NAKAL (NonA AKAn Lelah)

NAKAL (NonA AKAn Lelah)
Siapa?


__ADS_3

"Ini dah 3 hari, kan? Kok bocah itu gak ketemu-temu, sih?!" Ucap Ryo yang nampak frustasi.


"Bisa gak, Lo itu gak ngeluh terus? Bosen gue dengernya!" Ucap Mana dengan wajah dinginnya.


Tiba-tiba..


"Pagi!"


Suara sapaan itu membuat mereka menoleh ke arah pintu masuk. Hingga nampaklan Isis dengan sedikit senyuman yang seketika hilang. Dengan langkahnya Isis memasuki mansion dan memandang Ryo, Luna, Mana dan juga Wesley di sana. Lalu, Isis dengan santainya masuk ke kamar dengan Luna, Wesley dan Ryo yang memandangnya dengan wajah yang cengo. Berbeda dengan Mana, ia malah langsung mengikuti Isis yang berjalan ke kamarnya.


"Kak?" Panggil Mana setelah ia mengunci pintu kamar Isis.


"Ya?" Jawab Isis tanpa menolehkan kepalanya.


"Besok adalah hari peringatan kematian Ded dan Mom."


"Itu sebabnya aku pulang." Ucap Isis melempar senyum pada Mana.


"Maaf, kakak hanya ingin menangkan diri. Jadi, kakak pergi sebentar." Ucap Isis mengusap kepala Mana.


"Oke. Gue bisa terima apa yang kakak ucapin sementara ini. Tapi, gak selamanya ini bisa di sembunyiin, kan? Kakak tau? Vico ke sini kemaren. Dia taunya kakak itu anak dari salah satu maid di sini. Untung aja waktu itu ada Wesley yang ngomong kalo kakak memang bener anak maid dan lagi pulang kampung. Tapi, kebohongan itu gak akan bertahan lama, kan?" Ucap Mana dengan wajah kecewa.


"Jujur, Gue sendiri kecewa sama kakak. Kenapa kakak gak kesih tau segalanya dari kita, keluarga kakak!? Kakak gak percaya sama kita? Bahkan Mana?" Lanjutnya.


"Bukan. Kakak cuma gak mau kalian khawatir!" Ucap Isis menyangkal.


"Khawatir? Cuman itu? Kakak mikir gak sih? Kalo misalnya kakak tiba-tiba ngilang dan tau-tau kita denger kabar kakak dah mati, gimana perasaan kita?" Ucap Mana dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


"Mati? Masih lama kali." Ucap Isis berusaha setenang mungkin. Padahal ya... Jantungnya udah dag, dig, dug.


"Terus surat itu apa?"


*****


"Kak? Itu tadi beneran kak Isis, kan?" Tanya Luna yang masih menatap pintu kamar Isis.


"Iya kayaknya. Masa iya kita halusinasi barengan? Apalagi tadi gue liat jelas Mana yang masuk ke kamar itu, kan?" Ucap Ryo.


"Iya juga. Terus, kok baru pulang?" Tanya Luna lagi.


"Gak tau juga!" Ucap Ryo.


"Terus, kak Isis selama ini ke mana aja, ya?" Tanya Luna lagi.


"Gak tau!"


"Kak Isis juga pulang sama siapa, ya?"


"Gak tau!"


Luna yang penasaran terus bertanya dan Ryo tetap pada jawabannya "Gak tau!". Sedang Wesley menatap jengah Luna dan Ryo.


Wesley mengalihkan tatapannya. Ia melihat pintu kamar Isis yang berada di lantai dua masih tertutup. Ia nampak heran. Pertanyaan-pertanyaan Luna juga masuk akal. Segalanya terasa berputar-putar di kepalanya. Ia bingung memikirkan semuanya.


Saat Wesley tengah berkelana di pikirannya, Ryo menepuk pundak Wesley yang membuat sang empu keget.


"Wesley!" Panggil Ryo sembari menepuk pundak Wesley.


"Eh, i--iya, tuan muda?" Wesley gugup.


"Hihi. Lo kenapa?" Tanya Ryo disertai kekehan.


"Emangnya saya kenapa, Tuan?" Tanya Wesley menatap Ryo bingung.


"Ck. Lo mah... Gak lah!" Ryo berdecak lalu pergi meninggalkan Wesley dengan wajah cengonya.


"Aneh!" Gumam Wesley.


Wesley menatap sekitar. Tak ada seorangpun selain dirinya di ruang tamu itu. Ia menghela nafas lalu mengambil iPad dan memeriksanya.

__ADS_1


Entah apa yang ia lihat. Ia membelalakkan matanya dan langsung berkeringat dingin.


'Apakah ini nyata? Tapi tadi itu, kan..'


*****


Di dalam kamar Isis, Mana masih menatap pintu kamar mandi. Ia menunggu Isia yang tengah membersihkan diri.


Sedangkan Isis, ia tengah mengeringkan tubuhnya dengan handuk.


'Untung aja tadi ada pak Jun. Kalo nggak, Mysha nggak mungkin bisa Nemu panti. Moga aja pak Jun bisa jaga rahasia.'


Selesai berpakaian, Isis langsung keluar dari kamar mandi. Ia langsung di sambut tatapan tajam dari Mana.


"Sekarang, besok, atau kapanpun itu. Gue yakin. Rahasia apapun yang kak Isis simpen bakalan keungkap." Ucap Mana.


"Rahasia apa, Mana?" Tanya Isis mencubit hidung Mana gemas.


"Ck, kakak pura-pura bodoh atau emang gak tau, sih?" Sentak Mana kesal.


Dengan kasar Mana menepis tangan Isis dan langsung membuat Isis tersentak kaget. Sedangkan Mana dengan raut kecewanya.


"Kak... Tolong, lah! Kita ini keluarga. Kakak buat apa nyembunyiin ini semua?" Ucap Mana melemparkan sebuah surat.


Lagi-lagi Isis tersentak kaget. Ia terkejut melihat surat itu.


"Ba--bagauimana kamu menemukan surat ini?" Tanya Isis dengan suara yang bergetar.


"Kan gue dah bilang, apapun itu gue bakal cari tau, kak! Udah muak gue sama kebohongan Lo, kak! Gue harus gimana sekarang, kak?" Tanya Mana yang frustasi.


"Maaf, maafin kakak. Kakak bener-bener gak mau kalian khawatir. Tolong jangan kasih tau ini ke—"


"Siapa? Luna? Ryo? Om Atta? Aunty Delta? Atau kak Vico?" Ucap Mana meninggikan suara memotong ucapan Isis.


"Kak... Udah cukup kakak nanggung beban berat. Sekarang, jangan mikirin apapun lagi. Tolong, kak! Ini permintaan Mana. Gue gak mau kakak gue menderita. Mulai sekarang kakak fokus buat diri kakak. Gak usah urusin perusahaan. Ada Wesley yang urus!" Ucap Mana sembari memegang tangan Isis.


"Kakak tau, kakak akan berusaha." Ucap Isis tersenyum lalu memeluk Mana.


'Gue lupa kalo Ryo yang tau pertama kali tentang hal ini' batin Isis yang mengerti.


"Gak masalah. Kakak bisa tangani ini." Ucap Isis mengurai pelukan.


Isis mengusap pipi Mana yang basah oleh air mata. Ia lalu menangkap wajah Mana dan tersenyum manis.


'Gue yakin kakak bakalan kuat!'


*****


Dua hari berlalu sejak kepulangan Isis. Kemarin ia sudah mulai berangkat sekolah dan itu membuat seseorang yang melihatnya menggeram marah. Rencananya gagal.


Chaya dan Vivi menyambut Isis dengan pelukan, namun di tepis oleh Isis. Sedangkan Vico, ia datang ke kelas Isis namun ditolak mentah-mentah oleh Isis. Menurut Isis, Vivi, Chaya, Vico dan yang lainnya harus membencinya. Itu semua agar mereka bisa selamat.


Sedangkan hari ini, mereka semua melaksanakan acara classmeating basket setelah satu bulan lalu melaksanakan classmeating Volly dan juga sepak bola.


Kini, Chaya dan Vivi tengah didik di bawah pohon yang menghadap langsung ke lapangan, menampilkan tim putra kelas XI MIPA 1 dan kelas XI IPS 5 yang tengah bertanding memperebutkan juara. Ya... Walau bukan kelas mereka tapi itung-itung bisa buat pencuci mata, secara kan adkel mereka ganteng-ganteng. Tau aja ciwi-ciwi.


"Vi?" Panggil Chaya yang melihat Chaya yang melamun.


"Iiiiihh... Vivi mah!" Rengek Chaya mengguncangkan lengan Vivi.


"Apaan?" Jawab Vivi memutar bola matanya malas.


"Samperin Isis, yuk?" Ajak Chaya.


"Males, ah. Mager gue!" Ucap Vivi.


"Lah, Lo mah gitu. Ke kantin aja mau?"


"Gass lah!" Ucap Vivi langsung berdiri.

__ADS_1


"Ya elah, gitu aja Lo langsung mau." Ucap Chaya berdiri.


Chaya dan Vivi berjalan menuju kantin. Di kantin, mereka membeli pop ice rasa melon dan ceri serta cilung 5 tusuk, risoles 5 ribu, sendwich 2 porsi, dan juga sebungkus biskuit. Saat hendak ke kelas mereka, yaitu kelas XII MIPA 1, Vivi tiba-tiba kebelet.


"Chay, gue kebelet, nih! Pegangin jajan gue dulu, dong!" Ucap Vivi langsung memberikan Pop Ice dan plastik jajanannya pada Chaya.


"Jangan lama-lama!" Teriak Chaya pada Vivi yang langsung ngacir.


"Iya!!" Jawab Vivi.


Saat baru menginjakkan kakinya di toilet, ia mendengar suara seseorang yang tengah muntah-muntah disertai batuk.


"Huek... Huek... Huek... Uhuk..."


"Siapa, ya?" Gumamnya sembari berpikir.


"Mungkin lagi masuk angin!"


Menghiraukan suara itu, Vivi pun masuk ke salah satu bikin dan menunaikan hajatnya.


"Perut gue sakit banget!" Lirih seseorang.


'Tunggu, itu suara siapa? Kok kaya mirip...' batin Vivi menerka-nerka.


"Huek... Uhuk... Uhuk... Uhuk..."


Lagi dan lagi suara mutahan dan batuk terdengar berkali-kali membuat Vivi penasaran hingga hendak membuka bilik di sebelahnya. Namun, ia urungkan niatnya saat mendengar Chaya memanggilnya.


"Woy! Lo udah belom?" Teriak Chaya.


"Iya, bentar!" Jawab Vivi.


Vivi langsung keluar dari toilet setelah mencuci tangannya. Ia menceritakan apa yang ia dengar di toilet tadi pada Chaya.


"Gak mungkin itu Isis. Udah ah, yok balik lagi ke lapangan. Soalnya gue tadi tanya sama Glenn, katanya Isis pulang." Ucap Chaya.


"Lah, kok balik tuh bocah?" Tanya Vivi heran.


"Lah, emang kenapa? Kan bebas mau balik atau kagak. Lagian guru pada gak ngurus, kan jamkos!" Ucap Chaya memperjelas.


"Iya juga!"


Mereka kembali ke lapangan melanjutkan acara nonton cogan buat cuci mata.


*****


"Isis!" Panggil seseorang.


Isis menengok. Ia melebarkan matanya melihat siapa yang ada di hadapannya. Sosok itu tersenyum padanya.


"L--lo!"


"Bisa bicara?" Tanya seseorang itu.


"Bi--bisa!"


Mereka berdua mengobrol di cafe sekitar.


"Venthan, gimana keadaan Veira? Udah sadar?" Tanya Isis pada sosok yang dipanggilnya


"Udah. Itu semua karena Lo. Makasih udah buat satu-satunya keluarga gue selamat." Ucap sosok itu.


Venthan Alaranio Klarkie. Pemuda 20 tahun yang merupakan anak dari salah satu orang kepercayaan keluarga Isis. Ia juga teman dekat dari Ryo.


"Itu salah gue udah buat kalian dalam masalah. Gue udah janji sama kalian bakal hukum orang yang nyakitin keluarga gue. Dan Viera juga keluarga gue." Ucap Isis menepuk pundak Venthan.


"Makasih. Lo baik banget!"


"Jangan bikin gue seakan yang nolong Lo. Gue itu harus tanggung jawab. Apa yang terjadi sama Viera itu salah gue!" Ucap Isis menunduk.

__ADS_1


"Andai waktu itu gue nganggep serius apa yang Viera ucapin. Dia pasti gak bakal ngerasain sakit." Ucap Isis semakin bersalah.


'Lo itu gak salah, Isis. Gue bakal bales orang yang nyakitin adik gue. Apapun caranya' batin Venthan sembari mengusap kepala Isis dan tersenyum.


__ADS_2