab para murid serempak.


"Bagus, kita akan lanjutkan pelajaran ini di lain hari. Semangat belajar!" ucap Misha lalu pergi.


Setelah guru pergi, pelajaran berikutnya berlanjut hingga bel istirahat.


*****


"Luna, maju dan jawab pertanyaan ini!" perintah guru.


Tanpa rasa ragu sedikit pun, Luna maju dan menuliskan jawabannya di papan tulis. Setelah selesai, ia kembali ke tempat duduknya lagi.


"Bagus, Luna! Jawaban yang sangat memuaskan!" puji guru pada Luna.


"Pelajaran kita akhiri sampai di sini. Silakan istirahat dan jangan buat keributan di dalam kelas. Faham?"


"Faham!" jawab murid serempak.


Guru keluar dari kelas. Para siswa juga berhamburan setelah bel istirahat berbunyi. Sedangkan Luna dan Mana, mereka masih belum beranjak dari tempat duduk mereka.


"Mana, Lo temenin gue ke kantin, yok!" ajak Luna.


"Mager!" jawab Mana yang masih fokus dengan bukunya.


"Ish.. Ayok, lah!!" rengek Luna.


"Males! Sama si cabe-cabean kesayangan Lo aja sana, gak usah ajak-ajak gue!" ucap Mana kesal.


"Si cabe-cabean itu selingkuh. Gue sakit hati tau. Lo malah ungkit-ungkit dia!" ucap Luna dengan nada sedih.


Mana masih fokus dengan bukunya tanpa memperdulikan Luna yang wajahnya terlihat sangat sedih. Luna yang sedih tak di pedulikan oleh adik kembarnya itu merasa kesal. Ia lalu pergi dari kelas dengan wajah yang kesal.


Mana hanya melirik punggungnya Luna dan kembali fokus ke buku yang di bacanya.


*****

__ADS_1


Luna dengan wajah yang kesal pergi berjalan ke kantin. Di kantin, ia langsung memesan pada seseorang yang menjual makanan di sana. Setelah mendapat apa yang ia pesan, Luna membayar dan langsung mencari tempat yang kosong untuk di duduki olehnya.


"Penuh semua!" gumamnya.


Tak berapa lama, ia menemukan sebuah meja yang kosong dengan 2 kursi di sana. Luna langsung menghampirinya dan duduk di sana. Ia langsung melahap makanannya dengan santai. Ia memesan satu porsi ayam goreng extra pedas dengan segelas jus lemon. Tak berapa lama kemudian, ada yang menghampiri dirinya yang tengah asyik melahap makanannya.


"Luna, tolong pergi! Gue sama Jen mau duduk di sini!" ucap orang yang menghampiri dirinya.


"Iya, kaki gue udah sakit. Gue udah capek, tapi gak ada tempat yang kosong lagi. Di sini ada yang kosong kursinya, tapi cuma satu. Luna, tolong pergi, ya. Gue mau duduk di sini sama Will!" ucap Jen dengan nada manja.


Willy Wesolows, Putra seorang dosen di Lord University.


Jen Artha Selter, Putri dari Northern Selter, pengusaha di bidang properti.


Luna melirik Jen dan Will. Ia acuh dan kembali memakan makannya. Sedangkan Jen dan Will yang merasa di acuhkan kesal. Jen lalu angkat bicara.


"Luna, Lo tul* ya? Gue bilang pergi dari sini! Kenapa Lo malah diem aja?!" maki Jen.


Luna berdiri. Ia menatap nyalang pada Jen.


"Kayaknya Lo but*, deh! Gue lagi makan enak-enak, Lo malah nyuruh gue pergi. Oh, iya. Gue lupa kalo Lo juga bilang kalo kaki Lo sakit. Kayaknya kaki Lo sakit karena mau lumpuh, deh!" ejek Luna.


"Lo!! berani-beraninya Lo hina gue!" teriak Jen marah.


"Hay, kalian semua!" panggil Luna pada seluruh siswa yang ada di kantin.


Semua siswa menatap Luna yang memanggil mereka.


"Kalian Lihat gak tadi?" tanya Luna lagi.


"Lihat apa?" tanya salah seorang siswa.


"Gue, kan yang duduk di sini duluan!" ucap Luna.


"Iya, kita lihat!" jawab siswa-siswi di kantin dengan serempak.


"Tuh, mereka aja lihat gue duduk di sini duluan. Terus Lo ada hak apa minta gue pergi?" tanya Luna pada Jen.


Wajah Jen memerah, malu sekaligus marah. Tangannya mengepal kuat. Ia hendak melayangkan tamparan ke wajah Luna. Tapi, tangannya di cekal dari belakang oleh seseorang.


"Jen Artha Selter, putri ke dua dari Northern Selter. Pengusaha yang sahamnya turun dua bulan lalu. Propertinya di jual untuk menutupi kerugian akibat korupsi pekerjanya. Ibunya gila karena kakak pertamanya kabur membawa sejumlah uang dengan berbagai barang berharga lainnya bersama pacarnya!" ucap seseorang di belakang Jen.


Jen terkejut mendengar penuturan darinya. Bagaimana tidak? Semua yang dikatakan oleh orang di belakangnya itu adalah kebenaran yang tengah di sembunyikan olehnya.


"Lo gak usah ikut campur!" ucap Jen membalikkan badannya melepaskan tangannya dari cekakan orang itu.


"Mana?" kaget Luna yang melihat Mana.

__ADS_1


__ADS_2