
Cahaya matahari dengan semangat berbagi kehangatan pada seluruh orang di bumi setiap hari. Dengan semangat pula, matahari menjadikan dirinya alarm untuk membangunkan orang-orang dan memberitahu bahwa jari baru akan di mulai.
Namun, sepasang suami istri yang tengah tertidur lelap di ranjang itu nampak tak terganggu sedikitpun. Mereka berdua tidur dengan sang suami memeluk erat tubuh sang istri dan menempatkan kepalnya di ceruk leher gadis kesayangannya.
Beberapa saat berlalu, suara telepon di nakas membangunkan salah satu dari mereka. Sang istri mengerjapkan matanya mencoba membiasakan cahaya matahari yang masuk ke matanya. Perlahan tapi pasti, mata hijau itu terbuka dengan bulu mata indah yang panjang menampilkan raut cantik bak Dewi Yunani itu.
Ia merasa ada yang sedang mendusel-duselkan kepala di lehernya. Spontan ia menoleh dan terkejut mengetahui sosok yang kemarin mencacinya kini memeluk erat dirinya. Perlahan senyuman manis muncul dengan sendirinya di bibir pink pucat miliknya. Ia mengulurkan tangannya, mengusap rambut lebat coklat kehitaman milik sang suami. Ia lalu mengecup dahi sang suami lalu mengalihkan perhatian pada telpon yang berdering.
"Ya?"
"Selamat pagi, penghuni unit apartemen nomor '208 A'."
"Selamat pagi!"
"Staf kami akan membersihkan unit apartemen anda pukul 10 pagi ini. Kami meminta agar anda dapat meninggalkan unit apartemen sementara kami membersihkannya. Sekian, terimakasih!"
"Baiklah."
Tut...
Setelah meletakkan telepon itu, Isis mengalihkan pandangannya pada seseorang yang masih lelap tertidur di ceruk lehernya. Lagi-lagi ia tersenyum mengamati raut menggemaskan sang suami.
Ia mengecup-kecup wajah tampan suaminya itu dengan gemas. Terakhir, ia mencium bibir tebal yang amat sangat ia rindukan itu.
Saat ia hendak melepaskan kecupannya, tiba-tiba saja tangan seseorang menahan tengkuknya hingga membuat bibirnya bersatu lagi dengan bibir sang suami.
Mata sang suami terbuka. Mata coklat terang dengan bentuk tajam menatap matanya dengan lembut.
********
"Pagiku, cerahku, matahari bersinar, ku gendong bayi kucing di bahu. Pagiku, cerahku, matahari bersinar, ku cintai dirimu setulus hatiku..."
Grep...
Sepasang tangan melingkar erat di perut seoseorang yang baru kemarin menjadi wanita itu. Sontak ia menolehkan wajahnya dan apa yang terjadi? Ya, bibirnya tepat mendarat di pipi seseorang yang memeluknya dari belakang itu.
"Astoge!!!" Teriak Isis terkejut.
Vico terkekeh dengan pelan melihat raut menggemaskan sang istri. Ia kemudia lanjut memeluk Isis dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang istri.
"Manja!"
"Biarin! 'Kan sama istri sendiri!" Ucap Vico dengan nada menggemaskan.
Isis memutar bola matanya malas. Ia lanjut mengaduk-aduk sesuatu yang ada di panci. Bau harum bawang menguar hingga masuk ke hidung perosotan milik Vico.
"Kamu masak apa, Sayang?" Tanya Vico dengan sara basahnya.
"Telur T-rex!" Ucap Isis ketus.
"Emang ada?" Tanya Vico yang mendadak menjadi bego.
"Ada!" Ucap Isis.
__ADS_1
"Oooo..." Vico ber-oh ria.
"Ck! Minggir! Gue mau pindahin ini ke mangkok!" Ucap Isis melepaskan pelukan tangan Vico.
Vuco menggerutu sembari mengecibikkan bibirnya. Ia memperhatikan Isis yang seolah tak perduli padanya saat itu. Ia tambah bad mood!
"Sayang...!" Panggil Vico manja.
"Sayang, sayang! Pala Lo ¹peang!" Ketus Isis.
"Iiihhh!!!" Teriak Vico kesal menghentakkan kakinya ke lantai.
"Lebay!" Ucap Isis mencibir sembari mengelap tangannya setelah menaruh mangkok berisi sop itu ke meja.
Dengan kesal, Vico menarik tangan Isis dengan kuat hingga tubuh Isis menempel sempurna di dadanya. Manik mereka saling menatap. Isis dengan pandangan bingung sekaligus heran dan Vico dengan pandangan mata teduh dan juga lembut.
"Minggir!" Ucap Isis dengan raut kesal.
Sudah hampir 10 menit mereka bersitatap tanpa adanya percakapan. Bukankah itu membuang waktu? Sayang sekali kalau makanan yang sudah terhidang rapi di atas meja mendingin gegara adegan unfaedah yang mereka lakukan saat ini.
"Sayang...!" Panggil Vico dengan suara seraknya dan pandangan seperti... Ingin menerkam?
"Apa?!" Ketus Isis.
"Lagi, yok!" Ucap Vico menarik turunkan alisnya.
"Males!" Ketus Isis mengalihkan pandangannya.
"Ayolah!!!" Rengek Vico.
"Oke!" Vico dengan ceria.
"Tapi kiss dulu!" Ucapnya lagi sembari menunjuk pipinya.
"Hmm!"
Isis mendekatkan wajahnya pada wajah Vico yang menunduk. Saat beberapa centi lagi menyentuh pipi Vico, dengan cepat Vico menolehkan kepalanya hingga bibir mereka menyatu.
Mata Isis membulat sempurna. Ia terkejut dengan gerakan spontan Vico. Saat Isis hendak melepaskan pangutan mereka, dengan gesit Vico menahan tengkuk Isis dan terjadilah adegan kemarin pagi.
*********
Suara gemericik air memenuhi ruangan berisikan seorang wanita yang masih lengkap dengan piyama tidurnya itu. Ia membasuh hidungnya berkali-kali tatkala darah mengucur deras dari lubang hidungnya. Beberapa kali ia muntah darah dan kepalanya juga sedikit pening. Ia menatap sejenak tespack di tangannya lalu tersenyum miris. Ia mengusap air matanya yang tiba-tiba merembes keluar dari pelupuk matanya.
Tak berlama-lama, ia segera keluar setelah sang suami mengetuk pintu dengan nada khawatir dan memanggil-manggil dirinya.
"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya Vico dengan khawatir menangkup wajah Isis.
"I'm pregnant!" Ucap Isis dengan wajah bahagia.
"What?" Vico nampak cengo sejenak.
"Ja--jadi... Gue bakal jadi ayah?" Tanyanya setelah diam sejenak.
__ADS_1
"Yes!" Ucap Isis lalu memeluk Vico erat.
Mereka berpelukan sembari menumpahkan tangis haru. Vico mengangkat tubuh Isis hingga tubuh Isis menempel sempurna dengan kaki melingkar di pinggangnya layaknya koala.
"Sekarang sudah malam. Mari lanjutkan tidur!" Ucap Vico mengecupi wajah Isis lagi.
Setelah merebahkan tubuh Isis di ranjang, ia segera menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka berdua. Ia lalu memeluk Isis dan menduselkan kepalanya di dada Isis, mencari tempat yang nyaman.
Tangan Isis terangkat mengusap lembut rambut lebat Vico. Dengan gemas ia mengusap-usap rambut tebal itu hingga berantakan lalu terkekeh. Vico tertawa geli saat tangan Isis tak sengaja menggelitik tengkuk lehernya.
Mereka tertawa bersama dengan ceria. Setelah tawa mereka berhenti, keadaan hening kembali. Isis mengusap kepala Vico lagi.
"Sayang..." Panggil Isis lembut.
"Hmmm..."
"Suatu hari nanti kalo aku mati gimana?"
"Kamu ngomong apa, sih!" Ucap Vico menatap Isis dengan marah.
"Jawab!"
"Kalo kamu mati, aku mati juga, lah!" Ucap Vico dengan wajah kesalnya yang membuat Isis terkekeh gemas.
"Sayang..." Panggil Isis lagi dengan tangan mengusap pipi Vico lembut yang tak mendapat jawaban dari Vico.
"Aku sakit!" Ucap Isis yang membuat Vico meneteskan air matanya.
"Kamu tau, kan? Aku udah sakit dari dulu. Sebelum kita menikah, sebelum kita berpisah dulu. Aku sakit, saat aku masih di dampingi orang tua aku." Ucap Isis dengan senyuman.
"Aku..."
"Sssttt!" Desis Isis meletakkan telunjuknya di bibir suaminya.
"Dengerin aku!" Lanjut Isis.
Setelah Vico mengangguk, Isis meneruskan ucapannya. "Aku sakit Leokimia sejak usia aku 5 tahun. Aku udah terapi. Tapi cuma bisa bikin hidup aku lebih panjang beberapa tahun sampe saat ini, gak bisa sembuh. Tapi, kanker lambung yang ada di tubuh ini juga bikin masalah! Aku kesakitan!"
Air mata Vico bertambah deras dengan mata terpaku pada manik hijau Isis yang berkaca-kaca.
"Sayang... Maafin aku karena dulu tinggalin kamu. 4 tahun ini, aku di Singapura buat sembuhin penyakit ini. Tapi, tetep gak bisa. Akhirnya aku minta Uncle Atta buat jodohin aku sama kamu, supaya aku bisa tebus kesalahan aku dulu. Maafin aku..." Ucap Isis dengan air mata yang sudah menganak sungai dari lingkaran matanya.
Vico mengusap lembut pipi Isis. Ia menghapuskan air mata itu dan menyisakan jejak-jejak air mata di pipi itu.
"Aku maafin kamu. Aku maafin kamu. Aku maafin kamu!" Ucap Vico berulang dengan air mata dan isakan yang keluar.
"Yaa... Aku sayang kamu, cinta kamu, Sayang!" Ucap Isis memeluk Vico erat.
Mereka saling berpelukan dengan tangis di sela-selanya.
END
______________
__ADS_1
¹peang: sebutan dimana bentuk kepala rata sebelah.