
"Mana?" panggil Wesley.
"Hmm?" Mana membalasnya dengan deheman.
"Mau turun gak? aku mau pulang!" ucap Wesley.
"Nanti dulu. Gue masih ngantuk, tau!" ucap Mana yang kembali memejamkan matanya.
Mana dan Wesley kini bukan berada di kelas, melainkan di taman belakang sekolah. Sewaktu Wesley hendak membawa Mana ke kelasnya, Mana tiba-tiba berkata kalau ia ingin sekali pergi ke taman belakang sekolah bersama Wesley. Setelah sampai di taman, Wesley menurunkan mana dari pundaknya. Namun, setelah turun, Mana malah meminta Wesley untuk duduk Alhasil, paha Wesley di jadikan bantalan untuk Mana tidur.
"Mana, bentar lagi mau mulai, tuh pelajarannya!" ucap Wesley mencoba membuat Mana terbangun.
"Bodo!" jawab Mana acuh.
"Mana, gak enak di lihatin orang!" ucap Wesley lagi.
"Bodo!" Lagi-lagi Mana menjawabnya acuh.
"Mana!!" panggil Wesley lagi.
Mana lalu membuka matanya dan menatap tajam manik coklat terang milik Wesley. Wesley yang di tatap mengalihkan pandangannya ke arah samping.
"Wesley!" panggil Mana dengan nada dingin.
"Apa?" jawab Wesley.
"Liat sini!" perintah Mana sembari menghadapkan wajah Wesley agar menatapnya.
"Ma--mana?" heran Wesley.
"Gue mau Lo jujur tentang kejadian waktu itu!" ucap Mana serius.
"Ke--kejadian? Kejadian yang mana?" tanya Wesley yang tak berani menatap wajah Mana.
"Jangan buat gue ulangi ucapan gue!" ancam Mana.
"Hah... Mana, tolong ngertiin aku!" ucap Wesley memohon.
"Wesley! Jangan buat kesabaran gue habis!" ancam Mana lagi.
"Nona muda Manali Sharaya Ghaca! Saya tidak akan menceritakan apapun kepada anda kecuali itu telah di izinkan oleh nona muda tertua Irisis Shalotus Ghaca!" ucap Wesley dengan wajah seriusnya.
"Tck... Males gue ngomong sama Lo!" ucap Mana yang bangkit dari pangkuan Wesley dan pergi dengan kesal.
"I'm sorry. I don't want you to be sad, Mana!" ucap Wesley dengan wajah sedihnya.
*****
"Isis, Lo itu gimana, sih? Sebagai sekertaris Lo seharusnya bikin daftar yang bener! Kenapa Lo bikin yang kayak gini, hah?" maki Glenn pada Isis.
"Gue dah males ladenin kalian. Lagian juga gue punya saksi!" ucap Isis duduk di atas meja dengan santai.
"Saksi? Mana saksinya?" tagih Glenn.
"Wenny!" panggil Isis pada Wenny yang tengah berada di luar kelas.
"Isis? Kenapa?" tanya Wenny yang muncul dengan bingung.
"Tuh, orangnya udah dateng! Tanyain aja yang Lo mau tanya!" ucap Isis yang semakin membuat bingung Wenny.
"Tanya apa, Glenn?" Wenny bertanya memperjelas.
__ADS_1
"Lo sama Isis yang buat daftar latihan ini?" tanya Glenn.
"Ho'oh. Kenapa emangnya?" Weni bertanya balik.
"Gue udah cek semua daftarnya. Tapi, gue nemuin kalian belum sewa pelatih sampai sekarang. Terus, kenapa kalian buat daftarnya tabrakan sama jam istirahat gini, coba?!"
"Sini, gue liat!" Wenny merebut kertas yang berisikan daftar latihan peserta lomba.
"Ini bukan yang gue sama Isis buat! Lo lihat aja di sini!" ucap Wenny sembari memperlihatkan isi ponselnya.
Di dalam ponsel tertera dengan jelas jadwal latihan cabang olahraga yang tersusun rapi beserta para pelatih dan waktunya juga. Namun, di sana juga tertera tandatangan dari tim penanggung jawab latihan, yaitu Wenny dan Isis.
"Kalo ini punya kalian. Terus itu punya siapa?" tanya Glenn sembari menunjuk ke arah kertas yang di pegang oleh Wenny.
"Mana gue tau!" jawab Wenny menghampiri Isis.
"Aneh, apa mungkin ini punya kelas lain?" Glenn bertanya-tanya.
"Bukan, itu ada yang sengaja jebak gue sama Isis!" ucap Wenny menyangkal.
"Siapa?"
"Kagak tau!" ucap Wenny menundukkan kepalanya mengintip wajah Isis dari sela-sela tangan Isis.
"Isis, Lo kok tidur terus, sih!" ucap Wenny kesal.
"Biarin!" jawab Isis dengan suara serak.
"Sakit?" tanya Wenny.
"Kagak!" jawab Isis yang kesal.
"Lo yang panggil, Lo juga yang ngusir. Hais... Lo aneh!" kesal Wenny pada Isis lalu pergi.
"Isis? Lo yakin—
"Diem, Lo Glenn! Pergi sana!" Isis mengusir Glenn juga.
"Ish... bodo, ah!" Glenn lalu pergi.
'Moga aja berhasil!' batin Isis berharap.
*****
"Bro, Lo mau ikut gue ke kantin gak?" tanya Mikha pada Vico yang duduk sembari merebahkan kepalanya pada meja.
"Gak, males!" jawab Vico dingin.
"Kali aja Lo mau. Siapa tau Lo bakalan ketemu Isis di sana!" ucap Mikha pergi berjalan.
"Isis? Ya udah, gue ikut!" ucap Vico menyusul Mikha.
Sesampainya Vico di kantin, ia tak melihat Isis sama sekali. Ia hanya melihat Vivi dan Chaya yang biasanya bersama Isis.
"Vivi, Chaya!" panggil Vico mendekati meja Vivi dan Chaya.
"Vico, Lo mau kemana?" tanya Mikha.
"Itu, ada temennya Isis!" ucap Vico buru-buru menghampiri meja Vivi dan Chaya. Sedangkan Mikha hanya menghela nafas.
'Isis? Sesulit itu, ya Vic?!' batin Mikha.
__ADS_1
"Vico? Kenapa Lo panggil kita?" tanya Vivi.
"Isis mana?" tanya Vico to the point.
"Gak tau. Dia udah jarang ngumpul bareng sama kita akhir-akhir ini!" ucap Vivi.
"Kira-kira kenapa Isis gini?" tanya Vico.
"Menurut gue, Isis ada masalah, tau!" ucap Chaya.
"Tapi... masalah apa?" tanya Vivi.
"Gak tau!" jawab Chaya.
"Vi, Ya. Lo berdua punya ponsel masing-masing, kan?" tanya Vico.
"Punya, lah!" ucap Vivi dan Chaya serempak.
"Gue pengen tau. Lo berdua nomernya di blok sama Isis gak?" tanya Vico.
"Em... iya, deh kayaknya. Kemaren malem gue masih bisa liat status Facebooknya Isis. Hari ini udah ngulang dari daftar temen!" ucap Chaya.
"Ho'oh, nomor WA gue aja di blok!" ucap Vivi menambahkan.
"Sama. Berarti, Isis ada masalah sama kita!" ucap Vico.
"Iya, gue tau. Tapi masalah apa?" tanya Vivi.
"Rumit!" Chaya menimpali.
"Gini aja. Gue minta nomor kalian berdua. Terus, nanti gue bikin grup khusus buat bahas tentang ini. Kalo salah satu dari kita nomornya udah di buka blok-nya, bisa kabarin lewat grup!" usul Vico.
"Oke!" Vivi dan Chaya setuju.
Mereka bertiga saling bertukar Nomor.Setelah bertukar nomor, Mikha tiba-tiba datang mengagetkan mereka.
"Oy, ada kecoa!!" teriak Mikha di telinga Chaya.
"Aaaaaa!!!" teriak Chaya yang kaget.
Chaya dengan spontan langsung memeluk Vico. Namun, dengan cepat di lepaskan oleh mereka.
"Sorry!" Chaya meminta maaf.
"Mikha!!!" geram Vico menatap tajam Mikha.
"Hehe... Sorry!" Mikha menyengir kuda sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Sorry, palamu pe'ang!!" maki Vico memukul kepala Mikha. Sedang Mikha yang di pukul hanya tersenyum kuda.
"Udah, ah! Gak usah ribut-ribut!" ucap Vivi melerai.
"Iya-iya, lagian masalahnya ud— Isis?" Chaya tiba-tiba mengatakan nama Isis.
"Isis? mana?" bingung Vico.
Vico beserta Vivi, Mikha dan Chaya menatap ke arah Isis yang berdiri di pintu masuk kantin menatap mereka. Vico dengan cepat berlari menuju Isis. Namun, Isis lebih dahulu berlari ke toilet wanita hingga Vico tak dapat mengejar dirinya.
"Semoga aja, lo gak salah paham, Shasa!" gumam Vico.
^^^Note: Shasa adalah panggilan Isis dari Vico yang diambil dari kata 'Shalotus' Yang aryinya Bunga lotus atau Teratai.^^^
__ADS_1