NAKAL (NonA AKAn Lelah)

NAKAL (NonA AKAn Lelah)
Kehangatan yang hilang


__ADS_3

"Uhuk... Uhuk... Uhuk..."


Malam yang dingin membuat seorang pemuda menggigil di atas ranjang yang luas. Dingin yang menusuk hingga ke tulang ia rasakan walau tubuhnya telah terbalut selimut yang amat tebal. Ia terbatik-batuk hingga ia amat lemah.


"Shasa... kangen... dipeluk, kamu!" gumam Vicoico dengan mata terpejam.


Tok... tok... tok...


"Tuan muda, makan malam sudah siap!" panggil Mio.


Mio memanggil-manggil Vico hingga berkali-kali. Namun, tak ada jawaban sama sekali.


"Tuan muda!" panggil Mio lagi.


"Bi Mio!" panggil seseorang dari arah belakang.


Mio menengok ia melihat tuan besarnya atau ayah dari Vico tengah berjalan ke arah dirinya dengan wajah yang bertanya-tanya.


Lerryansy Zenphen (Ryan), ayah dari seorang Arvico Zenphen dan juga merupakan raja bisnis dari perusahaan DE-LY di tahun ini yang menggantikan Maxlyan Gorano Gacha dari perusahaan Gacha.


"Tuan?"


"Kenapa kau teriak-teriak malam-malam begini? Mana Viko? makanan di meja bisa dingin!" tanya Ryan.


"Maaf, tuan. Tuan muda telah saya panggil. Namun, tak ada jawaban dari kamarny. Pintunya juga terkunci!" ucap Mio dengan sopan.


"Aneh!" gumam Ryan.


"Maaf, tuan. Anda mengatakan sesuatu?" tanya Mio yang mendengar gumaman Ryan samar-samar.


"Tidak!" sarkas Ryan.


"Emm... Begini saja. Ambil kunci serep kamar ini, lalu bawakan makanan yang ada di meja dan sisanya simpan di lemari pendingin supaya besok bisa dimakan lagi. Saya sudah makan, jadi tidak perlu menyisakan untuk saya." ucap Ryan dengan sopan.


"Baik, Tuan!"


Mio langsung melaksanakan perintah yang diberikan tuan besarnya. Mula-mula ia mengambil kunci dan sepiring makanan di atas nampan yang diserahkan kepada Ryan, setelah itu ia langsung melaksanakan perintah lainnya.


Ryan menerima nampan itu dan langsung membuka kamar Vico dan masuk. Saat masuk ke dalam kamar, ia terlihat bingung saat mengamati putranya yang tengah terbaring di atas ranjang dengan tubuh bergetar. Ryan mendekati Putra semata wayangnya itu dan membuka selimut yang menutup tubuh putranya itu.


"Kamu nggak papa, kan?" tanya Ryan yang nampak khawatir setelah melihat wajah pucat Vico.


"Isis... ke mana... Isis..." gumaman Vico yang terdengar oleh Ryan.


Ia lantas memeriksa kuning putranya.


"Panas!" batinnya.


Tanpa basa-basi lagi, ia langsung memanggil Mio dengan khawatir.

__ADS_1


"Bi Mio!"


"Ya, tuan?" jawab Mio yang tengah menuju kamar Viko.


"Ada apa, Tuan?" tanya Mio yang baru masuk ke kamar Viko dengan nafas tersengal-sengal akibat berlari.


"Panggil dokter sekarang! Vico demam!" perintah Ryan.


"Baik, tuan!"


Dengan cepat Mio menelepon dokter menggunakan ponselnya.


"Tuan, dokter akan datang dalam setengah jam! Dokter tadi menyarankan untuk menurunkan panas dengan kompres!" ucapnya setelah selesai menelpon dokter.


"Kalau begitu, ambil kompresnya sekarang juga!" perintah Rian dengan khawatir.


"Baik, Tuan!"


Sementara Mio mengambil kompresnya, ia mengusap-usap kepala putranya. Wajahnya terlihat amat khawatir. Bagaimana tidak? ia baru pulang dari luar negeri karena urusan bisnis tadi sore. Namun, ia belum melihat Vico sejak sampai kediamannya. Bahkan sekalipun belum terdengar suara Vico sejak ia pulang dan sekarang dia malah melihat putra tersayangnya itu terbaring dengan tubuh yang lemah dan wajah yang pucat.


"Maafkan ayahmu ini, nak! ayahmu yang lalai menjagamu. Ayah bahkan tak tahu kalau dirimu sakit. Ayah macam apa aku ini?!" ucapkan menyalahkan dirinya sendiri.


Ryan menggenggam tangan Viko sembari meneteskan air mata dari pelupuk matanya.


"Maafkan aku, ai! aku lalai menjadi anak kita!" ucap Ryan lagi.


"Tuan, ini kompresnya!" Mio datang membawa nampan berisi baskom dan kain kecil untuk mengompres Vico.


"Pergi, lah! kau istirahat saja. Aku akan menunggu dokter di sini!"


"Apakah tidak apa-apa, Tuan?" tanya Mio sungkan.


"Aku bisa mengurusnya!"


Setelah mendengar perkataan tuannya, Mio pergi dari ruangan itu dan istirahat di kamarnya. Sedangkan Ryan terus-menerus menyalakan dirinya sembari mengompres Vico dan merawatnya hingga tertegun dan menghentikan gerakannya kala mendengar gumaman Vico.


"Isis... jangan tinggalin gue!"


"Isis, gue rindu pelukan lo!"


"Isis, jangan! jangan! jangan!!"


Vico langsung terduduk dan bangun dengan nafas tersengal-sengal dan getaran di bibir pucatnya.


"Jangan khawatir! ayah di sini, nak! Tenang, Jangan khawatir, ayah di sini!" ucap Ryan sembari membawa Vico ke dalam pelukannya.


"Lo balik?" tanya Viko pada Rian yang masih memeluk hangat dirinya.


"Ya, tadi sore ayah pulang. Tapi kau tak terlihat!" ucap Rian sembari mengusap lembut punggung Vico. Secara perlahan, Vico mengerahkan tangannya dan memeluk ayahnya yang sudah lama ia rindukan.

__ADS_1


"Lo, Lo bakalan pergi lagi besok?" tanya Viko dingin setelah melepas pelukannya.


"Ayah akan mengambil cuti selama 1 minggu untuk merawatmu, nak!" ucap Ryan mengusap lembut rambut hitam Viko.


"Gak usah! gue bisa rawat diri gue sendiri!" ucap Vico dengan dingin.


"Ayah bakalan rawat kamu! terserah kamu mau ngomong apa, Viko!" ucap Ryan tegas.


"Terserah!" ucap Vico lalu mengambil ponselnya.


"Vico, kamu istirahat dulu, nak! udah malem ini. udah jam 08.30 malam!"


"Gak usah sok peduli!" ucap Vico yang tengah melihat ponselnya dengan acuh .


"Hah..." Ryan menghela nafas panjang.


Ia tahu kenapa Putra semata wayangnya itu bersikap sangat dingin padanya. Alasannya tak lain adalah karena dirinya tak punya waktu untuk bercengkrama dengan putranya setelah istrinya meninggal. Ia bahkan tak pernah menemani masa-masa berharga dari putranya, Vico. Di masa kanak-kanak hingga remaja Vico, ia sangat jarang pulang ke rumah karena urusan bisnis. Wajar saja jika dirinya dan putranya seperti orang asing walaupun ada ikatan darah.


"Sial!" umpat Vico lalu meletakkan ponselnya kembali.


"Kenapa, nak?" tanya Ryan.


"Bukan— uhuk... uhuk... uhuk..." vico tak sempat melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba saja ia merasa sesak dan terbatuk-batuk.


"Nak, kau tak apa-apa?" tanya Rian yang terlihat amat sangat khawatir.


"Gue— uhuk... nggak apa-apa! uhuk..."


"Istirahat dulu! kamu masih belum pulih!" ucap Ryan yang memaksakan Viko agar terbaring.


"Kenapa lo malah peduli setelah lo buat rasa sayang di hati gue ke elo perlahan hilang?" tanya Viko tiba-tiba.


"Apa?" kaget Ryan setelah mendengar perkataan Viko.


"Gue udah berusaha jadi seorang laki-laki yang mandiri. Gue nggak mau ngerasain rasa kecewa karena lo pernah peduli sama gue dari dulu. Bahkan waktu gue ambil penghargaan karena jadi murid terbaik di SMP, lo gak peduli. Sekarang, kenapa lo tiba-tiba peduli?" ucap Viko sambil duduk menatap lurus ke arah depan dengan tatapan sembuh.


"Kamu ngomong—


"Jangan bikin gue berharap karena harapan gue yang hancur bikin gue kecewa dan sakit. Lo tau, kan?" ucap Vico memotong Rian sembari menatap wajah Ryan dengan sendu.


Tiba-tiba Ryan memeluk Vico dan menangis. Vico juga menupakan rasa kecewanya pada sang ayah.


"Maaf, nak! maafin ayah, Viko! ayah cuma mau kamu bisa mandiri dan gak tergantung sama ayah! ayah kerja juga buat kamu, buat kita! ayah juga kerja buat lupain rasa kehilangan ayah ke bunda, nak! Tapi ayah gak nyangka gini hasilnya!" ucap Ryan di tengah-tengah tangisnya.


"Ayah tahu Vico sekarang udah jadi laki-laki mandiri yang punya rasa tanggung jawab dan terkadang cinta sama wanita. Tapi kamu harus pilih orang yang paling tepat buat kamu, nak! pilih orang yang bisa bikin kamu bahagia, kayak bundamu!" ucap Ryan menasehati.


"Gue cuma cinta dan sayang sama dua orang wanita di hidup gue. Yang pertama bunda, orang yang buat gue rasain kehangatan dan kasih sayang. Tapi itu udah gak ada lagi sekarang. Dan orang kedua..."


"Siapa, nak?" tanya Rian melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Gue—


__ADS_2