
"Andai waktu itu gue nganggep serius apa yang Viera ucapin. Dia pasti gak bakal ngerasain sakit." Ucap Isis semakin bersalah.
'Lo itu gak salah, Isis. Gue bakal bales orang yang nyakitin adik gue. Apapun caranya' batin Venthan sembari mengusap kepala Isis dan tersenyum.
"Waktu itu, gue bener-bener gak nyangka ini semua bakalan terjadi. Kalo gini ceritanya, gue lepasin Vico dari dulu!" Ucap Isis dengan wajah penuh sesal.
"Nggak. Lo gak bisa lepasin Vico gitu aja. Kalian itu saling mencintai. Andai aja Lo pergi, gue yakin Vico Bakan berubah sifatnya. Dia itu orang yang dingin kayak bapaknya setelah bundanya pergi. Kalo misalkan Lo juga pergi gue yakin dia bakalan hancur. Jangan sampe Lo biari si Michel itu buat Vico nyaman setelah Lo pergi!" Ucap Venthan dengan bijak.
Isis menimbang-nimbang apa yang diucapkan Venthan. Isis mengangkat kepalanya melihat manik coklat terang milik Venthan.
"Kalo misalnya Michel suruh gue milih antara cinta gue ke Vico atau Keluarga gue, gue harus gimana?" Ucap Isis dengan lirih.
"Maksud Lo gimana?" Tanya Venthan memperjelas.
"Dia sakitin Luna dan buat Luna trauma. Dia juga sengaja buat semua orang benci gue. Tapi kalo opsi kedua si gak masalah. Yang bikin gue khawatir itu kalo dia sampe bikin Luna, dan juga Mana dalam bahaya. Gue gak mau di Michel itu sakitin adek-adek gue. Well akhirnya gue milih jauhi Vico. Gue yakin. Kalo misalkan dia itu takdir gue, gue sama dia pasti bakal bersatu gimanapun caranya. Sekarang, yang terpenting adalah jagain adek-adek gue sampe mereka dewasa dan bisa jaga diri mereka sendiri." Ucap Isis dengan pandangan sendu.
"Dan... yang terpenting adalah mereka jangan sampe tahu. Lo tau, kan gimana bokapnya si Michel itu." Lanjut Isis.
"Maksud Lo si Andrian Charlotte itu?" Ucap Venthan menanggapi dan di balas anggukan oleh Isis.
"Andrian Charlotte itu pengusaha dunia. Sebenernya kalo dibandingin sama Dady itu masih kalah jauh Andrian Charlotte itu. Tapi, gue juga tau kali kalo misalnya Andrian Charlotte itu orang licik!" Ucap Isis dengan wajah yang nampak marah.
"Dia juga dalang dari kecelakaan bokap nyokap Lo, kan?" Venthan bertanya.
"Iya. Sebenarnya gak cuman Andrian Charlotte. Ada juga Teofanus Alrand, Gin Alion, Alsen Maclius dan juga bininya si Andrian Charlotte—Melysa Geresya. Mereka semua pengusaha dunia bidang Properti dan juga makanan olahan. Gue udah selidiki mereka. Tapi, gue gak bisa bunuh mereka ataupun jeblosin mereka ke penjara. Mereka terlalu kuat. Kali gue paksain, gue cuman rugi." Ucap Isis.
"Jadi? Gimana?"
"Ya udah. Biarin aja dulu. Gue bakal biarin si Celine itu ambil Vico. Nanti gue ungkap semuanya." Ucap Isis dengan yakin.
"Ya, gue yakin Lo pasti bisa, Isis!"
__ADS_1
Sementara itu, ada sepasang mata mengamati mereka dari kejauhan.
"Jadi, sebenernya kakak sembunyiin ini semua dari kita? Dan berjuang sendirian? Lo tega, kak!" Ucapnya yang nampak kecewa.
*****
Kini, 1 bulan sudah Isis menjalani hidupnya dengan memperburuk namanya. Setelah pertemuannya dengan Venthan 1 bulan lalu, ia segera melaksanakan rencananya. Ia tak mau mengungkapkan segalanya sebelum waktunya. Itu hanya memperburuk akibatnya.
1 bulan juga, Isis menjadi gadis Nakal. Gadis tak sopan yang sering membolos, tak mengerjakan tugas, dan jadi seorang pembuli. Kalian tahu? Kini, Vivi dan Chaya juga menjauhi Isis. Mereka menyerah untuk menyadarkan Isis. Pasalnya, mereka mengira Isis menjadi pribadi yang sombong akhir-akhir ini dan juga sangat ketus jika berbicara. Tak hanya itu, Vico, Mikha, dan juga warga sekolah lain mulai menjauhi Isis. Vico kini juga menganggap Isis sebagai Cewek Matre yang gila harta. Ditambah lagi kini Celine semakin nempel dan lengket pada Vico bak permen karet. Ia juga kerap kali menjelek-jelekkan Isis di depan Vico.
Yah... Tak apalah. Isis juga tahu ini akan terjadi.
Hari sudah menjelang siang. Bel istirahat juga sudah berbunyi. Para murid berhamburan keluar. Tak terkecuali Isis juga.
"Eh, Lo tau, kan?" Tanya seorang siswi bisik-bisik.
"Tau apa?" Sahut temannya.
Isis yang mendengar itu sudah biasa. Ia terbiasa mendengarnya sejak adanya foto dirinya bersama seorang pria di restoran beredar di Mading sekolah dan menjadi buah bibir warga sekolah. Isis tak menghiraukannya. Toh, dia juga hanya berbincang tentang perusahaan GACHA sebentar dengan Wesley waktu itu.
Isis berjalan terus tanpa menundukkan wajahnya. Ia berjalan angkuh menuju salah satu meja di kantin. Namun, sebelum ia duduk, seseorang siswa tiba-tiba mengambil tempat duduknya.
"Apaan si Lo!" Bentak Isis.
"Heh, gue duduk di sini duluan. Lo pergi aja sana cari tempat lain! Gak pantes Lo duduk di sini!" Ucap siswa laki-laki tersebut.
"Gak pantes? Lo kira ini sekolah punya bokap Lo sampe Lo bisa atur gue duduk dimana? Lo itu siapa ngatur-ngatur gue?" Ucap Isis.
"Lo itu gak pantes karena Lo itu kotoran! Sampah! Sampah tempatnya di tempat sampah, bukan di sini!" Ucap siswa itu lagi.
Isis yang tadinya hendak pergi tiba-tiba melihat Vico muncul di pintu kantin. Ia dengan sigap mengambil air putih di botol yang ada di meja dan menyiramkannya di tubuh laki-laki itu.
__ADS_1
Byurr...
"Lo apa-apaan, sih!" Siswa laki-laki berdiri dengan rambutnya dan bajunya yang setengah basah.
"Salah, Lo! Kenapa Lo malah bikin gue marah, hah? Jadi basah, kan?" Ucap Isis dengan kekehan.
Plak...
Tamparan keras di pipi kanannya itu membuat kepala Isis tertoleh ke samping. Pipinya seketika terasa kebas dan panas juga mti rasa. Itu adalah Vico. Ya, Vico lah yang menamparnya. Isis sontak mengarahkan tatapannya pada Vico. Ia melihat manik ungu pekat itu dengan tajam. Tampak adanya kekecewaan di dalamnya. Tangan Vico bergetar karena merasa bersalah pada Isis.
"Ma--" ucapan Vico terpotong.
"Lo, gak usah ikut campur!" Tunjuk Isis dengan marah pada Vico.
"Dan Lo! Cowok apa yang beraninya sana cewek? Banci Lo, hah? Beraninya cuman sama cewek! Lo kira gue takut? Gak kali. Ngapain takut sama Lo. Sama-sama makan nasi. Oh iya, Lo kan makan rumput. Hahahaha...." Ucap Isis dengan tawa remeh menatap siswa tadi.
Vico tak menyangka, gadis baik dan sopan yang begitu di cintainya kini berubah seperti ini. Vico menggelengkan kepalanya dengan wajah yang nampak kecewa. Isis kemudian mengalihkan tatapannya pada Vico dan menatapnya sembari tersenyum mengejek. Lalu, ia melenggang pergi.
"Gue kecewa sama Lo, Sha!" Teriakan Vico membuat langkah Isis terhenti.
"Terus, gue peduli?" Tanya Isis tanpa membalikkan badannya.
"Jangan harap!" Lanjutnya.
Vico menatap nanar kepergian Isis. Ini buka Shasa—nya yang ia kenal. Mana Shasanya yang penyayang, lembut, sopan dan anggun itu? Mengapa kini menjadi gadis liar yang tak sopan dan sangat sadis? Ia kecewa! Sungguh kecewa!
Sedangkan Isis, ia kini berada di Toilet dengan wajah menatap ke cermin. Entah mengapa, hatinya berdenyut sakit saat Vico mengatakan bahwa ia kecewa padanya. Ia ingin sekali menangis. Namun, ini bukan saat yang tepat. Ini bukan waktunya.
"Huek... Huek... Huek..." Tiba-tiba saja ia merasa muak dan memuntahkan isi perutnya dan tunggu. Itu... Cairan kental merah pekat adalah darah.
"Ck... Sial!" Isis berdecak kesal dan memukul bibir wastafel.
__ADS_1