
Hari sudah siang. Waktu pulang sekolah juga sudah tiba. Kini, Isis tengah membereskan buku yang ada di mejanya. Sejujurnya, ia sudah tak ada niat dan tujuan untuk sekolah lagi. Dulu tujuannya bersekolah untuk mempelajari segala hal agar dirinya dapat memimpin perusahaan GACHA. Namun, kini itu sudah tak berguna. Tujuannya kini hanya melindungi dan menjaga orang yang dicinta dan disayangi olehnya. Dengan bersekolah, ia akan sulit menghindar dari orang-orang yang harus ia jauhi. Tapi, ia tak ingin membuat mereka curiga.
"Hei, disini!" ucap Ryo menyapa Isis yang baru keluar dari gerbang sekolah.
"Oh, udah sampai?" gumam Isis heran. Ia lalu menghampiri Ryo yang tengah menunggunya diluar gerbang.
"Lo udah lama nunggu gue?" tanya Isis.
"Lumayan, lah. Lo jangan panggil gue pake sebutan 'Lo' biar gak ada yang salah paham. Panggil gue 'kak' atau 'bang' gitu!" ucap Ryo menyuruh.
"Tinggi Lo aja sama kayak gue. Umur Lo doang yang tua. Kalo gue panggil begituan juga, nanti Lo malah dikira anak yang tua tapi pendek. Eh.. itu kenyataannya. Hahahaha.." ejek Isis.
"Lagian, suka-suka gue. Gue mau panggil Lo pake yang, beb, hubby, cintaku, sayangku, itu juga hak gue. Lu kok sewot!" ucap Isis menaiki mobil Ryo.
Usia Isis dan Ryo sebenarnya berbeda jauh. Jika tahun ini Ryo berusia 20 tahun, maka Isis baru menginjak usia 16 tahun dan itupun sudah kelas XII. Sedangkan untuk tingginya, tinggi Ryo dan Isis jika di bandingkan akan lebih tinggi Isis beberapa centimeter. Makannya, tidak heran jika mereka seperti teman.
"Nye, nye, gue gak bakalan menang kalo debat sama Lo. Ngomong-ngomong, Lo panggil gue sayang juga gak papa, kok. Hehe..." ucap Ryo tertawa garing.
"Ih, najis. Jijik gue dengernya!" ucap Isis memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Saat pandangannya tertuju ke arah luar jendela, ia melihat seorang yang sangat ia cintai, yaitu kekasihnya, Vico. Vico nampak memperhatikan mobil yang ditumpangi Isis dengan wajah yang nampak kecewa. Pandangan mereka bertemu. Namun, Isis segera mengalihkan pandangannya dan memeluk lengan Ryo. Ia berharap semoga ini adalah awal dari kesalahpahaman yang akan membuat Vico membencinya agar Vico tak tersiksa kala ia meninggalkannya.
Namun, pikiran Vico hampir sama dengan apa yang Isis harapkan. Ia berpikir kalau Isis tengah mendapatkan pengganti dirinya di hati Isis. Ia merasa, kalau ini akan menjadi titik akhir hubungannya dengan Isis.
Sedangkan Ryo, ia tengah merasa aneh dengan perilaku Isis saat ini. Biasanya Isis tak akan memeluknya kerena jijik, katanya. Namun, kali ini ia merasa Isis tengah menghindari sesuatu!.
*****
Di tengah perjalanan, Isis tengah berkutat dengan pikirannya tanpa mengatakan sepatah katapun. Ditambah lagi ekspresi wajahnya yang seperti orang sedang kesusahan dan berpikir keras membuat Ryo menatap aneh Isis.
"Lo serius amat. Lagi mikirin apa, sih?" tanya Ryo pada Isis.
"Diem, Lo!" jawab Isis cepat.
"Ya elah. Kalo Lo gak jawab pertanyaan gue, gimana gue mau diem?"
"………" Isis tak bergeming.
"Lo denger gue gak?" tanya Ryo lagi. Namun, Isis masih belum menjawab.
__ADS_1
"WOY, ISIS. LO DENGER GUE NGGAK, SIH?" teriak Ryo.
"Biasa aja bisa gak? Tuan muda Ryoko Torrent!" ucap Isis dengan suara yang dingin.
'Aduh, ini tanda-tanda mau ngamuk, nih!' batin Ryo gelisah.
Ciiiittt......
"Sudah sampai, tuan muda!" ucap supir.
"Eee... gue kebelet, hehe... gue masuk dulu, ya. Babay!!!" ucap Ryo lalu berlari pergi. Ia takut kena amukan Isis yang sudah tergambar di matanya.
Setelah Isis masuk, dirinya langsung menuju kamarnya dengan tergesa-gesa. Ryo yang baru keluar dari toilet melihat Isis yang begitu tergesa-gesa langsung mengikutinya. Namun, ia dikejutkan dengan suara Isis yang tengah berbicara dengan seseorang di telepon yang terdengar dari kamar Isis.
"Gue udah lakuin apa yang Lo minta. Tapi kenapa Lo malah bikin adek gue syok sampai sakit, hah?!" ucap Isis dengan geram.
"………"
"Apa maksud Lo? Gue gak pernah secara sengaja ngelakuin itu. Itu semua karena ada yang dorong Vico ke arah gue dan gue gak sengaja lakuin itu!" ucap Isis.
"………"
"Jangan berani-beraninya Lo nyakitin adek gue lagi. Kalo gak—
"Aghh.. Sial! Brengsek kau, Celine!!" teriak Isis frustasi.
Suara Isis terdengar dengan jelas dari balik pintu. Namun, suara orang yang menelponnya hanya terdengar samar. Tapi, Ryo dapat memastikan kalau orang itu telah menekan Isis untuk melakukan sesuatu, tapi dilanggar oleh Isis dan akhirnya Mana yang terkena dampaknya. Menurut Ryo, Isis menyuruhnya mengirimkan pengawal pada Luna dan Mana karena sebab itu. Tapi, tersisa satu pertanyaan di benaknya, yaitu siapa Vico itu dan apa yang Isis dan Vico lakukan sampai-sampai melanggar perintah orang yang menelpon Isis tadi?
Saat Ryo tengah asyik memikirkan apa yang didengarnya tadi, tiba-tiba saja pintu kamar Isis terbuka. Karena Ryo yang menyandarkan tubuhnya pada pintu, Ryo akhirnya terjatuh dan hampir menimpa Isis yang saat itu masih sempat menghindar.
"Aduh.. punggungku, sakit banget!!!" ucap Ryo meringis kesakitan.
Bukannya membantu Ryo untuk berdiri, Isis malah menatap wajah Ryo dengan curiga. Ryo seketika langsung berdiri dan langsung menghampiri Luna yang saat itu lewat.
"Eh.. Luna. Mana keadaannya gimana sekarang?" tanya Ryo sembari merangkul pundak Luna.
"Udah mendingan. Kak Ryo kapan datang?" tanya Luna gembira.
"Tadi siang!"
__ADS_1
Ryo melirik Isis yang masih terdiam menatap curiga padanya. Ia menuruni tangga sembari merangkul Luna dan mengobrol.
"Luna, Lo tau gak kapan kakak Lo, si Isis itu mulai punya sikap sama kebiasaan aneh?" tanya Ryo yang penasaran.
"Nggak, tuh!"
"Kalo orang yang namanya Vico itu udah pernah dengar belum? Orangnya gimana? sifatnya? em.. keluarganya?" ucap Ryo dengan menghujani pertanyaan pada Luna.
"oh, emang kenapa kak Ryo tanya-tanya soal kak Vico? Jangan-jangan, Kak Ryo— hmpp" mulut Luna di bekap oleh Ryo yang nampak marah.
"Jangan lanjutkan. Kasih tau jawabannya!" ucap Ryo dingin.
'I--ini kak Ryo, kah? ta--tapi kok jadi dingin gini, ya? Jangan-jangan marah! aduh... gawat, nih!' batin Luna gelisah.
"Lep—pa—sin, du—lu!" ucap Luna yang kesulitan berbicara.
"Gue lepasin. Tapi, jawab pertanyaan yang tadi, oke?" tanya Ryo dengan serius dan di jawab anggukan oleh Luna.
"Huh.. hah... untung.. masih... hidup..." ucap Luna setelah Ryo melepaskan tangannya yang membekap mulut Luna.
"Cepet, ngomong!" perintah Ryo.
"Jadi gini.. Kak Vico itu ketua OSIS di SMA Golden School, tempat kakak sekolah. Dia juga pacar kakak. Em... kalo keluarganya, dia berasal dari keluarga dengan marga Zenphen. Bisa dibilang, keluarganya itu memiliki kekayaan yang hampir setara sama keluarga GACHA. Secara, kan keluarga Zenphen pemegang gelar raja bisnis setelah Daddy." ucap Luna menjelaskan.
"Pacar Isis, ketua OSIS, pewaris keluarga Zenphen, banyak juga pangkatnya. Isis jadi pengurus OSIS juga?" ucap Ryo sambil manggut-manggut.
"Iya, kak Isis itu bendahara OSIS!" ucap Luna lagi.
"Tujuan utama Vico buat deketin Isis adalah kekayaan, martabat, dan kekuasaan dari keluarga GACHA!" ucap Ryo dengan wajah geram.
"Salah! bukan itu tujuannya!" ucap Luna lagi.
"Terus apa? Cinta? Heh, gak ada cinta nyata di dunia yang kacau gini! Cuman ada uang dan kekuasaan!" ucap Ryo dengan nada yang arogan.
"Bodoh!" ucap Mana yang tiba-tiba muncul.
"Mana? Lo udah baik'kan?" tanya Luna pada mana yang tiba-tiba datang.
"Lo bodoh, Ryoko Torrent. Nggak ada yang bisa tebak pikiran orang, apalagi hatinya. Mungkin sekarang Lo bakal bilang kalo 'Vico orang gila kekuasaan'. Tapi, Lo bakal nyesel dan memuja-muja Vico setelah tahu apa yang dia mau!" ucap Mana dengan nada dingin, Persia sekali Isis saat sedang marah.
__ADS_1
"Maksud Lo apa?" tanya Ryo.
"Waktu yang akan menjawabnya. Jadi, tunggu apa yang akan terjadi. Siapkan saja hati dan pikiran untuk menerima kenyataan nantinya!" ucap Mana tanpa menengok sedikitpun ke arah Ryo.