
"Vico~"
"Bangun, honey~"
"Kau mau aku c1um?~"
"WOY BANGUN! ADA HUJAN UAANGGG!!!"
BRAKKK
Seorang dengan wajah kesalnya yang masih bau bantal itu menatap tajam sosok yang baru saja ia tendang hingga terjungkal Deng tidak etis.
Sedangkan yang ditendang, ia bangkit dengan wajah tengik khasnya dengan bibir mengerucut seolah sedang merajuk. Katanya biar imoeet gitoeeh. Sang penendang memasang wajah ingin mutah yang membuat gelak tawa terdengar.
"Ahahahaha! Woy, muka Lo kek orang bahan berak!" Ungkapnya tertawa terbahak.
"Setan!" Umapat Vico.
"Sorry, lah! Gue itu spesies cowok ganteng yang langka di dunia ini. Mikha si cogan yang kelewat—
"Aneh!" Piring Vico yang jengah dengan ucapan Mikha.
"SAYANG! MAKANANNYA SUDAH SIAP! TURUNLAH!" teriak seseorang memanggil Mikha.
"IYA! TUNGGU SEBENTAR, AY! AKU MASIH MEMBANGUNKAN BEBAN NEGARA!" teriak Mikha menjawab membuat Vico menggaplok kepalanya keras.
"Sakit, beg*!" Umpatnya.
"Udah, lah! Mending gue turun. Bini gue nyariin. Papay beban negara! Baju Lo ada di paper bag di lemari kalo Lo mau mandi." Ucap Mikha langsung pergi keluar kamar meninggalkan Vico.
Vico lantas mengambil paper bag dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
*****
__ADS_1
Sudah 1 jam lamanya Vico mengendarai mobilnya di jalan raya kota. Ia hanya berputar-putar tak jelas. Menggerutu sembari sesekali menghisap putung rokok lalu menghembuskannya.
Tiba-tiba saja ia melihat sosok yang melintas di pikirannya. Sontak saja ia langsung menghentikan mobilnya mendadak.
"Apaan, sih!" Gerutunya kesal.
"Gue gak bisa tenang! Gue harus cari jal*ng itu!" Ucapnya lalu melajukan mobil menuju suatu tempat.
Beberapa saat berlalu, Vico sampai di sebuah gedung apartemen yang cukup mewah. Ia memasuki gedung apartemen itu dan langsung menuju lift. Lift berjalan sekitar 35 detik hingga sampai di lantai 7.
Vico keluar lalu berjalan menuju sebuah unit apartemen nomor '208 A' dan mengetuk pintunya.
"Sebentar!" Teriak seseorang dari dalam apartemen.
Cklak...
Pintu terbuka dan menampilkan seorang gadis dengan handuk di kepala, dan kaos putih longgar serta hot pants yang tertutup kaos membalut tubuhnya.
"Gue jemput Lo!" Ucap Vico lalu menarik tangan Isis dengan kasar.
"Gue gak mau!" Isis memberontak.
"Diem atau gue per*osa Lo di sini?!" Ucap Vico mengancam dengan tatapan tajamnya.
"Lakuin aja kalo Lo berani!" Ucap Isis menantang.
"Lo yang minta!"
Vico menarik Isis kasar ke dalam apartemen. Ia mengunci pintu lalu mendorong Isis hingga jatuh terjembab ke lantai yang dingin.
"Shhh... Sialan!" Maki Isis sembari meringis sakit.
Ia lalu mengukung Isis dengan tubuh besarnya. Vico mendekatkan wajahnya pada Isis hingga hidung mereka saling menyentuh. Pandangan Vico melunak melihat manik hijau terang Isis. Ia terpana dengan pancaran raut bahagia Isis. Entah apa yang ada di pikiran Isis hingga bahagia diperlakukan seperti ini.
__ADS_1
"Apa? Lo heran gue seneng Lo giniin?" Tanya Isis sembari menampakkan wajah sinisnya.
Isis mengalungkan tangannya pada leher Vico hingga membuat sang empu melotot tajam. Isis terkekeh melihat wajah Vico. Dengan spontan, Isis menarik leher Vico lalu mendekatkan wajahnya tepat di telinga kanan Vico.
"I love you, Honey! Love you, love you, love you! I really really love you! I'm going crazy because of you! I am yours! Then, now, forever!" Ucap Isis lirih llau memeluk enar leher Vico.
"What you doing say? I'm don't believe it! You bi*ch!" Maki Vico mendorong dengan keras bahu Isis.
Vico berdiri lalu menatap tajam Isis yang tertunduk. Ia meraih dagu Isis dan mencengkeramnya kuat hingga memerah.
Dengan marah, ia mengatakan, "Gue gak sudi dicintai j*lang kayak Lo! Lo penghianat! Lo udah hancurin hidup gue! Andai dulu gue gak ketemu Lo, gak cinta sama Lo, gak sayang sama Lo! Gue pasti bahagia! Gara-gara Lo gue gak bahagia! Gara-gara Lo, bit*h!"
Vico menghempaskan dengan kasar dagu Isis hingga Isis kembali tersungkur. Dengan penampilan berantakannya itu, ia berusaha duduk normal. Ia menggeleng pelan saat tiba-tiba saja bayangan-bayangan buruk masa lalunya itu tergambar jelas di otaknya lagi. Ia semakin lama semakin ribut menggelengkan kepalanya mengusir ingatan buruk itu semua.
Vico melihat Isis yang seperti itu nampak heran sekaligus berdecih jijik entah karena apa. Ia mencengkram rambut Isis kuat hingga Isis mendongak. Terlihat pupil hijau yang tadinya menampilkan raut menantang kini bergetar ketakutan.
"Gak usah caper! Gue jadi tambah jijik liat Lo kayak gini! Lo kira Lo itu bisa tipu gue pake trik murahan Lo ini? Gak! Gak bakal bi—"
"AAAAGGGHHH!!!" Tiba-tiba saja Isis berteriak keras hingga membuat Vico kaget dan melepaskan cengkraman tangannya pada rambut Isis.
Vico nampak kaget melihat Isis yang tiba-tiba saja seperti orang kesetanan. Dengan gilanya ia memukul-mukul kepalanya dengan keras lalu menampar pipinya berkali-kali. Tak puas dengan itu, Isis berusaha berdiri dan berjalan sempoyongan mendekati sebuah meja dengan vas bunga keramik di atasnya.
Melihat Isis mengambil vas itu, Vico dengan cepat meraih vas yang sedikit lagi akan mendarat di kepala Isis. Spontan ia melempar vas itu lalu mendekap Isis erat.
"Lepasin! Gue kotor! Darah gue kotor! Gue manusia hina! Gue anak gak guna! Lepasin gue!!" Teriak Isis histeris dengan tubuh yang terus memberontak dalam pelukan Vico.
Vico tak tau apa yang harus ia lakukan. Dengan gesit, ia memukul tengkuk Isis hingga Isis pingsan seketika dalam pelukan Vico.
Vico menghela nafas lega setelah Isis tenang. Dengan perlahan, ia mengangkat Isis lalu meletakkannya di sofa di sekitarnya. Ia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Isis. Melihat wajah yang tadinya fresh dan segar kini berubah menjadi mengenaskan dengan pipi memerah dengan bibir robek dan pecah.
Ia tiba-tiba saja merasa bersalah entah karena apa. Ia menatap sendu wajah Isis. Tak terasa, air matanya jatuh begitu saja melihat sesuatu hal mengerikan terjadi di depan matanya, terlebih pada orang yang dicintainya sejak dulu.
Ya, cinta Vico pada Isis tak pernah hilang. Itulah mengapa ia mencoba mencari Isis. Selama ini, ia hanya berusaha melupakan perasaannya. Bahkan setelah melihat wajah Isis ia sudah tak rindu. Tapi ada perasaan sesak, sedih, kecewa, marah dan segalanya bercampur hingga membuatnya tak kuasa menangis. Hari ini, ia menangis. Lagi... Untuk orang yang dicintainya.
__ADS_1