Naruto Blood Prison

Naruto Blood Prison
Prolog: Pembunuhan Raikage


__ADS_3

Pergerakan mulai terlihat saat bukan merah yang seolah berlumuran darah itu akhirnya tersembunyi di balik awan.


Satu, dua...



Dia bersembunyi di balik semak semak hutan betula perak Siberia, menghitung jumlah orang yang berjalan keluar dari kantor Raikage.



Tiga, empat... totalnya lima orang...



" Sial banget, omongan orang tua memang sungguh bertele\-tele, bikin penat saja. " Terdengar suara seorang wanita. " Padahal tak perlu menggerutu macam\-macam, cukup segera pergi dan tangkap orangnya saja, kan? "



" Yang namanya rapat memang sering bertele\-tele dan membosankan... " Terdengar suara lain yang merespons. " Tapi, Karui, cara bicaramu barusan sedikit ngawur, lho. "



" Mananya yang ngawur? "



" Masalah ini takkan langsung selesai setelah kita merebutnya. Jika kita melakuakn itu, bisa saja nantinya Kumogakure bakal diincar desa lain, dan kita bakal dianggap sebagai orang\-orang yang barbar yang menyalahi aturan. "



" Kalau sudah keluar sampai sini, kita sudah tak perlu cemas pembicaraan kita bakal kedengaran para orang tua itu. " Seorang lelaki pertubuh gagah, maju dan berjalan paling depan. Meseki tengah berada di dalam kegelapan, kilatan tajam di matanya tetap terlihat. " Samui, apa masih belum ada kabar apa\-apa dari Kastil Hozuki? "


__ADS_1


" Tak ada yang berubah. Belum ada perkembangan apa pun. "



" Masalah ini tetap harus kita sembunyikan dulu dari para orang tua itu. "



Awan terbelah, memunculkan wajah bulan dari baliknya.



Aura intimidasi yang sungguh hebat...



Dia menajamkan matanya sembari masih berada di tengah semak\-semak, kemudian meneguk ludah. Dari balik kimono yang dikenakannya dengan bagian dada terbuka itu, tersambul sabuk besar berwarna emas.




" Akan saya sampaikan. "



Wanita berambut pirang ini bernama Samui, Jonin Kumogakure. Di belakannya menyusul Mabui, sang sekretaris Raikage. Dua orang yang berhjalan paling belakang adalah Omoi dan Karui yang terlihat bodoh. Mereka bawahan Samui, sekaligus murid Killer Bee.



Oke. Lelaki itu menjilat bibirnya. Takkan kubiarkan satu pun dari mereka hidup!


__ADS_1


" Tapi, apa benar ada kotak seperti itu? " Karui tertawa sambil mendengus. " Kotak yang bisa mengabulkan permohonan apa pun... konyol sekali. Terlalu mencurigakan. "



" Tidak bisa hanya dideskripsikan seperti itu, lho. " Omoi langsung saja menyela. " Ini memang terdengar sembarangan, tapi bisa saja kotak itu hanya kiasan yang sebenarnya merujuk pada suatu senjata yang sangat kuat. Dana kalua memang begitu, Kumogakure tak boleh diam saja. Namun, ada juga kemungkinan kalau Kusagakure menggunakannya demi kedamaian... "



" Kau cerewet banget. " Karui menggaruk\-garuk kepalanya. " Jika memang ada senjata seperti itu, kita Kumogakure\-lah yang akan memilikinya. Tidak peduli apa pun tujuan Kusagakure, dasar bodoh! "



" Hei, Karui! Begitu, tuh, sisi jelekmu. " Hardik Omoi. " Pemikiran seperti itulah yang ujung \- ujungnya akan melahirkan perang. Kalau Kusagakure tidak berniat menggunakan kotak itu untuk mengintimidasi desa lain, slah\-salah, malah kita yang jadi penjahat, lho. Tapi... yaah, jika memang Kusagakure sedang merencanakan sesuatau, kita juga harus memperluhatkan sikap tegas. "



" Hyaaaaat! " Urat marah telah tercetak jelas di pelipis Karui sampai tinjunya melayak ke wajah Omoi.



" Aduh! " Omoi menutupi kepalanya " A, apa yang kau lakukan!? "



" Ngomong terus bla bla bla bla bla... tutup mulut baumu itu! "



" Apa!? "



" Hentikan. Sudah di bilang kalau Shinobi harus selalu berkepala dingin, kan? " Setelah menegur dua orang yang sudah mulai bergulat itu, Samui mundur setengah langkah untuk menjajarkan diri dengan Raikage. " Tapi, apa benar kotak seperti itu benar\-benar ada , Tuan Raikage? "

__ADS_1


__ADS_2