
"Siapa paman?" Dari atas meja, Naruto menunduk untuk menatap lelaku tersebut. "Kok, rasanya paman bersikap sok kenal denganku."
"Aku Maroi. Apa memang kelakuanku terkesan begitu?"
"Tapi, tidak masalah." Naruto tersenyum lebar, kemudian melompat turun dari meja. "Ini pertama kalinya sejak aku datang ke tempat ini."
"Apanya?"
"Sudah lama sekali aku tidak ngobrol sewajar ini dengan orang lain."
"Begitu, ya....." Ujung alis Maroi bergerak turun. "Kau.... sudah berjuang keras, ya."
"..... Apa paman menangis untukku?" Mata Naruto membelalak, kemudian jadi nerkaca kaca. "Paman orang baik, ya. Tapi, kenapa aku jadi pahlawan?"
"Itu sudah pasti, kan?" Maroi tersedu, kemudia mengusap ujung matanya. "Soalnya kau berani beraninya mendadak kabur di hari pertama, dan begitu keluar dari ruang isolasi, langsung menantang Mui berkelahi."
Naruto menggosok gosok mata dengan lengannya. "Saat ini kita tidak bisa menjalin cakra, sehingga tak mungkin punya kesempatan menang. Meski begitu, kau tetap bisa menerjangnya dengan penuh keberanian. Yaah, tidak semua orang bisa melakukan hak seperti itu, lho. Setidaknya, aku jadi lega."
"Waaah..... he he he." Naruto menggaruk kepalanya. "Kalau segitunya di puji, aku jadi malu."
"Ini serius, lho. Soalnya kalau tidaj bisa menjalin cakra, shinobi pun bakal setara dengan orang biasa, kan? Semua yang ada di sini pun jarang sekali membuat pertikaian. Kami semua cinta damai."
Baru saja kalimat itu diucapkan, sudah terdengar keributan dari para tahanan yang sedang makan di samping jendela. Semua langsung berbondong bondong mengerubungi tempat tersebut.
"Oi, ada perkelahian!" Seru seorang. "Seseorang berani menyerang tuan Mui!"
__ADS_1
Naruto mengarahkan mata kebarnya ke Maroi. "Bukankah kalian cinta damai?"
"A ha, a ha ha..... lho..... aneh, ya." Maroi terkekeh kasual. "Yah..... itu gimana, ya..... mungkin terpengatuh olehmu? Hmm..... poloknya, kita coba liat."
Maroi menyibak kerumunan orang, membukakan tempat kosong untuk Naruto.
"!"
Di tengah plaza, Mui sedang dikepung oleh beberapa puluh tahanan.
"Aku sudah dengar." Suara seseorang terdengar, terbawa hembusan angin. "Jika membunuhmu, jutsu menjengkelkan ini akan terlepas, ya."
"Hentikan saja." Tak terselip sedikit pun nada ketakutan di suara Mui. "Begitu dipasangi Tenro, kau harus berdikap tenang dan patuh di sini."
"Matilah!"
"Waduh." Maroi menjulurkan lehernya. "Tidak, terlihat jelas kalau di sini. Tapi, yang pasti, serangan mereka sama sekali tak kena."
Naruto pun melihatnya seperti itu.
Terlihat dari sela sela para tahanan itu kalau Mui bisa bergerak di antara serangan serangan itu layaknya sedang berenang. Tenpa terkena satu serangan pun.
"Sialan!" Seseorang bertetiak. "Apa yang kalian lakukan!? Lawan kalian cuma seorang, lho!"
"Bunuh! Bunub Mui!"
__ADS_1
Semuanya terjadi dalam sesaat. Hanya untuk sesaat, sosok Mui terlihat di balik kerumunan orang yang bahkan dari posisi Naruto berada sekarang.
"Kusakage Ryu-Happa Sho!"
Detik berikutnya, tubuh Mui berputar dan menghempas para tahanan dengan kecepatan mengerikan.
Pandangan Naruto terpaku pada para tahanan. Bruk! Bruk! Suara demuman tubuh tubuh yang berbenturan itu terdengar di telinganya.
"Hakke Rokujoyun Sho." Naruto refleks berbisik. "Mui juga bisa menggunakan teknik yang sama dengan Neju, ya."
"Bukan begitu."
Naruto menoleh ke samping.
"Itu Kusagakure Ryu Happo Sho..... Taijutsu Kusagakure,"
Jelas Maroi tanpa mengalihkan pandangannya dari keributan di depan. "Hakke Rokujoyun Sho Klan Hyuga akan menghentikan aliran cakra lawan dengan memukul titik meridian mereka, tapi kebalikannya, Kusagakure Ryu Happo Sho Mui akan mempercepat aliran cakra musuh."
"A, apa maksudnya itu....."
"Kau akan tahu begitu melihatnya."
Naruto kembali mengarahkan pandangan ke tengah plaza, dan di sana hampir semua pengepung tadi telah tergeletak di lantai. Yang masih berdiri tinggal Mui dan seorang tahanan.
Terimakasib Telah Membaca
__ADS_1
Janga lupa like dan komen ya
Sampi jumpa di episode selanjutnya. Bye, bye