
"Vico!!" panggil Vivi yang datang menyusul.
"Vic, gimana? Lo bisa bicara sama Isis?" tanya Vivi.
"Nggak!" jawab Vico singkat.
Saat Mikha dan Chaya datang, mereka juga menanyakan hal yang sama pada Vico. Mereka berada di pintu dekat toilet yang bersebrangan dengan kantin.
"Mikha, Lo biasanya penuh ide-ide! Lo punya ide nggak buat bikin masalah ini nggak rumit?" tanya Vico pada Mikha.
"Sorry, Vic. Gue belum punya ide!" jawab Mikha dengan tak enak hati.
"Oh... gitu, ya!" pasrah Vico yang wajahnya langsung muram.
"Gak papa, Vic. Lain kali, gue janji bakal siapin ide buat bikin Lo sama Isis bisa sama-sama lagi!" ucap Mikha menyemangati.
"Hmm... makasih!" ucap Vico.
"Santai kali!" ucap Mikha sembari terkekeh.
"Vico, Mikha. Lo berdua gak bisa masuk ke toilet wanita. Jadi, gue sama Chaya aja yang pergi ke toilet wanita buat susulin Isis!" usul Vivi.
"Iya, gue setuju!" ucap Chaya.
"Ya udah, gue pergi dulu. Yok!" pamit Vivi.
Vivi dan Chaya pergi ke toilet wanita menyusul Isis. Mereka berdua mencoba membuka pintu toilet. Namun, tampaknya pintu itu telah di kunci dari dalam.
"Isis? Lo didalam?" panggil Vivi berteriak.
"Isis?!" panggil Chaya.
Namun hanya ada hening, tak ada jawaban. Mereka gelisah, takut kalau terjadi sesuatu pada Isis.
"Chay, gimana? gak ada jawaban sama sekali dari Isis!" ucap Vivi khawatir.
"Iya, gue tau! Mungkin Isis udah pergi dari sini dan dia mungkin udah ada di kelas!" ucap Chaya.
"Masa, sih?!" Vivi sedikit ragu.
"Harusnya, kalo Isis emang udah keluar, kita bisa liat dia, lah. Kita kan ada di depan pintu sana!" ucap Vivi menunjuk ke arah dinding yang dibaliknya terdapat Vico dan Mikha.
"Kita ngomong ke mereka dulu, yuk! Terus, kita suruh mereka buat cari Isis di kelas atau di tempat lain, gitu!" usual Chaya.
"Oke, kita ke sana!" Vivi menyetujui.
Vivi dan Chaya pergi menuju ke tempat dimana Vico dan Mikha berada. Sesampainya di sana, mereka di hujani pertanyaan oleh Vico yang nampak khawatir.
"Gimana? Isis ada? Dia ngomong apa? kok, gak dibawa ke sini? Mana Isis-nya? Vi? Ya?"
"Tenang! Gue gak nemuin Isis di sana!" ucap Vivi berusaha menenangkan Vico.
"Ha? gimana maksud Lo?" heran Vico.
"Gini, kita kesini buat nyuruh kalian pergi cari Isis di kelas atau di tempat lain. Soalnya, pintu toilet itu di tutup! Jadi, mau gak mau kita berdua harus tunggu pintunya di buka baru tahu. Makanya, kita suruh kalian buat cari Isis di kelas atau dimana lah itu terserah kalian. Supaya kita gak kehilangan jejaknya!" ucap Vivi menjelaskan.
"Oh, gitu! Oke, gue cari di kelas sama Mikha!" ucap Vico langsung menarik tangan Mikha dan melenggang pergi bersamanya.
__ADS_1
"Chay, balik lagi, yuk!" Vivi mengajak Chaya.
"Yuk!"
Mereka berdua kembali ke toilet wanita. Namun, kali ini saat mereka mendorong pintunya, pintu itu terbuka dan tak ada siapa-siapa di dalamnya.
"Vi. Isis kagak ada!".ucap Chaya gelisah.
"Iya, gue tahu. Coba cari di sekitar sini dulu. Takutnya kalo Isis pingsan di dalem!" ucap Vivi mengusulkan saran.
"Oke, gue periksa di dalem. Lo periksa di luar!"
Chaya dan Vivi memeriksa seluruh tempat di toilet wanita itu. Namun, mereka tak menemukan Isis di manapun. Akhirnya, mereka yang lelah mencari memutuskan untuk bergabung dengan Mikha dan Vico yang mencari Isis di lain tempat.
"Vico, Mikha!" panggil Vivi yang berlari mendekati Vico dan Mikha yang berasa di depan kelasnya.
"Kok, kalian ada di sini? kangen gue, ya?" ucap Mikha ngawur.
"Ngarang, Lo! Dasar kepedean!" maki Vivi.
"Iya, narsis!" tambah Chaya.
"Ye, pede itu adalah hal yang langka di negara kita saat ini. Maka dari itu, budayakan pede sejak dini supaya para anak bangsa menjadi pemuda pemudi yang pede orangnya..." Mikha mulai nyerocos.
"Hah... mulai lagi!" Vico mendengar celotehan Mikha dengan malas.
"Kita juga harus menanamkan budaya pede pada anak-anak agar tidak mempermalukan negara saat anak—
"Mikha! udah, Lo jangan nyerocos ae!" ucap Vivi yang murka.
"Dih, suka-suka gue!" Mikha tak terima.
"Gue pengen nyerocos, ya itu karena hak gue! Mau nyerocos, kek. Mau apa, kek. Itu hak gue!" Mikha juga tersulut emosi.
"Lo itu—
"UDAH!!" teriak Chaya menghentikan perdebatan antara Mikha dan Vivi.
"Kita itu niatnya cari Isis. Bukan buat debat dan nyalahin orang!" ucap Chaya.
"Iya-iya!" jawab Mikha dan Vivi dengan malas.
"Udah, ah! yok, cari Isis lagi!" Vico memberi saran.
KRINGGG... KRINGGG... KRINGGG...
"Ih... kok, malah bel, sih!" kesal Chaya.
"Iya. Tapi mau gimana lagi, orang udah masuk!" Mikha berucap.
"Tapi, kalo kita gak cari Isis hari ini, kapan lagi?" Vico tak terima.
"Tenang. Gue sama Chaya satu kelas sama Isis. Jadi, gue bisa lebih mudah buat cari topik pembicaraan sama Isis!" usual Vivi.
"Iya, itu ide bagus!" support Chaya.
"Ya udah, gue bakalan coba cari cara juga!" ucap Vico lesu tak bersemangat.
__ADS_1
"Santai. Gue bakalan bantuin Lo!" Mikha menyemangati.
"Oke, gue nanti hubungi Lo kalo ada perkembangan!" ucap Vivi lalu melenggang pergi menuju kelas mereka.
"Vico, Mikha? kalian nggak masuk kelas?" tanya seseorang yang mengagetkan Vico dan Mikha.
"Eh... Bu Misha!" Mikha merasa canggung.
"Masuk, udah bel. Denger nggak?" perintah Misha.
Vico dan Mikha masuk ke kelas mereka dan mengikuti pelajaran.
*****
Sedangkan di posisi Vivi dan Chaya. Mereka terkejut karena saat mereka masuk ke kelasnya mereka tidak menemukan Isis maupun tasnya di tempat duduknya. Bahkan mereka sudah bertanya pada teman sekelas mereka dan berkata kalau tak ada yang melihat Isis sejak istirahat tadi. Bahkan Wenny dan Glenn mengatakan hal yang sama.
Vivi dan Chaya merasa sangat khawatir dan tak tahu apa yang harus mereka katakan pada guru saat ditanya kemana Isis. Sedangkan mereka juga tak tahu kemana Isis pergi.
"Siang, anak-anak!" sapa guru pria bernama RONNY HUGH.
"Siang pak!" jawab para siswa serempak.
"Baiklah, saya akan absen dulu. Abrelya Gulga!"
"Hadir!"
"Aruna Neuroy!"
Ronny mengabsen para SISWA XII A. Hingga saat absen itu sampai di nama Isis.
"Irisis Shalotus!"
Hening, tak ada yang menyahut.
"Irisis! Mana yang namanya Irisis?"
Ronny mengulang-ulang nama Isis dan memanggilnya berkali-kali. Namun, tetap tak ada jawaban.
"Irisis ini kemana? Kalo gak ada orangnya, saya akan tandai kalau tidak mengikuti pelajaran saya!"
"Pak, Isis sakit!" Vivi memberanikan diri berbohong.
"Sakit? Ada keterangan surat?" tanya Ronny memperjelas.
"E--nggak!" jawab Vivi gugup.
"Gimana caranya kamu tahu kalau Irisis ini sakit?" tanya Ronny yang curiga.
"Dia, dia ngomong ke saya waktu istirahat tadi, pak!" Vivi berbohong lagi.
"Baik, saya tandai sakit! Izin secara tersirat hanya bertahan di hari itu. Kalau sakitnya parah, kirim surat langsung ke guru BK!" ucap Ronny memperjelas.
"Baik, pak!"
Vivi menghembuskan nafas lega karena kebohongan bisa di percaya oleh Ronny selaku guru di jam pelajaran hari ini. Ia hanya berharap, semoga Isis baik-baik saja dan bisa hadir besok. Karena kalau Isis tak hadir besok, dirinya akan di curigai berbohong dan takutnya mendapatkan hukuman langsung dari guru BK.
*****
__ADS_1
"Uhuk... uhuk!!"