NAKAL (NonA AKAn Lelah)

NAKAL (NonA AKAn Lelah)
Married


__ADS_3

Menikah.


Siapa yang di dunia ini tak ingin menikah? Apalagi dengan orang yang sangat kau tunggu kehadirannya bukan? Hmmm... Wajar saja pernikahan menjadi momen sakral bagi kedua mempelai karena awal dan juga puncak kehidupan mereka akan ada dalam fase ini. Mereka akan saling terikat benang merah, saling bergantung satu sama lain, dan saling mengerti serta mencintai pasangan mereka.


Namun, kebahagiaan itu tak nampak sedikitpun pada wajah pria tampan yang akan menjadi mempelai pada hari ini. Di dalam salah satu kamar yang disediakan untuknya di dalam gedung di mana akan digelar resepsi pernikahan mewah nan megah secara privat untuknya.


Vico, ia nampak sangat tampan dengan balutan tuxedo berwarna gray pudar dengan kemeja berwarna putih dan pita gray pudar di lehernya. Tak lupa setangkai mawar terselip di saku kemejanya. Aaah... Ia nampak sangat tampan!


"Vico! Kau sudah siap?" Tanya Ryan sembari memasuki kamar Vico. Pria yang sudah hampir berkepala lima itu masih tampak sangat tampan dengan balutan jas hitam dan dasi yang senada.


Vico menjawabnya dengan deheman. Kemudian, Ryan dan Vico berjalan berdampingan menuju ke ruang resepsi.


*****


Di kamar lain, seorang gadis cantik tengah menatap dirinya dipantulan cermin. Ia memperhatikan sosok di cermin itu, mulai dari rambutnya yang dijepit di sisi kanan dan kiri, wajahnya yang dipoles dengan makeup tipis dan juga leher serta tangannya yang terselip indah kalung serta gelang berlian dengan sedikit tiara dan batu ruby itu. Tak lupa pula gaun pengantin berwarna gray pudar yang membalut tubuh indahnya dengan renda bordiran bunga dandelion mini yang melekat transparan di dada atasnya. Apakah itu adalah dirinya? Benarkah? Apa benar itu nona muda Irisis Shalotus Gacha? Apakah—


Tok... Tok... Tok...


"Ini Aunty. Kau sudah siap, Sayang?" Tanya Delta dari balik pintu.


Isis menjawab dengan deheman. Ia lalu berjalan membuka pintu yang langsung disambut dengan senyuman oleh Delta. Isis membalas dengan senyuman pula.


"Sayang, mempelai pria sudah menunggumu di altar. Sekarang, ayo kita turun!" Ajak Delta kemudian diangguki Isis.


Isis hendak melangkah keluar kamar bersama Delta. Namun, "Tunggu!" Ucap Delta sembari berbalik menghadap Isis.


"Kenapa, Aunty?" Tanya Isis bingung.


"Ada yang kurang!" Ucap Delta dan langsung masuk ke dalam kamar Isis dengan menarik lengan Isis.


Isis mengikuti Delta dan masuk ke dalam. Ia menatap bingung Delta yang kebingungan seperti tengah mencari sesuatu. Sesaat kemudian, Delta menemukan apa yang ia cari. Ternyata itu adalah sebuah kain satin transparan berwarna gray pudar seperti gaun Isis. Dengan cekatan, Delta memasangkan kain itu di pucuk kepala Isis hingga menutupi kepala dan juga wajah Isis sepenuhnya. Tak lupa pula ia menjepitkan penjepit agar tak terlepas nantinya.


"Sempurna!" Ucap Delta sedangkan Isis hanya memutar bola matanya malas.


Beberapa saat kemudian, Luna dan Mana juga datang dengan gaun putih seperti yang Delta gunakan pula. Mereka berjalan beriringan menuju ke tempat resepsi.

__ADS_1


*****


Hari telah gelap. Bulan nampak malu-malu menampakkan diri. Diselimuti langit yang mendung dengan temaram cahaya rembulan dan sedikit taburan bintang membuat malam ini nampak indah.


Dalam sebuah kamar yang di hias sedemikian rupa dengan taburan mawar biru dan juga bunga tulip di dindingnya. Tak lupa pula lilin-lilin kecil yang menyebarkan aroma lavender yang khas menambah kesan romantis di dalam kamar luas ini. Kamar pengantin memang seharusnya begitu, kan?


Namun, suasana kamar pengantin tak dapat mengubah suasana pada dua orang yang telah mengucapkan janji suci juga mengikatkan benang merah diantara keduanya tadi siang.


Suasana yang tegang tak menampakkan suasana pengantin baru pada umumnya. Dengan Vico yang bertelanjang dada hanya dengan mengenakan handuk melingkar rendah di pinggangnya dan tatapan tajamnya yang menatap punggung gadis didepan meja rias. Sedangkan gadis yang ditatap—Isis tengah membersihkan makeup yang melekat diwajahnya dengan tubuh yang masih lengkap dengan gaun pengantin dengan santai.


"Kenapa kau di sini?!" Tanya Vico tak santai.


"Hm?" Isis membalikkan badannya menatap Vico keran dengan alis terangkat.


"Kau tidak tuli, kan?" Ucap Vico dengan dinginnya.


"Kalau iya?"


Vico berdecih menolehkan kepalanya. Ia kemudian menatap tajam Isis dengan kilat kemarahan yang tercetak jelas di matanya.


"Apa? Atau kau mau menceraikanku? Silahkan! Toh, yang rugi juga bukan aku!" Ucap Isis memotong ucapan Vico.


Sedangkan Vico, ia nampak tertohok dengan ucapan Isis. Jika saja ayahnya tak mengancamnya, ia tak akan sudi bersanding dengan wanita ini.


"Udahlah. Terima kenyataan. Gue capek pake aku—kamu. Lo—gue aja biar enak. Gue yakin, sampe sekarang Lo juga masih ada rasa 'kan, sama gue?" Ucap Isis mengibaskan rambutnya dan berbalik menatap kaca.


"Cukup. Itu semua murni paksaan dari—"


"Ayah mertua? Bohong! Bahkan gue tau kalo Lo selama ini masih cari gue. Gue gak bodoh. Well, mudah aja buat tebak isi pikiran Lo." Lagi-lagi Isis memotong ucapan Vico.


Vico berdesis. Ia kemudian mengucapkan kata-kata yang begitu menusuk bagi Isis.


"Setelah menikah denganku. Apalagi yang kau inginkan? Harta? Tahta? Kehormatan? Atau... Seluruh yang ku punya? Tak puas telah memoroti om-om itu?" Ucap Vico dengan nada merendahkan.


"Lo emang bodoh!" Ucap Isis menatap tegas mata Vico. Kemudian, ia berjalan menuju kamar mandi dengan angkuh.

__ADS_1


'Sial. Cewek murahan kaya dia gak bakal bisa rebut segalanya dari gue lagi. Cukup gue bodoh sekali karena ditipu dia. Sekarang, gue bakal buat dia nyesel karena udah mau nerima pernikahan ini dan akhirnya cerai. Selesai!' batin Vico merencanakan sesuatu.


******


Pagi yang cerah, Isis tengah merapikan barang-barangnya setelah pindah ke dalam rumah baru mereka atas permintaan mertuanya. Ya, rumah pemberian dari Ryan—mertua Isis dan juga ayah dari Vico.


Jangan tanya bagaimana mereka melewatkan malam itu! Pastinya, mereka tidur tak seranjang karena Isis dan Vico sama-sama tidur di sofa. Untung saja ada dua buah sofa di dalam kamar itu. Jika tidak, mungkin mereka memilih tak tidur. Mereka berdua sama-sama tak menyukai aroma lavender ditambah bunga-bunga itu. Menggelikan!


Selesai membereskan barang-barangnya di dalam kamar, ia langsung mandi menyegarkan diri. Ingat! Hanya barang-barangnya! Untuk barang-barang Vico masih teronggok begitu saja di dalam ruang tamu.


"Haaaahh!!!" Isis menghela nafas lega setelah menjatuhkan tubuhnya ke kasur.


Mata hijau terangnya menatap kosong langit-langit kamar. Ia menerawang jauh momen-momen di mana ia masih bisa tersenyum bahagia setelah banyak beban di pikulnya. Iya, dia bahagia! Siapa yang membuatnya tersenyum? Vico! Hanya dia!


Tunggu! Jangan sampai ia mengingat itu lagi, atau ia akan—


"Hihihi! Kenapa dulu kau dengan mudah percaya perkataan mereka? Dasar pembawa sial!" Ucap Isis meracau sembari meremas kepalanya.


Terlambat!


Isis semakin brutal menarik dan memukul-mukul kepalanya dengan keras. Ia meraung dan menangis semakin kencang. Ia berdiri dan menghancurkan barang-barang di sekitarnya. Dengan pakaian dan rambut yang berantakan, ia kembali berteriak.


"AAAAGGGHHH!!!! Bodoh! Dasar sialan! Brengsek!! Persetan dengan nasib!! AAAAGGGHHH!!!"


Terus...


Ia tak berhenti hingga ia membenturkan kepalanya ke tembok berkali-kali hingga kesadarannya hilang.


...Gaun Isis...



...Tuxedo Vico...


__ADS_1


__ADS_2