
"Pelukan teroooss!!"
Luna, Mana, dan Isis menoleh.
"Kak Ryo?" Luna dan Mana bersamaan.
"Ganggu aja!" ucap Isis kesal lalu melenggang pergi.
"Dih, ngambek! Baperan amat!" ucap Ryo nyinyir.
Ryo melihat punggung Isis yang mulai menjauh menuju ke lantai 2, kamar Isis. Sedang ia sendiri diperhatikan oleh Luna dan Mana dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Ngapain liat-liat kakak gue? Cantik?" ucap Luna ketus.
"Dih, ngomongnya itu dikondisikan, ya adik-adik!" ucap Ryo mendekati sofa.
"Dapat info apa dari si Vico?" tanya Luna langsung ke intinya.
"Gak ada!" ucap Ryo acuh.
"Gak usah ngelak! Lo tadi ketemuan sama Vico di sekolah kak Isis, kan? Tanya apa aja lo?" Tanya Mana dengan nada dingin.
"Heh... Manali Sharaya Ghaca, kamu pintar dan cerdik. Tapi, masalah ini bukan urusan kamu! kamu terlalu kecil buat tau!" ucap Ryo berdiri hendak pergi.
"Dasar lo! Gue bakal cari tahu apa yang sebenarnya terjadi! Dan gue gak akan biarin Lo bikin ulah ke Vico ataupun kak isis!" ucap Mana kesal.
Luna hanya mendengarkan sembari melihat bingung kakak sepupunya dan adik kembarnya itu beradu mulut. Sedikitpun Luna tidak mengerti apa yang dibicarakan mereka.
Ryo pergi setelah berdebat panjang dengan Mana. Dia keluar rumah dengan wajah jengkel. Sedangkan Mana, ia tengah melihat punggung Ryo dengan wajah yang dingin dan suram sehingga membuat suasana ruang tamu menjadi menakutkan.
"Apa yang Lo omongin sama kak Ryo?" tanya Luna memberanikan diri.
"Lo gak bakal ngerti!" ucap Mana lalu pergi.
"Lo itu kenapa? Gue tanya, kok malah pergi!" gumam Luna.
Mana pergi menuju kamarnya, sembari mengambil kembali camilan yang tergeletak di meja.
__ADS_1
*****
Malam yang dingin disertai dengan rintik hujan di malam Minggu. Membuat suasana yang sangat dingin itu tergambar bagai gemuruh Guntur di hati Vico. Sementara itu, Vico tengah memikirkan apa yang dikatakan oleh Ryo yang ia kira adalah pacar baru dari Isis karena kata-katanya yang ambigu.
"Isis bukan milik lo. kalo lo masih terus nyakiti dia, gue gak akan diam gitu aja. Dan lo juga harus jauhi dia. Dia udah terlalu sakit di samping lo selama ini. Gue bisa jaga dia lebih baik daripada lo. Lo sebaiknya lupain dia, karena gue gak akan biarin Lo deketin dia lagi!"
Perlahan-lahan, air mata Vico turun. Dia merasa sangat sedih dan sesak di dadanya. Tangisan itu untungnya tak terdengar hingga ke luar kamarnya. Makin lama, makin sakit pula rasanya, makin sesak pula dadanya, dan makin keras isakannya. Dirinya kini, memegang sebuah buku yang tebal berjudul 'life story in a silent book'. Buku yang ditulis olehnya atas dasar perasaannya sejak ia mulai dapat mengingat. Buku itu telah menemaninya selama lebih dari 12 tahun lamanya. Buku dengan sampul coklat tanpa corak itu diberikan mendiang ibunya saat ia berusia sekitar 5 tahun, tepatnya saat ia sudah bisa mulai menulis.
Banyak suka duka yang tertulis di dalamnya. Bahkan berbagai rahasia ada dalam buku itu. Namun, buku adalah benda mati yang tak dapat berbicara maupun berbuat sesuatu. Buku itu hanya dapat menampung Sagala rasa sakit, senang, bahkan kehilangan dari seorang Arvico Zenphen.
```````````````
"Gue tau, gue itu terlalu buruk buat lo, Shasa sayang!" ucap Vico dalam sela-sela tangisnya.
"Shasa, Lo itu udah persis sama Mommy. Lo bikin gue rasain kehangatan selama 8 bulan ini. Gue tau, Lo itu banyak disukai orang. Tapi, jadiin gue sebagai salah satu yang Lo sayangi! Gue mohon, Sha!"
Vico memohon tanpa henti dengan bersujud di kaki Isis. Di depan para siswa yang memperhatikan dirinya dengan penuh cemoohan. Ia tak peduli itu sekarang. Isis yang paling penting baginya saat ini. Disaat semua orang menatapnya penuh cemooh, Seorang pria muncul dengan bayangan hitam yang samar menutupi wajahnya.
"Isis milik gue! Lo hanya remahan roti yang basi!" ucap orang itu yang mendekati Vico perlahan-lahan.
Wajahnya pun mulai terlihat samar. Isis tersenyum melihat pria itu datang. Ia bergelayut manja pada pria itu.
"Pinter banget!" puji pria itu.
Pria itu mengangkat dagu Isis dengan lembut. Mendekatkan wajah mereka. Dan…
````````````````
"JANGAN ISIS!!"
Vico terperanjat kaget dan langsung bangun dari tidurnya sembari berteriak.
"'Untung cuma mimpi! Gak kebayang seberapa gilanya gue kalo itu nyata!" gumam Vico.
Ya, adegan tadi adalah mimpi dalam bayangan Vico. Namun, terasa nyata bagi Vico. Vico tak akan pernah rela untuk menyerahkan Isis dengan siapapun. Bukan egois. Tapi rasa Sayangnya pada Isis itu sudah masuk ke mode overdosis. Ia akan gila jika itu benar-benar terjadi.
BRAK…
__ADS_1
"VICO, LO KENAPA TERIAK-TERIAK KAYA JANGKRIK KESELEK METEOR?!" Teriak Mikha panik setelah membuka pintu kamar Vico dengan keras.
"Vico? Lo…"
"DASAR LO, GOBLOK! GUE KAGET TAU!" teriak Vico karena terkejut.
Vico melemparkan bantal ke wajah Mikha dan tepat mengenai sasaran. Mikha hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan canggung.
"Gue kira Lo abis di p*rk*s* sama mbak kunti! Makanya teriak-teriak." ucap Mikha tanpa rasa bersalah.
"Dasar temen laknat!" maki Vico sembari beranjak dari tempat tidur.
"Ngapain Lo pagi-pagi ke sini? Tumben dah rapih!" ucap Vico menyindir.
"Pagi, pala lo! Ini udah setengah tujuh! emangnya Lo gak sekolah!" ucap Mikha dengan ekspresi kesal.
"Apa? Setengah tujuh?" Kaget Vico.
Vico dengan kecepatan kilat masuk ke kamar mandi setelah mengambil baju ganti. Ia bergegas untuk mandi membersihkan dirinya sebelum berangkat sekolah.
Setelah selesai mandi, Vico berencana meninggalkan sarapan pagi dan hanya membawa bekal. Walau ia lahir di keluarga yang kaya, ia selalu membawa bekal makanan sehat khas buatan dari Bi Mio, juru masak di rumahnya.
"Bi, bekalku mana?" tanya Vico kebingungan.
"Bekal? Emangnya Tuan muda mau kemana pagi-pagi sudah rapi pake baju sekolah?" tanya bi Mio yang semakin membuat Vico bingung.
"Sekolah, lah bi…" ucap Vico.
"Ini hari Minggu, kan? emang ada yang sekolah?" ucap bi Mio bingung.
"Iya, ini hari…" Vico menggantung ucapannya sembari melirik Ke Mikha dengan tatapan tajam.
"Hehe… Gue lupa!" ucap Mikha cengengesan.
"Kamvret, Lo Mikha!!!" teriak Vico geram.
Mikha berlari sekuat tenaga menghindari Vico agar tak tertangkap. Kalau tertangkap, bisa jadi ayam geprek, tuh si Mikha.
__ADS_1
Sedangkan bi Mio, ia tersenyum bahagia melihat tuan mudanya itu bisa tertawa dan tidak bersikap dingin karena adanya seseorang yang menghibur dirinya.
Ya, sikap Vico dulu sangatlah dingin pada semua orang tanpa terkecuali. Namun, setelah kedatangan Isis dan Mikha dalam hidupnya, ia tak pernah bersikap dingin pada dua orang itu. Bahkan perlahan ia mencairkan hatinya untuk semua orang. Namun, apa jadinya jika Isis pergi dari hidupnya? Mungkin dia akan bersikap dingin seperti semula, atau mungkin dirinya akan gila bahkan mengakhiri hidupnya karena ini? Entahlah, itu masih belum pasti!