
"Gacha? Adikmu itu menantu keluarga Gacha?" Tanya Ryan yang terlihat penasaran.
Atta menjawab, "Ya. Dia menikahi anak tunggal keluarga Gacha—"
"Mexlyan Gorano Gacha, kan?" Ryan memotong ucapan Atta.
"Hmm"
"Kemana Mex sekarang?" Tanya Ryan.
"Dia sudah tiada bersama adikku." Ucap Atta sendu.
"Kapan?"
"Beberapa tahun lalu. Bahkan putrinya belum lulus sekolah waktu itu." Ucap Atta lagi.
Atta menghela nafas berat. Kemudian ia melanjutkan ucapannya, "Kau tau Andrian Charlotte, Teofanus Alrand, Gin Alion, Alsen Maclius dan juga Melysa Geresya? Mereka bekerja sama untuk membuat kecelakaan yang menyebabkan adikku dan Mex mati. Mex mengatakan kalau kau adalah sahabatnya. Tapi, kalian berpisah setelah berkeluarga dan kehilangan jejak satu sama lain. Kalian berdua pernah menjalin kerja sama untuk proyek besar, kan? Proyek Zenpen."
"Ternyata kau adalah kakak ipar dari Mex. Pantas saja Mex sering mengatakan kali calon istrinya adalah orang yang didik dengan kasih sayang besar sebelum mereka menikah." Ucap Ryan menerawang.
"Sekarang aku percaya putri Mex pasti sebaik ibunya dan secerdas Mex. Dia pasti istri terbaik untuk putraku!" Ucap Ryan mantap.
"Tapi kau ingat, Putriku adalah orang yang bisa melakukan apa saja yang ia anggap benar di pikirannya." Ucap Atta memperingatkan.
"Ya! Akan ku ingat!"
*****
Pukul 07.15, 16 April, Amsterdam, Belanda. Di apartemen Vico, tampak ayah dan anak duduk dengan tenang. Namun, suasana sekitarnya nampak canggung.
"Ngapain tiba-tiba mau ketemu?" Tanya Vico dengan wajah tak santainya.
"Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu." Ucap Ryan sembari menatap arloji di tangannya.
"Langsung aja napa!"
"Sebentar, tunggu seseorang datang." Ucap Ryan.
"Ck, lam—"
Ting... Tong...
Suara bel langsung membuat Ryan dan Vico menoleh ke arah pintu. Pintu terbuka menampakkan 2 orang pria dengan balutan jas dan juga seorang gadis menggunakan dress selutut berwarna krem.
"Kau sudah datang, Atta!" Ucap Ryan langsung bertos ala laki dengan Atta kemudian anaknya dan terakhir mengusap kepala putrinya.
Sedangkan Vico, ia melihat baik-baik sosok di depannya. Apakah ia salah lihat atau tidak?
'Shasa sama pacarnya yang waktu itu, kan? Si Venthan udah keliling dunia tapi gak Nemu, itu sebenernya dianya yang bego nyarinya atau dia bohongin gue? Terus kenapa mereka malah dateng ke apart gue? Pembicaraan apa, si?' batin Vico bertanya-tanya.
"Vico, kamu kenalan dulu sama Om Atta dan Ryo sama Adiknya." Titah Ryan pada Vico.
__ADS_1
Vico menurut dan memperkenalkan diri. "Arvico Zenpen, biasa dipanggil Vico, om!" Ucap Vico menyodorkan tangannya pada Atta.
Atta menerima tangan Vico dan berkata, "Manatta Torrent, panggil aja om Atta."
Setelah itu, Vico menghampiri Ryo dan menyodorkan tangannya. "Vico." Ucap Vico dingin.
"Ryoko Torrent, Ryo." Ucap Ryo sama dinginnya.
Tanpa menyalami Isis, Vico langsung duduk di sofa tunggal dengan menyilangkan kakinya. Isis dan Ryo hanya menatap datar Vico. Sedangkan Atta menatapnya tajam.
"Sorry. Vico emang nggak akrab sama cewek" ucap Ryan tak enak.
"Hmm. Kita langsung saja!" Ucap Atta dan diangguki mereka semua kecuali Vico yang tak tahu hanya mengedihkan bahunya.
Isis duduk di kanan Atta dan Ryo duduk di kirinya. "Kalian akan menikah lusa besok di gedung 'Wlop Meddiane De Half' secara privat." Ucap Atta dengan datar.
Vico langsung menatap tajam ayahnya dan dibalas sama oleh Ryan. "Perjodohan?" Tanya Vico dingin.
"Hm. Itu wasiat ibumu yang menyerahkan urusan tentang istri untukmu padaku." Balas Ryan sama dinginnya.
Vico mendengus dan menatap Isis, Ryo dan juga Atta secara bergantian. Ia berkata dengan dingin, "Jadi kalian datang untuk ini?"
Sedangkan Atta hanya berdehem. Vico tampak memikirkan sesuatu sembari menatap Isis tajam. 'Kalo gue nikahin dia, bales dendam gue bakal mudah.' batin Vico.
"Oke, gue terima."
Mereka semua mengangguk dan kemudian Atta, Ryo dan juga Isis berpamitan setelah hari mulai siang.
*****
"Kenapa kamu suka sekali berpakaian seperti itu?" Tanya Atta pada Isis.
"Nyaman aja"
"Kalau sudah menikah nanti, kau harus mengenakan pakaian layaknya perempuan, ya?" Ucap Atta tampak memohon.
"Iya. Lu cewek pake baju kek cowok. Rada¹ aneh aja, sih! Biasanya kalo cewek di luaran sana kalo pake baju yang ketat-ketat gitu. Terus makeup tebel kek tante-tante girang, bibirnya monyong² gitu kek abis di cipok³ kuda!" Ucap Ryo nyeleneh membuat Atta geleng-geleng kepala.
"Gak bisa janji!" Ucap Isis mengedihkan bahunya.
Hening beberapa saat. Hingga Atta membuka suara, "Bagaimana dengan kuliahmu?"
"Baik. Tapi ada sedikit kendala. Mungkin beberapa tahun lagi aku tak bisa mengambil S3." Ucapan Isis membuat Atta dan Ryo mengeryit. Mereka kemudian saling pandang.
"Maksud Lo?" Tanya Ryo.
"Nanti juga Lo tau" jawab Isis acuh.
Kemudian keadaan mobil hening hingga sampai di mansion keluarga GACHA.
*****
__ADS_1
"Luna! Mana!" Teriak seseorang dari lantai bawah.
"Iya, Aunty! Bentar lagi Luna turun!" Teriak gadis cantik dengan rambut dikuncir kuda.
"Eh, Man! Bangun! Astaga dragon wings! Itu Aunty udah treak-treak di bawah!" Gadis tadi membangunkan kembarannya.
"Ck, nanti dulu napa!? Mata Lo gak liat gue lagi ngapain? Ganggu mimpi orang aja!" Ucap kembarannya dengan kesal.
"Yaelah. Lemot amat Lo, Man!" Ucap Luna meninggalkan Mana yang berkutat dengan selimutnya. Belum sempat membuka pintu, tiba-tiba saja pintu terdobrak dari luar.
Brak!!
"Luna! Mana!!" Seseorang yang di sebut Aunty itu berdiri dengan sapu ditangannya mendobrak pintu kamar Luna dan Mana dengan wajah galaknya.
"Eh, aunty! Baru aja Luna mau turun aunty udah dateng aja!" Ucap Luna cengengesan.
"Mana kemana?" Tanya sosok yang di sebut Aunty.
(Aunty adalah panggilan dari Luna, Mana dan juga Isis pada Delta Avika Torrent—ibunda Ryo dan istri Atta.)*
Delta mengedarkan pandangannya menjadi Mana. Pandangan kemudian berhenti pada gundukan di bawah selimut. Dengan kasar ia menarik selimutnya dan.... Tada!!!
Nampak lah Mana dengan yang mata terpejam rapat dan tubuh yang meringkuk. "MANA!!!!!" Teriak Delta menggetarkan langit dan bumi serta meruntuhkan segala isinya—eh?
*****
Isis baru saja turun dari mobil diikuti oleh Ryo dan Atta dan menatap rindu mansion keluarga GACHA. Ia mengingat-ingat kenangan masa lampau yang membuat dirinya berkali-kali ingin kembali—
"MANA!!!!!"
Suara teriakan sosok yang ia kenal itu membuatnya terkejut. Dengan cepat mereka bertiga berlari masuk dan menaiki tangga menuju lantai atas. Tepat di depan kamar Luna dan Mana, mereka bertiga di buat terkejut dengan pertunjukan yang menghibur di depan mereka, yaitu Luna dan Mana yang dijewer oleh Delta membelakangi pintu.
"Aaa!! Sakit, Aunty!" Ringis Luna karena telinga kanannya dijewer oleh Delta.
"Diem kamu! Disuruh mandi terus bantuin Aunty susah banget!" Ujar Delta dengan galak.
"Aunty. Marahnya dipending dulu!" Ucap Mana dengan wajah datar. Tak nampak sedikitpun raut kesakitan padahal telinganya kirinya di jewer hingga merah.
"Pending-pending! Kalo marahnya dipending kapan lagi marahnya?!"
"Kapan-kapan aja!" Ucap Isis di sertai kekehan.
Degh...
Luna, Mana dan juga Delta terkejut hingga ia melepaskan tangannya di telinga Luna dan Mana. Mereka bertiga menengok ke belakang. Sosok itu! Sosok yang telah lama mereka tunggu!
¹Rada: Agak
²Monyong: manyun/memajukan bibir
³Cipok: cium
__ADS_1
Ibu Vico: Aileen Scarlett Quentin