
"Maaf, apakah disini ada yang namanya Isis?" tanya seorang gadis.
"Tidak, daerah sini nggak ada yang punya nama itu!" ucap seorang wanita paruh baya.
"Terimakasih infonya, maaf merepotkan!" ucap gadis itu.
"Oh, nggak papa!" ucap wanita paruh baya itu lalu pergi.
"Kemana kira-kira kak Isis tadi, ya? kayaknya gue liat tadi lewat sini!" gumam gadis itu.
Gadis itu terus berjalan, ia melewati daerah pemukiman area kontrakan kecil di dalam gang sempit. Perumahan yang rapat tanpa celah kecuali jalan saja. Berbagai bau tak sedap menyeruak di sekitar. Banyak sekali warga yang tak berpakaian rapi apalagi mengenakan wewangian. Terlihat seorang lelaki tua yang sudah lanjut usia tergopoh-gopoh membawa dagangannya. Karena rasa iba yang tinggi, gadis itu berniat membeli barang dagangan yang dibawa oleh lelaki tua itu.
"Maaf, kek. Kakek jual apa?" tanyanya.
"Ini, ada banyak roti-roti yang kakek jual. Hari ini belum ada yang beli, jadi masih utuh!" ucap kakek itu.
"Berapa harganya?"
"Satunya ¢20(±Rp.2.000) saja!" ucap kakek itu.
"Kalo semua berapa?"
"Semua… $8,4 (Rp.120.000)!"
"Semua saja, ya!" ucap gadis itu sembari memberikan uang senilai $10 (±Rp.150.000) pada kakek itu.
"Tapi ini kebanyakan!" ucap kakek itu sungkan.
"Gak papa, kek! kakak saya bilang, kalo ketemu orang tua yang jualan kita harus beli dan hargai usaha mereka. Jadi, sebagai wujud dari rasa syukur dan menghargai dari saya karena bisa ketemu kakek di jalan ini, saya kasih uang lebih. Bisa buat kakek beli banyak apa-apa yang diperlukan kakek! Kalo kakek gak mau menerima itu, aku ngambek, loh!" ucap gadis itu bercanda.
"Anak jaman sekarang jarang yang kaya kamu dan gadis itu! kalian sama-sama baik sama orang-orang! semoga apa yang kamu harapkan segera terwujud!" ucap kakek itu tersenyum bahagia.
__ADS_1
Semua roti jualan dari kakek tua itu dibungkus dan diberikan pada gadis itu. Namun, sebelum gadis itu pergi, ia menanyakan siapa sebenarnya orang yang di sebut oleh kakek itu.
"Gadis itu kalo gak salah namanya… Iris atau Isis gitu. Soalnya sering dipanggil Is. Dia biasanya dateng sama kekasihnya yang kelihatan lebih pendek dari si gadis itu!" ucap kakek itu memberi tahu.
"Kekasih?" gumam gadis itu.
"Ha? Apa yang kamu bilang?" tanya kakek itu.
"E--nggak, kek. Ya udah, aku pamit dulu! Kapan-kapan saya kesini lagi!" ucap gadis itu berpamitan.
"Hati-hati! Banyak pria liar disekitar sini!" ucap kakek itu menghimbau.
Gadis itu mengangguk dan melenggang pergi. Banyak hal yang ingin ia ketahui. Namun, selalu saja ada halangan yang dapat mencegah dirinya mengetahui sesuatu.
'Nama Isis yang disebut kakek itu sama kayak kak Isis. Tapi, kalo Zeva cari kak Isis terus dan kak Erick gak tahu kalo aku pergi, nanti kalo di marahi gimana? mendingan pulang dulu, lanjut besok!' batin gadis itu berdialog.
Zevanya Terelius, adik dari Ericson Terelius dan putri dari Jenius psikologi, ayah Erick. Ia juga adalah gadis yang dituduh oleh Celine disekolah siang tadi. Ia juga adalah adik kelas Isis dari kelas X.
"Kak Isis!" ucap Luna yang pulang langsung memeluk Isis yang tengah duduk di sofa ruang tamu sembari memainkan ponselnya.
"Kamu kenapa? Kok, nangis?" tanya Isis sembari mengusap lembut surai Luna setelah menaruh ponselnya di meja.
"Will, kak. Dia selingkuh!" ucap Luna histeris.
"Selingkuh? Will yang rambutnya Merah kayak cabe-cabean itu?" ucap Isis sembari terkekeh.
"Iiih… Kakak, kok gitu! Jangan gitu, dong! lagi bete, nih!" rengek Luna.
"Kan, kakak bicara fakta!" ucap Isis terkekeh.
"Ya, gak gitu! Gimana, ya. Gue itu salah jatuh cinta sama orang kayak dia!" ucap Luna termenung.
__ADS_1
"Cinta itu gak mesti dimiliki. Cinta yang sejati bukan yang buat kita selalu seneng. Apalagi cinta itu perasaan yang belum pasti. Biasanya, orang yang suka bakalan tertarik sama hal kayak pacaran, gitu. Kalo cinta sejati, asal bisa liat yang dicinta bahagia dan tersenyum, nyawa aja bisa dikasih sama dia. Gak harus hidup bersama, cukup bisa lindungi aja." Nasihat Isis mengusap lembut surai Luna yang menidurkan kepalanya di paha Isis.
"Kalo orang yang di cintai berhianat dan kita udah terlanjur berkorban, gimana, kak?" tanya Luna menatap wajah Isis yang terlihat merenung.
"Kalo orang yang kita cinta sama orang lain, apa perasaan yang ada dalam hati kamu?" tanya balik Isis.
"Entah, kayaknya bakal sakit banget, deh hatinya!" jawab Luna.
"Bener, hati kita bakal sakit. Tapi, kalo itu selalu buat sakit, boleh kita tinggalin cinta itu. Kita kubur, kalo perlu move on dari orang itu. Tapi beda lagi kalo baru pertama dan gak pernah lakuin perselingkuhan lagi. Itu bisa jadi kesalahpahaman yang buat kita dan dia jauh. Biasanya ada orang ketiga!" ucap Isis.
"Orang ketiga? orang yang mau buat hubungan aku dan dia rusak, yah?"
"Iya!"
"Luna, jangan kamu buat Mommy dan Daddy kecewa karena kamu korbanin diri buat cinta sebelum benar-benar ketemu sama jodoh kamu. Itu bakalan sia-sia. Lebih baik kamu belajar sampai jadi anak yang pintar, buat cita-cita besar kamu jadi nyata. Perusahaan kita, biar kakak yang urus. Kamu sama Mana harus jadi orang sukses berdasarkan cita-cita kalian sendiri!" ucap Isis.
"Iya, aku bakalan jadi dokter ahli segalanya! Apapun bakal aku lakuin buat tolong banyak orang!" ucap Luna yang langsung bangkit dari paha Isis sembari mengusap air matanya.
"Iya-iya, kakak dukung apapun yang kamu mau!" ucap Isis mengusap lembut surai adiknya yang kocak itu.
"Kalo Mana nggak di usap-usap, nih kepalanya?" ucap Mana yang datang sembari memegang snack kesukaannya.
"Adik kakak yang kakak sayang! Sini!" ucap Isis melebarkan tangannya seolah menyuruh Mana mendekat dan memeluknya.
"Aku aja!" ucap Luna yang langsung memeluk Isis.
Mana terlihat kesal langsung menaruh snacknya di meja dan ikut memeluk Isis. Isis yang menerima pelukan dari kedua adiknya itu merasa sangat senang.
Sejak kedua orangtuanya pergi, mereka bertiga selalu mencari hal-hal untuk menenangkan diri dari segala sesuatu yang membuat mereka sedih. Kehilangan orang tua bukanlah hal mudah bagi mereka. Apalagi orang tua mereka selalu ada di samping mereka dan menikmati kehangatan keluarga yang datang saat malam tiba setiap harinya. Tapi itu dulu. Sekarang, semuanya berbeda.
Seolah-olah kebahagiaan mereka tak lagi lengkap seperti dahulu, kala orangtua mereka masih hidup. Pasangan dari Anasta Torrent dan Leirian Amber Gacha itu meninggal di saat bersamaan dalam sebuah kecelakaan. Keluarga yang tak lagi lengkap membuat peran Isis bertambah. Ia harus bisa menjadi seorang ibu yang mendidik kedua adiknya dan seorang ayah yang melindungi mereka.
__ADS_1
'Bagaimanapun caranya, gue, IRISIS SHALOTUS GACHA gak akan pernah buat orang yang gue sayang terluka sedikitpun! Gue akan lindungi kalian dengan apapun yang gue punya!'