
"Hmm"
"Ada apa?"
"Bukan apa apa."
"Katakan!"
"Aku hanya berpikir kalau Konoha sepertinya desa yang lembek."
"Apa katamu?"
"Bagu shinobi, perintah desa adalah mutlak," ucap lelaki itu. "Tapi sepertinya kalian, para warga Konoha, berbeda."
"Aku tadinya mau tetap diam mendengarkan, tapi omonganmu melah jadi keterlaluan, ya!" Dengan emosi meletup letup, Naruto bangkit dari bangkunya. "Jangan berbicara jelek soal Konoha padahal kau tidak tahu apa apa!"
Para tahanan lain melihat mereka dengan heran. Lelaki itu menggelengkan kepala dan mengalihkan pandangan seolah pafam kalau bakal percuma berbicara lebih banyak dengan pemuda seperti ini
"Aku berbeda dari kalian!" Naruto mengayunkan kepalan. "Lihat saja. Aku kan segera keluar dari tempat ini, menemukan keparat yang mengkambinghitamkanku, kemudian menghajarnya!"
"Cukup sampai situ."
Naruto menoleh ke arah sumber suara.
"Apa yang lelaki itu katakan memang benar." Lelaki yang kepala nya dililit bandana berwarna hijau pucat, berdiri dengan bersender ke dinding. "Bagi shinobi, perintah desa memang mutlak. Kalau tidak begitu, siapa lagi yang bakal bersedia mengotori tangan mereka? Bagaimana caranya orang yang tidak mau mengotori tangannya sendiri, bisa melindungi desa?"
"Apa kau ingin mengatakan bahwa jika memang demi perintah desa, tidak masalah kalau harus membunuh bocah yang tak ada kaitannya sama sekali?"
"Benar."
"Jangan ngawur!"
"Desa adalah membenaran rasional bagi shinobi. Makanya pembunuhan yang dilakukan demi desa selalu debenarkan. Semua jenis pembunuhan. Mau targetnya wanita atau anak anak sekalipun, tak ada hubungannya."
"Makanya....." Naruto menggertakan gigi. "Aku tudak butuh pembenaran seperti itu!"
"Tak perlu cemas. Kau sudah sejak lama kehilangan pembenaranmu."
__ADS_1
"....."
"Di sini tempat berkumpulnya orang orang yang telah kehilangan pembenaran mereka yang bernama desa. Perampok adalah perampok, pembunuh adalah pembunuh. Tidak lebih dan tidak kurang dari itu."
Terdengar cekikikan dari para tahanan lain.
"Tapi, jangan salah." Lelaki berbandana itu berucap dengan tenang. "Bukan kau yang membuang pembenaran tersebut. Pembenaran itulah yang telah membuangmu."
Naruto mengeratkan kepalanya. Dia tak bisa menjawab.
"Bawa pergi dia!" Suara bengis Tsunade terasa menyegat, menusuk ulu hatinya.
Sipir muncul di ujung lorong dan menyerutkan sesuatu. Lelaki berbandana itu langsung melepaskan sandarannya pada dinding, lalu berjalan pelang menuju ke arah sipir tersebut.
"Kalau sudah tersadar bahwa dirimi sekarang berada di dalam lubang....." saat lewat di depan Naruto, lelaki berbandana itu berkata, "jangan malah menggalinya lebih dalam lagi."
Dalam ruang interogasi diliputi suasana tenang. Selain adanya bentuk kaki yang digambar di lantai dengan cat putih, hanya ada satu meja.
"Tanggalkan pakaianmu," perintah Togan.
"Eh?"
"Cepat lakukan apa yang kuperintahkan!"
Saat para sipir memeriksa pakain Naruto sampai ke ujung ujungnya, sebuah shuriken jatuh ke lantai.
"Ugh!" Naruto membeku.
"Wah, wah, wah..... apa ini?"
"Tu, tunggu dulu..... A, aku tak punya waktu membuangnya tadi!"
Saat Naruto berfikir kalau dia bakal dihajar lagi, Togan hata menghela nafas. Tapi, tak ada waktu untuk merasa lega.
"Baiklah, sekarang coba melompat dengan satu kaki."
"Ke, kenapa aku harus melakukan hak seperti itu?"
__ADS_1
Naruto kembali di pukuli gara gara ucapan balasannya itu, sekaligus gara gara telah ketahuan membawa shuriken.
Sungguh pemuda yang sangat bodoh," ucap Toga pada Naruto yang tergeletak di lantai. "Jika otak diibartakan dengan kertas peledak, kertas peledak mu bahkan takkan sanggup meledakan hidung saking payahnya. Periksalah apa di tubuh mu masih ada hal lain yang kau sembunyikan! Cepat lakukan!"
Naruto melakuakn sesuai apa yang diperintahkan.
"Hmm, sepertinya tidak ada masalah, ya."
"Apa apaan, sih....."
Tapi, itu bukan akhir. Dengan botonnya, Togan menghentikan tangan Naruto yang sudah merentangkan pakaiannya.
"Belum selesai."
"Su, sudah tak ada tempat yang bisa kujadiakan tempat menyembunyikan sesuatu!"
"Tanggalkan celana dalammu."
"Haah?"
"Celana dalammu," tegas Togan dengan keji. "Cepat lakukan! Lalu injak gambar kaki putih di sana!"
"Ja, jangan bercanda....."
Begitu Naruto mundur selangkah, para sipir sudah mengepugnya dan berjalan mendekat.
"Jangan ke sini..... hentikan..... jangan ke sini....."
"Kalian, para tahanan, berusaha menyimpan benda yang harusnya tak boleh kalian bawa, dengan berbagai cara," seraya mengetukan boton ke telapak tangannya sendiri, Togan menyeringai. "Lucuti!"
Para sipir serentak langsung menerjang Naruto
"Tidaaaaaaak!"
Jeritan Naruto menggema memenuhi Kastil Hozuki.
Terimakasih Telah Membaca
__ADS_1
jangan berfikiran macam macam baca ini ya, karna udah bawaan dari ceritanya